Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Religiosity in Tere Liye’s Janji novel (an Approach to the Sociology of Literature) Evi Chamalah; Reni Nuryyati
BAHASTRA Vol. 43 No. 1 (2023): BAHASTRA
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26555/bs.v43i1.355

Abstract

Novel Janji is one the novels that tell the story of the journey of a religious school child who is looking for a former religious school student decades ago. The author describes religious school children being able to search for someone who disappeared decades ago according to their teacher’s instructions. This study uses a literary sociological analysis approach. The results of the study show that the story in the novel Janji contains five dimensions of religiosity, namely the dimension of belief, the dimension of ritual, the dimension of experience, the dimension of knowledge, and the consequential dimension. In the dimension of belief, it can be seen in the character's belief in doing good, not committing acts of corruption, and the belief in using money to worship. In the ritual dimension, religiosity is seen in the implementation of the five daily prayers, ablution before prayer, Friday prayers, daily expressions, and Idul Fitri prayers. In addition, in the dimension of experience, religiosity is seen in the character's experience of doing bad things, the experience of the character studying at a religious school, and the experience of the character eating inappropriate food for five years. In the knowledge dimension, the value of religiosity can be seen in the concept of sin, the concept of halal and haram, the obligation to pray five times a day, treasures as entrusted in the world, and stories of prophets in the past. At the end, the consequential dimension appears in the actions of the characters in the present which are based on the experiences of the characters in the past.
TINDAK TUTUR DIREKTIF DALAM FILM AKU INGIN IBU PULANG KARYA MONTY TIWA SEBAGAI ALTERNATIF BAHAN AJAR TEKS DRAMA KELAS XI SMA Nur Khasanah; Evi Chamalah; Meilan Arsanti
Jurnal Pendidikan Bahasa Indonesia Vol 8, No 2 (2020): Juli - Desember 2020
Publisher : PBSI, FKIP UNISSULA, Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/j.8.2.123-136

Abstract

Bahasa mempunyai peran vital dalam kehidupan manusia. Komunikasi yang dilakukan manusia dilakukan dengan menggunakan bahasa. Film merupakan jenis komunikasi secara tertulis. Dalam film terjadi bentuk komunikasi dan interaksi yang dilakukan tokoh melalui tuturan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk dan fungsi tindak tutur direktif dalam film Aku Ingin Ibu Pulang karya Monty Tiwa serta mendeskripsikan implementasi tindak tutur direktif yang terdapat dalam film Aku Ingin Ibu Pulang karya Monty Tiwa sebagai alternatif bahan ajar teks drama kelas XI SMA. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode kualitatif. Teknik pengumpulan data ini adalah simak dan catat. Instrumen penelitian ini adalah peneliti sendiri (human instrument) dibantu dengan alat bantu berupa kartu data. Sedangkan teknik analisis data penelitian ini meliputi, (1) pengumpulan data, (2) reduksi data, (3) penyajian data, dan (4) penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa, 1) tindak tutur direktif tidak dapat dipisahkan dari kelangsungan hidup manusia dan 2) tindak tutur direktif dalam film Aku Ingin Ibu Pulang karya Monty Tiwa dapat diimplementasikan sebagai alternatif bahan ajar pada pembelajaran teks drama kelas XI SMA.
Menumbuhkan Budaya Literasi Anak Sejak Dini melalui Pelatihan Mendongeng Bagi Ibu-Ibu Kelompok Dawis Kacang Tanah III, Kecamatan Genuk, Kota Semarang Meilan Arsanti; Oktarina Puspita Wardani; Evi Chamalah; Aida Azizah; Leli Nisfi Setiana; Turahmat Turahmat
J-ABDIPAMAS (Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat) Vol 8, No 1 (2024): April 2024
Publisher : IKIP PGRI Bojonegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30734/j-abdipamas.v8i1.3659

Abstract

ABSTRACT Storytelling is a very beneficial activity for children because it can teach children about morals, like language, help achieve development in emotional learning, improve the learning atmosphere, and introduce new values and cultural values to children. Apart from that, storytelling can also foster an interest in reading in children from an early age so that it can foster a culture of literacy in Indonesia. Therefore, storytelling skills are very important for parents, especially mothers who have children under five. To foster a culture of literacy in children, it must be done from an early age and starting from the family environment. Therefore, this PKM was carried out to provide storytelling skills training to the women of the Dawis Kacang Tanah III group in Bangetayu Kulon Village, Genuk District, Semarang City. This training was attended by 13 members of the Dawis Kacang Tanah III group. The method used is training with four stages, namely 1) planning, 2) implementing actions, 3) observation and evaluation, and 4) reflection. The results obtained from the training include mothers who have 1) knowledge about the benefits of fairy tales for young children, 2) storytelling skills using storybooks and finger puppets, and 3) a growing love of storytelling in young children.  Keywords: storytelling, literacy culture, early childhood  ABSTRAK Mendongeng merupakan aktivitas yang sangat bermanfaat bagi anak karena dapat mengajarkan anak tentang moral, menyukai bahasa, membantu pencapaian perkembangan dalam pembelajaran emosi, meningkatkan suasana belajar, dan mengenalkan nilai-nilai baru serta nilai-nilai budaya pada anak. Selain itu, mendongeng juga dapat menumbuhkan minat baca pada anak sejak dini sehingga mampu menumbuhkan budaya litersi di Indonesia. Oleh karenanya keterampilan mendongeng sangat penting dimiliki oleh orang tua khususnya ibu yang memiliki anak balita. Untuk menumbuhkan budaya literasi pada anak harus dilakukan sejak dini dan dimulai dari lingkungan keluarga. Oleh karena itu, PKM ini dilaksanakan untuk memberikan pelatihan keterampilan mendongeng pada ibu-ibu kelompok Dawis Kacang Tanah III di Kelurahan Bangetayu Kulon, Kecamatan Genuk, Kota Semarang. Pelatihan ini diikuti oleh anggota kelompok Dawis Kacang Tanah III sebanyak 13 orang. Metode yang digunakan adalah pelatihan dengan empat tahapan, yaitu 1) perencanaan, 2) pelaksanaan tindakan, 3) observasi dan evaluasi, dan 4) refleksi. Adapun hasil yang diperoleh dari hasil pelatihan tersebut antara lain ibu-ibu telah memiliki 1) pengetahuan tentang manfaat dongeng bagi anak usia dini, 2) keterampilan mendongeng dengan media buku cerita dan boneka jari, dan 3) tumbuhnya rasa suka terhadap mendongeng pada anak usia dini.      Kata Kunci: mendongeng, budaya literasi, anak usia dini
The bridging understanding of language and mathematical symbols between teachers and students: An effort to increase mathematical literacy Imam Kusmaryono; Mohamad Aminudin; Nila Ubaidah; Evi Chamalah
Jurnal Infinity Vol 13 No 1 (2024): VOLUME 13, NUMBER 1, INFINITY
Publisher : IKIP Siliwangi and I-MES

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22460/infinity.v13i1.p251-270

Abstract

The research aims to analyze the gap between teachers' and students' understanding of language literacy and mathematical symbols. The study was designed with a concurrent triangulation strategy. The research respondents consisted of 20 teachers and 120 class VII students. Data collection through questionnaires, interviews, and cognitive tests. Qualitative data was analyzed descriptively, and quantitative data was analyzed inferentially. The results of the analysis of quantitative data show that there is a linear (significant) relationship between understanding language and mathematical symbols and mathematical literacy skills. The results of the qualitative data analysis describe that the teacher's understanding of language and mathematical symbols (high criterion) does not necessarily support the students' understanding of language and mathematical symbols. We confirm the suspicion that there is a gap in the ability of teachers and students to understand language and mathematical symbols. Students need to improve their understanding of mathematical language and symbols. The pattern of errors is based on the teacher's conception of learning in the previous class, so the process of transitioning the teacher's knowledge to students' understanding of mathematics experiences obstacles. The implication is that the process of transitioning meaning from mathematical symbols to written and spoken language must be carried out when the teacher introduces or teaches new topics to students, and the context in which mathematical symbols are used must be followed by clarification.
Pendampingan Penyusunan Modul Ajar Kurikulum Merdeka bagi MGMP Bahasa Indonesia Madrasah Aliyah di Kabupaten Demak Evi Chamalah; Aida Azizah; Meilan Arsanti; Leli Nisfi Setiana; Oktarina Puspita Wardani; Turahmat Turahmat
J-ABDIPAMAS (Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat) Vol 8, No 2 (2024): Oktober 2024
Publisher : IKIP PGRI Bojonegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30734/j-abdipamas.v8i2.4853

Abstract

                                                          ABSTRACTCurriculum changes are a challenge felt by all educational institutions, especially Madrasah Aliyah (MA). The Independent Curriculum gives teachers the freedom to develop teaching tools, both in the form of Learning Implementation Plans (RPP) and teaching modules. However, the complexity of teaching modules, which are sometimes more detailed than lesson plans, often becomes an obstacle for teachers in designing learning tools. This obstacle is especially felt by Indonesian language teachers who are members of the Indonesian Language Subject Teacher Conference (MGMP). Some of the problems that arise include: (1) lack of knowledge regarding the preparation of Indonesian language teaching modules in MA in the context of the Independent Curriculum; (2) Indonesian Language MGMP MA Demak Regency has never participated in mentoring activities related to the preparation of Indonesian Language teaching modules in the Independent Curriculum; (3) the unavailability of Indonesian language teaching modules in MA according to the needs and characteristics of the school. To overcome this problem, several solutions are proposed, namely: (1) organizing mentoring activities regarding the preparation of Indonesian language teaching modules for the Indonesian Language MGMP Independent Curriculum MA Demak Regency; (2) implementation of learning and training activities related to the preparation of Indonesian language teaching modules for the Indonesian Language Independent Curriculum MGMP MA Demak Regency; (3) preparation of Indonesian language teaching modules in the Independent Curriculum MA in accordance with the needs and characteristics of the school.Keywords: mentoring, preparation of teaching modules, independent curriculum                                                           ABSTRAKPerubahan kurikulum menjadi suatu tantangan yang dirasakan oleh seluruh lembaga pendidikan, khususnya Madrasah Aliyah (MA). Kurikulum Merdeka memberikan kebebasan kepada guru untuk menyusun perangkat ajar, baik berupa Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) maupun modul ajar. Namun, kompleksitas modul ajar, yang kadang lebih rinci daripada RPP, sering menjadi hambatan bagi guru dalam merancang perangkat pembelajaran. Kendala ini khususnya dirasakan oleh guru Bahasa Indonesia yang tergabung dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Indonesia. Beberapa permasalahan yang muncul antara lain: (1) minimnya pengetahuan tentang penyusunan modul ajar Bahasa Indonesia di MA dalam konteks Kurikulum Merdeka; (2) MGMP Bahasa Indonesia MA Kabupaten Demak belum pernah mengikuti kegiatan pendampingan terkait penyusunan modul ajar Bahasa Indonesia pada Kurikulum Merdeka; (3) belum tersedianya modul ajar Bahasa Indonesia di MA sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik sekolah. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, beberapa solusi diajukan, yakni: (1) penyelenggaraan kegiatan pendampingan tentang penyusunan modul ajar Bahasa Indonesia pada Kurikulum Merdeka untuk MGMP Bahasa Indonesia MA Kabupaten Demak; (2) pelaksanaan kegiatan pembelajaran dan pelatihan terkait penyusunan modul ajar Bahasa Indonesia Kurikulum Merdeka untuk MGMP Bahasa Indonesia MA Kabupaten Demak; (3) penyusunan modul ajar Bahasa Indonesia di MA pada Kurikulum Merdeka yang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik sekolah.Kata Kunci: pendampingan, penyusunan modul ajar, kurikulum merdeka
KARAKTERISTIK PEMBELAJARAN BIPA PROGRAM CULTURA DI UNIVERSITAS ISLAM SULTAN AGUNG Evi Chamalah
Fon: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 21 No 1 (2025)
Publisher : Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25134/rtjrm467

Abstract

Pengajaran Bahasa Indonesia tidak hanya mengajarkan tentang Bahasa tetapi secara tidak langsung mengajarkan budaya Indonesia. Akan tetapi, setiap tempat pembelajaran BIPA memiliki karakteristik yang berbeda. Perbedaan ini tentu memberikan dampak positif. Penelitian ini bertujuan mengkaji bagaimana karakteristik pembelajaran BIPA Cultura di Unissula. Penelitian ini termasuk jenis penelitian kualitatif deskriptif dengan mendeskripsikan hasil penelitian menggunakan teks secara langsung. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara mendokumentasikan dan mewawancarai pengajar BIPA, sahabat BIPA, dan hasil kegiatan pembelajaran BIPA. Data yang diperoleh disajikan secara kualitatif deskriptif secara rinci. Program BIPA Cultura Unissula memiliki karakteristik yang membedakannya dari program BIPA lainnya, yaitu dengan integrasi wawasan keislaman, wawasan keindonesiaan, dan kebahasaan dalam proses pembelajaran. Program ini tidak hanya fokus pada pengajaran bahasa Indonesia, tetapi juga memperkenalkan berbagai aspek budaya dan nilai-nilai Islam yang terkandung dalam budaya akademik Islam
Pemberdayaan Guru SMP dalam Pemanfaatan Powtoon untuk Pengembangan Media Komik Audio Visual Aida Azizah; Evi Chamalah; Turahmat Turahmat; Oktarina Puspita Wardani; Leli Nisfi Setiana; Meilan Arsanti; Andi Maulana; Muchamad Abdul Basir; Cahyo Hasanudin
J-ABDIPAMAS (Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat) Vol. 10 No. 1 (2026): April 2026
Publisher : IKIP PGRI Bojonegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30734/j-abdipamas.v10i1.5334

Abstract

The integration of digital tools in education plays a crucial role in enhancing a more interactive and captivating learning experience. Nonetheless, the application of the Powtoon tool by educators remains insufficiently utilized due to inadequate practical training opportunities. To tackle this challenge, this community-oriented project was implemented, which involved training and coaching on how to effectively use Powtoon to create audiovisual comic materials through a collaborative approach. The outcomes of this initiative indicate that educators gained proficiency in using Powtoon, designing learning storyboards, and generating audiovisual comic materials. Furthermore, 85 percent of the attendees managed to create their own storyboards, while 80 percent effectively produced educational media. This project also motivated teachers to start incorporating digital media into their instruction, thus enhancing the engagement and interactivity of the learning experience.   Pemanfaatan teknologi digital dalam dunia pendidikan menjadi salah satu elemen penting dalam mendukung proses pembelajaran yang lebih menarik dan interaktif. Namun, pemanfaatan aplikasi Powtoon sebagai media pembelajaran oleh guru masih belum optimal karena terbatasnya pelatihan yang bersifat praktis dan aplikatif. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan melalui pelatihan dan pendampingan pemanfaatan Powtoon dalam pengembangan media komik audio visual dengan pendekatan partisipatif. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa guru memperoleh keterampilan dalam mengoperasikan Powtoon, menyusun storyboard pembelajaran, serta mampu menghasilkan media komik audio visual. Selain itu, sebanyak 85% peserta mampu menyusun storyboard dan 80%  peserta berhasil menghasilkan media pembelajaran. Kegiatan ini juga mendorong guru untuk mulai memanfaatkan media digital dalam pembelajaran sehingga proses pembelajaran menjadi lebih menarik dan interaktif.