Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Pengendalian Kualitas Produksi Kertas Struk Belanja pada Mesin Rewinder di PT. Grafika Nusantara Yuli Setiawannie; Rafika Irmayanti
Industrial Engineering System and Management Journal Vol. 2 No. 2 (2021): Vol 2 No 2 Agustus 2021
Publisher : LPPM Universitas Potensi Utama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Setiap perusahaan industri harus mampu meningkatkan produktivitasnya agar dapat memenuhi permintaan para konsumennya. Peningkatan produktivitas ini tidak dapat terlepas dari pengendalian kualitas produknya. PT. Grafika Nusantara merupakan sebuah perusahaan industri pengolahan kertas yang berdiri sejak tahun 2000, dengan spesialisasi di bidang Continuous Form, Packaging, Offset Printing, Digital Printing, UV Printing, dan Laser Cutting. Perusahaan selalu berupaya untuk menghasilkan kualitas produk yang baik dan menekan kerusakan produk. Namun, pada kenyataannya banyak ditemukan produk tidak sesuai dengan standar yang ditetapkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan pengendalian kualitas dengan metode Quality Qontrol Circle (QCC) dalam upaya mengendalikan tingkat kerusakan produksi di PT. Grafika Nusantara. Dalam melakukan analisa, metode QCC ini menggunakan bantuan seven tools. Berdasarkan pengamatan diperoleh bahwa jenis-jenis cacat yang terjadi pada produksi kertas struk belanja yaitu gulungan kertas gembos, gulungan kertas bergelombang, sisi potong gulungan kertas kasar, kertas kotor, dan kertas tergores. Dari hasil analisa diketahui bahwa konstribusi defect tertinggi terjadi pada gulungan kertas gombos sebesar 0,64%, sisi potongan gulungan kertas sebesar 0,13%, kertas kotor sebesar 0,15%, kertas tergores sebesar 0,05% dan defect terendah ialah gulungan kertas bergelombang sebesar 0,01%. Faktor-faktor dominan yang menyebabkan terjadi cacat produk jenis gulungan kertas gombos adalah manusia dan mesin.
Analisa Pengendalian Kualitas Produk Benang Dengan Metode Statistical Quality Control di PT. X Usman Efendi Siregar; Yuli Setiawannie
Industrial Engineering System and Management Journal Vol. 2 No. 2 (2021): Vol 2 No 2 Agustus 2021
Publisher : LPPM Universitas Potensi Utama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

X merupakan perusahaan industri yang bergerak di bidang produksi karung plastik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa tingkat kecacatan produk, jenis-jenis kecacatan produk, jenis kecacatan yang paling dominan, dan faktor penyebab kecacatan produk benang di perusahaan tersebut. Metode yang dipakai untuk menyelesaikan permasalahan di perusahaan berkaitan dengan kualitas produknya yaitu dengan metode Statistical Quality Control (SQC), meliputi pembuatan histogram, peta kendali, mengidentifikasi jenis kerusakan (diagram pareto), dan membuat diagram sebab akibat. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini yaitu tingkat kecacatan produk benang sebesar 2,865% yang telah melewati standar perusahaan, jenis kecacatan produk terdiri dari benang lecet, benang rapuh, benang berlipat, dan jenis kecacatan produk yang paling dominan adalah benang lecet serta faktor-faktor penyebab kecacatan produk benang adalah mesin, tenaga kerja, metode kerja, dan material.
Pengukuran Efektivitas Mesin Bubut Dengan Metode Overall Equipment Efectiveness (OEE) Yuli Setiawannie; nit
Industrial Engineering System and Management Journal Vol. 3 No. 1 (2022): Vol 3 No 1 Februari 2022
Publisher : LPPM Universitas Potensi Utama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu faktor penunjang keberhasilan suatu industri ditentukan oleh kelancaran proses produksi. Sehingga apabila proses produksi lancar, maka akan menghasilkan produk yang berkualitas, waktu penyelesaian pembuatan produk yang tepat, dan ongkos produksi yang murah. Proses tersebut tergantung kondisi siap pakai dari sumber daya yang dimiliki seperti manusia, mesin ataupun sarana penunjang lainnya. Penelitian ini dilakukan di perusahaan yang memproduksi barang industri yang terbuat dari logam. Suatu proses berhenti disebabkan oleh adanya masalah dalam fasilitas produksi, misalnya kerusakan-kerusakan mesin yang tidak terdeteksi selama proses produksi. Permasalahan yang terjadi pada perusahaan ini yaitu downtime mesin bubut yang mengakibatkan produksi menjadi lama saat mesin dalam perbaikan sehingga tidak dapat memenuhi permintaan konsumen tepat waktu.Hal tersebut dapat merugikan perusahaan karena biaya-biaya yang akan dikeluarkan untuk mengatasi kerusakan tersebut. Tujuan penelitian ini dilakukan adalah untuk menentukan efektivitas mesin bubut dengan metode Overall Equipment Efectiveness (OEE). Tahap-tahap penelitian diawali dengan pengumpulan data-data tentang waktu operasi, loading time, dan downtime dari mesin bubut selama periode Juli – September 2021. Selanjutnya data tersebut diolah untuk memperoleh nilai avaliability, performace efficiency, dan rate of quality product yang sangat berpengaruh menentukan nilai OEE mesin. Berdasarkan pengolahan data tersebut, maka hasil penelitian ini adalah efektivitas mesin bubut selama periode Juli-September 2021 masih kurang baik karena memiliki nilai performance efficiency ratio 50,49% dan quality of ratio sebesar 95,60% yang berada di bawah standar internasional. Kinerja mesin bubut untuk periode Juli-September masih belum optimal karena nilai rata-rata OEE sebesar 45,56% tidak memenuhi standar internasioanl yang telah ditetapkan yaitu 85%.
Pengaruh Perbaikan Tata Letak Fasilitas Terhadap Proses Produksi di PT. X Yuli Setiawannie; Nita Marikena; Ade Yudha Pratama
Industrial Engineering System and Management Journal Vol. 3 No. 2 (2022): Vol 3 No 2 Agustus 2022
Publisher : LPPM Universitas Potensi Utama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perancangan tata letak fasilitas merupakan serangkaian masalah desain yang terkait dengan pengaturan elemen yang membentuk sistem produksi industri dalam ruang fisik. Penyusunan tata letak yang baik menjadi salah satu keputusan desain terpenting dari strategi operasi bisnis yang berdampak pada biaya operasi, efisiensi, dan produktivitas sistem produksi serta menjamin keamanan dan kepuasan kerja dari karyawan. PT. X merupakan perusahaan manufaktur di bidang packaging industries, yaitu pembuatan kotak dengan berbagai tipe karton. Penggunaan area gudang bahan setengah jadi dan stok sisa bahan jadi menjadi kendala dalam proses produksi sehingga mengakibatkan aliran produksi menjadi terhambat, hal ini dikarenakan terlalu banyak sisa stok bahan setengah jadi dan bahan jadi. Berdasarkan permasalahan tersebut, maka penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk memberikan usulan dan analisa perbaikan tata letak fasilitas agar menghasilkan produksi yang optimal. Perancangan ulang tata letak fasilitas perusahaan menggunakan metode Activity Relationship Chart (ARC) untuk meminimumkan jarak antara satu stasiun ke stasiun yang lain sehingga menghasilkan tata letak yang efisien dan efektif. Hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa perusahaan tetap menggunakan jenis tata letak tipe proses (process layout), karena jumlah produk kotak karton memiliki variasi ukuran berbeda-beda dengan kuantitas rata-rata yang tidak banyak. Perubahan letak tiap stasiun kerja pada area produksi mampu mengoptimalkan sistem produksi dan meminimalkan jarak antar stasiun sebesar 53,9% serta perlu penambahan area penyimpanan stok di gudang bahan setengah jadi untuk menyimpan sisa stok bahan setengah jadi dan bahan jadi agar tidak menghambat proses muat barang ke truk.
Pengendalian Persediaan Bahan Baku Mebel Dengan Metode Just In Time Di PT. Canang Indah Lanjut Rezeki; Yuli Setiawannie
Industrial Engineering System and Management Journal Vol. 3 No. 2 (2022): Vol 3 No 2 Agustus 2022
Publisher : LPPM Universitas Potensi Utama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengendalian persediaan bahan baku yang optimal di PT. Canang Indah, untuk mengetahui frekuensi pemesanan bahan baku yang optimal dan untuk mengetahui berapa banyak kartu kanban yang digunakan dalam pemesanan bahan baku. Pengumpulan data melalui wawancara kepada kepala gudang mengenai cara pembelian bahan baku, melakukan observasi ke lapangan untuk melihat stock di gudang, serta bahan baku yang digunakan dalam memproduksi mebel per harinya. Data-data ini akan diolah menggunakan metode Just In Time untuk mengetahui kebutuhan pembelian bahan baku per sekali pesan, mengetahui frekuensi atau jadwal pembelian ulang bahan baku, serta kebutuhan bahan baku per tahun. Hasil dari penelitian ini adalah berdasarkan metode JIT maka persediaan bahan baku yang optimal sebesar 287.190 ton/tahun dan rata-rata pemesanan 2.075 ton per sekali pengiriman pesan kepada supplier. Frekuensi pemesanan bahan baku dilakukan 180 kali pengiriman bahan baku kayu rambung untuk memenuhi kebutuhan bahan baku 2.075 ton dalam sekali pesan. Kebutuhan bahan baku per tahun sebesar 287.190 ton dapat terpenuhi dengan 138 kali pemesanan bahan baku kayu rambung. Dengan menggunakan kartu kanban dapat diketahui dalam sekali pesan bahan baku kayu rambung kapasitas ratarata 823 ton memerlukan 1 kartu kanban.
Sosialisasi Penjadwalan Perawatan Mesin Produksi Dengan Metode Reliability Centered Maitenance (RCM) Pada CV. Adi Makmur Metalindo Andri Herlambang; Syahputra Amri; Yuli Setiawannie; Nita Marikena
Publikasi Pengabdian Masyarakat Vol 6 No 1 (2026): PUBLIDIMAS Vol. 6 No. 1 MEI 2026
Publisher : LPPM Universitas Potensi Utama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22303/publidimas.6.1.2026.46-55

Abstract

Kemajuan teknologi yang semakin berkembang saat ini banyak sekali membantu manusia serta mempunyai peran dalam memecahkan masalah-masalah yang timbul sehingga didapatkan suatu efisiensi kerja yang tinggi. Perkembangan yang cepat di bidang industri adalah dikembangkannya mesin-mesin untuk kelancaran pekerjaan seperti halnya pada mesin-mesin yang sangat dibutuhkan dalam memberikan kemudahan serta kelancaran dalam suatu proses produksi salah satunya pada proses manufaktur seperti mesin lathe. Sehingga perlu dilakukannya penjadwalan pemeliharaan yang baik dalam menunjang operasional produksi. Adapun dalam memecahkan permasalahan ini, metode yang digunakan Reliability Centered Maintenance (RCM), yang merupakan suatu pendekatan sistematis untuk memilih suatu tindakan supaya aset fisik tetap dalam kondisi optimal dalam menjalankan produksi seperti yang diharapkan. Hasil dari penilitian ini telah dijelaskan bahwa komponen penjepit atau pemegang pahat merupakan komponen dengan nilai RPN tertinggi sebesar 245, Nilai ini menggambarkan bahwa komponen penjepit atau pemegang pahat yang mengalami kegagalan harus ditangani akibat terjadinya downtime yang paling besar diantara komponen lainnya.
Optimalisasi Proses Kerja melalui Intervensi Ergonomi dan Rekayasa Material Handling: Studi Kasus Peningkatan Efisiensi dan Kenyamanan Pekerja di CV. Adi Makmur Metalindo Vidi Agung Fragastia; Yuli Setiawannie; Alan Akbar Bukhori; Khairul Albani
ABDIKAN: Jurnal Pengabdian Masyarakat Bidang Sains dan Teknologi Vol. 4 No. 4 (2025): November 2025
Publisher : Yayasan Literasi Sains Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55123/abdikan.v4i4.5727

Abstract

This community service activity was conducted at CV Adi Makmur Metalindo, a metal manufacturing company specializing in the production and assembly of palm oil machine components. The program aimed to address two main issues faced by the partner: the high time and cost of material handling, and the low levels of comfort and safety at work due to non-ergonomic working postures. The company’s production process is physically intensive and has yet to fully implement ergonomic principles in workplace design. The activity took place on April, 2025, in the form of a training and assistance session involving 12 participants. The method consisted of interactive lectures, discussions, hands-on simulations, and pre- and post-tests to assess participants' understanding. Results showed an increase in the average test scores from 54.2 to 82.5 (a 52% improvement), a 17.1% reduction in material handling time, and a decrease in REBA scores from 9.0 to 5.5, indicating a significant improvement in working posture. The application of basic ergonomic improvements such as layout adjustment and the use of assistive tools encouraged greater efficiency and workplace comfort. This program demonstrated that ergonomic education can be an effective and practical solution for medium-scale industries aiming to improve productivity and occupational safety.