Tito Yusmar
Pusat Penelitian dan Pengembangan Transportasi Udara

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Perkembangan Perekonomian Wilayah dan Kargo Udara: Korelasi atau Kausalitas? Tito Yusmar; Minda Mora
WARTA ARDHIA Vol 41, No 1 (2015)
Publisher : Research and Development Agency of The Ministry of Transportation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (745.224 KB) | DOI: 10.25104/wa.v41i1.143.39-48

Abstract

Transportasi sebagai permintaan turunan berada dalam perdebatan yang mengemukakan peranannya yang vital dalam perkembangan perekonomian di berbagai tingkatan. Paper ini berupaya untuk meneliti peranan tersebut, apakah kargo udara sebagai bagian dari transportasi udara memberikan stimulus dalam perkembangan perekonomian wilayah atau sebaliknya. Analisis yang dilakukan tidak hanya menguji korelasi tetapi juga kausalitas antara variabel-variabel perekonomian, yaitu tenaga kerja, kesejahteraan wilayah, dan pendapatan, dengan kargo udara. Kesimpulan yang diperoleh adalah adanya indikasi pengaruh sebab akibat dalam beberapa bagian dari hubungan antara keduanya yang diharapkan dapat mendukung penyusunan kebijakan terkait.[The Development of Regional Economic and Air Freight: Correlation or Causality?] Transportation as derived demand is on debate that it plays important role in multi-level economic development. This paper examines that role whether air freight, as a part of air transportation, stimulates regional economic development or vice versa. The analysis examines not only correlation but also causality of trends between economic variables; employment, regional welfare, and income, with air freight transportation. The conclusions discusses on the indications of influence in the parts of relationship between variables that to be expected to support related policy-making.
Telaahan Pengembangan Bandar Udara Baru di Pantai Pakis Jaya Karawang Sebagai Reliever Bagi Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta Yati Nurhayati; Susanti Susanti; Minda Mora; Tito Yusmar
WARTA ARDHIA Vol 41, No 1 (2015)
Publisher : Research and Development Agency of The Ministry of Transportation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1313.083 KB) | DOI: 10.25104/wa.v41i1.138.1-10

Abstract

Bandar Udara Soekarno Hatta Jakarta merupakan Bandar Udara terbesar dan tersibuk di Indonesia. Selama 15 tahun ke depan, pergerakan penumpang di Bandar Udara Soekarno Hatta diperkirakan akan mencapai 70 – 100 juta penumpang/tahun. Dengan adanya kondisi tersebut, dibutuhkan bandar udara baru di wilayah metropolitan DKI untuk mengakomodasi lonjakan pertumbuhan transportasi udara. Pada kajian ini dilakukan telaahan kelayakan lokasi Pantai Pakis Jaya sebagai lokasi bandar udara baru. Telaahan ini dilakukan berdasarkan 8 kriteria, yaitu ruang udara, keselamatan, aksessibilitas dan infrastruktur, lahan, kondisi alam, obstacle, biaya serta dampak sosial dan lingkungan. Berdasarkan analisis lahan dan obstacle, area Pantai Pakis Jaya Karawang layak dijadikan sebagai lokasi bandar udara baru karena tidak membutuhkan pembebasan lahan tidak terdapat obstacle yang menghalangi pesawat udara untuk melakukan pendaratan dan lepas landas. Namun, apabila ditinjau dari sisi ruang udara, keselamatan, aksessibilitas dan infrastruktur, kondisi alam, biaya serta dampak sosial dan lingkungan, Pantai Pakis Jaya ini kurang layak untuk dijadikan lokasi bandar udara baru. [New Airport Development Analysis in Pantai Pakis Jaya Karawang as a Reliever for Soekarno -Hatta International Airport] Jakarta Soekarno-Hatta International Airport is the biggest and the busiest airport in Indonesia. It is forecasted that passengers movement in this airport will reach 70 – 100 million passenger/year for the next 15 years. Seeing the condition of this airport as a concern, new airport in the area around DKI Jakarta is required to accomodate the surge of air transportation growth that Soekarno-Hatta itself already in overcapacity state. One of possible area to be set for the new airport development namely Pantai Pakis Jaya Karawang is analyzed in this study. The analysis was conducted based on 8 criteria; airspace, safety, accessibility and infrastructure, land, natural condition, obstacle, cost, social and environmental impact. The results of land and obstacle analysis indicate that Pantai Pakis Jaya Karawang is feasible as the new airport location due to it does not require land acqusition and there are no obstacles that can block the aircraft movement. However, the analysis results for airspace, safety, accessibility and infrastructure, natural condition, cost, and social and environmental impact show that Pantai Pakis Jaya Karawang is less feasible as the location for the new airport.
Peluang Transportasi Publik dalam Pangsa Pasar Pengguna Akses Darat Bandara Soekarno-Hatta Tito Yusmar
WARTA ARDHIA Vol 39, No 4 (2013)
Publisher : Research and Development Agency of The Ministry of Transportation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (349.986 KB) | DOI: 10.25104/wa.v39i4.124.259-280

Abstract

The growth of air transportation gives negative impact in its ground access system in which the flow of people who accessing the airport creates road congestion. This problem is also supported with the highly dependence of people on private car use and leave public transport as unattractive mode to be used in accessing the airport. This research attempts to find out which travel attributes of transportation mode that influence the mode choice of people who accessing the airport as the ground access users. Taking one case study at Soekarno-Hatta International Airport in Jakarta, Indonesia, the data are collected from this airport through survey process. Further, the statistical methods are conducted to get the results. Six determined travel attributes; cost, travel time, walking distance, ease of transfer, ease of carrying luggage and comfort, significantly influence and give differences on the user’s mode choice in which four of them; walking distance, ease of transfer, ease of carrying luggage and comfort, are being perceived very satisfactory for car. The research concludes with potential steps in improving public transportation which give access to the airport that might help attract more people to use it and increase its mode share. Pertumbuhan transportasi udara membawa dampak negatif bagi jalur akses darat menuju bandara dimana kepadatan dan kemacetan jalan semakin meningkat seiring bertambahnya jumlah orang yang mengakses bandara. Permasalahan ini turut didukung oleh tingginya ketergantungan masyarakat dalam menggunakan kendaraan pribadi sementara transportasi publik hanya menjadi alternatif yang dinilai tidak menarik untuk digunakan. Penelitian ini bertujuan untuk mencari dan menilai atribut perjalanan dari moda transportasi yang digunakan untuk mengakses bandara yang memengaruhi pilihan moda pengguna akses darat bandara. Dengan mengambil satu studi kasus di bandara internasional Soekarno-Hatta di Jakarta, Indonesia, survey dilakukan sebagai proses pengumpulan data. Enam atribut perjalanan, yaitu biaya, waktu tempuh, jarak berjalan, kemudahan transfer, kemudahan membawa barang bawaan, dan kenyamanan, secara signifikan memengaruhi dan memberikan perbedaan terhadap pemilihan moda dimana empat atribut diantaranya, yaitu jarak berjalan, kemudahan transfer, kemudahan membawa barang bawaan, dan kenyamanan, dinilai sangat memuaskan untuk moda mobil pribadi. Kesimpulan dari penelitian ini mendorong langkah-langkah potensial dalam meningkatkan daya saing transportasi publik yang digunakan untuk mengakses bandara sehingga dapat menarik lebih banyak pengguna dan meningkatkan pangsa pasarnya.
Pemilihan Tipe Pesawat Udara Berdasarkan Estimasi Biaya Operasional untuk Pesawat Udara Jarak Menengah Tito Yusmar; Welly Pakan
WARTA ARDHIA Vol 40, No 1 (2014)
Publisher : Research and Development Agency of The Ministry of Transportation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3559.062 KB) | DOI: 10.25104/wa.v40i1.166.59-70

Abstract

Domestic aviation industry is currently in a growing state. This year, some airlines make a purchase of new aircraft to strengthen its fleet. Some types of aircraft procured by the Indonesian airline is Sukhoi Superjet 100, the Boeing 737 Next Generation aircraft, the Airbus A330-200 and MA-60. Those aircraft type is the medium range aircraft that could potentially become competitors to each other. This research aims to determine the type of medium range aircraft with has most efficient operational costs in serving a particular route. Operating costs calculation for 7 (seven) types of aircraft i.e. Airbus 1319, A320, 8737-300, B737-400, 13737-500, 13737-800 and 13737- 900ER showed that Boeing 737-900 ER aircraft operated by Lion Air has the most efficient direct operating costs ( 0.07981 USD / seat- nmi) followed by Boeing 737-400 aircraft with a seating capacity of 170 seats operated by Citilink Garuda Indonesia (0.08636 USD / seat-nmi). Industri penerbangan dalam negeri saat ini semakin berkembang. Mulai tahun ini, banyak perusahaan jasa angkutan udara yang melakukan pembelian pesawat baru untuk memperkokoh armadanya. Beberapa tipe pesawat udara yang didatangkan oleh perusahaan jasa angkutan udara Indonesia adalah pesawat Sukhoi SuperJet 100, Boeing 737 Next Generation, Airbus A330-200 dan MA-60. Tipe pesawat udara tersebut merupakan tipe pesawat udara medium range yang berpotensi menjadi kompetitor satu sama lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan tipe pesawat udara medium range dengan biaya operasional paling hemat dalam melayani rute tertentu. Dari 7 (tujuh) tipe pesawat yang dihitung biaya operasionalnya yaitu Airbus A319, A320, B737-300, 18737- 400, B737-500, B737-800 dan B737-900ER, pesawat tipe Boeing 737-900ER yang dioperasikan oleh Lion Air menjadi pesawat udara dengan biaya operasional langsung paling hemat yaitu 0,07981 US$/seat-nmi, diikuti oleh Boeing 737-400 dengan kapasitas kursi sebanyak 170 kursi yang dioperasikan oleh Citilink Garuda Indonesia. sebesar 0,08636 US$/seat-nmi.
Dampak Pandemi COVID-19 Terhadap Bisnis Penerbangan di Indonesia Lita Yarlina; Sitti Subekti; Evy Lindasari; Minda Mora; Novyanto Widadi; Tito Yusmar; Dedes Kusumawati; Zulaichah Zulaichah; Muhammad Rafiqi Sitompul
WARTA ARDHIA Vol 47, No 1 (2021)
Publisher : Research and Development Agency of The Ministry of Transportation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25104/wa.v47i1.416.67-81

Abstract

Pandemi Covid-19 telah mempengaruhi segala aspek dalam berbagai bisnis khususnya transportasi dan pariwisata. Operasional moda transportasi semakin ketat persyaratan dan pengawasannya baik dari sisi penumpang maupun operator untuk menjalankan protokol kesehatan dalam upaya mengurangi penyebaran Covid-19. Upaya mitigasi perlu dilakukan untuk tetap menjaga kelangsungan bisnis dan operasi transportasi udara yang padat modal dan berperan menghubungkan wilayah di Indonesia yang merupakan negara kepulauan. Penelitian ini dilakukan dengan metode analisis deskriptif kualitatif dengan mendeskripsikan obyek penelitian berdasarkan pada data dan informasi terkait. Secara umum, deskripsi tersebut dapat menjelaskan fenomena yang terjadi, berkaitan dengan dampak pandemi Covid-19 pada sektor transportasi udara. Dengan tetap memprioritaskan pencegahan penyebaran Covid-19 dan mengendalikan sektor transportasi udara secara bersamaan, maka dalam penelitian ini diusulkan penambahan elemen-elemen kebijakan baik yang telah ditetapkan sebelumnya maupun kebijakan baru, yaitu dengan menerapkan capacity plan yang tepat, optimalisasi pesawat udara, skema logistik antar daerah, insentif dari pemerintah, penajaman peraturan, waiver dan prosedur tambahan.