Nali Eka
Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya

Published : 7 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Peran IAHN-TP Palangka Raya Dalam Melestarikan Identitas Kultural Penganut Hindu Kaharingan Di Kalimantan Tengah Nali Eka
Jurnal Penelitian Agama Hindu Special Issue Budaya & Pendidikan
Publisher : Jayapangus Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (299.899 KB) | DOI: 10.37329/jpah.v0i0.1617

Abstract

Previous research on Kaharingan has written more about various rituals and the integration of Kaharingan with Hinduism. While this paper aims to describe the role of Hindu Universities which have the responsibility to build and improve the quality of Hindu human resourches who have global competence. But still not uprooted from its cultural roots, one way is by participating in caring for and preserving the teachings of local wisdom. Where this lokal wisdom also has profitable potential. This descriptive-qualitative research uses a phenomenological approach to cultural adaptatioan and receptioan theory. The result of the studi showed that the Hindu Institute of Tampung Penyang Palangka Raya state as the Hindu religios College in Kalimantan applies a global minded education pattern to answer the demans of globalization and Hindu educatioan based on local wisdom Kaharingan as identity or cultural identity. The application of this local wisdom based education in the form of local wisdom courses such as Tawur, Tandak, Acara Agama Hindu Kaharingan, Panaturan, Bahasa Sangiang, Bahasa Daerah, Teologi Hindu Kaharingan and other Kaharingan local wisdom courses. Universities have roles and responsibility to mentain local wisdom as the identity of a community, so that Hindu human resource are competitive in facing the challenges of globalization, but are still not uprooted from their cultural roots.
Upacara Ngelangkang Pengaus Sebagai Wujud Yajna Umat Hindu Kaharingan Suku Dayak Lawangan Nali Eka; Melky Setiyawan; Komang Suarta
Satya Widya: Jurnal Studi Agama Vol 2 No 1 (2019): Satya Widya: Jurnal Studi Agama
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33363/swjsa.v2i1.58

Abstract

Suku Dayak Lawangan yang beragama Hindu Kaharingan memiliki suatu upacara kematian yang dilaksanakan setahun setelah upacara kematian yaitu upacara Ngalangkang yang memiliki arti untuk memperingati kematian dari keluarga yang meninggal dimana upacara Ngalangkang tersebut dilaksanakan setiap tahun sebanyak tiga tahun berturut-turut dan puncaknya yaitu ditahun ketiga yang merupakan Ngalangkang Pengaus atau Ngalangkang terakhir. Upacara Ngalangkang Pengaus merupakan penerapan ajaran Tri Kerangka Dasar Agama Hindu yaitu Tattwa, Susila, dan upacara. Nilai Tattwa terlihat dalam keyakinan umat Hindu Suku Dayak Lawangan tentang struktur Ketuhanan yang ada dimana segala sesuatu berasal dari Juss Tuha Allah Taala dan akan kembali kepada-Nya. Nilai Susila yang terkadung dalam Upacara Ngalangkang Pengaus yaitu sesuai dengan ajaran agama Hindu seperti ajaran Pitra Rna, Ahimsa, Punia, tidak boleh berjudi, tidak boleh Mada dan tidak boleh Sastraghana. Nilai upacara yang terkandung dalam Upacara Ngalangkang Pengaus adalah keterampilan dalam Pander Jampa dan juga keterampilan dalam membuat sarana-sarana yang digunakan dalam upacara. Upacara Ngalangkang Pengaus pada umat Hindu Suku Dayak Lawangan dalam Panca Yajna merupakan implementasi dari semua ajaran Panca Yajna yaitu ajaran Dewa Yajna, Pitra Yajna, Rsi Yajna, Manusa Yajna dan BhutaYajna, namun yang paling utama Upacara Ngalangkang Pengaus merupakan bentuk penerapan dari Pitra Yajna. Kata Kunci: Ngalangkang Pengaus, Panca Yajna, Hindu Kaharingan Dayak Lawangan
Tradisi Ngalangkang Pambak pada Umat Hindu Kaharingan di Kecamatan Katingan Hilir Kabupaten Katingan (Kajian Agama Budaya dan Psikologi) Eka, Nali; Megawati, Megawati; Wiranata, Anak Agung Gede; Vienlentia, Raisa
Satya Widya: Jurnal Studi Agama Vol 6 No 2 (2023): Satya Widya: Jurnal Studi Agama
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33363/swjsa.v6i2.1045

Abstract

Abstract The death ceremony carried out by Hindu Kaharinngan in Katingan Hilir consists of the stages of the burial ceremony: Tiwah and Ngalangkang Pambak. This ceremony is a mandatory follow-up after the Tiwah, but in reality, Ngalangkang Pambak is no longer held after the ceremony. This ceremony is even carried out as an annual ritual or to commemorate certain events. This research uses a qualitative method with a case study approach. The type of data for this research is primary data sourced from informants and secondary data sourced from supporting data. Data collection methods include observation, interviews, recording, and documentation studies. Data analysis and interpretation procedures in research using a "ground-up" approach. The result of this research, Ngalangkang Pambak is part of a series of Tiwah ceremonies. However, in its development, Ngalangkang Pambka turned into an annual tradition. Ngalangkang Pambak is an event of thanksgiving for the prosperity, good fortune, and health that have been given by the ancestors by cleaning the Pambak or the graves of deceased relatives (ancestors). Ngalangkang Pambak is also means of paying for one's wishes because all requests, whether in the form of work or achievements specifically requested from the ancestors, have all been achieved. The Ngalangkang Pambak ritual creates a feeling of joy and makes life more relaxed and enjoyable, bringing joy to the family that has carried it out because this ritual also means that the family is considered capable of carrying out a form of devotion to their ancestors.
Bentuk, Ideologi dan Makna Manenga Lewu Sebagai Upacara Kematian Pasca Penguburan Bagi Penganut Hindu Kaharingan Di Desa Tarantang Kabupaten Kapuas Eka, Nali
Jurnal Penelitian Agama Hindu Vol 8 No 1 (2024)
Publisher : Jayapangus Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37329/jpah.v8i1.2147

Abstract

Manenga Lewu is a death ceremony still performed by Hindu Kaharingan in Tarantang Village. However, during the onslaught of modernity and the culture of practical and fast-paced life, the Manenga Lewu ceremony threatens its existence, which could become increasingly rare and even abandoned. In addition, the Manenga Lewu ceremony is unique to the post-burial death ceremony, which Hindu Kaharingan generally carries out. This research aims to analyze and provide information about the form, ideology, and meaning of the Manenga Lewu ceremony, which can add insight for the Hindu community about the death ceremony in Tarantang Village, Kapuas Regency. This research uses a descriptive qualitative method that describes the uniqueness of the Manenga Lewu implementation process by looking at the form, ideology, and meaning as a guideline for analysis. The results showed that Manenga Lewu is the second stage of the death ceremony after burial, which is held for seven days or a maximum of three months. This ceremony is not only to provide a place for the spirit of the deceased but also to release the living family from Rutas in the form of bad luck and abstinence. Manenga Lewu is also a ceremony with religious, social, and artistic ideologies. The meaning of Manenga Lewu includes spiritual, cultural, and social aspects. This ceremony characterizes the Hindu community in Mantangai Sub-district, especially in Tarantang Village, which differs from the Hindu Kaharingan community in other areas of Kapuas Regency.
SOSISALISASI BERBANGSA BERNEGARA MELALUI BUDAYA HANDEP HAPAKAT PEMASANGAN BENDERA DALAM MEMPERKUAT MODERASI Muslimah Muslimah; Dafit Dafit; Wahyu Alfian; Abdul Azis Al Fatah; Tina Sarmila; Rinto Hasiholan Hutapea; Ria Ria; Juni Juni; Nali Eka; Riri Rianti; Indra Prayogi; Rini Astuti; Nadia Sri Agustin
Konferensi Nasional Pengabdian Masyarakat (KOPEMAS) #5 2024 Konferensi Nasional Pengabdian Masyarakat (KOPEMAS) 2022
Publisher : Konferensi Nasional Pengabdian Masyarakat (KOPEMAS) #5 2024

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengabdian ini didasarkan pada budaya kearifan lokal handep hapakat (gotong royong) masyarakat suku Dayak yang dijadikan sebagai pandangan hidup dalam mengimpelementasikan berupa nilai toleransi, persaudaraaan, hingga kesetaraan. Pengabdian berbasis riset dalam kelompok KKN Kolaborasi Nusantara Moderasi Beragama berlokasi di desa Tangkahen, kecamatan Banama Tingang, kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah berlangsung selama empat puluh lima hari dari tanggal 19 Juli sampai dengan 1 September 2022. Sosialisasi dan penguatan moderasi beraagama dilakukan untuk memperkuat pola pikir masyarakat dalam menyikapi keragaman dengan bijak, toleran dan berkeadilan. Karenannya penting untuk melakukan pengabdian tentang sosialisasi membangun kehidupan berbangsa dan bernegara melalui budaya handep hapakat pemasangan bendera merah putih untuk memperkuat moderasi beragama di desa Tangkahen, kecamatan Banama Tingang, kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah. Metode yang dipakai dalam pengabdian masyarakat yaitu metode ABCD (Asset Based Community-driven Development) yang memiliki fokus utama memperkuat semangat kehidupan berbangsa dan bernegara serta moderasi beragama dengan pengembangan aset masyarakat dan sumber daya manusia melalui budaya sosial handep hapakat. Hasil pengabdian ini bahwa masyarakat desa Tangkahen yang selama ini sudah hidup dalam kebersamaan dan kekeluargaan, pada awalnya menganggap biasa saja terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara melalui budaya handep hapakat pemasangan bendera merah putih, karena sudah biasa dan aman-aman saja dalam kehidupan yang berbeda suku, budaya dan agama, namun dengan dilakukannya pengabdian melalui sosialisasi dalam praktik langsung, maka masyarakat desa Tangkahen semakin menyadari betapa pentingnya handep hapakat dalam pemasangan bendera merah putih yang berdampak pada penguatan moderasi beragama.
PENGUATAN NILAI-NILAI MODERASI BERAGAMA DAN PEMBERDAYAAN MASYARAKAT MELALUI KEGIATAN OLAHRAGA BOLA VOLI DI DESA TANGKAHEN Rinto Hasiholan Hutapea; Muslimah Muslimah; Nali Eka; Wahyu Alfian R.A.S; Riri Rianti; Ria Ria; Dafit Dafit; Rini Astuti; Nadia Sri Agustin; Juni Juni; Indra Prayogi; Abdul Azis Al Fatah
Konferensi Nasional Pengabdian Masyarakat (KOPEMAS) #5 2024 Konferensi Nasional Pengabdian Masyarakat (KOPEMAS) 2022
Publisher : Konferensi Nasional Pengabdian Masyarakat (KOPEMAS) #5 2024

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk menganalisis program pemberdayaan masyarakat oleh mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Kolaborasi Nusantara Moderasi Beragama di desa Tangkahen, Kecamatan Banama Tingang, Kabupaten Pulang Pisau, Provinsi Kalimantan Tengah. Program tersebut sebagai upaya mengoptimalisasikan kemitraan mahasiswa dengan masyarakat dalam penguatan nilai-nilai moderasi beragama melalui kegiatan olahraga bola voli. Pengabdian ini menggunakan metode ABCD (Asset Based Communitydriven Development) sebagai pemberdayaan aset yang dimiliki masyarakat, seperti memiliki sumber daya manusia yang terampil dalam berolahraga voli dan dapat dijadikan sebagai wadah untuk penguatan nilai-nilai moderasi beragama. Adapun hasil dari pengabdian ini mengungkapkan bahwa program olahraga voli mampu berbaur dan menanamkan nilai-nilai moderasi beragama kepada masyarakat, serta memberdayakan aset lokal dengan melakukan perbaikan lapangan bola dan fasilitasnya, yang kemudian menjadi rutinitas keseharian masyarakat pada sore hari. Selain itu, mahasiswa dan masyarakat mampu mengadakan perlombaan bola voli dalam rangka memeriahkan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia Ke-77 pada bulan Agustus 2022. Perlombaan diikuti oleh masyarakat, khususnya pemuda-pemudi tingkat pelajar di Desa Tangakahen. Masyarakat Desa Tangkahen juga dapat memanfaatkan lapangan voli yang telah diperbaiki dan difasilitasi yang kemudian diberi papan nama “Lapangan Hantingan.” Masyarakat Desa Tangkahen senang dan gembira ketika bermain, tanpa memperdulikan perbedaan latar belakang suku, ras, dan agama. Masyarakat menunjukkan sikap yang antusias, akrab, saling tolong-menolong, saling menghormati, serta saling merawat kebersamaan dan keharmonisan.
MENINGKATKAN BUDAYA LITERASI MODERASI BERAGAMA MELALUI BIMBINGAN BELAJAR PADA SISWA SEKOLAH DASAR DESA TUMBANG TARUSAN Muslimah Muslimah; Rinto Hasiholan Hutapea; Nali Eka; Wahyu Muhammad Ikrom; Nadia Merdiana; Evana Adetyana; Maresa Tania Dwi Wahyu; Natanael Eucharisteo; Dodoe Dodoe; Sonia Lestari; Khoridah Khoridah; Fera Dwi Haryati; Milatul Afifah
Konferensi Nasional Pengabdian Masyarakat (KOPEMAS) #5 2024 Konferensi Nasional Pengabdian Masyarakat (KOPEMAS) 2022
Publisher : Konferensi Nasional Pengabdian Masyarakat (KOPEMAS) #5 2024

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan dari pengabdian ini ialah sebagai wadah memaksimalkan kerja sama para mahasiswa KKN Kolaborasi Nusantara Moderasi Beragama bersama masyarakat dalam memperdayakan bimbingan belajar di Desa Tumbang Tarusan yang merupakan asset di Desa ini. Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan dengan menggunakan ABCD (Asset Based Community Development) sebagai pendekatan untuk mengembangkan subtansi yang dikuasai desa secara maksimal. Setelah dilakukan survey dan pemetaan aset maka didapatkan hal yang mendesak untuk dilakukan yakni pengembangan aset bimbingan belajar desa untuk memaksimalkan kemampuan anak didik belajar di luar lingkungan sekolah. Pada pengapdian ini didapatkan hasil yakni program unggulan mahasiswa KKN Kolaborasi Nusantara Moderasi Beragama dapat meningkatkan kemampuan membaca, menulis dan berhitung para siswa dan siswi yang mengikuti kegiatan bimbingan belajar. Bersinergi dengan guru-guru yang diberi tanggung jawab untuk mengajar, dengan bekerjasama kemudian memberi saran mengelompokkan siswa sesuai dengan kendala yang dihadapi, agar bisa diberi pelajaran sesuai dengan kebutuhannya. Selanjutnya, mahasiswa menempelkan beberapa tempelan tulisan abjad, perkalian, pertambahan dan beberapa tulisan mengenai edukasi tentang moderasi beragama. Sebagai kenang-kenangan dan pengetahuan agar dapat berguna bagi guru dan siswa. Seluruh siswa dan siswi yang mengikuti kegiatan bimbingan belajar bersatu padu tanpa memandang keberagaman agama dan suku yang ada. Para siswa dan siswi menjalin keakraban, saling memotivasi serta menghargai satu sama lain.