Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

KEARIFAN LOKAL DALAM PELESTARIAN HUTAN MANGROVE MELALUI COMMUNITY DEVELOPMENT Purwowibowo Purwowibowo; Nur Dyah Gyanawati
Bina Hukum Lingkungan Vol 1, No 1 (2016): Bina Hukum Lingkungan
Publisher : Pembina Hukum Lingkungan Indonesia (PHLI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (352.514 KB) | DOI: 10.24970/bhl.v1i1.14

Abstract

AbstrakKajian kearifan lokal melalui pengembangan komunitas (comdev) untuk menjaga kelestarian lingkungan telah lama dilakukan. Namun, penelitian sejenis untuk perlindungan hutan mangrove jarang dilakukan. Aritikel ini memfokuskan pada pengembangan komunitas (comdev) berbasis kearifan lokal dengan proses bottom-up oleh masyarakat desa pesisir di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Pengembangan komunitas secara bottom-up bertujuan untuk menjelaskan bahwa seluruh aktifitas yang digagas atau dilakukan, dikontrol oleh masyarakat setempat dengan pemimpin yang informal dan para anggotanya. Dengan demikian, kegiatan yang dilakukan tanpa melibatkan atau difasilitasi oleh pihak eksternal seperti LSM atau pemerintah. Melalui kearifan lokal yakni pengetahuan masyarakat, kebudayaan, sumberdaya, keterampilan dan proses-proses, serta pengembangan komunitas masyarakat lokal yang terus menerus dilakukan, sehingga pada akhirnya menghasilkan perlindungan hutan mangrove. Namun, kerusakan hutan magrove yang diakibatkan oleh perbuatan masyarakat lokal ataupun orang-orang yang berasal dari luar daerah tersebut sehingga kerusakan hutan mangrove tidak dapat dielakan lagi. Sejauh ini, keadaan tersebut dapat diatasi melalui regulasi yang memperhatikan kearifan lokal serta dengan menerapkan prinsip win-win solution terhadap komunitas terkait. Perlindungan hutan mangrove di daerah garis pantai dapat menjadi sabuk hijau dan media untuk berbagai jenis dari pemulihan sumberdaya alam. Ketersediaan sumberdaya alam dapat menunjang kesejahteraan masyrakat da-lam bentuk keuntungan dari pemanfaatan sumber daya alam.Kata Kunci: Kearifan Lokal; Hutan Mangrove; Pengembangan Komunitas. AbstractStudy of local wisdom through Community Development (Comdev) to maintain environmental sustainability has long been undertaken. However, research of similar kind for mangrove forest conservation is rarely carried out. his article focuses on localwis-dom-based Comdev with bottom-up process conducted by coastal village community in Rembang regency, Central Java. Bottom-up Comdev is meant to clarify that theentire activities were merely initiated, conducted and controlled by the local community with the informal leader and members. Thus, the activities have been carried out without the involvement or facilitation of external parties like NGO or government. Through local wisdom namely local background knowledge, local culture, local resources, local skills and local process, the ongoing Comdev has long been conducted and mangrove forest conservation eventually became a reality. Nevertheless, mangrove forest destruction caused by local people or outsiders inevitably takes place. Yet, this circumstance can be overcome through regulation issued with local wisdom through ‘win-win solution’ with related community. Mangrove forest conservation in shoreline region can be the greenbelt and media for various types of natural resources recovery. The natural resource availability can empower human welfare in the form of regular employment and income.Keywords: Local Wisdom; Mangrove forest; Community Development.
A Performance Evaluation of Repetitive and Iterative Learning Algorithms for Periodic Tracking Control of Functional Electrical Stimulation System Kurniawan, Edi; Pratiwi, Enggar B.; Adinanta, Hendra; Suryadi, Suryadi; Prakosa, Jalu A.; Purwowibowo, Purwowibowo; Wijonarko, Sensus; Maftukhah, Tatik; Rustandi, Dadang; Mahmudi, Mahmudi
Journal of Robotics and Control (JRC) Vol 5, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/jrc.v5i1.20705

Abstract

Functional electrical stimulation (FES) is a medical device that delivers electrical pulses to the muscle, allowing patients with spinal cord injuries to perform activities such as walking, cycling, and grasping. It is critical for the FES to generate stimuli with the appropriate controller so that the desired movements can be precisely tracked. By considering the repetitive nature of the movements, the learning-based control algorithms are utilized for regulating the FES. Iterative learning control (ILC) and repetitive control (RC) are two learning algorithms that can be used to accomplish accurate repetitive motions. This study investigates a variety of ILC and RC designs with distinct learning functions; this constitutes our contribution to the field. The FES model of ankle angle, which is in a class of discrete-time linear systems is considered in this study. Two learning functions, i.e., proportional, and zero-phase learning functions, are simulated for the second-order FES model running at a sampling time of 0.1 s. The results indicate the superior performance of the ILC and RC in terms of convergence rate using the zero-phase learning function. ILC and RC with a zero-phase learning function can reach a zero root-mean-square error in two iterations if the model of the plant is correct. This is faster than proportional-based ILC and RC, which takes about 40 iterations. This indicates that the zero-phase learning function requires two iterations to ensure that the patient's ankle angle precisely tracks the intended trajectory. However, the tracking performance is degraded for both control methods, especially when the model is subject to uncertainties. This specific problem can lead to future research directions.
Pengorganisasian Masyarakat Melalui Metode Penyuluhan HIV AIDS di Kedungmoro Kunir Lumajang Zamroji, Muhammad; Sintiawati, Nani; Purwowibowo, Purwowibowo
Learning Community : Jurnal Pendidikan Luar Sekolah Vol 7 No 1 (2023): Learning Community: Jurnal Pendidikan Luar Sekolah
Publisher : Program Studi Pendidikan Luar Sekolah FKIP Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/jlc.v7i1.39225

Abstract

Pengembangan masyarakat yang ada di Indonesia saat ini cukup signifikan untuk menigkatkan kualitas sumber daya manusia, apabila ditinjau dari kondisi sumberdaya manusia yang ada, masih perlunya upaya pengorganisasian masyarakat melalui strategi yang sesuai. Tujuan dari pengamatan ini adalah untuk mendeskripsikan pengorganisasian masyarakat dalam menumbuhkan kesadaran masyarakat di Kabupaten melalui penyuluhan HIV AIDS kepada masyarakat Desa Kedungmoro, Kecamatan Kunir, Kabupaten Lumajang. Pendekatan penelitian menggunakan metode kualitatif melalui metode deskriptif. Hasil penelitian menggambarkan pemberian penyuluhan kesehatan tentang penyakit HIV dan AIDS dilakukan melalui metode ceramah dan tanya jawab interaktif, sehingga segala pesan atau informasi yang disampaikan dapat diterima dengan baik dan jelas oleh peserta penyuluhan. Penyuluhan kesehatan di Desa Kedungmoro memberikan manfaat untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat dalam durasi waktu singkat dan sesuai teori yang ada. Materi yang disampaikan oleh penyuluh dikemas menarik sehingga menumbuhkan partisipasi masyarakat dalam menerima materi penyuluhan.
KEARIFAN LOKAL DALAM PELESTARIAN HUTAN MANGROVE MELALUI COMMUNIT DEVELOPMENT Purwowibowo, Purwowibowo; Dyah Gianawati, Nur
Bina Hukum Lingkungan Vol. 1 No. 1 (2016): Bina Hukum Lingkungan, Volume 1, Nomor 1, Oktober 2016
Publisher : Asosiasi Pembina Hukum Lingkungan Indonesia (PHLI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kajian kearifan lokal melalui pengembangan komunitas (comdev) untuk menjaga kelestarian lingkungan telah lama dilakukan. Namun, penelitian sejenis untuk perlindungan hutan mangrove jarang dilakukan. Aritikel ini memfokuskan pada pengembangan komunitas (comdev) berbasis kearifan lokal dengan proses bottom-up oleh masyarakat desa pesisir di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Pengembangan komunitas secara bottom-up bertujuan untuk menjelaskan bahwa seluruh aktifitas yang digagas atau dilakukan, dikontrol oleh masyarakat setempat dengan pemimpin yang informal dan para anggotanya. Dengan demikian, kegiatan yang dilakukan tanpa melibatkan atau difasilitasi oleh pihak eksternal seperti LSM atau pemerintah. Melalui kearifan lokal yakni pengetahuan masyarakat, kebudayaan, sumberdaya, keterampilan dan proses-proses, serta pengembangan komunitas masyarakat lokal yang terus menerus dilakukan, sehingga pada akhirnya menghasilkan perlindungan hutan mangrove. Namun, kerusakan hutan magrove yang diakibatkan oleh perbuatan masyarakat lokal ataupun orang-orang yang berasal dari luar daerah tersebut sehingga kerusakan hutan mangrove tidak dapat dielakan lagi. Sejauh ini, keadaan tersebut dapat diatasi melalui regulasi yang memperhatikan kearifan lokal serta dengan menerapkan prinsip win-win solution terhadap komunitas terkait. Perlindungan hutan mangrove di daerah garis pantai dapat menjadi sabuk hijau dan media untuk berbagai jenis dari pemulihan sumberdaya alam. Ketersediaan sumberdaya alam dapat menunjang kesejahteraan masyrakat da-lam bentuk keuntungan dari pemanfaatan sumber daya alam.
KEARIFAN LOKAL DALAM PELESTARIAN HUTAN MANGROVE MELALUI COMMUNIT DEVELOPMENT Purwowibowo, Purwowibowo; Dyah Gianawati, Nur
Bina Hukum Lingkungan Vol. 1 No. 1 (2016): Bina Hukum Lingkungan, Volume 1, Nomor 1, Oktober 2016
Publisher : Asosiasi Pembina Hukum Lingkungan Indonesia (PHLI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kajian kearifan lokal melalui pengembangan komunitas (comdev) untuk menjaga kelestarian lingkungan telah lama dilakukan. Namun, penelitian sejenis untuk perlindungan hutan mangrove jarang dilakukan. Aritikel ini memfokuskan pada pengembangan komunitas (comdev) berbasis kearifan lokal dengan proses bottom-up oleh masyarakat desa pesisir di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Pengembangan komunitas secara bottom-up bertujuan untuk menjelaskan bahwa seluruh aktifitas yang digagas atau dilakukan, dikontrol oleh masyarakat setempat dengan pemimpin yang informal dan para anggotanya. Dengan demikian, kegiatan yang dilakukan tanpa melibatkan atau difasilitasi oleh pihak eksternal seperti LSM atau pemerintah. Melalui kearifan lokal yakni pengetahuan masyarakat, kebudayaan, sumberdaya, keterampilan dan proses-proses, serta pengembangan komunitas masyarakat lokal yang terus menerus dilakukan, sehingga pada akhirnya menghasilkan perlindungan hutan mangrove. Namun, kerusakan hutan magrove yang diakibatkan oleh perbuatan masyarakat lokal ataupun orang-orang yang berasal dari luar daerah tersebut sehingga kerusakan hutan mangrove tidak dapat dielakan lagi. Sejauh ini, keadaan tersebut dapat diatasi melalui regulasi yang memperhatikan kearifan lokal serta dengan menerapkan prinsip win-win solution terhadap komunitas terkait. Perlindungan hutan mangrove di daerah garis pantai dapat menjadi sabuk hijau dan media untuk berbagai jenis dari pemulihan sumberdaya alam. Ketersediaan sumberdaya alam dapat menunjang kesejahteraan masyrakat da-lam bentuk keuntungan dari pemanfaatan sumber daya alam.
Peningkatan Kapasitas Manusia Sebagai Fokus dari People Centered Development Purwowibowo, Purwowibowo; Hendrijanto, Kris; Soelistijono, Pra Adi
ARISTO Vol 6 No 2 (2018): July
Publisher : Universitas Muhammadiyah Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24269/ars.v6i2.1068

Abstract

This article discusses the development paradigm that focuses on human  or people centered development. Many development paradigms have been applied in many developing countries, but the results have not been satisfactory. During this time the various paradigms emphasize economic growth, equity of development, and others, but the distortion of development appears everywhere. For example, development by emphasizes economic-growth was followed by massive environmental damage. In addition, poverty is still a portrait of people in developing countries, although the country is experiencing high economic growth. In realizing a prosperous society free of poverty, a new strategy or development paradigm that emphasizes its human factors are needed. In this case, this paradigm discusses the importance of the human element as the 'core' of development itself. If human beings are capable, have sufficient knowledge, adequate skills by themselves poverty will be reduced. Therefore, this paradigm more implies that is a 'capacity building ' of human beings so that it can become the subject of development and not just as an object of development themselves. Capacity building can be achieved through social development that emphasizes elements of education, knowledge, and skills so that they can try or do entrepreneurship and open their own job opportunities. Many cases, various development paradigms that emphasize economic growth are not able to absorb the available labor so that many are unemployed. With the ability of human or people, they have will be able to open their own business and do not depend on the provision of employment from the government. In the end they are able to alleviate self-poverty.