Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

The Relationship Between the Intensity of Smartphone Use and Sleep Quality in Class VIII Teenagers at SMPN 4 Genteng Banyuwangi Fatimatuz Zahro; Susi Wahyuning Asih; Asmuji
Cleanliness: Journal of Health Sciences and Medical Research Vol. 1 No. 1 (2024)
Publisher : Penerbit Hellow Pustaka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61166/clean.v1i1.3

Abstract

Using a smartphone before bed can make a person's sleep time late and not according to the time. When someone plays with a smartphone at night, the brain will think that this is not sleep time because of the blue light emitted by the smartphone. If the brain thinks that it is not hours of sleep, the duration of smartphone users' sleep will decrease and this will affect the quality of their sleep. Poor sleep quality in teenagers will affect all activities and in daily life. This research aims to determine the relationship between the intensity of smartphone use and sleep quality in teenagers. This research uses a correlational research design with a quantitative research model using a cross-sectional approach. The population in this study was class students with a sample of 112 people taken using simple random sampling techniques. The instrument used in this study used a likert scale questionnaire. Statistical test between smartphone usage intensity and sleep quality measured using Spearman Rank (rho) with α = 0.05.  This research shows there is a relationship between the intensity of smartphone use and sleep quality. The direction of a positive relationship with strength is sufficient, meaning that the greater the intensity of using a smartphone, the less good it will have an impact on poor sleep quality. Using a smartphone at night will cause the brain to receive external stimuli in the form of sound, light and vibrations from the smartphone, this causes a person to wake up at night and if it lasts a long time it will disrupt the quality of students' sleep. Discussion: Therefore, it is necessary to monitor smartphone use in students so that sleep quality is better.
Pemberdayaan Nasyiatul Aisyiyah Cakru dalam Mendukung Gerakan Zero Stunting Berbasis Keluarga dan Komunitas Iin Ervina; Susi Wahyuning Asih; Nely Ana Mufarida; Asroful Abidin
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan aplikasi Teknologi Vol 05 No 02: Oktober 2026 (in progress)
Publisher : Institut Teknologi Adhi Tama Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31284/j.adipati.2026.v5i2.8393

Abstract

Program pengabdian masyarakat ini bertujuan meningkatkan kapasitas kader Nasyiatul Aisyiyah Cakru dalam mendukung gerakan zero stunting berbasis keluarga dan komunitas di Desa Cakru, Kecamatan Kencong, Kabupaten Jember. Kegiatan difokuskan pada penguatan pemahaman kader mengenai pencegahan stunting melalui edukasi gizi, pemantauan tumbuh kembang, serta peningkatan peran keluarga dalam praktik pengasuhan sehat. Metode yang digunakan meliputi sosialisasi partisipatif, pelatihan berbasis modul, penerapan teknologi sederhana (media digital dan growth chart), pendampingan keluarga berisiko stunting, serta evaluasi berkelanjutan melalui monitoring status gizi dan kolaborasi dengan perangkat desa serta tenaga kesehatan. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, pre-test dan post-test, serta dokumentasi untuk menilai peningkatan pengetahuan dan perubahan perilaku. Hasil menunjukkan peningkatan signifikan dalam pemahaman kader mengenai faktor risiko stunting, pola makan bergizi seimbang, serta teknik stimulasi tumbuh kembang. Pre-test dan post-test menampilkan kenaikan rata-rata pemahaman lebih dari 35%. Keluarga sasaran juga memperlihatkan perubahan perilaku positif, seperti praktik MP-ASI sesuai rekomendasi, peningkatan keaktifan posyandu, dan kesadaran memantau status gizi anak. Kolaborasi komunitas menghasilkan kelompok pendukung keluarga sadar gizi sebagai media edukasi berkelanjutan. Simpulannya, program pemberdayaan ini efektif meningkatkan kapasitas kader serta memperkuat partisipasi keluarga dan komunitas dalam pencegahan stunting. Model pendampingan berbasis komunitas mampu mendorong perubahan perilaku berkelanjutan dan berpotensi direplikasi di wilayah lain.