Claim Missing Document
Check
Articles

Found 29 Documents
Search

Penyuluhan Manajemen Luka Terkini dalam Situasi Pandemic Covid -19 Melalui Kegiatan Pesantren Luka dengan Menggunakan Media Zoom Meeting Bagi Mahasiswa Prodi Keperawatan & Profesi Ners Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Nasional Jakarta Naziyah Naziyah; Rizki Hidayat; Maulidya Maulidya
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 5, No 7 (2022): Volume 5 No 7 Juli 2022
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v5i7.6223

Abstract

ABSTRAK Luka merupakan kondisi hilangnya kuntinuitas epitel dengan atau tanpa jaringan ikat dibawahnya sehingga menimbulkan kerusakan fungsi kulit yang bisa disebabkan oleh berbagai sebab, misalnya pembedahan, trauma tajam, luka bakar, bahan kimia, gesekan atau tekanan. Saat ini teori yang dipakai dalam merawat luka adalah perawatan luka lembab (moist), tujuannya dengan moist kita dapat mengurangi inflamasi, mengurangi infeksi, mengurangi fibrosis. Serta manfaat dari suasana moist ini adalah meningkatkan aktivitas leukosit, meningkatkan kecepatan penyembuhan luka, meningkatkan kualitas jaringan parut.Tujuan dari kegiatan ini peserta mengetahui manajemen perawatan luka terkini, memberikan nilai-nilai edukasi kepada masyarakat tentang upaya promosi, prevensi dan kurasi di bidang Kesehatan kulit di situasi pandemic covid-19, mampu memahami perawatan luka berbasis lembab dan mampu melaksanakan asuhan keperawatan berupa upaya promotive perventif kuratif dan rehabilitative di situasi pandemic Covid -19. Kegiatan dilakukan dengan ceramah tanya jawab dan diskusi melalui daring melalui media zoom. Hasil Pengabdian kepada masyarakat : Partisipan yang mengikuti penyuluhan pada acara Penyuluhan manajemen luka terkini dalam zituasi pandemic covid -19 sangat antusias dan partisipan yang mengikuti sebanyak 98 peserta yang mengikuti merupakan mahasiswa tingkat akhir program studi keperawatan dan prodi profesi ners fakultas ilmu kesehatan universitas nasional. Artisipan mampu memahami manajemen perawat luka dengan metode perawatan luka modern / perawatan luka terkini dalam situasi pandemi covid-19 dari para narasumber dalam acara pesantren luka bagi mahasiswa fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Nasional. Kata Kunci: Manajemen Luka, Pesantren luka, Covid 19  ABSTRACT Wound is a condition of loss of continuity of the epithelium with or without underlying connective tissue, causing damage to skin function which can be caused by various causes, such as surgery, sharp trauma, burns, chemicals, friction or pressure. Currently the theory used in treating wounds is moist wound care, the goal is with moist we can reduce inflammation, reduce infection, reduce fibrosis. And the benefits of this moist atmosphere are increasing leukocyte activity, increasing the speed of wound healing, improving the quality of scar tissue. To know the latest wound care management, to provide educational values to the public about promotion, prevention and curation efforts in the field of skin health in pandemic situations. covid-19, able to understand moist-based wound care and able to carry out nursing care in the form of promotive, preventive, curative and rehabilitative efforts in the Covid-19 pandemic situation. Question and answer lectures and online discussions through the media zoom meeting. Question and answer lectures and online discussions via zoom media. Results of Community Service: Participants who took part in counseling at the latest wound management counseling event in the Covid-19 pandemic situation were very enthusiastic and the participants who took part as many as 98 participants who took part were final year students of the nursing study program and nursing profession study program at the national university health sciences faculty. Participants were able to understand the management of wound nurses with modern wound care methods / latest wound care in the COVID-19 pandemic situation from the speakers at the wound boarding school event for students of the National University Health Sciences faculty. Keywords: wound management, Wound Islamic Boarding School, Covid 19
PENYULUHAN GIZI SEHAT DAN PENGUKURAN ANTROPOMETRI PADA BAYI DAN BALITA DI POSYANDU CARAKA NANDA III KELURAHAN PONDOK BETUNG TANGERANG SELATAN Naziyah Naziyah; Risza Choirunnisa; Dessy Khoirunnisa
JURNAL KREATIVITAS PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT (PKM) Volume 3 Nomor 1 April 2020
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v3i1.2377

Abstract

Kekurangan gizi diperkirakan menjadi penyebab 3,1 juta kematian anak setiap tahun atau sekitar 45% dari total kematian anak. Pemberian makanan bagi bayi dan balita merupakan kunci untuk memperbaiki kelangsungan hidup anak dan mendukung pertumbuhan dan perkembangan yang sehat pada anak. Dua tahun pertama kehidupan seorang anak merupakan periode yang amat penting, karena nutrisi yang optimal selama periode ini dapat menurunkan angka kesakitan dan kematian anak, mengurangi risiko penyakit kronis, serta mendukung perkembangan anak yang lebih baik. Pemberian ASI secara optimal sangatlah penting karena dapat menyelamatkan hidup lebih dari 800.000 balita setiap tahunnya. Untuk itu, WHO dan UNICEF merekomendasikan adalah Inisiasi menyusu dini dalam waktu 1 jam setelah anak lahir. ASI eksklusif selama 6 bulan pertama kehidupan. Memperkenalkan makanan pendamping ASI (makanan padat) yang aman dan kadar gizinya cukup pada usia 6 bulan dengan tetap melanjutkan ASI hingga usia 2 tahun atau lebih. Namun, masih banyak bayi dan anak yang tidak mendapatkan nutrisi optimal. Contohnya, hanya sekitar 36% bayi usia 0-6 bulan di seluruh dunia yang mendapat ASI eksklusif pada tahun 2007-2014. Defisit satu indeks antropometri atau lebih merupakan indikasi adanya ‘kekurangan gizi’ dimasyarakat.  Namun keadaan defisit tersebut tidak dapat dikatakan hanya karena kekurangan konsumsi energi atau zat gizi saja, banyak factor yang terkait sebagai penyebab. Rendahnya ukuran antropometri merupakan indikasi kekurangan gizi pada saat ini dan dimasa lampau ditingkat seluler yang disebabkan karena rendahnya konsumsi makanan dan atau serangan infeksi yang berulang-ulang, dan atau karena adanya gangguan absorbsi zat-zat gizi. Kombinasi dan interaksi kekurangan gizi dan infeksi merupakan penyebab utama gangguan pertumbuhan pada bayi dan anak-anak. Karenanya hasil pengukuran antropometri tidak bisa secara langsung digunakan untuk menjelaskan gangguan pertumbuhan: interpretasi tergantung pada indeks antropometri yang digunakan, penyebab gangguan, dan mungkin keadaan social ekonomi masyarakat
Analisis Asuhan Keperawatan Luka Kaki Diabetik pada Tn.I dan Ny.A dengan Penggunaan Zinc Cream dan Chitosan sebagai Balutan Primer di Wocare Center Bogor Putri Fauzia Sukmawati; Rizki Hidayat; Naziyah Naziyah
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 5, No 11 (2022): Volume 5 No 11 November 2022
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v5i11.7530

Abstract

ABSTRAK Kondisi kronis yang menjadi penyebab utama morbiditas, mortalitas, dan kematian pada penderita diabetes melitus adalah luka kaki diabetik. Salah satu modern dressing yang terbukti dapat digunakan sebagai autolisis debridemen ialah Zinc Cream dan Chitosan. Kedua bahan tersebut dapat digunakan sebagai balutan primer dan berfungsi untuk menjaga kelembapan pada luka sekaligus mempercepat regenerasi jaringan. Tujuan analisis ini adalah untuk mengetahui manfaat penggunaan Zinc Cream dan Chitosan sebagai balutan primer pada luka kaki diabetik. Metode yang dilakukan merupakan pendekatan studi kasus dengan dua subjek penelitian dan dilaksanakan selama dua kali pertemuan dengan waktu dua kali dalam seminggu. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara dan observasi. Analisis penggunaan Zinc Cream dan Chitosan sebagai balutan primer yang berfungsi sebagai autolisis debridemen menunjukkan bahwa kedua bahan tersebut efektif dalam menghilangkan jaringan nekrotik pada luka kedua klien. Hal ini lebih lanjut ditunjukkan pada saat kunjungan berikutnya, ketika jaringan nekrotik pada luka kedua klien mulai meluruh dan mulai memperlihatkan dasar luka. Penggunaan Zinc Cream dan Chitosan sebagai balutan primer pada luka kaki diabetik menunjukkan bahwa teknik perawatan luka dengan modern dressing dapat membantu proses autolisis debridemen, menjaga kelembapan luka (moisture balance) dan mempercepat waktu penyembuhan luka. Selain itu, proses autolisis debridemen menggunakan Zinc Cream dan Chitosan sebagai balutan primer dianggap lebih efisien dan aman untuk digunakan dalam mengobati luka, terutama luka kaki diabetik. Kata Kunci: Diabetes Melitus, Luka Kaki Diabetik, Zinc Cream, Chitosan  ABSTRACT Chronic conditions that are the main cause of morbidity, mortality, and death in people with diabetes mellitus are diabetic foot ulcers. One of the modern dressings that are proven to be used as autolysis debridement are Zinc Cream and Chitosan. Both of these materials can be used as a primary dressing and function to maintain moisture in the wound while accelerating tissue regeneration. The purpose of this analysis is to determine the benefits of using Zinc Cream and Chitosan as a primary dressing for diabetic foot wounds. The method used is a case study approach with two research subjects and is carried out for two meetings twice a week. Data collection techniques using interviews and observation. Analysis of the use of Zinc Cream and Chitosan as a primary dressing that functions as an autolysis debridement showed that both were effective in removing dead tissue from the wounds of both clients. This was further demonstrated at the next visit when the dead tissue in both clients' wounds began to slough off and begin to reveal the wound bed. The use of Zinc Cream and Chitosan as primary dressings for diabetic foot wounds shows that modern dressing techniques can assist the autolysis debridement process, maintain wound moisture (moisture balance), and accelerate wound healing time. In addition, autolysis debridement using Zinc Cream and Chitosan as a primary dressing is considered more efficient and safe to use in treating wounds, especially diabetic foot wounds. Keywords: Diabetes Mellitus, Diabetic Foot Ulcers, Zinc Cream, Chitosan
Analisis Asuhan Keperawatan dengan Intervensi Penggunaan Polyurethane Foam sebagai Balutan Primer pada Fase Proliferasi pada Tn. M Dan Ny. R dengan Diagnosa Medis Diabetic Foot Ulcer di Wocare Center Bogor Jawa Barat Audrey Talitha Salsabila; Naziyah Naziyah
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 5, No 12 (2022): Volume 5 No 12 Desember 2022
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v5i12.7600

Abstract

ABSTRAK Ulkus diabetikum didefinisikan sebagai luka yang timbul pada penderita DM akibat komplikasi mikroangiopati dan makroangiopati. Masalah keperawatan utama yang ditemukan pada saat pengkajian terhadap Tn. M dan Ny. R adalah gangguan integritas kulit/jaringan, yang dibuktikan dengan adanya data subjektif dan objektif pada gejala dan tanda mayor berupa adanya ulkus diabetikum pada kaki klien. Kedua klien menggunakan balutan yang sama yaitu, polyurethane foam sebagai balutan primer untuk mendukung proses penyembuhan luka pada fase proliferasi. Polyurethane foam merupakan balutan yang tersusun dari polymer atau polyurethane yang mengandung sel-sel berlubang kecil yang berfungsi untuk menahan dan menarik eksudat dari dasar luka sehingga dapat memulihkan luka kembali kedalam lingkungan yang fisiologis. Analisis asuhan keperawatan pada Tn. M Dan Ny. R dengan ntervensi penggunaan polyurethane foam sebagai balutan primer pada fase proliferasi dengan diagnosa medis Diabetic Foot Ulcer Di Wocare Center Bogor Jawa Barat.Balutan polyurethane foam yang digunakan sebagai primary dressing dalam proses penyembuhan ulkus diabetikum pada Tn. M dan Ny. R yang dilakukan pergantian dalam interval 3-4 hari dalam seminggu selama 5 minggu terbukti efektif terhadap proses penyembuhan ulkus diabetikum pada Tn. M karena proses penyembuhan luka sesuai dengan estimasi waktu yang telah ditentukan yaitu selama 5 minggu. Sedangkan pada Ny. R, perwatan akan terus dilakukan. Sudah terlihat adanya kemajuan proses penyembuhan luka dengan menggunakan balutan polyurethane foam, dibuktikan dengan adanya penurunan luas luka dan kemajuan jaringan epitelisasi. Berdasarkan case study yang telah dilakukan, penulis menyimpulkan bahwa polyurethane foam mampu membantu proses penyembuhan luka pada fase proliferasi dan epitelisasi menjadi lebih cepat. Penyembuhan luka juga harus ditunjang dengan kadar gula darah yang terkontrol dan nutrisi yang baik sehingga diharapkan proses penyembuhan luka dapat berjalan dengan maksimal. Kata Kunci: Polyurethane Foam, Fase Proliferasi, Ulkus Diabetikum     ABSTRACT Diabetic ulcers are sores that arise in diabetic patients due to complications of microangiopathy and macroangiopathy. The primary nursing problem found during the assessment of Mr. M and Mrs. R is impaired skin/tissue integrity, as evidenced by the presence of subjective and objective data on significant symptoms and signs in the form of diabetic ulcers on the client's feet. Both clients used the same dressing, polyurethane foam, as a primary dressing to support the wound healing process in the proliferative phase. Polyurethane foam is a dressing composed of polymer or polyurethane containing small perforated cells that hold and attract exudate from the wound bed so that it can restore the wound to a physiological environment. Analysis of nursing care to Mr. M and Mrs. R with the intervention of using polyurethane foam as a primary dressing in the proliferation phase with a medical diagnosis of Diabetic Foot Ulcer at Wocare Center Bogor, West Java. Polyurethane foam dressing used as a primary dressing in the healing process of diabetic ulcers in Mr. M and Mrs. R, which was changed at intervals of 3-4 days a week for 5 weeks, proved to be effective in the healing process of diabetic ulcers in Mr. M because the wound healing process is following the estimated time that has been determined, which is 5 weeks. While on Mrs. R, maintenance will continue. There has been seen progress in the wound healing process using polyurethane foam dressings, as evidenced by a decrease in the wound area and the improvement of epithelial tissue. Based on the case study that has been done, the authors conclude that polyurethane foam can help the wound healing process in the proliferative and epithelialization phases become faster. Wound healing must also be supported by controlled blood sugar levels and good nutrition so that the wound healing process is expected to run optimally. Keywords: Polyurethane Foam, Proliferative Phase, Diabetic Ulcers
Analisis Asuhan Keperawatan Luka Kaki Diabetik Pada Ny. N Dan Tn. A Dengan Penggunaan Polyurethane Foam Sebagai Balutan Sekunder Di Wocare Center Bogor Oktania Nuraeni; Rizki Hidayat; Naziyah Naziyah
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 5, No 11 (2022): Volume 5 No 11 November 2022
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v5i11.7538

Abstract

ABSTRAK Diabetes Melitus (DM) menurut American Diabetes Association, (2005) adalah sekelompok penyakit metabolik yang disebabkan oleh kelainan sekresi insulin, kerja insulin, atau keduanya. Salah satu komplikasi pada penderita DM adalah luka kaki diabetik. Luka kaki diabetik harus ditangani dengan baik dan benar, metode perawatan luka yang berkembang saat ini adalah menggunakan prinsip moisture balance atau yang dikenal sebagai metode modern dressin. Salah satu balutan yang sering digunakan adalah polyurethane foam sebagai balutan sekunder. Tujuan penelitian untuk menganalisa hasil dari perawatan luka modern dengan penggunaan polyurethane foam sebagai balutan sekunder. Metode penelitian menggunakan case study, sampel yang digunakan adalah 2 klien dengan menggunakan Instrumen pengkajian luka yang digunakan WINNERS Scale. Hasil dari penelitian ini adalah perawatan luka modern dengan polyurethane foam efektif digunakan pada luka kaki diabetik dengan eksudat sedang sampai banyak. Kesimpulannya adalah perawatan luka harus diimbangi dengan kadar gula darah yang terkontrol dan nutrisi yang baik sehingga diharapkan kepada petugas pelayanan kesehatan agar lebih memperhatikan lagi hal tersebut. Kata Kunci: Diabetes Mellitus, Luka Kaki Diabetik, Modern Dressing,       Polyurethane Foam ABSTRACTAccording to the American Diabetes Association (ADA), diabetes mellitus is a collection of metabolic diseases caused by abnormalities in insulin secretion, insulin action, or both. One of the complications in people with diabetes mellitus is diabetic foot ulcers. Diabetic foot wounds must be treated properly, the current method of wound care is using the principle of moisture balance or what is known as the modern method of dressing. One of the frequently used dressings is polyurethane foam as a secondary dressing. The aim of the study was to analyze the results of modern wound care using polyurethane foam as a secondary dressing. The research method uses a case study, the sample used is 2 clients using the wound assessment instrument used by the WINNERS Scale. The result of this study is that modern wound care with polyurethane foam is effective for diabetic foot wounds with moderate to large exudate. Conclusion: Wound care must be balanced with controlled blood sugar levels and good nutrition, so it is hoped that health care workers will pay more attention to this. Keywords: Diabetic Mellitus, Diabetic Foot Ulcer, Modern Dressing,       Polyurethane 
Hubungan Tingkat Pengetahuan dengan Perilaku Perawatan Kaki pada Pasien Diabetes Mellitus di Rumah Sakit Dr. Suyoto Jakarta Selatan Ni Made Santi Hartiya Putri; Naziyah Naziyah; Cholisah Suralaga
Malahayati Nursing Journal Vol 5, No 7 (2023): Volume 5 Nomor 7 2023
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v5i7.9048

Abstract

ABSTRACT Diabetes Mellitus is a metabolic disease characterized by elevated blood sugar levels. One of the complications of Diabetes Mellitus is Diabetic Ulcer which is characterized by the presence of ulcerations below the ankle that can cause amputation of the foot in the client. Good foot care knowledge can improve foot care behavior and prevent early diabetic ulcer complications.This study aims to determine the relationship between the level of knowledge and foot care behavior in Diabetes Mellitus patients at Dr. Suyoto Hospital, South Jakarta. This study used a cross-sectional approach. Where the population in this study was Diabetes Mellitus patients who visited the internal medicine poly room at Dr. Suyoto Hospital in August 2022. The sempel retrieval technique uses purposive sampling with a total of 80 respondents. The research instruments used were checklists, DFKS (Diabetes Foot Care Knowledge Scale) questionnaires, NAFF (Nottingham Assessment of Functional Foodcare) questionnaires. The statistical test uses the chi-square test to see the relationship. The results showed the level of knowledge of respondents with good categories (47.5%), and less foot care behaviors (77.5%). There is an association between the level of knowledge and the P-value foot care behavior of 0.011 < 0.05. There is a significant relationship between the level of knowledge and foot care behavior in Diabetes Mellitus patients at Dr. Suyoto Hospital, South Jakarta. It is hoped that this research can be used as a source of knowledge for Diabetes Mellitus patients in understanding how to treat Diabetes feet. Keywords: Diabetes Mellitus, Level of Knowledge, Foot Care Behavior  ABSTRAK Diabetes Mellitus merupakan penyakit metabolik yang ditandai dengan peningkatan kadar gula darah. Salah satu komplikasi dari Diabetes Mellitus adalah Ulkus Diabetikum yang ditandai dengan adanya ulserasi di bawah pergelangan kaki yang dapat menyebabkan amputasi kaki pada klien. Pengetahuan perawatan kaki yang baik dapat meningkatkan perilaku perawatan kaki dan mencegah terjadinya komplikasi Ulkus Diabetikum secara dini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan dengan perilaku perawatan kaki pada pasien Diabetes Mellitus di Rumah Sakit Dr. Suyoto Jakarta Selatan. Pada penelitian ini menggunakan metode pendekatan cross sectional. Dimana populasi pada penelitian ini adalah pasien Diabetes Mellitus yang berkunjung ke ruang poli penyakit dalam di Rumah Sakit Dr. Suyoto pada bulan Agustus 2022. Teknik pengambilan sempel menggunakan purposive sampling dengan jumlah sempel 80 responden. Instrument penelitian yang digunakan adalah lembar ceklist, kuesioner DFKS (Diabetes Foot Care Knowledge Scale), kuesioner NAFF (Nottingham Assesment of Functional Foodcare). Uji statistik menggunakan uji chi-square untuk melihat hubungan. Hasil penelitian menunjukkan tingkat pengetahuan responden dengan kategori baik (47,5%), dan perilaku perawatan kaki kurang (77,5%). Ada hubungan antara tingkat pengetahun dengan perilaku perawatan kaki P-value sebesar 0,011 < 0,05. Ada hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan dengan perilaku perawatan kaki pada pasien Diabetes Mellitus di Rumah Sakit Dr. Suyoto Jakarta Selatan. Diharapkan penelitian ini bisa dijadikan sebagai sumber pengetahuan bagi pasien Diabetes Mellitus dalam memahami cara perawatan kaki Diabetes. Kata Kunci: Diabetes Mellitus, Tingkat Pengetahuan, Perilaku Perawatan Kaki
Hubungan Pendidikan dan Penghasilan terhadap Tingkat Pengetahuan Setelah Dilakukan Edukasi Senam Kaki pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di Puskesmas Pasar Rebo Alfina Unhanisyah; Naziyah Naziyah; Intan Asri Nurani
Malahayati Nursing Journal Vol 5, No 8 (2023): Volume 5 Nomor 8 2023
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v5i8.9104

Abstract

ABSTRACT Diabetes Mellitus in Indonesia is 0.2%, an increase of 0.5%. Diabetes mellitus is followed by high blood sugar due to decreased insulin secretion. Education is a step for humans tobe able to develop their own abilities through the learning process obtained. Income is a result obtained by a person or company related to a business activity or work. Income can be in the formof money or assets that are obtained by individuals or companies. Diabetic foot exercise is a movement that becomes a non-pharmacological therapeutic exercise to prevent the formation of wounds and to improve blood circulation in the feet. Foot exercise education is providing information with the aim of clarifying messages and expanding the reach of messages, so as to beable to increase knowledge. The level of knowledge is a factor in preventing the worsening of diabetes mellitus. This study aims to determine the relationship between foot exercise education and thelevel of knowledge of type 2 DM patients at the Pasar Rebo Health Center. The study uses a correlative analytic method with a Cross Sectional Design. The sample in this study amounted to 93 respondents. The research instrument used a knowledge questionnaire sheet about DM and foot exercises. The questionnaire has been tested for validity and reliability with a Cronbach alpha value of 0.883. The results showed that there was a significant relationship between the characteristics of the respondents in the relationship between education and level of knowledge (P value 0.017) and the relationship between income and level of knowledge (P value 0.011). Education on diabetic foot exercises is needed to increase the knowledge of DM patients to prevent DM complications. It is hoped that diabetic foot exercises can be optimized so that they can reduce the risk of worsening.  Keywords: Diabetes Mellitus, Diabetic Foot Exercise, Knowledge  ABSTRAK Diabetes Melitus di Indonesia sebesar 0,2% mengalami peningkatan sebesar 0,5%. Diabetes melitus ditandai dengan kenaikan gula darah akibat penurunan sekresi insulin. Pendidikan merupakan sarana atau jembatan untuk manusia agar dapat mengembangkan potensi diri melalui proses pembelajaran yang di dapat. Penghasian suatu hasil yang diperoleh pribadi atau perusahaan yang berhubungan dengan suatu kegiatan bisnis atau pekerjaan. Penghasilan bisa berbentuk uang atau aset yang didapatkan pribadi ataupun perusahaan. Senam kaki diabetes merupakan gerakan yang menjadi latihan terapi non farmakologis untuk mencegah terjadinya luka dan membantu melancarkan peredaran darah bagian kaki. Edukasi senam kaki adalah memberikan informasi dengan tujuan untuk memperjelas pesan dan memperluas jangkauan pesan, sehingga mampu untuk menambah pengetahuan. Tingkat pengetahuan menjadi faktor pencegahan terjadinya perburukan diabetes mellitus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan edukasi senam kaki terhadap tingkat pengetahuan pasien DM tipe 2 di Puskesmas Pasar Rebo. Penelitian menggunakan metode analitik korelatif dengan rancangan Cross Sectional Design. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 93 responden. Instrumen penelitian menggunakan lembar kuesioner pengetahuan tentang DM dan senam kaki. Kuesioner telah diuji validitas dan reliabilitas dengan nilai Cronbach alpha 0,883. Hasil Penelitian: Hasil penelitian menunjukan bahwa karakteristik responden terdapat hubungan yang signifikan pada hubungan pendidikan dengan tingkat pengetahuan (P value 0,017) dan hubungan penghasilan dengan tingkat pengetahuan (P value 0,011). Edukasi senam kaki diabetes sangat dibutuhkan untuk menambah pengetahuan pasien DM untuk pencegahan terjadinya komplikasi DM. Diharapkan senam kaki diabetes dapat dioptimalkan sehingga bisa mengurangi risiko perburukan. Kata Kunci: Diabetes Melitus, Senam Kaki Diabetes, Pengetahuan 
Pengaruh Pendidikan Kesehatan melalui Media Leaflet tentang Senam Kaki Diabetik terhadap Pencegahan Kaki Ulkus Diabetikum pada Pasien Diabetes Mellitus di Wilayah Puskesmas Kecamatan Kebayoran Baru Kelurahan Cipete Utara Nofi Amelia Safutri; Naziyah Naziyah; Millya Helen
Malahayati Nursing Journal Vol 5, No 8 (2023): Volume 5 Nomor 8 2023
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v5i8.9080

Abstract

ABSTRACT Diabetes mellitus is recognized by the increase of blood glucose levels, if not maintained properly could lead to some complications, and further a person suffering from diabetes, it increases risk of complications which as diabetic foot ulcers. The prevalence of diabetes mellitus based on doctor’s diagnosis of residents of all ages in South Jakarta is 2.83%, the prevalence of diabetic ulcers in Indonesia is 15% with death percentage is 3.25%, amputation by 23.5%, and the percentage of hospitalized DM patients are 80%. Therefore, it’s necessary to take an effort to control such as diabetic foot exercises to prevent diabetic foot ulcer complications. The purpose of this research is to understand the impact of health education through leaflet media about diabetic foot exercise towards diabetic foot ulcer prevention of diabetes mellitus patients in Puskesmas Kebayoran Baru districts North Cipete ward. This research is using quasi-experiment with a pretest-posttest design without control group. The samples are 30 people in total with a purposive sampling technique. The result of this research shows that before giving health education to 14 respondents with good knowledge (46.7%) and 16 respondents with poor knowledge (53.3%), after giving health education, the respondent with good knowledge increased to 26 respondents (86.7%) and the respondent with poor knowledge is decreased to 4 respondents (13.3%). Through this research, the p-value is obtained by 0.000 < 0.005, which means H0 is rejected and Ha is accepted. Hence there are impacts of the health education through leaflet media about diabetic foot exercise towards the diabetic foot ulcer prevention of diabetes mellitus patients in Puskesmas Kebayoran Baru district North Cipete ward. Keywords: Diabetes Mellitus, Diabetic Foot Ulcers, Diabetic Foot Exercises  ABSTRAK Diabetes mellitus ditandai dengan peningkatan kadar glukosa darah, jika tidak dikelola dengan baik dapat menyebabkan berbagai komplikasi, dan semakin lama seseorang menderita diabetes, maka semakin beresiko menderita komplikasi salah satunya kaki ulkus diabetikum. Populasi diabetes mellitus berdasarkan diagnosis dokter pada penduduk semua umur di Jakarta Selatan sebesar 2,83%, populasi ulkus diabetikum di Indonesia sebesar 15% dengan persentase kematian 32,5%, amputasi sebesar 23,5%, dan persentase jumlah perawatan penderita DM di rumah sakit sebesar 80%. Oleh karena itu diperlukan usaha pengendalian seperti senam kaki diabetik untuk mencegah komplikasi kaki ulkus diabetikum. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pendidikan kesehatan melalui media leaflet tentang senam kaki diabetik terhadap pencegahan kaki ulkus diabetikum pada pasien diabetes mellitus di puskesmas Kecamatan Kebayoran Baru Kelurahan Cipete Utara. Desain penelitian ini menggunakan quasi-eksperiment dengan pretest-posttest design without control group. Sampel berjumlah 30 orang dengan teknik purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum diberikan pendidikan kesehatan sebanyak 14 responden (46,7%) dengan pengetahuan baik, dan 16 responden (53,3%) dengan pengetahuan kurang, setelah diberikan pendidikan kesehatan responden dengan pengetahuan baik meningkat menjadi 26 responden (86,7%), dan responden dengan pengetahuan kurang berkurang menjadi 4 responden (13,3%). Hasil penelitian menunjukkan p value 0,000 < 0,005, yang artinya H_0 ditolak dan H_a diterima. Terdapat pengaruh pendidikan kesehatan melalui media leaflet tentang senam kaki diabetik terhadap pencegahan kaki ulkus diabetikum pada pasien diabetes mellitus di puskesmas Kecamatan Kebayoran Baru Kelurahan Cipete Utara. Kata Kunci: Diabetes Mellitus, Kaki Ulkus Diabetikum, Senam Kaki Diabetik
Analisis Asuhan Keperawatan melalui Intervensi Terapi Ozone dan Infrared sebagai Adjunctive Treatment pada Pasien dengan Diabetic Foot Ulcer di Wocare Center Kota Bogor Rifdah Faradillah; Naziyah Naziyah
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 6, No 9 (2023): Volume 6 No 9 2023
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v6i9.11394

Abstract

ABSTRAK Diabetic foot ulcer didefinisikan sebagai luka terbuka di permukaan kulit yang timbul berawal dari makroangipati hingga menyebabkan vaskulerinsusifiensi serta neuropati yang dapat menyebabkan infeksi. Masalah keperawatan utama yang didapatkan pada pengkajian terhadap pasien Ny.T, Ny.R dan Ny,K adalah gangguan integritas jaringan yang dibuktikan dengan adanya data subjektif dan objektif pada pasien dengan gejala dan tanda mayor yang ada berupa luka diabetic foot ulcer. Ketiga klien menggunakan terapi tambahan pada perawatan lukanya yaitu terapi ozone dan infrared. Terapi ozone dan infrared merupakan terapi tambahan pada perawatan luka yang dapat mempercepat penyembuhan luka, mengurangi infeksi pada luka serta mengurangi bau pada luka. Analaisis asuhan keperawatan melalui intervensi terapi ozone dan infrared sebagai adjunctive treatment pada pasien dengan Diabetic foot ulcer di Wocare Center Kota Bogor. Terapi ozone dan infrared dilakukan disetiap pertemuan perawatan luka yang dilakukan 3 hari sekali pada Ny.T, Ny.R dan Ny.K dengan durasi 15menit/sesi terbukti efektif terhadap proses percepatan penyembuhan luka, mengurangi infeksi serta mengurangi bau pada luka. Hal itu dibuktikan dalam penurunan skor luka menggunakan winner scale score serta penurunan parameter bau odor menggunakan odor assesment tools. Berdasarkan case study yang telah dilakukan, penulis menyimpulkan bahwa terapi ozone dan infrared sebagai terapi adjuvant mampu membantu proses mempercepat penyembuhan luka, mengurangi infeksi pada luka serta mengurangi bau pada luka. Terapi ozone dan infrared akan maksimal lagi dilakukan bersama dengan perawatan luka menggunakan teknik lembab sehingga diharapkan mendapat hasil yang diharapkan untuk penyembuhan luka. Kata Kunci: Diabetic Foot Ulcer, Terapi Ozone, Infrared  ABSTRACT Diabetic foot ulcer is defined as an open wound on the surface of the skin that arises from macroangiopathy to cause vascular insufficiency and neuropathy which can cause infection. The main nursing problem found in the assessment of Mrs.T, Mrs.R and Mrs.K is a disruption of tissue integrity as evidenced by the existence of subjective and objective data in patients with major symptoms and signs in the form of diabetic foot ulcers. The three clients used additional therapy in wound care, namely ozonee and infrared therapy. Ozonee and infrared therapy are additional therapies in wound care that can accelerate wound healing, reduce wound infection and reduce wound odor. Analysis of nursing care through ozonee and infrared therapy interventions as a therapeutic treatment for patients with Diabetic foot ulcer at the Wocare Center, Bogor City. Ozonee and infrared therapy are carried out at every wound care meeting which is carried out once every 3 days for Mrs.T, Mrs.R and Mrs.K with a duration of 15 minutes/session proven to be effective in accelerating wound healing, reducing infection and reducing odor in the wound. This was proven in reducing wound scores using the winner scale score and reducing odor parameters using odor assessment tools. Based on the case study that has been done, the authors conclude that ozonee and infrared therapy as adjuvant therapy can help accelerate wound healing, reduce wound infection and reduce wound odor. Ozonee and infrared therapy will be maximally carried out together with wound care using moist techniques so that it is expected to get the expected results for wound healing. Keywords : Diabetic Foot Ulcer, Ozonee Therapy, Infrared
Analisis Asuhan Keperawatan dengan Intervensi Penggunaan Calcium Alginate sebagai Balutan Sekunder dengan Ulkus Diabetikum di Wocare Center Asya Azahra Zain; Naziyah Naziyah
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 6, No 11 (2023): Volume 6 No 11 2023
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v6i11.11409

Abstract

ABSTRAK  Ulkus diabetikum didefinisikan sebagai luka yang timbul pada penderita DM akibat komplikasi mikroangiopati dan makroangiopati. Masalah keperawatan utama yang ditemukan pada saat pengkajian terhadap Ny. L, Ny. T dan Ny. R adalah gangguan integritas kulit / jaringan,  yang  dibuktikan  dengan  adanya  data subjektif  dan objektif  pada  gejala  dan tanda mayor berupa adanya ulkus diabetikum pada kaki klien. Kedua klien menggunakan balutan yang sama yaitu, calcium alginate sebagai balutan sekunder untuk mendukung proses penyembuhan luka pada fase proliferasi. Calcium Alginat dengan komposisi pektin yang mengandung gentamicine sulfat mampu merangsang cytokine, diproduksi oleh monosit manusia yang sangat berguna untuk mempercepat penyembuhan luka dalam. Analisis Asuhan Keperawatan Dengan Intervensi Penggunaan Calcium Alginate sebagai Balutan Sekunder Dengan Ulkus DiabetikumPada Pasien Ny. L, Ny. T dan Ny. R di Wocare Center Kota Bogor. Balutan Calcium Alginate yang digunakan sebagai balutan sekunder dalam proses  penyembuhan  ulkus  diabetikum  pada  Ny. L, Ny. T dan Ny. R  dan  yang  dilakukan pergantian dalam interval 3 - 4 hari dalam seminggu selama 5 minggu terbukti efektif terhadap  proses penyembuhan  ulkus  diabetikum  pada Ny. L karena proses penyembuhan luka sesuai dengan estimasi waktu yang telah ditentukan yaitu selama 6 minggu. Sedangkan pada Ny. T, perawatan akan terus dilakukan. Sedangkan pada Ny. R, perawatan akan terus dilakukan. Sudah terlihat adanya kemajuan proses penyembuhan luka dengan menggunakan balutan Calcium Alginate, dibuktikan dengan adanya penurunan luas luka, penurunan jumlah eksudat dan kemajuan jaringan epitelisasi. Berdasarkan case study yang telah dilakukan, penulis menyimpulkan bahwa calcium alginate mampu membantu  proses  penyembuhan  luka pada fase proliferasi dan penurunan jumlah eksudat menjadi lebih cepat. Penyembuhan luka juga harus ditunjang dengan kadar gula darah yang terkontrol dan nutrisi yang baik sehingga diharapkan proses penyembuhan luka dapat berjalan dengan maksimal. Kata Kunci:Calcium Alginate, Fase Proliferasi, Ulkus Diabetikum   ABSTRACT  Diabetic ulcers are sores that arise in diabetic patients due to complications of microangiopathy and macroangiopathy. The primary nursing  problem found during the assessment of Mrs. L, Mrs. T and Mrs. R is impaired skin/tissue integrity, as evidenced  by  the presence of subjective and objective data on significant symptoms and signs in the  form of diabetic ulcers on the client's  feet. Both clients  used  the same dressing,  calcium alginate, as a secondary dressing  to support the wound healing process in the proliferative phase. Calcium Alginate with a pectin composition containing gentamicine sulfate can stimulate cytokine, produced by human monocytes which is very useful for accelerating deep wound healing. Analysis of nursing care to  Mrs.L, Mrs. T and Mrs. R with the  intervention of using  calcium alginate  as  asecondary  dressing  in  the  proliferation  phase  with a medical diagnosis of Diabetic Foot Ulcer at Wocare Center Bogor, West  Java. Calcium Alginate dressing used as a secondary dressing in the healing process of diabetic ulcers in Mrs. L, Mrs. T and Mrs. R and which were replaced at intervals of 3-4 days a week for 5 weeks proved to be effective in the healing process of diabetic ulcers in Ny. L because the wound healing process is in accordance with the estimated time that has been determined, namely for 6 weeks. While at Mrs. T, maintenance will continue. While at Mrs. R, maintenance will continue. It has been seen that there has been progress in the wound healing process using Calcium Alginate dressings, as evidenced by a decrease in wound area, decreased amount of exudate and progress of epithelialized tissue. Based on  the  case  study  that  has been done,  the authors conclude that calcium alginate can help the wound healing  process in the proliferative and decreased amount of exudate. Wound healing must also be supported by controlled blood sugar levels and good nutrition  so that the wound healing process is expected to run optimally.  Keywords: Calcium Alginate, Proliferative Phase, Diabetic Ulcers