Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

SOSIALISASI PIJAT OKSITOSIN BERBASIS AROMATERAPI LAVENDER UNTUK MENINGKATKAN PRODUKSI ASI PADA IBU MENYUSUI Risa Pitriani; Miratu Megasari
Jurnal Pengabdian Kolaborasi dan Inovasi IPTEKS Vol. 4 No. 3 (2026): Juni
Publisher : CV. Alina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59407/jpki2.v4i3.4191

Abstract

Rendahnya cakupan pemberian Air Susu Ibu (ASI) eksklusif masih menjadi tantangan dalam upaya meningkatkan kesehatan ibu dan bayi. Salah satu penyebabnya adalah kurang optimalnya produksi ASI yang dipengaruhi oleh faktor fisiologis dan psikologis serta rendahnya pengetahuan ibu mengenai metode nonfarmakologis untuk meningkatkan produksi ASI. Pijat oksitosin yang dikombinasikan dengan aromaterapi lavender merupakan salah satu intervensi yang dapat merangsang pelepasan hormon oksitosin sekaligus memberikan efek relaksasi sehingga berpotensi meningkatkan produksi ASI. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ibu menyusui, keluarga, serta tenaga kesehatan mengenai pemanfaatan pijat oksitosin menggunakan aromaterapi lavender sebagai upaya meningkatkan produksi ASI. Kegiatan dilaksanakan pada 20 Agustus 2025 di PMB Dince Safrina Kota Pekanbaru dengan melibatkan 18 peserta yang terdiri atas ibu menyusui dan tenaga kesehatan. Evaluasi dilakukan menggunakan pre-test dan post-test terhadap pengetahuan peserta mengenai ASI eksklusif, fisiologi laktasi, pijat oksitosin, dan penggunaan aromaterapi lavender. Nilai rata-rata pre-test sebesar 63,06 meningkat menjadi 90,00 pada post-test, menunjukkan peningkatan pengetahuan peserta setelah mengikuti penyuluhan dan pelatihan. Peserta juga mampu mempraktikkan teknik pijat oksitosin sesuai prosedur, sedangkan pada beberapa ibu menyusui teramati kelancaran pengeluaran ASI setelah intervensi. Temuan observasional tersebut menunjukkan bahwa pijat oksitosin berbasis aromaterapi lavender berpotensi mendukung produksi dan pengeluaran ASI, namun belum dilakukan pengukuran volume ASI secara objektif. Kegiatan ini memberikan manfaat dalam meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kesiapan tenaga kesehatan serta ibu menyusui dalam menerapkan pijat oksitosin menggunakan aromaterapi lavender sebagai salah satu upaya mendukung keberhasilan pemberian ASI eksklusif.
Pemberdayaan Kader Melalui Pelatihan Pijat Oksitosin Untuk Meningkatkan Produksi ASI Pada Ibu Nifas Di Posyandu Wilayah Kerja Puskesmas Rumbai Kota Pekanbaru Risa Pitriani; Miratu Megasari
Community Engagement and Emergence Journal (CEEJ) Vol. 5 No. 2 (2024): Community Engagement & Emergence Journal (CEEJ)
Publisher : Yayasan Riset dan Pengembangan Intelektual

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37385/ceej.v5i2.3736

Abstract

Pijat Oksitosin dalah pemijatan tulang belakang pada costa (tulang rusuk) ke 5-6 sampai ke scapula (tulang belikat). Berdasarkan Profil Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru tahun 2019 salah satu wilayah yang memiliki jumlah balita terbanyak dan cakupan pemberian ASI eksklusifnya rendah terdapat di daerah rumbai yaitu sebanyak 1.543 bayi 0-6 bulan hanya 795 bayi yang diberikan ASI eksklusif dengan persentase (51,6%). Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Rumbai Kota Pekanbaru didapatkan dalam 3 bulan terakhir jumlah ibu menyusui (usia bayi < 6 bulan) yakni berjumlah 135 orang. Tujuan pengabdian ini agar para kader dapat membantu meningkatkan capaian tersebut dengan pemantauan secara berkala pada ibu nifas dan memberikan pelayanan kesehatan berupa pijat oksitisin kepada ibu nifas. Metode pengabdian ini, yaitu: 1) Mengadakan penyuluhan dengan tujuan meningkatkan pengetahuan pada Kader, kader yang ikut pada penyuluhan ada 8 orang, 2) Mengadakan pelatihan dengan dibantu oleh terapis terlatih yang mempunyai sertifikat pelatihan massase, dan 3) Melakukan pemantauan dimaksudkan untuk mengamati kegiatan yang dilakukan kader terhadap ibu menyusui, dan evaluasi melihat hasil yang dilakukan terhadap keberhasilan pengeluaran dan pemberian ASI apakah sudah berhasil yang di pantau secara langsung oleh kader. Kegiatan ini dilakukan pada tanggal 14-18 Agustus 2023. Hasil pengabdian ini menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan kader terhadap pentingnya pijat oksitosin bagi ibu menyusui. Luaran kegiatan ini akan di publikasikan di Jurnal berISSN Jurnal CEEJ. Diharapkan pada kader yang sudah terlatih agar dapat mengajarkan kepada kader di posyandu lain untuk dapat melakukan pijat oksitosin minimal setiap hari posyandu.
Efektivitas Pijat Woolwich Terhadap Kelancaran ASI Pada Ibu Nifas Nong Rizky Oktaviani; Risa Pitriani; Miratu Megasari
Jurnal Kesehatan Global Vol 9, No 2 (2026): Edisi Mei
Publisher : LPPM Institut Kesehatan Helvetia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33085/jkg.v9i2.6949

Abstract

Kelancaran ASI pada ibu nifas dapat mengalami hambatan akibat faktor fisiologis dan psikologis pasca persalinan. Pijat Woolwich merupakan salah satu intervensi nonfarmakologis yang dilakukan dengan teknik pemijatan di sekitar areola mamae untuk merangsang hormon prolaktin dan oksitosin guna membantu kelancaran ASI. Studi pendahuluan menunjukkan bahwa ibu nifas belum pernah diberikan intervensi pijat Woolwich. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas pijat Woolwich terhadap kelancaran ASI pada ibu nifas. Penelitian menggunakan desain pre-eksperimen dengan rancangan one group pretest-posttest. Sampel berjumlah 15 ibu nifas yang diambil dengan teknik total sampling. Intervensi pijat Woolwich dilakukan selama 3 hari berturut-turut sebanyak 2 kali sehari pada pagi dan sore hari. Data dikumpulkan menggunakan lembar ceklis dan dianalisis menggunakan uji Wilcoxon. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebelum intervensi seluruh responden (100%) berada pada kategori kelancaran ASI sedikit. Setelah intervensi, sebagian besar responden (73,3%) masih berada pada kategori sedikit, sedangkan (26,7%) berada pada kategori banyak. Rerata skor kelancaran ASI meningkat setelah pemberian pijat Woolwich dari 3,27 menjadi 5,47 dengan selisih mean 2,20. Hasil uji Wilcoxon diperoleh nilai p=0,001 (p0,05), yang menunjukkan bahwa pijat Woolwich efektif terhadap kelancaran ASI pada ibu nifas. Disarankan agar pijat Woolwich diterapkan sebagai bagian dari pelayanan pada ibu nifas yang mengalami hambatan produksi ASI.
TERAPI HERBAL COMPRESS BALL PADA KETIDAKNYAMANAN NYERI PUNGGUNG IBU HAMIL TRIMESTER III DI PMB DINCE SYAFRINA Miratu Megasari; Risa Pitriani
Jurnal Pengabdian Kolaborasi dan Inovasi IPTEKS Vol. 4 No. 4 (2026): Agustus
Publisher : CV. Alina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59407/jpki2.v4i4.4226

Abstract

Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ibu hamil trimester III dalam melakukan perawatan mandiri untuk ketidaknyamanan nyeri punggung melalui edukasi dan pelatihan Herbal Compress Ball di PMB Dince Syafrina, Pekanbaru. Kegiatan diikuti oleh 10 ibu hamil trimester III dan dilaksanakan melalui penyuluhan, demonstrasi pembuatan Herbal Compress Ball, praktik terbimbing, diskusi interaktif, serta evaluasi pretest-posttest. Pengetahuan dievaluasi menggunakan kuesioner terstruktur dengan skor 0-100, sedangkan keterampilan dinilai melalui observasi kemampuan peserta mengikuti tahapan pembuatan dan penggunaan kompres sesuai panduan. Keluhan nyeri setelah praktik hanya dicatat berdasarkan laporan subjektif peserta dan tidak diukur menggunakan instrumen klinis baku seperti Visual Analog Scale (VAS) atau Numeric Rating Scale (NRS). Hasil menunjukkan nilai rata-rata pengetahuan meningkat dari 58,0 menjadi 87,0, atau naik 29 poin (50,0% secara relatif). Setelah pelatihan, 10 peserta (100%) mampu mempraktikkan kembali penggunaan Herbal Compress Ball sesuai panduan. Delapan peserta (80%) melaporkan rasa tidak nyaman pada punggung berkurang dan tubuh terasa lebih rileks, sedangkan dua peserta (20%) melaporkan rasa tidak nyaman sedikit berkurang; temuan ini merupakan persepsi peserta dan tidak dapat ditafsirkan sebagai bukti efektivitas klinis. Kegiatan menunjukkan bahwa edukasi berbasis demonstrasi dan praktik dapat meningkatkan pengetahuan serta keterampilan perawatan mandiri ibu hamil. Pendampingan berkala dan evaluasi menggunakan instrumen nyeri terstandar diperlukan untuk menilai keberlanjutan praktik dan perubahan keluhan secara lebih objektif.