Claim Missing Document
Check
Articles

Found 40 Documents
Search

Gambaran Kesejahteraan Spiritual Pasien Gagal Ginjal Kronis yang Menjalani Hemodialisis Frilisa J. Hi. Syafi; Ike Wuri Winahyu Sari
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 6, No 1 (2022)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (247.293 KB) | DOI: 10.22146/jkkk.49490

Abstract

Background: Spiritual is one of the significant aspects in the concept of comprehensive nursing care. The broad variation of spiritual well-being and the limited number of research on spiritual well-being of patients with chronic kidney failure undergoing hemodialysis become the background of this research.Objective: To identify the spiritual well-being of patients undergoing hemodialysis.Method: The study used descriptive-analytic design. The sample was using purposive sampling technique with 62 patients with chronic kidney failure undergoing hemodialysis at RSUD Panembahan Senopati Bantul. Data was compiled through the valid and reliable Spiritual Well-Being Scale (SWBS) questionnaire. Data analysis consisted of univariate and bivariate (One-way ANNOVA and Unpaired T-test).Result: The measured respondents’ spiritual well-being was reached score of 91,58+10,47 within the range of 20-120. Based on the respondents’ characteristics, there is no difference of spiritual well-being based on age (p=0,691), gender (p=0,355), marital status (p=0,107), employment status (p=0,141), level education (p=0,141) and length of time of hemodialysis (p=0,300).Conclusion: The spiritual well-being of patients with chronic kidney failure undergoing hemodialysis at RSUD Panembahan Senopati Bantul was at the moderate level. There was not any significant difference of spiritual well-being based on respondents’ characteristics. Efforts to help patients obtain spiritual well-being through therapeutic communication, empathy, and facilitating patients to express spirituality are necessary. ABSTRAKLatar belakang: Spiritual merupakan salah satu aspek penting dalam konsep pelayanan keperawatan yang komprehensif. Beragamnya kesejahteraan spiritual dan sedikitnya penelitian mengenai gambaran kesejahteraan spiritual pasien Gagal Ginjal Kronis (GGK) yang menjalani hemodialisis mendorong penelitian ini untuk dilakukan.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kesejahteraan spiritual pasien GGK yang menjalani hemodialisis.Metode: Desain penelitian yang digunakan yaitu deskriptif-analitik. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dengan besar sampel 62 pasien GGK yang menjalani hemodialisis di RSUD Panembahan Senopati Bantul. Pengumpulan data menggunakan kuesioner Spiritual Well-Being Scale (SWBS) yang telah valid dan reliabel. Analisis data terdiri atas univariat dan bivariat (uji One-way ANNOVA dan uji t tidak berpasangan).Hasil: Kesejahteraan spiritual responden bernilai 91,58±10,47 dalam rentang skor 20-120. Berdasarkan karakteristik reponden, tidak ada perbedaan kesejahteraan spiritual berdasarkan usia (p=0,691), jenis kelamin (p=0,355), status pernikahan (p=0,107),  status pekerjaan (p=0,141), tingkat pendidikan  (p=0,549), dan lama hemodialisis (p=0,300).Simpulan: Kesejahteraan spiritual pasien GGK yang menjalani hemodialisis di RSUD Panembahan Senopati Bantul pada tingkat sedang. Tidak ada perbedaan bermakna kesejahteraaan spiritual berdasarkan karakteristik responden. Upaya untuk membantu pasien mencapai kesejahteraan spiritual yang tinggi melalui komunikasi terapeutik, empati, dan memfasilitasi pasien untuk mengekspresikan spiritual perlu dilakukan.
Hubungan Dukungan Sosial dengan Perilaku Manajemen Diri pada Pasien Hipertensi di Puskesmas Pandak I Bantul DI. Yogyakarta Umi Khomsatun; Ike Wuri Winahyu Sari
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 5, No 3 (2021)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (210.322 KB) | DOI: 10.22146/jkkk.49826

Abstract

Background: Hypertension is a chronic disease which needs good self management. One of the factors influencing self-management behavior is social support. There are still limited number of studies which examine the correlation between social support and self-management behavior in patients with hypertension, especially focusing on certain behaviors such as the adherence on taking medicine, food intake, physical activities, smoking, maintaining the body weight, and avoiding alcohol consumption.Objective: To identify the correlation between social support and self-management behavior in patient with hypertension located in Puskesmas Pandak I Bantul.Methods: This research design used a descriptive correlative design with cross-sectional approach. The sample were 47 respondents who were selected using purposive sampling technique. The data collection used questionnaire of Chronic Illness Resources Survey (CIRS) and Hypertension Self-Care Activity Level Effects (H-SCALE) which were valid and reliable. The data was analysed using Pearson Corelation and Spearman Rank Test analysis to identify the relationship of social support to self management behavior in patients with hypertension.Results: The result showed that the social support had a significant correlation with self-management behavior in the food intake domain (r= 0,336; p= 0,021) and in the domain of body weight management (r= 0,392; p= 0,006). Meanwhile, the social support did not have a significant correlation with self-management behaviour in the domains of the adherence on taking medicine (p= 0,351), physical activity (p= 0,974), and smoking (p= 0,908).Conclusion: There is a significant correlation between social support and self-management behavior in the domains of food intake and body weight management. Nurses can provide health promotion related to self management as well as the increased of social support in patients with hypertension. ABSTRAKLatar Belakang: Hipertensi merupakan penyakit kronik yang memerlukan manajemen diri yang baik. Salah satu faktor yang memengaruhi perilaku manajemen diri adalah adanya dukungan sosial. Namun, penelitian terkait hubungan dukungan sosial dengan perilaku manajemen diri pada pasien hipertensi dengan menggali aspek tiap domain seperti kepatuhan minum obat, asupan makanan, aktivitas fisik, merokok, menjaga berat badan, dan kepatuhan tidak mengkonsumsi alkohol, masih sangat terbatas.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan dukungan sosial dengan perilaku manajemen diri pada pasien hipertensi di Puskesmas Pandak I Bantul.Metode: Rancangan enelitian ini adalah deskriptif korelatif dengan pendekatan cross sectional. Sebanyak 47 responden dipilih dengan teknik purposive sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner Chronic Illness Resources Survey (CIRS) dan Hypertension Self-Care Activity Level Effects (H-SCALE) yang telah valid dan reliabel. Analisis data Uji Pearson Correlation dan Spearman Rank digunakan untuk melihat hubungan dukungan sosial dengan perilaku manajemen diri pada pasien hipertensi.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa dukungan sosial memiliki hubungan yang signifikan dengan perilaku manajemen diri pada domain asupan makanan (r= 0,336; p= 0,021) dan domain manajemen berat badan (r= 0,392; p= 0,006). Sementara dukungan sosial tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan perilaku manajemen diri pada domain kepatuhan minum obat (p= 0,351), domain aktivitas fisik (p= 0,974), dan domain merokok (p= 0,908).Kesimpulan: Ada hubungan yang bermakna antara dukungan sosial dengan perilaku manajemen diri pada domain asupan makanan dan berat badan. Perawat dapat memberikan promosi kesehatan terkait management diri serta peningkatan dukungan sosial pada pasien hipertensi.
Pengaruh Emotional Freedom Technique (EFT) Terhadap Gambaran Diri Pasien Kanker Payudara di Yogyakarta Eki Resti Anggreini; Ike Wuri Winahyu Sari
Jurnal Keperawatan Klinis dan Komunitas (Clinical and Community Nursing Journal) Vol 5, No 2 (2021)
Publisher : PSIK FKKMK UGM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (175.916 KB) | DOI: 10.22146/jkkk.49827

Abstract

Background: Mastectomy and chemotherapy have side effects that can affect the body image of breast cancer patients. The Emotional Freedom Technique (EFT) is a complementary alternative medicine that has the power of tapping and suggestion that can correct physical and psychological problems in just minutes.Objective: The aim of this study was to determine the effect of EFT on the body image of breast cancer patients in one of hospital in Yogyakarta.Methods: This study used a pre-experimental design with one group pre-test and post-test designs. The sampling used purposive sampling technique with a sample size of 17 respondents. The body image was measured using a valid and reliable Body Image Scale (BIS). Data were analysed using the Wilcoxon test.Results: The body image of breast cancer patients before being given an EFT showed a median value of 8,00 (range of score from 0-30). Meanwhile, respondent’s body image after being given EFT showed a median value of 4,00 (range of score 0-30). Wilcoxon test results obtained a p-value of <0,001, which means that there was a significant effect of EFT on the body image of breast cancer patients.Conclusion: There is an effect of EFT on the body image of breast cancer patients. EFT therapy is a non-pharmacological alternative therapy that can be applied to improving negative body image in breast cancer patients. ABSTRAKLatar Belakang: Pengobatan kanker payudara seperti mastektomi ataupun kemoterapi memiliki efek samping yang dapat memengaruhi gambaran diri pasien kanker payudara. Emotional Freedom Technique (EFT) merupakan pengobatan komplementer alternatif yang mempunyai kekuatan tapping dan sugesti yang bisa memperbaiki masalah fisik dan psikologis hanya dalam waktu hitungan menit.Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh Emotional Freedom Technique (EFT) terhadap gambaran diri pasien kanker payudara di Yogyakarta.Metode: Penelitian ini menggunakan desain pre experiment dengan rancangan one group pretest and posttest. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dengan jumlah sampel sebanyak 17 responden. Gambaran diri diukur menggunakan Body Image Scale (BIS) yang telah valid dan reliabel. Analisis data menggunakan uji Wilcoxon.Hasil: Gambaran diri pasien kanker payudara sebelum diberikan EFT menunjukkan nilai median 8,00 (rentang skor 0-30). Sementara gambaran diri responden setelah diberikan EFT menunjukkan nilai median 4,00 (rentang skor 0-30). Hasil uji Wilcoxon diperoleh p-value <0,001.Kesimpulan: Terdapat pengaruh EFT terhadap gambaran diri pasien kanker payudara. Terapi EFT merupakan pengobatan alternatif non farmakologi yang dapat diterapkan dalam memperbaiki gambaran diri yang negatif pada pasien kanker payudara.
Pelatihan Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI) untuk Peningkatan Derajat Kesehatan Wanita di Desa Singkil Wetan, Kecamatan Ngombol, Purworejo Dwi Kartika Rukmi; Rizqi Wahyu Hidayati; Novita Nirmalasari; Ike Wuri Winahyu Sari
The Journal of Innovation in Community Empowerment Vol 4 No 1 (2022): Journal of Innovation in Community Empowerment (JICE)
Publisher : Universitas Jenderal Achmad Yani Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30989/jice.v4i1.684

Abstract

Masalah mengenai kanker payudara masih menjadi tantangan khusus bagi wanita usia subur di Indonesia. Pencegahan yang digalangkan di Indonesia adalah dengan melakukan SADARI (Periksa Payudara Sendiri). Pemerintah Desa Singkil Wetan berusaha untuk mendapatkan informasi terkait kesehatan wanita untuk meningkatkan kualitas kesehatan wanita diwilayahnya. Salah satunya mengenai pelatihan SADARI sebagai tindak lanjut edukasi kanker payudara yang pernah dilakukan. Tujuan pengabdian ini untuk mengetahui tingkat ketrampilan sebelum dan sesudah pelatihan SADARI pada wanita di Desa Singkil Wetan. Hasil kegiatan didapatkan bahwa pelatihan diikuti oleh 26 peserta yang rata rata berusia 43,07 ± 9,82 tahun, berlatar belakang Pendidikan SMA (65,45%) dan memiliki aktivitas sebagai ibu rumah tangga (57,7%). Mayoritas peserta tidak pernah melakukan cek rutin terkait kondisi payudaranya ke dokter (96,2%), tidak dapat melakukan SADARI 61,5%, dan tidak rutin melakukan SADARI (76,9%). Setelah diberikan pelatihan didapatkan bahwa ada perbedaan yang signifikan (pv:0,000) untuk tingkat ketrampilan pemeriksaan payudara sendiri (SADARI) sebelum dan sesudah mendapatkan pelatihan dimana skor ketrampilan sebelum pelatihan untuk para peserta rata rata adalah 7,85 ± 0,97 dan skor ketrampilan setelah pelatihan para peserta rata rata adalah 12,2 ± 1,05. Kategorisasi tingkat ketrampilan dalam melakukan SADARI didapatkan sebelum dilakukan pelatihan semua peserta (100%) berada pada kategori sedang, sedangkan pada hasil kategorisasi setelah dilakukan pelatihan didapatkan bahwa sebanyak 84,6% peserta sudah berada dalam kategori tinggi dan hanya 15,4% yang masih berada dalam kategori sedang. Peningkatan motivasi untuk melakukan SADARI perlu terus diupayakan dengan memanfaatkan hasil pelatihan yang sudah didapatkan.
BURDEN AMONG FAMILY CAREGIVERS OF ADVANCED-CANCER PATIENTS IN INDONESIA Ike Wuri Winahyu Sari; Sri Warsini; Christantie Effendy
Belitung Nursing Journal Vol. 4 No. 3 (2018): May - June
Publisher : Belitung Raya Foundation, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (294.711 KB) | DOI: 10.33546/bnj.479

Abstract

Background: There have been various studies into the family caregivers’ experiences in taking care of advanced-cancer patients. But a study exploring the burden among family caregivers has not yet been conducted in Indonesia, a country which has strong family bonds among family members. Objective: This present study aimed to identify the burden among family caregivers of advanced cancer patients. Methods: This study was a cross-sectional study conducted from December 2016 to February 2017 on 178 consenting family caregivers and advanced cancer patients, selected using a purposive sampling technique. The Caregiver Reaction Assessment (CRA) was used to measure their burden. Data were analyzed using descriptive analyzes and bivariate analyzes. Results: The burden among family caregivers was 2.38 ± 0.38 (mean range 1-5). The highest burden was in the disrupted schedule domain. Conclusion: Our findings identified that the burden among family caregivers was at the medium level. The length of care per day and family support are potential targets for preventative intervention strategies to reduce the burden among the family caregivers.
Pengaruh Edukasi Tantrum dan Manajemen Marah Anak Pra Sekolah Pada Ibu di Tk Sunan Gunung Jati Rizqi Wahyu Hidayati; Novita Nirmalasari; Ike Wuri Winahyu Sari; Dwi Kartika Rukmi
The Journal of Innovation in Community Empowerment Vol 4 No 1 (2022): Journal of Innovation in Community Empowerment (JICE)
Publisher : Universitas Jenderal Achmad Yani Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30989/jice.v4i1.683

Abstract

Tantrum merupakan ledakan emosi yang dialami oleh anak usia prasekolah yang bersifat alami dengan angka kejadian yaitu 80% dan hal ini terjadi pada usia 2 – 6 tahun. Namun, orang tua sering kali menyalahartikan bahkan merasa hal tersebut adalah perbuatan tercela. Padahal, tantrum merupakan ekspresi anak ketika ia merasa tidak nyaman hingga keinginan tidak terpenuhi. Oleh karena itu, butuh pengetahuan tentang tantrum pada orang tua menjadi dasar agar perkembangan psikologis anak dapat berjalan dengan baik. Sehingga, pengabdian ini bertujuan untuk memberikan pemahaman pada ibu tentang tantrum dan manajemen marah pada anak usia pra sekolah. Pengabdian ini menggunakan metode ceramah, diskusi, dan demonstrasi. Sebelum dan sesudah kegiatan ibu diberikan soal tentang materi terkait. Berdasarkan hasil terdapat perbedaan yang signifikan antara sebelum dan sesudah diberikan edukasi dengan nilai p yaitu 0,001 (p < 0,05). Hal ini berarti bahwa edukasi efektif untuk meningkatkan pemahaman ibu tentang tentrum dan manajemen marah pada anak di usia pra sekolah.
Penyuluhan Kesehatan Tentang Anemia Defisiensi Besi Pada Siswa Remaja Putri di SMA Negeri 1 Gamping Ike Wuri Winahyu Sari; Dwi Kartika Rukmi; Rizqi Wahyu Hidayati; Fajriyati Nur Azizah
The Journal of Innovation in Community Empowerment Vol 4 No 2 (2022): Journal of Innovation in Community Empowerment (JICE)
Publisher : Universitas Jenderal Achmad Yani Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30989/jice.v4i2.748

Abstract

Rematri rentan menderita anemia karena banyak kehilangan darah pada saat menstruasi. Rematri yang menderita anemia berisiko mengalami anemia pada saat hamil. Hal ini akan berdampak negatif terhadap pertumbuhan dan perkembangan janin dalam kandungan serta berpotensi menimbulkan komplikasi kehamilan dan persalinan, bahkan menyebabkan kematian ibu dan anak. Penyuluhan kesehatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan sikap rematri tentang anemia defisiensi besi serta bagaimana cara pencegahannya agar dapat menekan risiko dari kejadian anemia tersebut. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 14 Juli 2022 di SMA Negeri 1 Gamping. Acara dihadiri oleh total sebanyak 114 siswa. Sementara sasaran penyuluhan ini adalah sebanyak 80 siswa rematri yang pada saat pelaksanaan dihadiri oleh 75 siswa rematri. Metode yang digunakan adalah evaluasi awal berupa pretest tentang anemia defisiensi besi. Dilanjutkan dengan pemberian materi anemia defisiensi besi dan menonton video pelayanan kesehatan tentang anemia dari Kemenkes. Selanjutnya evaluasi akhir berupa posttest tentang materi penyuluhan yang telah diberikan. Hasil menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang siginifikan pada pengetahuan dan sikap rematri tentang anemia defisiensi besi dengan masing-masing p value <0,001.
Nurses’ Family Support System in Pandemic Covid-19 Rizqi Wahyu Hidayati; Novita Nirmalasari; Ike Wuri Winahyu Sari
JENDELA NURSING JOURNAL Vol 6, No 2 (2022): DECEMBER 2022
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/jnj.v6i2.9033

Abstract

Background: The Covid-19 pandemic is being 2 years and the fluctuated cases made the nurses workload were increasing. The effects are stress, anxiety, and burnout. To decrease these sequences, need family support. Family support advantage to them for increasing their confidence and being valuable.       Purpose: the major aim of the study is to know the difference between family support for nurses who work in Covid and non-Covid wards.Methods: Quantitative method were used in its study and used 149 nurses as a respondent. The inclusion criteria were working at hospital at least a year and lived with nuclear family. The questioner used Family Support Scale (FSS) with 19 sentences. It used Mann-Whitney test with SPSS 21 software.Results: Most of the respondent were nurses who work in Covid ward (64.4%) and majority is an associate nurse (84.9%). The p value was 0.077 (p0.05) which indicate that there were not differences of family support between nurses who work in Covid and non-Covid wards.Conclusion: There were not differences of family support between nurses who work in Covid and non-Covid wards.
Characteristic of Reproductive Age Women Living With HIV/AIDS in Victory Plus Foundation, Yogyakarta, Indonesia Dwi Kartika Rukmi; Ike Wuri Winahyu Sari; Afi Lutfiyati
Jurnal Keperawatan Respati Yogyakarta Vol 7 No 2 (2020): MAY 2020
Publisher : Universitas Respati Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35842/jkry.v7i2.467

Abstract

Around 50% of people living with HIV/AIDS worldwide are women, and women of reproductive age are the group of women who are most infected by HIV/AIDS. Indonesia is a country that has increased the number of people with HIV/AIDS up to three folded since 2009-2014 and the number of women infected with HIV/AIDS also continues to increase. This study aims to look at the characteristics of women living with HIV / AIDS (WLWHA) in Victory Plus who are of reproductive age. This study is descriptive research with a cross-sectional approach that was conducted on 288 women with HIV / AIDS taken by purposive sampling who met the inclusion criteria in Victory Plus Foundation, Yogyakarta. Data were taken by questionnaire in March – June 2019 and processed by univariate analysis according to the data. The results showed that respondents 100% underwent ART, they are 35.42 ± 6.91 years old, suffered HIV for 4.06± 3.21 years, and have a length of ART duration for 3.74±3.11 years. Most of WLWHA are Muslims (89,9%), Javanese (94,4%), married women (52,8%), senior high school educated (46,5%), housewives (68,8%), have living children (80,6%), have no child with HIV(87,5%), adherence on ART(85,4%), have steady sex partner (75,3%), disclosed their HIV status to their sexual partner (50,7%), disclosed their HIV status to others (50,7%), and having better health perception (73,3%). The conclusion that the characteristics of respondents are mostly Muslim, have a high school education background, work as a housewife, are married, have live children, have no children with HIV, are on ART, open to sexual partners, open to other than sexual partners and have improved health perception.
Exploration of Factors Predictors Nurses’ Occupational Stress on Facing Covid-19 Pandemic Rizqi Wahyu Hidayati; Novita Nirmalasari; Ike Wuri Winahyu Sari
Disease Prevention and Public Health Journal Vol. 17 No. 2 (2023): Disease Prevention and Public Health Journal
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12928/dpphj.v17i2.8388

Abstract

Background: The fluctuating wave of Covid-19 cases induced the nurses’ work pressure, both physical and psychological. Occupational stress and burnout were caused by a nursing care plan, moving the nursing and health equipment. It influences decreasing in nursing care, working motivation, and patient safety, such as falls and medication errors. This study aimed to evaluate the factors influencing nurses' occupational stress in facing Covid-19 Pandemic in Yogyakarta. Method: The mixed method was used in this study. Using convenience sampling, 272 nurses who work at the Covid-19 hospital in Yogyakarta. The inclusion criteria were registered as Indonesian Nurses; with one-year experience of in work. The Nurses Occupational-Stress Scale 21 (NOSS-21) and Family Support Scale (FSS) were used to evaluate the nurses’ occupational stress and the family support system. It was analyzed using binary logistics. Results: The nurses' occupational stress showed a mean score of 44.40 ± 9.077. This score indicated low nurses' occupational stress. Age and nurses’ position had statistically significant positive effects on nurses' occupational stress (β = 6.305; p = 0.00) and (β = 0.469; p = 0.021). Conclusion: The nurses' occupational stress is related to the nurses' ages and position in the area of their work at a hospital.