Claim Missing Document
Check
Articles

Characteristic of Reproductive Age Women Living With HIV/AIDS in Victory Plus Foundation, Yogyakarta, Indonesia Dwi Kartika Rukmi; Ike Wuri Winahyu Sari; Afi Lutfiyati
Jurnal Keperawatan Respati Yogyakarta Vol 7 No 2 (2020): MAY 2020
Publisher : Universitas Respati Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35842/jkry.v7i2.467

Abstract

Around 50% of people living with HIV/AIDS worldwide are women, and women of reproductive age are the group of women who are most infected by HIV/AIDS. Indonesia is a country that has increased the number of people with HIV/AIDS up to three folded since 2009-2014 and the number of women infected with HIV/AIDS also continues to increase. This study aims to look at the characteristics of women living with HIV / AIDS (WLWHA) in Victory Plus who are of reproductive age. This study is descriptive research with a cross-sectional approach that was conducted on 288 women with HIV / AIDS taken by purposive sampling who met the inclusion criteria in Victory Plus Foundation, Yogyakarta. Data were taken by questionnaire in March – June 2019 and processed by univariate analysis according to the data. The results showed that respondents 100% underwent ART, they are 35.42 ± 6.91 years old, suffered HIV for 4.06± 3.21 years, and have a length of ART duration for 3.74±3.11 years. Most of WLWHA are Muslims (89,9%), Javanese (94,4%), married women (52,8%), senior high school educated (46,5%), housewives (68,8%), have living children (80,6%), have no child with HIV(87,5%), adherence on ART(85,4%), have steady sex partner (75,3%), disclosed their HIV status to their sexual partner (50,7%), disclosed their HIV status to others (50,7%), and having better health perception (73,3%). The conclusion that the characteristics of respondents are mostly Muslim, have a high school education background, work as a housewife, are married, have live children, have no children with HIV, are on ART, open to sexual partners, open to other than sexual partners and have improved health perception.
Exploration of Factors Predictors Nurses’ Occupational Stress on Facing Covid-19 Pandemic Rizqi Wahyu Hidayati; Novita Nirmalasari; Ike Wuri Winahyu Sari
Disease Prevention and Public Health Journal Vol. 17 No. 2 (2023): Disease Prevention and Public Health Journal
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12928/dpphj.v17i2.8388

Abstract

Background: The fluctuating wave of Covid-19 cases induced the nurses’ work pressure, both physical and psychological. Occupational stress and burnout were caused by a nursing care plan, moving the nursing and health equipment. It influences decreasing in nursing care, working motivation, and patient safety, such as falls and medication errors. This study aimed to evaluate the factors influencing nurses' occupational stress in facing Covid-19 Pandemic in Yogyakarta. Method: The mixed method was used in this study. Using convenience sampling, 272 nurses who work at the Covid-19 hospital in Yogyakarta. The inclusion criteria were registered as Indonesian Nurses; with one-year experience of in work. The Nurses Occupational-Stress Scale 21 (NOSS-21) and Family Support Scale (FSS) were used to evaluate the nurses’ occupational stress and the family support system. It was analyzed using binary logistics. Results: The nurses' occupational stress showed a mean score of 44.40 ± 9.077. This score indicated low nurses' occupational stress. Age and nurses’ position had statistically significant positive effects on nurses' occupational stress (β = 6.305; p = 0.00) and (β = 0.469; p = 0.021). Conclusion: The nurses' occupational stress is related to the nurses' ages and position in the area of their work at a hospital.
Hubungan Dukungan Family Caregiver dengan Tingkat Kecemasan Pasien Kanker yang Menjalani Kemoterapi Nila Nadiyatul Khumairoh; Ike Wuri Winahyu Sari
MEDIA ILMU KESEHATAN Vol 12 No 3 (2023): Media Ilmu Kesehatan
Publisher : Universitas Jenderal Achmad Yani Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30989/mik.v12i3.1217

Abstract

Background: One of the psychological impacts that often arises in cancer patients undergoing chemotherapy is anxiety. Family caregiver support is needed to reduce the incidence of them.Objective: To determine the correlation between family caregiver support and anxiety levels among cancer patients undergoing chemotherapy.Methods: This research was a quantitative study with a cross-sectional approach. Sampling used purposive sampling technique with a total sample of 52 respondents. This research was conducted at a public hospital in Bantul, Yogyakarta in June 2023. The instruments used in this study were the Family Caregiver Support questionnaire and the Hamilton Rating Scale of Anxiety (HARS-A), which have been valid and reliable. Data were analyzed using descriptive statistical and Pearson correlation analysis.Results: The mean of family caregiver support for cancer patients was 40.69±12.26 from a range of 15-60. The mean of anxiety in cancer patients was 27.54±6.19 from a range of 13-42. The results showed that family caregiver support was related to the level of anxiety in cancer patients (p=0.002, r=-0.414). It means that the higher the family caregiver's support, the lower the level of anxiety experienced by cancer patients.Conclusions: Family caregiver support is very helpful in reducing the anxiety level of cancer patients undergoing chemotherapy.
Hubungan antara Kesejahteraan Spiritual dengan Kualitas Hidup Pasien Penyakit Ginjal Kronik yang Menjalani Hemodialisis di Yogyakarta Windi Ismatul Hasanah; Ike Wuri Winahyu Sari
Jurnal Formil (Forum Ilmiah) Kesmas Respati Vol 8, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Respati Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35842/formil.v8i2.487

Abstract

Kesejahteraan spiritual yang dimiliki oleh pasien dengan penyakit ginjal kronik (PGK) sangat berperan penting dalam membantu perbaikan kualitas hidup pada pasien. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan kesejahteraan spiritual dengan kualitas hidup pada pasien PGK yang menjalani hemodialisis di Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan pendekatan cross-sectional. Pengambilan sampel menggunakan teknik Purposive Sampling dengan jumlah sampel sebanyak 57 responden. Penelitian ini dilakukan di Unit Hemodialisis di salah satu rumah sakit swasta di Yogyakarta. Alat ukur yang digunakan yaitu kuesioner kesejahteraan spiritual (SWBS) dan kualitas hidup (WHOQOL-BREF). Pengolahan data menggunakan statistik deskriptif dan uji korelasi Pearson. Kesejahteraan spiritual pada pasien PGK termasuk pada kategori sedang dengan rata-rata 93,30±11,27, kualitas hidup pada pasien PGK berada pada kategori baik dengan rata-rata 64,58±8,85. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kesejahteraan spiritual dengan kualitas hidup pasien ginjal kronik (p=0,003; r=0,383).Pengkajian kesejahteraan spiritual dan kualitas hidup pada pasien PGK dapat menjadi petunjuk klinis dalam menegakkan diagnosis keperawatan kesulitan spiritual atau kesiapan untuk meningkatkan kesejahteraan spiritual dan kualitas hidup.
Implementasi Terapi Relaksasi pada Kenyamanan dan Burnout Ibu dengan Anak Pra-Sekolah di TK Gunung Jati: Relaksasi: Burnout Ibu Pada Anak Prasekolah Hidayati, Rizqi Wahyu; Sari, Ike Wuri Winahyu; Rukmi, Dwi Kartika; Azizah, Fajriyati Nur
Amare Vol. 2 No. 1 (2023): Januari - Juni 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Katolik Negeri Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52075/ja.v2i1.165

Abstract

Burnout merupakan gangguan psikologis yang diakibatkan karena kelelahan baik fisik maupun psikologis. Salah satu penyebab dari burnout yaitu kebijakan pemerintah di kala pandemi Covid-19 tentang pembelajaran dengan menggunakan blended learning. Kegiatan ini mengkombinasikan antara pertemuan terbatas dan metode online. Hal ini tentu merupakan hal baru untuk ibu karena ia secara mendadak beralih fungsi menjadi pendamping belajar siswa di rumah. Burnout yang terjadi pada ibu ini diakibatkan karena adanya peran ganda yaitu sebagai ibu rumah tangga, ibu pekerja, dan juga sebagai pendamping belajar anak. Oleh karena ini diberikan terapi relaksasi untuk meningkatkan kenyamanan dan menurunkan burnout pada ibu. Berdasarkan hasil yang didapatkan bahwa terapi rileksasi tersebut dapat menurunkan secara efektif rasa ketidaknyamanan ibu dengan p: 0,00 (p <0,05), tetapi tidak signifikan menurunkan burnout ibu dengan nilai p: 0, 795 (p <0,05). Terpai relaksasi sebaiknya diterapkan 2 kali sehari untuk menurunkan burnout pada ibu. Namun, apabila untuk kenyamanan, terapi ini efektif dilakukan sekali ketika rasa ketidaknyamanan tersebut muncul.
Penerapan Intervensi Kombinasi Aromaterapi Lemon dan Guided Imagery dalam Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Diagnosis Medis Post Operasi Open Reduction Internal Fixation Fraktur Ekstremitas Hari Ke-1 di Bangsal Bedah RSUD Sleman Vernanda, Gilang Adi; Sari, Ike Wuri Winahyu; Pratiwi, Pratiwi
HEALTHY BEHAVIOR JOURNAL Vol 2 No 1 (2024): Healthy Behavior Journal
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Jenderal Achmad Yani Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30989/hbj.v2i1.1366

Abstract

Background: Bone fracture is one of the most common injuries with a global prevalence in 2020 reaching 2.7% with 1.3 million fracture cases occurring annually in Indonesia. Postoperative pain is one of the impacts felt by patients. One pain management that can be done is non-pharmacological management by providing combination therapy between aromatherapy and guided imagery. However, this pain management needs to be studied further because differences in patient characteristics influence the response to each therapy given. Objective: To find out the application of combination therapy between aromatherapy and guided imagery in reducing pain levels. Case Report: This study is a case report with a 21-year-old male patient who came to the emergency department due to a traffic accident. The nursing diagnosis made in this patient was acute pain related to physical injury agents and the medical diagnosis was post-operative open reduction internal fixation (ORIF) cruris and right clavicle. The non-pharmacological management provided is in the form of aromatherapy using a diffuser containing 50 ml of water and 5 drops of lemon aroma essential oil, as well as guided imagery. Pain level evaluation was carried out before and after the intervention. Results: The application of lemon aromatherapy and guided imagery is effective in reducing post-operative pain, as evidenced by the pain scale being reduced from 8 to 3. Conclusion: The application of combination therapy between aromatherapy and guided imagery is effective in reducing pain levels in post-operative patients.
Penguatan Peran Kader Kesehatan dalam Meningkatkan Kesejahteraan Spiritual pada Penderita Diabetes Melitus di Wilayah Kerja Puskesmas Pandak 1 Sari, Ike Wuri Winahyu; Rukmi, Dwi Kartika; Yulaikhah, Lily
Jurnal Peduli Masyarakat Vol 6 No 1 (2024): Jurnal Peduli Masyarakat: Maret 2024
Publisher : Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jpm.v6i1.2569

Abstract

Kader kesehatan menjadi perpanjangan tangan dari tenaga kesehatan dalam menekan komplikasi pada penderita Diabetes Melitus. Kader kesehatan dapat mengajarkan pada penderita Diabetes Melitus di wilayah kerjanya dalam setiap kegiatan pelayanan kesehatan di wilayah kerja Puskesmas. Hal ini seringnya tidak didukung dengan pengetahuan kader kesehatan yang memadai. Maka dari itu pemberdayaan kader kesehatan perlu ditingkatkan. Kesejahteraan spiritual pasien dengan penyakit tidak menular perlu mendapatkan perhatian dan penting pula untuk dikaji karena menjadi salah satu bentuk perawatan secara holistik dari aspek bio-psiko-sosial-spiritual pada pasien Diabetes Melitus. Penyuluhan kesehatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan kader kesehatan tentang cara meningkatkan kesejahteraan spiritual untuk membantu pelayanan kesehatan pada penderita Diabetes Melitus. Sasaran dari kegiatan ini adalah sebanyak 11 kader kesehatan di Dusun Kadekrowo, Gilangharjo, Pandak, Bantul. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini adalah penyuluhan dengan evaluasi pretest dan posttest pada kader kesehatan tersebut. Kegiatan penyuluhan berupa pemberian materi cara meningkatkan kesejahteraan spiritual. Terdapat perbedaan antara pengetahuan kader kesehatan sebelum dan sesudah diberikan penyuluhan tentang cara meningkatkan kesejahteraan spiritual dengan nilai rata-rata sebelum penyuluhan yaitu 72,73 meningkat menjadi 95,46 setelah diberikan penyuluhan dengan peningkatan rata-rata 22,73 poin.
Edukasi Perawatan Kaki Diabetes Meningkatkan Pengetahuan Pasien dan Family Caregiver dengan Diabetes Melitus: Sebuah Pemberdayaan Berbasis Patient and Family-Centered Care Sari, Ike Wuri Winahyu; Ferianto, Ferianto; Dewi, Tika Sari
Jurnal Peduli Masyarakat Vol 6 No 3 (2024): Jurnal Peduli Masyarakat: September 2024
Publisher : Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jpm.v6i3.3804

Abstract

Tingginya prevalensi Diabetes Mellitus (DM) menunjukkan bahwa DM adalah masalah kesehatan masyarakat yang serius dan dapat menyebabkan komplikasi jika tidak ditangani dengan baik. Pasien memerlukan dukungan dari anggota keluarga lain dalam perjalanan penyakitnya. Untuk meningkatkan kualitas hidup pasien, peran family caregiver dalam merawat kaki diabetik sangat penting. Pemberdayaan pasien dan family caregiver ini adalah bagian dari Tridharma Perguruan Tinggi, yaitu penerapan hasil penelitian dalam bentuk pengabdian kepada masyarakat. Perawat, sebagai bagian dari tim kesehatan, berperan dalam memberikan edukasi kesehatan dan membimbing penderita DM untuk merawat kaki secara mandiri sebagai bentuk pencegahan komplikasi. Penyuluhan kesehatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan pasien dan family caregiver tentang perawatan kaki diabetik. Metode yang digunakan adalah evaluasi pretest dan posttest pada pasien dan family caregiver. Kegiatan inti meliputi pemberian materi tentang perawatan kaki diabetik menggunakan media audiovisual dan poster. Terdapat peningkatan pengetahuan pasien dan family caregiver sebelum dan sesudah penyuluhan, dengan rata-rata nilai sebelum penyuluhan sebesar 67,03 meningkat menjadi 82,70 setelah penyuluhan, dengan peningkatan rata-rata 15,67 poin.
Studi Komparatif: Manajemen Diri pada Pasien Diabetes Mellitus Tipe II di Wilayah Perkotaan dan Pedesaan Vernanda, Gilang Adi; Sari, Ike Wuri Winahyu
Jurnal Ilmu Medis Indonesia Vol. 3 No. 2 (2024): Maret
Publisher : Penerbit Goodwood

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35912/jimi.v3i2.2996

Abstract

Purpose: Type II diabetes mellitus (DM) is a metabolic disorder characterized by hyperglycemia that can cause complications if not treated. Therefore, self-management is required. One factor that influences self-management is the characteristics of one’s place of residence. By examining the different characteristics of urban and rural areas, self-management will, of course, differ. This study aimed to determine differences in self-management among patients with type II DM in urban and rural areas. Methodology: This study used a comparative analytical research design and a cross-sectional approach. The target respondents for this study were type II DM patients in the Puskesmas Mergangsan area who participated in the Bolo Gendis program and type II DM patients in the Puskesmas Pandak I area who participated in PROLANIS for DM. Using purposive sampling, the number of respondents in this study was 46, with 23 in each region. The Diabetes Self-Management Questionnaire (DSMQ) was used in this study. In this study, the bivariate test used was the independent t-test and Mann-Whitney test. Results: The results showed that there were differences in self-management among patients with type II DM in urban and rural areas (p=0.000). The mean score in rural areas was 38.04±5.381, while in urban areas it was 26.17±6.692 in the score range (0-48), so self-management in rural areas is better than in urban areas. There were significant differences in several aspects, including physical activity (p=0.001), glucose management (p=0.000), glucose diet (p=0.001), and health care (p=0.002). Contribution: According to the results, it is expected that puskesmas can improve the PROLANIS program by providing education on every aspect of self-management, so that there is no gap in self-management in urban and rural puskesmas.
Status Nutrisi Pasien Kanker yang Menjalani Kemoterapi di Yogyakarta Sari, Ike Wuri Winahyu; Nurafriani, Friska
Jurnal Keperawatan Vol 16 No 2 (2024): Jurnal Keperawatan: Juni 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kendal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32583/keperawatan.v16i2.1740

Abstract

Kemoterapi merupakan metode pengobatan yang umum dilakukan pada pasien kanker, namun dapat menimbulkan efek negatif seperti penurunan nafsu makan dan gangguan sistem pencernaan. Status nutrisi yang baik pada pasien kanker sangat penting untuk mendukung keberhasilan pengobatan dan meningkatkan kualitas hidup. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran status nutrisi pasien kanker yang menjalani kemoterapi di salah satu rumah sakit umum di Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif melalui pendekatan cross-sectional. Pengumpulan data dilakukan pada bulan Juni 2023. Sampel penelitian ini dipilih menggunakan teknik purposive sampling yaitu sebanyak 53 responden. Dalam penelitian ini instrumen yang digunakan adalah Malnutrition Screening Tool (MST) yang telah valid dan reliabel. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif menggunakan distribusi frekuensi dan persentase. Sebagian besar pasien kanker berusia 46-55 tahun (30,2%), berjenis kelamin perempuan (69,8%), berstatus menikah (73,6%), berpendidikan SD (35,8%), bekerja sebagai ibu rumah tangga (30,2%), dan berpenghasilan rendah (84,9%). Sebagian besar pasien kanker menderita kanker payudara (52,8%),  stadium II (64,2%), telah menjalani kemoterapi siklus keempat (30,2%), dan memiliki indeks massa tubuh normal (39,6%). Sebanyak 35 pasien kanker (66%) yang menjalani kemoterapi mempunyai risiko malnutrisi. Sehingga dapat disimpulkan bahwa mayoritas pasien kanker yang menjalani kemoterapi mengalami risiko malnutrisi.