Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

PERSEPSI DAN WAWASAN MASYARAKAT TERHADAP IMPLEMENTASI PENDEKATAN BIOMIMIKRI PADA DESAIN BANGUNAN PERKANTORAN Sandy Prasetia; Dewi Larasati; Hanson E. Kusuma
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol. 15 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/vitruvian.2025.v15i2.010

Abstract

Bangunan dengan fungsi perkantoran semakin memberikan dampak negatif terhadap lingkungan dikarenakan intensitas konsumsi energi yang tinggi menghasilkan emisi karbon yang juga tinggi. Solusi nyata sangat dibutuhkan, disatu sisi ada pendekatan desain Biomimikri yang meniru elemen alam untuk menciptakan solusi inovatif dan berkelanjutan. Dalam arsitektur, biomimikri menghadirkan cara efektif untuk mengatasi tantangan desain dengan memanfaatkan prinsip-prinsip ekosistem yang telah terbentuk selama miliaran tahun. Pada desain perkantoran, biomimikri berperan penting dalam menciptakan ruang kerja efisien, nyaman, dan berkelanjutan, misalnya melalui ventilasi yang terinspirasi sistem pernapasan tumbuhan atau optimalisasi cahaya alami untuk mengurangi konsumsi energi dan mengingkatkan efisiensi energi. Pendekatan ini juga menawarkan solusi adaptif terhadap kebutuhan modern, seperti fleksibilitas ruang kerja pascapandemi yang menggabungkan model kerja hibrida. Penelitian ini bertujuan mengkaji pemahaman masyarakat produktif terhadap penerapan biomimikri pada desain perkantoran, khususnya dalam efisiensi energi, kenyamanan termal, dan pengelolaan sumber daya. Dengan menggunakan pendekatan metode campuran (mixed-methods) yang dimulai dari survei kualitatif untuk eksplorasi tema dilanjutkan dengan survei kuantitatif untuk menguji hipotesis. Penelitian ini mengidentifikasi dua dimensi utama yaitu Daya Tarik Inovasi dan Fungsional dan Daya Tarik Pasar dan Sosial yang memiliki pengaruh signifikan terhadap kecenderungan penerimaan desain Biomimikri. Hasil tersebut selaras dengan prinsip Technology Acceptance Model (TAM) yang menyatakan bahwa perceived usefulness dan social/image influence merupakan determinan utama dalam penerimaan inovasi. 
Hubungan Perilaku Boros Energi dengan Alasan Berperilaku Boros Energi pada Hunian Helfa Rahmadyani; Hanson E. Kusuma
Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia Vol. 10 No. 1 (2021): JLBI
Publisher : Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (403.587 KB) | DOI: 10.32315/jlbi.v10i01.9

Abstract

Penggunaan energi pada bangunan berdampak pada lingkungan. Berdasarkan sektor kegiatan, penggunaan energi bangunan didominasi oleh kegiatan operasional. Dalam mengidentifikasi penggunaan energi listrik pada kegiatan operasional, aspek yang paling krusial dibahas yaitu aspek perilaku. Aspek perilaku berkaitan dengan kesadaran penghuni bangunan terhadap pentingnya menggunakan energi dengan optimal. Hal tersebut sering disebut perilaku pro-lingkungan. Penelitian ini berfokus untuk mengidentifikasi perilaku penghuni dalam mengkonsumsi energi jika dilihat dari sisi negatif pengguna, yaitu perilaku boros energi. Penelitian akan mengungkapkan hubungan korelasional antara kategori perilaku boros energi dan kategori alasan berperilaku boros energi pada hunian. Selain itu penelitian juga mengungkapkan perbedaan antar karakteristik penghuni terhadap kategori perilaku boros energi. Penelitian dilakukan dengan menggunakan penelitian kualitatif-kuantitatif yang bersifat eksplanatori yakni mencari hubungan antar variabel. Metode pengumpulan data dilakukan dengan survei online yang dibagikan secara snowball-non-random-sampling. Hasil penelitian menemukan bahwa alasan boros dengan kategori “ketidakpedulian” berhubungan dengan perilaku terhadap “elektronik” dan “air”, kategori “kebiasaan” berhubungan dengan “gawai” dan “setrika”, kategori “keterpaksaan” berhubungan dengan “kendaraan” dan “alat rumah tangga”, sementara alasan boros dengan kategori “kebutuhan” berhubungan dengan perilaku terhadap “kendaraan”. Penelitian juga menemukan bahwa perbedaan jenis kelamin penghuni, pekerjaan penghuni, dan tingkat penghasilan penghuni memiliki pengaruh yang signifikan terhadap perilaku boros energi. The usage of energy in buildings has an influence on the environment. Building operating activities dominate energy usage in buildings, according to sector. The most important factor to discuss in those activities is the topic of behavior. The behavioral aspect refers to occupant awareness, often known as pro-environmental behavior. This study focuses on finding the inhabitants' negative energy consumption behavior, also known as energy wasting conduct. The study will uncover a relationship between energy-wasteful activity categories and motivations for engaging in energy-wasteful conduct. Furthermore, the study discovered disparities between occupant characteristics and the energy-wasteful behavior group. The research was conducted using qualitative-quantitative research which is explanatory in nature. The data collection method was carried out by an online survey which was distributed by snowball-non-random-sampling. According to the findings, the “indifference” category is related to the “electronics” and “water” categories, the “habit” category is related to the “gadget” and “iron” category, the “compulsion” category is related to the “vehicle” and “household appliance: category, and the “needs” category is related to the “vehicle” category. Gender disparities, occupancy variances, and occupier income levels were also shown to have a substantial influence on energy wasting behavior, according to the study.
Hubungan antara Pendapatan dan Pola Kunjungan pada Kawasan Wisata Kuliner di Indonesia Arisa Aulia R. Sukardi; Hanson E. Kusuma; Annisa Safira Riska
Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia Vol. 11 No. 1 (2022): JLBI
Publisher : Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (364.871 KB) | DOI: 10.32315/jlbi.v11i01.71

Abstract

Perkembangan pariwisata yang sangat pesat merupakan salah satu pendorong pertumbuhan ekonomi suatu negara. Keanekaragaman kuliner di Indonesia menyimpan potensi pariwisata yang besar untuk dikembangkan. Kawasan wisata kuliner merupakan sebuah kawasan wisata yang tidak hanya menyediakan ragam kuliner tetapi aktivitas lain yang dapat mendukung kegiatan berwisata seperti area berolahraga, arena bermain, area hiburan, tempat berbelanja dan lain-lain. Sehingga dalam menyusun perencanaan pengembangan kawasan wisata yang optimal maka perlu untuk mengetahui pola kunjungan wisawatan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pola kunjungan masyarakat di kawasan wisata kuliner berdasarkan penghasilan yang mereka dapatkan. Penelitian ini dilakukan dengan metode kualitatif – eksploratif. Data dikumpulkan dengan kuesioner daring yang berisi pertanyaan terbuka dan tertutup. Hubungan antara data kegiatan, intensitas, durasi, mitra dan tingkat pendapatan dianalisis dengan analisis korespondensi. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa masyarakat dengan kategori pendapatan Lower Middle Income (LMI) lebih menyukai jenis Wisata Hedonis, masyarakat dengan pendapatan Upper Middle Income (UMI) lebih menyukai jenis Wisata Atraksi, berbanding terbalik dengan masyarakat High Income (HI) justru hanya melakukan wisata yang masih berkaitan dengan produktivitas. One of the catalysts of a country's economic success is the rapid rise of tourism. Indonesia's culinary variety has much promise for tourist development. The culinary tourism area is a tourist area that provides a variety of culinary and other activities that could support travel activities such as sports areas, playgrounds, entertainment areas, shopping places, and others. So it is vital to determine the pattern of tourist visits to compile an appropriate tourism area development plan. This research aims to figure out the pattern of community visits in culinary tourist zones dependent on the amount of money they make. The approach used in this study was qualitative - exploratory. An online questionnaire with open and closed questions was used to collect data. Correspondence analysis was used to examine the link between activity data, intensity, duration, and income levels. According to the findings, persons in the Lower Middle Income (LMI) category choose hedonic tourism. In contrast, those in the Upper Middle Income (UMI) income category favor attraction type. Those in the High Income (HI) category only conduct tours still tied to productivity.
Struktur Bawah pada Rumah Vernakular di Limo Koto Kampar Ratna Amanati; Himasari Hanan; Hanson E. Kusuma
Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia Vol. 13 No. 2 (2024): JLBI
Publisher : Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32315/jlbi.v13i2.288

Abstract

Rumah-rumah vernakular di Limo Koto berada di area perkampungan pinggiran sungai Kampar. Rumah-rumah vernakular ini memiliki dua ragam bentuk atap, yaitu Lontik dan Limas. Keduanya adalah rumah berpanggung dengan ketinggian yang beragam, mulai setinggi dada manusia dewasa hingga sepenjangkauan, yaitu setinggi tangan tegak di atas kepala. Dengan demikian tentulah sistem struktur yang digunakan oleh masing-masing bentuk juga berbeda. Untuk menopang bentuk atap yang berbeda, tentu ada sistem struktur bawah yang sesuai untuk setiap bentuk atap dan ketinggian panggungnya. Oleh karena itu makalah ini bertujuan untuk mendeskripsikan struktur bawah pada masing-masing bentuk rumah tersebut. Dengan metode kualitatif dan deskriptif eksploratif makalah ini menggambarkan persamaan dan perbedaan serta hal-hal yang terkait dengan struktur bawah yang terkait dengan umpak dan tiang pada masing-masing bentuk vernakular di Limo Koto Kampar. Hasil dari kajian ini adalah terdapat tiga kelompok tipologi struktur bawah sesuai dengan bentuk rumah, yaitu tipe bentuk atap Lontik berpanggung tinggi, beratap limas berpanggung tinggi, dan beratap limas berpanggung rendah.