Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Allogeneic human dermal fibroblasts are viable in peripheral blood mononuclear co-culture Restu Syamsul Hadi; Indra Kusuma; Yurika Sandra
Universa Medicina Vol. 33 No. 2 (2014)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/UnivMed.2014.v33.91-99

Abstract

BACKGROUNDTransplanted allogeneic dermal fibroblasts retain stem cell subpopulations, and are easily isolated, expanded and stored using standard techniques. Their potential for regenerative therapy of chronic wounds should be evaluated. The aim of this study was to determine allogeneic fibroblast viability in the presence of peripheral blood mononuclear cells (PBMC).METHODSIn this experimental study, fibroblasts were isolated from foreskin explants, expanded in the presence of serum, and stored using slow-freezing. We used one intervention group of allogeneic fibroblasts co-cultured with PBMC and 2 control groups of separate fibroblast and PBMC cultures.Fibroblasts were characterized by their collagen secretion and octamer-binding transcription factor 4 (OCT4) expression. Viability was evaluated using water soluble tetrazolium-1 (WST-1) proliferation assay. Absorbances were measured at 450 nm. Data analysis was performed by student’s paired t-test.RESULTSDermal fibroblasts were shown to secrete collagen, express OCT4, be recoverable after cryopreservation, and become attached to the culture dish in a co-culture with PBMC. Co-cultured and control fibroblasts had no significantly different cell viabilities (p>0.05). Calculated viable cell numbers increased 1.8 and 5.1- fold, respectively, at days 2 and 4 in vitro. Both groups showed comparable doubling times at days 2 and 4 in vitro. PBMC did not interfere with allogeneic fibroblast viability and proliferative capacityCONCLUSIONSAllogeneic fibroblasts remain viable and proliferate in the presence of host PBMC. Future research should evaluate allogeneic human dermal fibroblast competency in clinical settings. Dermal fibroblasts are a potential source for cell therapy in chronic wound management.
Geraniin supplementation increases human keratinocyte proliferation in serum-free culture Indra Kusuma; Restu Syamsul Hadi
Universa Medicina Vol. 32 No. 1 (2013)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18051/UnivMed.2013.v32.3 - 10

Abstract

BACKGROUND Various products used in cellular therapy utilize tissue culture techniques requiring keratinocyte culture. An efficient and clinically acceptable keratinocyte culture system requires supplements with mitogenic activity. Geraniin is a phytochemical with the potential as a supplement for expansion culture of keratinocytes. The objective of the present study was to verify the mitogenic activity of geraniin on human keratinocytes. METHODS This was an experimental study using two samples of human foreskin obtained by circumcision of a male child. Epidermal keratinocytes were isolated from the foreskin samples and were divided into paired groups, comprising intervention and control groups. The intervention groups were cultured with geraniin supplementation, whereas the control groups with standard supplements, without the addition of geraniin. Mitochondrial activity of the cells was evaluated by means of the 3-[4,5-dimethylthiazol-2-yl]-2,5-diphenyl-tetrazolium-bromide (MTT) proliferation assay. Absorbance values in each of the groups was measured at 450 nm. Data analysis was performed with the paired t-test. RESULTS Geraniin supplementation significantly increased the keratinocyte proliferation rates at dosages of 0.8 to 3.1 μM. An increase of 57% in the proliferation rate was obtained at a dosage of 1.6 μM, while at a dosage of 12.5 μM toxic effects were starting to appear. Geraniin presumably causes increased cellular energy status, resulting in increased proliferation rates. CONCLUSION The findings in this study provide evidence in support of the utilization of geraniin as a supplement for expansion culture of keratinocytes. Further studies may presumably identify the molecules acting as geraniin receptors and the intracellular mechanisms underlying the increase in proliferation rates.
IDENTIFIKASI GELATIN DALAM OBAT BENTUK SEDIAAN TABLET MENGGUNAKAN METODE FOURIER TRANSFORM INFRA RED (FTIR) SPECTROSCOPY Anna P Roswiem; Indra Kusuma
Indonesia Journal of Halal Vol 1 (1) 2018
Publisher : Pusat Kajian Halal Undip

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (290.536 KB) | DOI: 10.14710/halal.v1i1.3442

Abstract

ABSTRAKObat adalah campuran dari bahan aktif dan bahan tambahan / eksipien / bahan farmasetik. Salah satu bahan yang digunakan untuk membuat obat adalah gelatin. Gelatin tergolong senyawa protein, dan dalam industri farmasi banyak digunakan sebagai bahan tambahan  / eksipien / bahan farmasetik, yang berfungsi sebagai bahan untuk  membuat cangkang kapsul, bahan penstabil, pengemulsi, dan sebagai bahan pengikat tablet. Selain gelatin, bahan yang digunakan sebagai pengikat tablet adalah gum arab, polivinilpirolidon, amilum, campuran amilum dengan gelatin, natrium alginat, etil atau metil selulosa,dan mucilago yang semuanya tidak tergolong protein. Banyak cara mengidentifikasi gelatin dalam sampel, diantaranya metode asam pikrat, presipitasi kalsium fosfat, HPLC, RT-PCR, dan metode Fourier Transform Infra Red (FTIR) Spectroscopy. Tujuan dari penelitian ini adalah menguji kandungan gelatin dalam obat bentuk sediaan tablet menggunakan metode FTIR spectroscopy. Sampel penelitian ini adalah 20 obat dalam bentuk sediaan tablet yang tidak mengandung bahan aktif yang tergolong protein yang berfungsi sebagai obat batuk, obat flu, analgesik, antipiretik, anti diare, antitrombolitik, anti inflamasi, anti urisemia, antibiotik, dan vitamin (suplemen). Gelatin dalam sampel  diisolasi menggunakan metode Ferris. Keberadaan gelatin dalam sampel dilakukan dengan mencocokkan spektrum gelatin sapi dan babi standar dengan spektrum dari sampel pada bilangan gelombang 400 – 4000 cm-1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari semua (20) sampel obat dalam bentuk sediaan tablet di atas, tidak ada yang mengandung / menggunakan gelatin sebagai bahan pengikat tabletnya. Dan data ini sesuai dengan library alat yang tidak menunjukkan adanya senyawa gelatin. Selain daripada itu, hasil ini mengindikasikan bahwa industri farmasi di Indonesia ada yang sudah mengganti gelatin yang berfungsi sebagai pengikat tablet dan dapat diragukan kehalalannya dengan bahan pengikat tablet lainnya. KATA KUNCI : obat, gelatin, bahan pengikat tablet, FTIR.  GELATIN IDENTIFICATION IN TABLET PREPARATION OF DRUG USING FOURIER TRANSFORM INFRARED SPECTROSCOPY ABSTRACT The medicinal drug is a mixture of active compound and pharmaceutical additive. Gelatin is a protein that often used as a stabilizer, emulsifying agent, capsule constituent and tablet binder. Gelatin identification can be performed using several methods such as picric acid method, calcium phosphate precipitation, HPLC, RT-PCR and Fourier Transformed Infrared (FTIR) Spectroscopy. The study aims to test the gelatin presence in tablet preparation of the non-protein-based drug. These drug indications include those used for cough, common cold, analgesic, antipyretic, anti-diarrhea, anti-thrombolytic, anti-inflammation, anti-uricemia, antibiotic and vitamins. Gelatin in the sample was isolated using Ferris method. Gelatin presence detection was subsequently followed by comparison with standard bovine and porcine-derived gelatin spectral data at 400-4000 cm-1 wavenumber. Results show that no gelatin detected in all samples whether from the bovine and porcine origin. In conclusion, tablet preparation of drug used in this study did not use gelatin as a tablet binder suggesting compliance with a halal requirement of good manufacturing practice. Keyword: drug; gelatin; tablet binder; FTIR
Isolasi Sel Punca Pluripoten dengan Penanda CD105+ dan SSEA3+ dari Sel Fibroblas Kulit asal Jaringan Preputium CHURIYAH CHURIYAH; INDRA KUSUMA; SISKA A KUSUMASTUTI; RESTU SYAMSUL HADI; AGUNG ERU WIBOWO; FAIZA KARA FABIOLA
JURNAL ILMU KEFARMASIAN INDONESIA Vol 14 No 2 (2016): JIFI
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Pancasila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2117.621 KB)

Abstract

Perkembangan penelitian dan pengetahuan tentang sel punca terus meningkat, kini sel punca berpeluang menjadi terapi modern dengan pendekatan regeneratif yang memberi harapan kesembuhan untuk berbagai jenis penyakit yang sulit untuk disembuhkan seperti penyakit genetik, degeneratif, trauma dan keganasan.Tujuan penelitian ini adalah melakukan isolasi sel punca pluripoten dari sel fibroblas kulit asal jaringan preputium secara enzimatis dan eksplan yang dilanjutkan dengan karakterisasi penanda khas cluster differentiation (CD) 105 dan surface-stage embryonic antigen (SSEA)-3 menggunakan sistem pemurnian berbasis magnet (MACS). Hasil isolasi sel fibroblast secara enzimatik maupun eksplan diperbanyak secara kultur ekspansi dengan variasi medium dan pasase sel serta dikarakterisasi untuk mendapatkan subpopulasi sel dengan CD 105+ dan SSEA3+. Penggunaan conditioned medium, tingkat pasasi yang rendah dan konfluensi yang tinggi meningkatkan persentase subpopulasi sel CD105+ dibandingkan dengan medium standar, tingkat pasase yang lebih tinggi dan konfluensi yang lebih rendah.Subpopulasi sel CD 105+ dan SSEA3+ yang dikultur dan diekspansi menampakkan respon terhadap pewarna Alkalin fosfatase yang menunjukkan adanya populasi stem cell.
SOSIALISASI DAN PEMBINAAN BUDIDAYA IKAN DALAM EMBER UNTUK KETAHANAN PANGAN Juniarti Juniarti; Nazwirman Nazwirman; Indra Kusuma
JURNAL PENGABDIAN AL-IKHLAS UNIVERSITAS ISLAM KALIMANTAN MUHAMMAD ARSYAD AL BANJARY Vol 6, No 2 (2020): AL-IKHLAS JURNAL PENGABDIAN
Publisher : Universitas Islam kalimantan MAB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (284.167 KB) | DOI: 10.31602/jpaiuniska.v6i2.3899

Abstract

The food crisis can be carried out only in Indonesia as a result of the Covid-19pandemic. Concrete steps are carried out using empty yards around the housing. Thisactivity provides sanitation fishers with knowledge and practices of fish cultivation inBanjar Wijaya Housing Tangerang City. On average they are married and their incomeis insufficient. The implementation method used is socializing in the form of counselingand assistance. Stages of activities carried out provide knowledge and arrange thenecessary tools and manufacture of fish farming in buckets and vegetables. The selectedfish is oxygen resistant. Maintenance for 42 days produces catfish and kale harvest. Thisactivity should increase the participants' knowledge from the average of the correctanswers.
Tingkat Pengetahuan Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Yarsi Mengenai Penggunaan Tripsin Dalam Proses Produksi Vaksin Mr Dan Tinjauannya Menurut Islam Nurmasithah Nurmasithah; Indra Kusuma; Siti Nur Riani
Jurnal sosial dan sains Vol. 1 No. 12 (2021): Jurnal Sosial dan Sains
Publisher : Green Publisher Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2038.185 KB) | DOI: 10.59188/jurnalsosains.v1i12.272

Abstract

Latar Belakang : Vaksin adalah suatu zat yang merupakan suatu bentuk produk biologi yang diketahui berasal dari virus, bakteri atau dari kombinasi antara keduanya yang dilemahkan. Dalam proses produksi vaksin terdapat bahan-bahan yang dapat memicu kontroversi dari berbagai sudut pandang. Metode : Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan cross sectional menggunakan kuesioner. Populasi penelitian adalah mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas YARSI tahun pertama dan tahun ketiga yang masuk dalam kriteria inklusi. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah simple random sampling yang diambil dengan cara proporsional. Hasil : Penelitian yang dilaksanakan selama 3 hari dengan menggunakan kuesioner, dari 100 responden didapatkan responden pada tingkat Pendidikan tahun ketiga (2016) didominasi oleh pengetahuan tripsin yang cukup yaitu sebanyak 17 responden (45,95%) selanjutnya pada pengetahuan tripsin terkategori kurang sebanyak 14 responden (37,84%) dan pada pengetahuan tripsin yang baik hanya 6 responden (16,22%). Berbeda halnya dengan tahun pertama (2018), didominasi oleh kategori pengetahuan mengenai tripsin kurang dan cukup, dimana pada kedua kategori ini masing-masing sebanyak 28 responden (44,44%), sedangkan pada kategori baik hanya 7 responden (11,11%). Responden pada tingkat Pendidikan tahun ketiga (2016) didominasi oleh pengetahuan vaksin MR yang baik yaitu sebanyak 20 responden (54,05%) selanjutnya pada pengetahuan Vaksin MR terkategori cukup sebanyak 16 responden (43,24%) dan pada pengetahuan Vaksin MR yang kurang hanya 1 responden (10,81%). Simpulan : Tidak terdapat hubungan antara tingkat pendidikan dengan pengetahuan mengenai penggunaan tripsin dalam proses produksi vaksin MR. Dalam pandangan Islam, vaksinasi hukumnya halal sedangkan penggunaan vaksin MR dalam vaksinasi hukumnya mubah sebagai upaya dalam menegakkan maqashid asy-syariah yaitu hifdz an-nafs (menjaga nyawa) dan hifdz an-nasl (menjaga keturunan) serta prinsip dharuriyat hingga ditemukannya vaksin MR yang halal dan suci.
Tingkat Pengetahuan Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Yarsi Mengenai Penggunaan Human Diploid Cell Dalam Proses Produksi Vaksin MR Dan Tinjauannya Menurut Islam Nurfatimah Aprilianda Simatupang; Indra Kusuma; Siti Nur Riani
Jurnal sosial dan sains Vol. 1 No. 12 (2021): Jurnal Sosial dan Sains
Publisher : Green Publisher Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1613.776 KB) | DOI: 10.59188/jurnalsosains.v1i12.277

Abstract

Latar Belakang :  Vaksin MR merupakan salah satu vaksin yang wajib diberikan kepada anak 0 – 9 bulan. Produksi vaksin MR menggunakan Human Diploid Cell yang berasal dari janin yang sengaja di abortus menimbulkan kontroversi mengenai halal dan haram vaksin MR. Penggawa kesehatan masyarakat musti memahami dan memiliki dasar keilmuan untuk dapat menjawab kerisauan dan kontroversi mengenai kehalalan vaksin MR sehingga masyarakat menerima penggunaan vaksin MR sebagai bentuk preventif dari penyakit Measles. Menurut pandangan Islam, vaksin MR hukumnya mubah karena prinsip dharuriyah untuk menjaga hifdz nasb dan hifdz nafs. Metode : Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan cross sectional menggunakan kuesioner. Populasi penelitian adalah mahasiswa fakultas kedokteran Universitas YARSI tahun pertama dan tahun ketiga yang memenuhi definisi operasional yang dipilih dengan teknik simple random sampling.  Hasil : Penelitian yang dilaksanakan menggunakan kuesioner didapatkan dari 100 responden. Persentase jumlah kuesioner Pengetahuan  mengenai Human Diploid Cell  berdasarkan Tingkat Pendidikan didapatkan pengetahuan baik sebanyak 13,51% pada tahun ketiga dan 11,11% pada tahun pertama. Pengetahuan cukup sebanyak 62,16% pada tingkat ketiga dan 44,44% pada tahun pertama. Pengetahuan kurang sebanyak 24,32% pada tingkat ketiga dan 44,44% pada tahun pertama . Persentase jumlah kuesioner Pengetahuan  mengenai Vaksin MR berdasarkan Tingkat Pendidikan didapatkan pengetahuan baik sebanyak 54,05% pada tahun ketiga dan 49,21% pada tahun pertama. Pengetahuan cukup sebanyak 43,24% pada tingkat ketiga dan 42,86% pada tahun pertama. Pengetahuan kurang sebanyak 2,70% pada tingkat ketiga dan 7,94% pada tahun pertama. Simpulan :  Tidak terdapat hubungan antara Tingkat Pendidikan dengan pengetahuan mengenai Penggunaan Human Diploid Cell dalam Proses Produksi Vaksin MR. Menurut Islam, penggunaan vaksin MR menjadi mubah sebagai upaya menegakkan prinsip dharuriyah dalam menjaga keturunan bagi orang tua (hifdz nasb) dan menjaga nyawa anak dari ancaman penyakit Measles (hifdz nafs).
Tingkat Pengetahuan Mahasiswa Fakultas Pengetahuan Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Yarsi Mengenai Penggunaan Tripsin Dalam Proses Produksi Vaksin Polio Yolandha Tannia; Indra Kusuma; Siti Nur Riani
Jurnal sosial dan sains Vol. 1 No. 12 (2021): Jurnal Sosial dan Sains
Publisher : Green Publisher Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2045.613 KB) | DOI: 10.59188/jurnalsosains.v1i12.282

Abstract

Latar Belakang : Vaksin diberikan kepada individu yang sehat guna merangsang munculnya antibodi atau kekebalan tubuh guna mencegah dari infeksi penyakit. Pada pembuatan Vaksin Polio, digunakan enzim tripsin. Tripsin menjadi keprihatinan orang- orang dikarenakan produksi Vaksin Polio melibatkan bahan-bahan asal babi. Hal ini membuat vaksin tidak halal untuk umat Islam. Mahasiswa kedokteran sebagai agent of change ditengah masyarakat kelak harus memahami dan memiliki dasar keilmuan sesuai dengan kompetensinya untuk dapat menjawab kerisauan dan kontroversi mengenai kehalalan Vaksin Polio. Metode : Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan cross sectional menggunakan kuesioner. Populasi penelitian adalah mahasiswa fakultas kedokteran Universitas YARSI tahun pertama dan tahun ketiga yang memenuhi kriteria. Cara pemilihan sampel dengan simple random sampling. Hasil : Penelitian yang dilaksanakan selama 3 hari dengan menggunakan kuesioner, dari 100 responden didapatkan responden tahun ketiga (2016) dengan pengetahuan tripsin yang cukup yaitu sebanyak 45,95% selanjutnya pada pengetahuan tripsin terkategori kurang sebanyak 37,84% dan pada pengetahuan tripsin yang baik hanya 16,22%. Berbeda halnya dengan tahun pertama (2018), didominasi oleh kategori pengetahuan mengenai tripsin kurang dan cukup, dimana pada kedua kategori ini masing-masing sebanyak 44,44%, sedangkan pada kategori baik hanya 11,11%. Sedangkan responden pada tingkat Pendidikan tahun ketiga (2016) didominasi oleh pengetahuan Vaksin Polio yang cukup yaitu sebanyak 48.65% selanjutnya pada pengetahuan Vaksin Polio terkategori baik sebanyak 40,54% dan pada pengetahuan Vaksin Polio yang kurang hanya 10,81%. Pada tahun pertama (2018), didominasi oleh kategori pengetahuan mengenai Vaksin Polio cukup, dimana pada kedua kategori ini sebanyak 49,21%, sedangkan pada kategori baik dan kurang masing-masing sebanyak 30,16% dan 20,63%. Simpulan : Tidak terdapat hubungan antara tingkat pendidikan dengan pengetahuan mengenai penggunaan Tripsin dalam proses produksi vaksin polio. Penggunaan vaksin Polio menjadi halal berdasarkan kaidah Istihalah dan Istihlak sebagai upaya pencegahan penyakit dan menegakkan maqashid asy syari'ah yaitu maslahah al-daruriyat dalam hifdz ad-din (memelihara agama), hifdz annafs (memelihara jiwa), hifdz al-aql (memelihara akal), hifdz al-mal (memelihara harta) dan Hifz al-nasl wa al-‘ird (perlindungan terhadap kehormatan dan keturunan).
Tingkat Pengetahuan Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Yarsi Mengenai Penggunaan Human Diploid Cell Dalam Proses Produksi Vaksin Polio Wahyu Fitrah Darwanto Nugroho; Indra Kusuma; Siti Nur Riani
Jurnal sosial dan sains Vol. 1 No. 12 (2021): Jurnal Sosial dan Sains
Publisher : Green Publisher Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2225.502 KB) | DOI: 10.59188/jurnalsosains.v1i12.285

Abstract

Latar Belakang : Vaksin merupakan suspensi mikroorganisme yang dilemahkan atau dimatikan, atau protein antikgenik dari berbagai organisme tadi yang diberikan untuk mencegah, meringankan, atau mengobati penyakit-penyakit menular. Vaksin pertama kali tercatat pada tahun 1769, yang dipublikasikan oleh Edward Jenner, yaitu specimen yang berasal dari lesi lengan seseorang yang terinfeksi Cowpox. Human Diploid Cells (HDC) merupakan salah satu sel yang digunakan untuk mengkultur virus yang akan dijadikan vaksin. HDC yang berasal dari aborsi manusia ini banyak digunakan untuk mengkultur virus Polio IPV dan OPV, Rabies, Rubella, Measles, Varicella-Zooster, dan Hepatitis A. Tujuan : Vaksin polio merupakan vaksin yang diwajibkan pada anak yang dijadwalkan dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) yang dibagi menjadi dua jenis, IPV (Inactivated Polio Vaccine) dan OPV (Oral Polio Vaccine). Metode : Jenis Penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan pendekatan cross sectional menggunakan kuesioner. Populasi yang digunakan adalah mahasisa Fakultas Kedokteran Universitas YARSI tahun pertama dan tahun ketiga yang memenuhi syarat. Cara pemilihan sampel dengan simple random sampling. Hasil : Penelitian yang dilaksanakan selama 3 hari dengan menggunakan kuesioner, dari 100 responden didapatkan persentase jumlah kuesioner Pengetahuan mengenai Human Diploid Cell berdasarkan Tingkat Pendidikan didapatkan pengetahuan baik sebanyak 5% pada tahun ketiga dan 7% pada tahun pertama. Pengetahuan cukup sebanyak 23% pada tingkat ketiga dan 28% pada tahun pertama. Pengetahuan kurang sebanyak 9% pada tingkat ketiga dan 28% pada tahun pertama. Persentase jumlah kuesioner Pengetahuan mengenai Polio berdasarkan Tingkat Pendidikan didapatkan pengetahuan baik sebanyak 15% pada tahun ketiga dan 19% pada tahun pertama. Pengetahuan cukup sebanyak 18% pada tingkat ketiga dan 31% pada tahun pertama. Pengetahuan kurang sebanyak 4% pada tingkat ketiga dan 13% pada tahun pertama. Kesimpulan : Tidak terdapat hubungan antara tingkat pendidikan dengan pengetahuan mengenai Human Diploid Cell dalam vaksin Polio. Dalam pandangan Islam, penggunaan vaksin Polio hukumnya mubah karena prinsip Dharuriyat bertujuan untuk mempertahankan nyawa atau Hifdz an-nafs anak dari ancaman penyakit.
Optimizing Image Preprocessing for AI-Driven Cervical Cancer Diagnosis Chandra Prasetyo Utomo; Neng Suhaeni; Nashuha Insani; Elan Suherlan; Nunung Ainur Rahmah; Ahmad Rusdan Utomo; Indra Kusuma; Muhamad Fathurachman; Dewa Nyoman Murti Adyaksa
Advance Sustainable Science Engineering and Technology Vol. 7 No. 1 (2025): November-January
Publisher : Science and Technology Research Centre Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/asset.v7i1.1128

Abstract

Cervical cancer ranks among the top causes of cancer-related deaths in women globally. Early detection is vital for improving patient survival rates. The multiclass classification of cervical cell images presents challenges primarily due to the notable variations in cell sizes across different classes. Conventional AI methods for diagnosing cervical cancer often rely on image-resizing techniques that overlook crucial features like relative cell dimensions, which impairs the models' ability to distinguish between classes effectively. This paper presents a novel AI-driven approach that employs constant padding to maintain the natural size differences among cells. Our method utilizes deep learning for both feature extraction and multiclass classification. We assessed the method using the publicly accessible SIPaKMeD dataset. Experimental findings indicate that our approach surpasses traditional image-resizing methods, especially in classes that are more challenging to predict. This strategy highlights AI's potential to improve cervical cancer diagnosis, offering a more precise and dependable tool for early detection. A reliable and precise AI model for diagnosing cervical cancer is crucial for promoting widespread screening and ensuring timely and effective treatment, which can ultimately lower mortality rates. By aiding early and accurate diagnosis, this approach aligns with global health efforts to alleviate the burden of cancer and other diseases, especially in areas with limited access to advanced healthcare services facilities.