Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

PENGARUH JENIS PUPUK CAIR KOTORAN KAMBING DAN JENIS TANAH TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN Asystasia gangetica (L.) subsp. Micrantha I. P. B. R. A., Pranata; Duarsa, M. A. P.; Kusumawati, N. N. C.
Jurnal Peternakan Tropika Vol 11 No 3 (2023): Vol. 11 No. 3 Tahun 2023
Publisher : Animal Science Study Program, Faculty of Animal Husbandry, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pupuk cair kotoran kambing dan jenis tanah terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman Asystasia gangetica. Penelitian ini dilakukan di rumah kaca, Jalan Raya Sading nomor 93, Mengwi, Badung, Bali. Penelitian berlangsung selama tiga bulan mulai dari persiapan sampai pemotongan. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap pola Split Plot dengan dua faktor. Faktor pertama adalah main plot/petak utama yaitu jenis tanah yang terdiri dari tanah Sobangan/latosol (TL), tanah Pengotan/regosol (TR) dan tanah Jimbaran/mediteran (TM). Faktor kedua Subplot/anak petak yaitu pupuk cair kotoran kambing yang terdiri dari kotoran kambing tanpa perlakuan (P1), kotoran kambing + EM4 (P2), kotoran kambing + EM4 + cacahan limbah jagung (P3). Terdapat sembilan kombinasi perlakuan dan setiap perlakuan diulang sebanyak empat kali sehingga terdapat 36 unit percobaan. Variabel yang diamati yaitu variabel pertumbuhan, variabel hasil dan variabel karakteristik tumbuh tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada variabel nisbah berat kering daun dengan berat kering batang luas daun per pot terjadi interaksi. Kombinasi TMP2 menghasilkan nilai tertinggi sebesar 1,87 g pada nisbah berat kering daun dengan berat kering batang, sedangkan pada luas daun perpot kombinasi tertinggi terdapat pada TRP1 dengan nilai 366,24 cm. Pada pertumbuhan dan hasil tanaman Asystasia gangetica penggunaan jenis tanah Pengotan (TR) mendapatkan hasil yang optimal, sedangkan pada jenis pupuk P1 dan P3 juga menghasilkan rataan yang tidak jauh berbeda hasilnya, terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman Asystasia gangetica. Kata kunci: Asystasia gangetica, jenis tanah, Pupuk cair kotoran kambing
PENGARUH PENGGANTIAN SEBAGIAN KOTORAN SAPI DALAM PUPUK CAIR DENGAN CACAHAN LIMBAH JAGUNGPADA BERBAGAI JENIS TANAH TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL TANAMAN Asystasia gangetica (L.) subsp. Micrantha I K. A. U., Wahyudi; Duarsa, M. A. P.; Kusumawati, N. N. C.
Jurnal Peternakan Tropika Vol 12 No 1 (2024): Vol. 12 No. 1 Tahun 2024
Publisher : Animal Science Study Program, Faculty of Animal Husbandry, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggantian sebagia kotoran sapi dalam pupuk cair dengan cacahan limbah jagung pada berbagai jenis tanah terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman Asystasia gangetica (L.) subsp. Micrantha. Penelitian ini dilakukan di rumah kaca, jalan raya Sading nomor 93, Mengwi, Badung, Bali. Penelitian berlangsung selama 3 bulan mulai dari persiapan sampai pemotongan. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan pola petak terbagi (Split-Plot) dengan dua faktor. Faktor pertama adalah main plot/petak utama yaitu jenis tanah yang terdiri dari tanah Mediteran (T1) diperoleh di Jimbaran, tanah Regosol (T2) diperoleh di Pengotan,dan tanah latosol (T3) diperoleh di Sobangan . Faktor kedua Subplot/anak petak yaitu jenis pupuk cair yang terdiri dari pupuk cair kotoran sapi tanpa perlakuan (P1), pupuk cair kotoran sapi + EM4 (P2), pupuk cair kotoran sapi + EM4 + limbah tanaman jagung (P3). Terdapat 9 kombinasi perlakuan dan setiap perlakuan diulang sebanyak empat kali sehingga terdapat 36 unit percobaan. Variabel yang diamati yaitu variabel pertumbuhan, variabel hasil dan variabel karakteristik tumbuh tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terjadi interaksi antara pengantian kotoran sapi dalam pupuk cair dengan cacahan limbah jagung pada berbagai jenis tanah di semua variabel. Penggunaan tanah sobangan cenderung memberikan rataan tertinggi dibandingkan dengan tanah jimbaran maupun pengotan yang secara statistik menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata pada semua variabel kecuali berat kering daun. Pada variabel berat kering daun, Asystasia gangetica (L.) subsp. Micrantha yang ditanam pada tanah latosol (T3) memberikan hasil yang berbeda nyata dengan tanah mediteran. Pada variabel lainnya, ketiga jenis tanah tidak memberikan hasil yang berbeda nyata, namun demikian tanah sobanan cenderung memberikan rataan tertinggi. Perlakuan jenis pupuk cair kotoran sapi + EM4 memberikan rataan tertinggi namun berbeda tidak nyata dengan pupuk kotoran sapi + EM4 + cacahan jagung terhadap pertumbuhan dan hasil tanaman Asystasia gangetica (L.) subsp. Micrantha. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan jenis tanah latosol memberikan hasil terbaik dan cacahan limbah jagung dapat mengganti sebagian kotoran sapi dalam pupuk cair terhadap pertumbuhan dan hasil Asystasia gangetica (L.) subsp. Micrantha.
PENGARUH PENGGANTIAN SEBAGIAN KOTORAN SAPI DENGAN LIMBAH JAGUNG PADA BERBAGAI DOSIS PUPUK ORGANIK CAIR TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL Asystasia gangetica (L.) subsp. Micrantha R. A., Bernardi; Duarsa, M. A. P.; Kusumawati, N. N. C.
Jurnal Peternakan Tropika Vol 12 No 1 (2024): Vol. 12 No. 1 Tahun 2024
Publisher : Animal Science Study Program, Faculty of Animal Husbandry, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh penggantian sebagian kotoran sapi dengan limbah jagung pada berbagai dosis terhadap pertumbuhan dan hasil Asystasia gangetica (L.) subsp. Micrantha. Penelitian telah dilaksanakan di Rumah Kaca, Stasiun Penelitian, di Jalan Raya Sading, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Bali. Penelitian ini berlangsung selama tiga bulan terhitung dari persiapan sampai pengambilan data menggunakan rancangan acak lengkap pola (RAL) pola Split Plot dengan empat ulangan. Petak utama/main plot adalah jenis kotoran sapi yaitu, kotoran sapi + air (KS1), kotoran sapi + EM4 (KS2), dan kotoran sapi + EM4 + limbah jagung (KS3) dan anak petak/sub plot adalah dosis pupuk yaitu tanpa pupuk (D0), 10.000 l ha-1 (D1), 20.000 l ha-1 (D2) dan 30.000 l ha-1 (D3). Variabel yang diamati yaitu variabel pertumbuhan, hasil hijauan dan karakteristik tumbuh Asystasia gangetica (L.) subsp. Micrantha. Hasil penelitian menunjukan bahwa penggantian sebagian kotoran sapi dengan limbah jagung pada berbagai dosis tidak terjadi interaksi terhadap pertumbuhan dan hasil hijauan Asystasia gangetica (L.) subsp. Micrantha. Penggantian sebagian kotoran sapi dengan limbah jagung dapat digunakan dalam pembuatan pupuk organik cair. Pemberian dosis pupuk 20.000 l ha-1 (D2) cenderung memberikan pertumbuhan dan hasil paling baik dibandingkan dosis 0 l ha-1 (D0), 10.000 l ha-1 (D1) dan 30.000 l ha-1 (D3). Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penggantian sebagian kotoran sapi dengan limbah jagung dapat digunakan sebagai bahan pembuatan pupuk organik cair dan pemberian dosis 20.000 l ha-1 (D2) menghasilkan pertumbuhan dan hasil hijauan paling baik.
PENGARUH PENGGANTIAN PUPUK ORGANIK CAIR KOTORAN KAMBING DENGAN LIMBAH JAGUNG PADA BERBAGAI DOSIS TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL HIJAUAN Asystasia gangetica A. T., Mukti; Duarsa, M. A. P.; Kusumawati, N. N. C.
Jurnal Peternakan Tropika Vol 11 No 3 (2023): Vol. 11 No. 3 Tahun 2023
Publisher : Animal Science Study Program, Faculty of Animal Husbandry, Udayana University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggantian pupuk organik cair kotoran kambing dengan limbah jagung pada berbagai dosis terhadap pertumbuhan dan hasil hijauan Asystasia gangetica. Penelitian telah dilaksanakan di Rumah Kaca, di Jalan Raya Sading Nomor: 93, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Bali. Penelitian ini berlangsung selama empat bulan, pengambilan data menggunakan Rancangan Acak Lengkap Pola Petak Terbagi (Split-Plot Design) dengan dua faktor. Main plot adalah penggantian pupuk cair kotoran kambing yang terdiri dari kotoran kambing + air (KK1), kotoran kambing + EM4 + air (KK2), dan kotoran kambing + EM4 + limbah jagung + air (KK3) dan subplot adalah dosis pupuk cair kotoran kambing yang terdiri dari 0 l ha-1 (D0), 5.000 l ha-1 (D1), 10.000 l ha-1 (D2), 15.000 l ha-1 (D3). Terdapat 12 kombinasi perlakuan dan diulang sebanyak empat kali sehingga terdapat 48 pot percobaan. Variabel yang diamati yaitu variabel pertumbuhan, hasil hijauan dan karakteristik Asystasia gangetica. Tidak terjadi interaksi antara penggantian pupuk dan dosis pupuk terhadap pertumbuhan dan hasil hijauan. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa pemberian jenis pupuk kotoran kambing + EM4 + limbah jagung + air (KK3) cenderung memberikan pertumbuhan dan hasil Asystasia gangetica paling baik dibandingkan kotoran kambing + air (KK1) dan kotoran kambing + EM4 + air (KK2). Pemberian dosis pupuk 5.000 l ha-1 (D1) cenderung memberikan pertumbuhan paling baik dibandingkan dosis 0 l ha-1 (D0), 10.000 l ha-1 (D2) dan 15.000 l ha-1 (D3). Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa limbah jagung dapat menggantikan pupuk kotoran kambing sebanyak 50% untuk pertumbuhan dan hasil Asystasia gangetica. Kata kunci: jenis pupuk, dosis pupuk, Asystasia gangetica, pertumbuhan, hasil.
KECERNAAN BAHAN KERING DAN NUTRIEN RANSUM PADA KAMBING PERANAKAN ETAWAH YANG DIBERI HIJAUAN BERAGAM DENGAN ARAS KONSENTRAT “MOLMIK” BERBEDA CAKRA, I G. L. O.; DUARSA, M. A. P.; PUTRA, S.
Majalah Ilmiah Peternakan Vol 17 No 1 (2014): Vol 17, No 1 (2014)
Publisher : Fakultas Peternakan Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (446.742 KB) | DOI: 10.24843/MIP.2014.v17.i01.p07

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian hijauan beragam dengan suplementasi konsentrat “Molamix” terhadap kecernaan bahan kering dan nutrien ransum. Percobaan menggunakan rancangan acak kelompok (RAK) dengan tiga perlakuan dan tiga kelompok/blok sebagai ulangan. Ternak yang digunakan sebanyak sembilan ekor (unsex) dengan kisaran berat badan awal 19,57 ± 2,4 kg. Ketiga perlakuan tersebut adalah perlakuan A: 70% hijauan (rumput lapangan) + 30% konsentrat ”molamix”; perlakuan B: 80% hijauan (40% rumput lapangan + 60% gamal) + 20% konsentrat ”molamix”; dan perlakuan C: 90% hijauan (20% rumput lapangan + 60% gamal + 20% waru) + 10% konsentrat ”molamix”. Air minum diberikan secara ad libitum. Penelitian menyimpulkan bahwa pemberian 90% pakan hijauan beragam (rumput, gamal, dan waru) dengan 10% konsentrat ”Molamix” dapat menghasilkan peningkatan kecernaan bahan kering, bahan organik, protein kasar, dan kecernaan serat kasar.