Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

PHYTOREMEDIATION OF HYDROCARBON-CONTAMINATED SOILS USING JARAK KEPYAR (Ricinus communis L) AND COMPOST Firman Hidayat Madubun; Radjali Amin; Dewi Rahyuni
BIOLINK (Jurnal Biologi Lingkungan Industri Kesehatan) Vol 7, No 1 (2020): August 2020
Publisher : Universitas Medan Area

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (524.801 KB) | DOI: 10.31289/biolink.v7i1.3328

Abstract

Phytoremediation is known as one of the bioremediation techniques which may remove, stabilize, and/or destroy contaminants in the media. This study was aiming at collecting evidence of phytoremediation, which was applied with the addition of compost. Jarak Kepyar (Ricinus communis L.) was selected for this study because its seeds highly potency as biodiesel raw materials. Laboratory research scale was prepared, and the experiment design was complete random design with three replications. The experiment design was a full random design with three replications. The treatments were mixed contaminated soil (contaminated soil: compost = 3:1) and R. communis; and mixed garden soil (soil:compost=3:1) and R. communis; and contaminated soil without compost and R. communis. The statistical t-Test with a range of confidence at 95% showed that the phytoremediation significantly removed the Total Petroleum Hydrocarbons (TPH) at 97.7%. TPH accumulations were detected in roots and shoot ranged from 3377.6 mg/kg to 3555.0 mg/kg. R. communis leave development was the most sensitive indicator to biotoxicity of the hydrocarbons in the soils.
Pengaruh Bahan Organik Dan Jamur Mikoriza Arbuskula Terhadap Harkat Tanah Pasir Pantai Selatan Yogyakarta Yang Menjadi Medium Pertumbuhan Jagung (Zea Mays) Akhsin Zulkoni; Dewi Rahyuni; Nasirudin Nasirudin
Media Ilmiah Teknik Lingkungan (MITL) Vol 5 No 1 (2020): Media Ilmiah Teknik Lingkungan
Publisher : ​Institute for Researches and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (184.226 KB) | DOI: 10.33084/mitl.v5i1.1348

Abstract

Keberadaan tanah pasir pantai menyebabkan proses evaporasi dan degradasi oleh mikroba berlangsung cepat dan tanah pasir pantai miskin unsur hara. Lahan pasir pantai menjadi alternatif lahan pertanian, Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh bahan organik dan inokulasi Jamur Mikoriza Arbuskula (JMA) terhadap harkat tanah pasir pantai. Penelitian menggunakan rancangan acak kelompok lengkap dengan 3 ulangan. Faktor diuji adalah takaran bahan organic dari 0, 20, 40, dan 60 ton/ha; dan inokulasi JMA yaitu 0 dan 150 g/lubang tanam. Parameter yang dianalisis adalah pH (H2O), C organik, N total, C/N, P dan K tersedia. Data hasil penelitian dianalisis secara diskriptif dengan membandingkan Harkat sifat kimia tanah yang dikeluarkan oleh Balai Penelitian Tanah (2009), dan dianalisis menggunakan Anova α 1 dan 5%. Bila ada pengaruh yang nyata, dilanjutkan uji BNT α 5%. Penambahan bahan organik ke dalam tanah mampu meningkatkan harkat sifat kimia tanah setelah masa inkubasi. Sedangkan harkat sifat kimia tanah setelah masa tanam jagung yang bermikoriza menurunkan dibanding dengan jagung tanpa JMA. Berdasar analisis keragaman, ternyata takaran bahan organik sebanyak 60 ton/ha merupakan perlakuan terbaik untuk meningkatkan kadar C organik, N total, P dan K tersedia serta KTK pada masa inkubasi. Setelah masa tanam jagung, C organik dan N total tertinggi tejadi pada tanah tanpa mikoriza dengan tambahan bahan organik 40 ton/ha, sedang untuk P dan K tersedia serta KTK terbaik pada tanah bermikoriza dengan tambahan bahan organik 40 ton/ha.
Constructed Wetland Tipe Horisontal Subsurface Flow Menggunakan Rumput Odot untuk Pengolahan Efluen IPAL Tahu Irene AA Suwandhi; Novirina Hendrasarie; Dewi Rahyuni
Jurnal Serambi Engineering Vol 7, No 3 (2022): Juli 2022
Publisher : Fakultas Teknik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32672/jse.v7i3.4350

Abstract

The effluent of tofu’s anaerobic digester contains organic matter and require further treatment. Constructed wetland (CW) using forage grass plant is one of the alternatives. The study is aimed to observe the effect of CW’s stage variation and planting duration on TSS and COD effluent. Plant growth also observed duringoperation. Two CWs horizontal subsurface tank of dimension 100 cm x 50 cm x 50 cm were arranged in series as stage 1 and 2. Tank was planted with Pennisetum purpureum c.v Mott at spacing of 25 cm, tank without plants as control, and operated at hydraulic loading rate of 0.1 m3/m2.day. Temperature, pH and plant height was measured every 2 days, TSS and COD every 1-2 week. The study showed, there was relatively no temperature difference between control and planted CW. The pH effluent increased with the pH of stage II being higher than stage IThe TSS and COD removal efficiency in planted CW was 61-90 % and 27-85 %, while for control was 8-85 % and 13-79 %, respectively. Plant can grow, indicated by the addition of plant height and plant weight during harvesting. In conclusion, CW stage and planting duration had effect on TSS and COD effluent.
PEMANFAATAN KULIT BUAH ALPUKAT (Persea americana Mill.) SEBAGAI CAMPURAN PEMBUATAN BIO HAND SANITIZER Rizky Bagus Anjana; Rukmini; Dewi Rahyuni; Nur Iswanto
Jurnal Rekayasa Lingkungan Vol. 25 No. 2 (2025)
Publisher : Institut Teknologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37412/jrl.v25i2.442

Abstract

Bio hand sanitizer adalah cairan atau gel yang berfungsi untuk membunuh kuman, bakteri, dan virus pada tangan tanpa memerlukan air dan sabun, namun mengandung alkohol berkisar 60%. Kulit buah alpukat (Persea americana Mill) mengandung senyawa flavonoid, saponin, alkaloid dan tanin yang sangat bermanfaat untuk bahan tambahan pembuatan bio hand sanitizer karena bersifat sebagai antibakteri, dan antivirus alami. Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis dosis terbaik ekstrak kulit buah alpukat, menganalisis perbandingan kualitas bio hand sanitizer ekstrak kulit buah alpukat beraroma serai dapur (Cymbopogon citratus) dengan satu merk bio hand sanitizer yang beredar di pasaran. Penelitian ini dilaksanakan pada skala laboratorium, dengan variabel bebas dosis ekstrak kulit buah alpukat, yang terdiri dari 0 ml/200 ml, 10 ml/200 ml, 20 ml/200 ml dan 30ml/200 ml. Sedangkan variabel terikatnya meliputi uji antibakteri Staphylococcus aures, dan antibakteri Escherichia coli, serta pH. Data penelitian dianalisis menggunakan Anova α 5%, dan dilanjutkan uji LSD α 5%. Berdasar analisis keragaman dan uji LSD α 5% diperoleh dosis ekstrak kulit buah alpukat yang menghasilkan bio hand sanitizer dengan kualitas terbaik yaitu 10 ml//200 ml. Zona hambat antibakteri Staphylococcus aureus sebesar 20,3 mm, dan zona hambat antibakteri Escherichia coli sejauh 0 mm, dengan pH 4,29. Berdasar hasil uji perbandingan terhadap satu merk bio hand sanitizer yang beredar di pasaran, maka bio hand sanitizer dengan campuran ekstrak kulit buah alpukat layak dipasarkan.
PEMANFAATAN KARBON AKTIF KULIT PISANG KEPOK (MUSA PARADISIACA) SEBAGAI ADSORBEN ZAT WARNA CONGO RED DALAM LIMBAH CAIR INDUSTRI TEKSTIL Riska Septiana; Dewi Rahyuni; Rukmini AR
Jurnal Rekayasa Lingkungan Vol. 26 No. 1 (2026): Jurnal Rekayasa Lingkungan
Publisher : Institut Teknologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37412/jrl.v26i1.517

Abstract

Tanaman pisang cocok tumbuh di Indonesia yang beriklim tropis, sehingga hampir dijumpai di seluruh wilayah di Indonesia. Mayoritas masyarakat Indonesia hanya memanfaatkan buahnya saja, sedangkan kulit pisang menjadi limbah. Kulit pisang mengandung sejumlah unsur, diantaranya ialah asam galakturonat merupakan gugus fungsi gula karboksil yang diduga mampu mengadsorpsi zat warna. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persen teradsorpsinya zat warna Congo Red, dan ekonomi karbon aktif kulit pisang kepok. Pembuatan karbon aktif kulit pisang kepok menggunakan aktivator H2SO4 yang direndam selama 1,5 jam. Zat warna Congo Red berasal dari limbah simulasi dengan konsentrasi 25 ppm. Variabel bebas berupa massa karbon aktif (0,04 ; 0,06 ; 0,08 , dan 0,10 g) dan waktu kontak (30, 60, 90, dan 120 menit). Variabel terikatnya yaitu persen teradsorpsi karbon aktif kulit pisang kepok, dan analisis ekonominya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persen teradsorpsi karbon aktif kulit pisang kepok tertinggi terjadi pada massa 0,1 g dengan waktu kontak 120 menit, dengan nilai 99.70%. Pada kondisi ini, analisis ekonomi menunjukkan biaya treatment sebesar Rp 1.716.000 sedangkan nilai R/C ratio yaitu pendapatan karbon aktif kulit pisang kepok untuk produksi setiap hari sejumlah Rp 564.600,00 dengan nilai R/C ratio 1,23 sehingga kriteria R/C ratio >1, maka karbon aktif tersebut efisien dan menguntungkan apabila diusahakan.