Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

Pemberdayaan Kompetensi Pedagogik Dan Peningkatan Kualitas Interaksi Pada Pembelajaran Daring Bagi Guru SD Dan SMP Di YPI Amir Hamzah Kota Medan Ratih Baiduri; Sulian Ekomila; Utami Nurhafsari; Shofia Mawaddah; Andalucia Andalucia
Medani : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 1 No. 2 (2022): Agustus 2022
Publisher : Lembaga Riset Ilmiah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (499.589 KB) | DOI: 10.59086/jpm.v1i2.127

Abstract

Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama YPI Amir Hamzah adalah sekolah yang menjadi sasaran program pengabdian dan pemberdayaan yang dilandasi oleh permasalahan dalam bidang pendidikan di era pandemi covid-19. Kompetensi pedagogik guru dan menurunnya kualitas interaksi pembelajaran menjadi suatu masalah. Perubahan sistem pembelajaran dari tatap muka ke sistem pembelajaran jarak jauh (PJJ) dan daring (online) berdampak pada perubahan efisiensi dan efektifitas dalam proses transfer materi pembelajaran. Ketidakmampuan pendidik (guru) dalam membentuk kualitas interaksi pembelajaran yang ideal sehingga proses yang seharusnya mendukung anak belajar dan mengkonstruk pengetahuannya menjadi terabaikan. Metode pengabdian dan pemberdayaan ini dilakukan dalam 2 tahap, yaitu 1) sosialisasi tentang pemberdayaan lompetensi pedagogik guru dan peningkatan kualitas interaksi pada pembelajaran daring dan 2) pelatihan pelatihan dan pendampingan yang melalui 3 (tiga) langkah simulasi, yaitu: Simulasi Kemampuan Reflektif, Simulasi Kompetensi Pedagogik, Simulasi Pengkondisian Interaksi Pembelajaran Jarak Jauh Secara Daring (Online) yang Efektif dan Efisien. Hasil dari pengabdian dan pemberdayaan ini ialah tercapainya kompetensi yang diharapkan bagi para guru di SD dan SMP YPI Amir Hamzah dalam pemberdayaan kompetensi pedagogik dan meningkatnya kualitas interaksi selama proses pembelajaran daring (dalam jaringan).
Fenomena Kawin Muda Di Era Digital Bagi Etnis Karo di Desa Pekan Sawah Kecamatan Sei Bingai Kabupaten Langkat Septika Meditania Br Ginting; Ratih Baiduri
Jurnal Antropologi Sumatera Vol 19, No 2 (2022): Jurnal Antropologi Sumatera, Juni 2022
Publisher : Program Studi Antropologi Sosial Pascasarjana Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jas.v19i2.43916

Abstract

This study aims to determine the phenomenon of young marriage in the digital era for ethnic Karo in Pekan Sawah Village, Sei Bingai District, Langkat Regency. This research was conducted qualitatively with a descriptive approach. The data needed is collected through observational studies, interviews, and documentation. This research was conducted to determine the phenomenon of young marriage in the digital era for ethnic Karo in Pekan Sawah Village, Sei Bingai District, Langkat Regency. This study concludes that the phenomenon of young marriage in the digital age for the Karo ethnicity in Pekan Sawah Village, Sei Bingai District, Langkat Regency, that the phenomenon of young marriage does not affect every system, because in this case only the most prominent social system. This means that individual behavior in the social system is governed by culture, just as it does in Pekan Sawah Village. They consider young marriages to be commonplace, because previously the village community had done a lot of young marriages. The phenomenon of young marriage that occurs in Pekan Sawah Village is a patterned network, which forms a coherent whole as a totality of social values and their own behavior. The development of technology in the digital direction has brought various changes. The digital age is not a matter of being prepared or not and is not an option but is a consequence.
PEMBERDAYAAN BERBASIS KOMUNITAS SANGGAR ANAK SUNGAI DELI (SASUDE) DI LINGKUNGAN XII KELURAHAN SEI MATI KECAMATAN MEDAN MAIMUN Ratih Baiduri; Yanita Hotriahni Sitopu
Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 6, No 8 (2023): Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jpm.v6i8.2919-2931

Abstract

Penelitian bertujuan untuk menelusuri latarbelakang berdirinya komunitas Sanggar Anak Sungai Deli, menelaah bentuk program pemberdayaan sasude, dan mengungkapkan realisasi program, hambatan dan manfaat sasude bagi anak-anak, masyarakat dan lingkungan sekitar. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan etnografi. Penelitian ini dilakukan di Lingkungan XII, Kelurahan Sei Mati Medan Maimun. Teknik pengumpulan data yaitu melalui observasi partisipan, wawancara mendalam, dokumentasi dan catatan lapangan. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa latar belakang berdirinya sasude berdasarkan kondisi lingkungan yang tidak teratur, masyarakat yang rendah pendidikan sehingga tidak memiliki kesadaran akan kebersihan lingkungan, dan kondisi anak-anak yang banyak mengamen, mengemis, putus sekolah dan tidak bisa membaca. Adapun program-program yang dijalankan sasude yaitu pengembangan minat dan bakat, literasi, keagamaan, lingkungan, unit usaha, ramadhan camp, festival sasude, pegelaran tunggal dan pentas seni. Manfaat sasude ini yaitu meningkatkan kualitas hidup anak-anak, masyarakat sekitar dan lingkungan seperti peningkatan keterampilan, pengetahuan, kepercayaan diri, kesadaran akan kebersihan lingkungan yang menciptakan lingkungan yang asri, bersih dan nyaman.
LABELING DOLI-DOLI NATANGASAN PADA LAKI LAKI BELUM MENIKAH USIA DEWASA ETNIS BATAK TOBA DIDESA LOBUSINGKAM KECAMATAN SIPOHOLON Ratih Baiduri; Chica Diana Marbun
Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 6, No 11 (2023): Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jpm.v6i11.4224-4231

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk menelusuri latarbelakang munculnya label Doli-doli Natangasan pada laki laki belum menikah usia dewasa etnis Batak Toba Kecamatan Sipoholon, menganalisis alasan laki laki dengan label Doli-doli Natangasan tetap tidak menikah usia dewasa etnis Batak Toba di Desa Lobusingkam Kecamatan Sipoholon dan menganalisis upaya yang dilakukan laki laki belum menikah usia dewasa dalam menanggapi label dari masyarakat etnis Bata Toba Kecamatan Sipoholon Kabupaten Tapanuli Utara. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode etnografi. Teknik pengumpulan data yang dilakukan adalah observasi partisipan, wawancara mendalam, dokumentasi dan catatan lapangan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa label Doli-doli Natangasan adalah panggilan kepada laki laki belum menikah usia dewasa etnis Batak Toba. Latar belakang munculnya label Doli-doli Natangasan disesuaikan dengan umur laki laki yaitu diatas 40 tahun. Alasan laki laki dengan label Doli-doli Natangasan tetap tidak menikah usia dewasa meliputi gagal dalam percintaan, gagal menikah, kebanyakan bermain, adanya beban, tidak cocok ketika dijodohkan, belum menemukan pasangan yang dapat menerima dengan apa adanya, ketidakinginan menikah dengan orang semarga. Adapun upaya dalam menanggapi label dilakukan oleh laki laki yang menerima label dan juga keluarga yaitu tetap berkegiatan seperti biasanya, cuek, percaya kepada rencana Tuhan, fokus bekerja, berupaya mencari pasangan, orangtua mencarikan jodoh untuk anak (dijodohkan), rajin berdoa.
Fenomena Laki-Laki Penenun Ulos di Kecamatan Tarutung Kabupaten Tapanuli Utara Ratih Baiduri; Rimma Natasari Sitanggang
ETNOREFLIKA: Jurnal Sosial dan Budaya Vol. 12 No. 3 (2023): Volume 12, Issue 3, October 2023
Publisher : Laboratorium Jurusan Antropologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/etnoreflika.v12i3.2316

Abstract

In general, weaving Ulos in the Toba Etnich social culture is women’s work. What is interesting is that it turns out that there are men who are also involved in weaving activities. This research aims to explore how male ulos weavers became a phenomenon in the social and cultural life of the Toba Batak ethnic group. This research uses qualitative methods with an ethnographic motivated and driven by fulfilling life’s needs, the identity of men as ulos weavers over a long period oh time gradually began to receive a positive view from the community, however, there were still people who viewed the presence of men pessimistically. Ulos weavers from the perspective of Toba Batak cultuter.
Makna Tradisi Partadingan bagi Perempuan Dalam Perkawinan Adat Simalungun di Sondi Raya Kartika Saragih Garingging; Ratih Baiduri
Journal of Management Education Social Sciences Information and Religion Vol 1, No 2 (2024): September 2024
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/mesir.v1i2.2931

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis makna tradisi partadingan ini terkait dengan makna penyerahan serta makna yang terkandung dalam setiap benda parangguan (kelengkapan) dalam partadingan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah metode kualitatif dengan pendekatan etnografi. Penelitian ini dilakukan di Kelurahan Sondi Raya Kecamatan Raya Kabupaten Simalungun Provinsi Sumatera Utara. Teknik pengumpulan data yang dilakukan yaitu dengan observasi partisipan, wawancara mendalam, dokumentasi dan catatan lapangan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa partadingan di Sondi Raya diberikan pada saat pajabuparsahapan dengan syarat utama bahwa calon mempelai perempuan harus secara langsung menyerahkan nya kepada orangtua nya dalam arti tidak dapat diwakilkan, serangkain proses juga menjadi bagian penting seperti manurduk demban (menyampaikan sirih) karena merupakan bagian dari adat-istiadat, negosiasi untuk memperoleh kesepakatan antar kedua belah pihak terkait uang partadingan, serta tobus huning yang dilakukan oleh mempelai perempuan sebagai tanda permintaan maaf terhadap orangtuanya. Partadingan dimaknai sebagai suatu bentuk penghormatan, tanggung jawab, penghargaan dan tanda terima kasih dari pihak laki-laki kepada orangtua mempelai perempuan, juga merupakan tanda permisi perempuan akan meninggalkan orangtua nya. Penyerahan partadingan memuat berbagai nasehat-nasehat, doa serta harapan untuk rumah tangga yang dibangun agar selalu berjalan sebagaimana mestinya. Partadingan yang merupakan sesuatu yang wajib dalam perkawinan adat Simalungun, patut dijaga dan dipertahankan eksistensinya di tengah kemajuan zaman yang semakin modern.
Multidimensional Approach to Curriculum Transformation in Increasing Multicultural Appreciation Supsiloani Supsiloani; Ratih Baiduri; Bakhrul Khair Amal; Sulian Ekomila
Al-Hayat: Journal of Islamic Education Vol 8 No 3 (2024): Al-Hayat: Journal of Islamic Education
Publisher : Al-Hayat Al-Istiqomah Foundation collab with Letiges

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35723/ajie.v8i3.680

Abstract

The need for curriculum transformation in Indonesia to support multicultural education is increasingly evident. This study focuses on how a multidimensional approach to curriculum transformation can effectively enhance students' appreciation of multiculturalism. This approach fosters tolerance and respect for cultural, ethnic, and religious diversity. This study used qualitative methods. Data were collected through in-depth interviews and documentation. Data analysis using thematic coding and triangulation techniques to ensure data validity, consistency, and reliability of findings. Curriculum transformation at State Junior High School I Medan integrates cognitive, affective, psychomotor, and socio-cultural dimensions to foster multicultural appreciation. Key changes include shifting the curriculum's focus from academic achievement to developing tolerance and respect for cultural diversity. Teaching materials now incorporate multicultural perspectives, and project-based participatory learning methods actively engage students in cultural activities. Classrooms are organized to promote gender and religious balance, and assessments are more holistic, evaluating students' academic performance and involvement in multicultural activities. This transformation creates a more inclusive and culturally responsive educational environment, helping students develop the academic and socio-emotional skills needed to live in a diverse society. This approach prepares students to be more tolerant and inclusive, positively impacting their interactions in an increasingly globalized world. This research provides valuable insights for educators and policymakers on increasing multicultural appreciation among students.
Fenomena Laki-Laki Penenun Ulos di Kecamatan Tarutung Kabupaten Tapanuli Utara Ratih Baiduri; Rimma Natasari Sitanggang
ETNOREFLIKA: Jurnal Sosial dan Budaya Vol 12 No 3 (2023): Volume 12, Issue 3, October 2023
Publisher : Laboratory of Anthropology Department of Cultural Science Faculty of Halu Oleo University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/etnoreflika.v12i3.2316

Abstract

In general, weaving Ulos in the Toba Etnich social culture is women’s work. What is interesting is that it turns out that there are men who are also involved in weaving activities. This research aims to explore how male ulos weavers became a phenomenon in the social and cultural life of the Toba Batak ethnic group. This research uses qualitative methods with an ethnographic motivated and driven by fulfilling life’s needs, the identity of men as ulos weavers over a long period oh time gradually began to receive a positive view from the community, however, there were still people who viewed the presence of men pessimistically. Ulos weavers from the perspective of Toba Batak cultuter.
Mistisisme dalam Pelaksanaan Ritual pada Bulan Suro pada Persaudaraan Setia Hati Terate Cabang Deli Serdang Afrillia Dinda Kumara; Ratih Baiduri; Erond Litno Damanik
Jurnal Manajemen Pendidikan dan Ilmu Sosial Vol. 6 No. 4 (2025): Jurnal Manajemen Pendidikan dan Ilmu Sosial (Juni - Juli 2025)
Publisher : Dinasti Review

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38035/jmpis.v6i4.5048

Abstract

Ritual malam pengesahan dalam Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) merupakan salah satu tradisi penting yang menggabungkan unsur mistis, spiritualitas, dan budaya Jawa, serta menjadi bagian integral dari proses pengesahan anggota baru. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji makna, proses, dan alasan mengapa ritual mistis ini masih tetap dilaksanakan oleh warga PSHT hingga saat ini. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan analisis etnografi, yang mencakup observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan informan kunci, serta studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ritual malam pengesahan mengandung nilai-nilai spiritual yang mendalam, di mana setiap elemen ritual, seperti doa, simbol, dan aktivitas fisik, memiliki makna khusus yang berkaitan dengan pembentukan karakter dan penguatan ikatan persaudaraan. Ritual ini juga berfungsi untuk memperkuat hubungan anggota dengan dimensi spiritual yang lebih tiggi, menjaga dan melestarikan tradisi yang diwariskan oleh leluhur, serta menanamkan nilai-nilai luhur PSHT. Ritual ini tetap dipertahankan karena dianggap sebagai cara untuk menghormati leluhur, menjaga identitas budaya, dan memperkuat komitmen anggota terhadap ajaran PSHT. Sebagai sarana untuk pembentukan karakter dan penguatan spiritual, ritual malam pengesahan tidak hanya menjadi simbol pengesahan formal, tetapi juga sebagai momen refleksi diri dan pengembangan kepribadian yang lebih baik bagi setiap anggota PSHT.