Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

KARAKTERISASI SIMPLISIA DAN EKSTRAK KULIT BATANG SEKILANG (Embelia borneensis Scheff.) Risa Supriningrum; Reksi Sundu; Triswanto Sentat; Rakhmadhan Niah; Eka Kumalasari
Jurnal Ilmiah Ibnu Sina (JIIS): Ilmu Farmasi dan Kesehatan Vol 6 No 2 (2021): JIIS
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan ISFI Banjarmasin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (309.634 KB) | DOI: 10.36387/jiis.v6i2.677

Abstract

The Sekilang plant (Embelia borneensis Scheff.) Is one of the plants used by the Dayak community for fishing, leech repellent and as an ingredient for hair care. Empirical use of plants can be developed into products based on natural ingredients. This must be supported by research data. As a first step, the simplicia and ethanol extract of the stem bark were characterized. The research objective was to determine the specific and non-specific characteristics of the simplicia and the extracts of the bark of the sekilang. The research stage includes plant determination, collection of raw materials, manufacture of simplicia, extract preparation, organoleptic, microscopic testing, phytochemical screening, determination of water soluble extract content, determination of ethanol soluble extract content, determination of water content and determination of ash content. Microscopy test results of sekilang stem bark showed the presence of fiber fragments, stone cells, and oxalate crystals. The average water soluble content for simplicia and sekilang bark extract was 7.5% and 80%. The average ethanol soluble content for simplicia and extract was 6% and 30%. The average moisture content for the simplicia and extract was 9.5% and 12%. The mean total ash content for simplicia and extract was 5% and 8.5%. The mean acid insoluble ash content for simplicia and extract was 1% and 0.5%.
UJI AKTIVITAS ANTOKSIDAN EKSTRAK BUAH LIMPASU (Baccaurea lanceolata) Rakhmadhan Niah; Dwi Rizki Febrianti
AFAMEDIS Vol. 1 No. 1 (2020): Jurnal Farmasi Indonesia AFAMEDIS
Publisher : Akademi Farmasi Mitra Sehat Mandiri Sidoarjo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (152.797 KB)

Abstract

Buah limpasu (Baccaurea lanceolata) merupakan tumbuhan daerah Kalimantan Selatan. Tumbuhan tersebut sering dimanfaatkan secara tradisional untuk mengurangi kadar gula dalam darah dan antibakteri. Efektivitas tersebut diduga karena terdapat aktivitas antioksidan kuat pada senyawa golongan flavonoid. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui aktivitas antioksdian ekstrak etanol 96% buah limpasu. Ekstrak Buah limpasu dibuat dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 96%. Uji Aktivitas antioksidan dilakukan dengan menggunakan metode DPPH (1,1-diphenyl-2picrylhydrazyl). Ekstrak buah limpasu dengan menggunakan metode maserasi memiliki daya antioksidan yang mana tergolong antioksidan lemah dengan nilai IC50 404,41 ppm.
PROGRAM BINA DESA DALAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT UNTUK PEMANFAATAN TANAMAN OBAT KELUARGA DI DESA TATAH LAYAP KABUPATEN BANJAR Mochammad Maulidie Alfiannor Saputera; Anna Khumaira Sari; Dwi Rizki Febrianti; Rakhmadhan Niah; Eka Kumalasari
JURNAL PENGABDIAN AL-IKHLAS UNIVERSITAS ISLAM KALIMANTAN MUHAMMAD ARSYAD AL BANJARY Vol 6, No 1 (2020): AL-IKHLAS JURNAL PENGABDIAN
Publisher : Universitas Islam kalimantan MAB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (226.447 KB) | DOI: 10.31602/jpaiuniska.v6i1.3364

Abstract

Program bina desa di Desa tatah layap telah dilaksanakan sejak tahun 2018. Pertama kali program bina desa ini yaitu melakukan penanaman tanaman obat keluarga (TOGA). Program ini bertujuan untuk meningkatkan sikap peduli, dan kondisi keberadaan masyarakat terhadap perekonomian dalam meningkatkan taraf hidup dan pemenuhan hasil produk dari TOGA itu sendiri. Program kali ini yaitu memanfaatkan TOGA tersebut untuk diolah menjadi sebuah produk kesehatan yaitu pengolahan produk masker wajah dan lulur. Masyarakat yang dilibatkan kali ini yaitu para pemuda yang berasal dari Desa Tatah Layap. Jumlah peserta pada kegiatan ini sebanyak 31 orang. Metode yang digunakan dalam pengabdian masyarakat ini yaitu perpaduan antara pemberdayaan masyarakat dan pendampingan dengan melibatkan mahasiswa pada peserta program bina desa tahun 2019. Langkah awal dengan memanfaatkan TOGA yang telah ditanam kemudian diberikan pelatihan dalam pemanfaatan TOGA. Langkah berikutnya yaitu pembuatan masker wajah dan lulur. Hasil menunjukan bahwa para pemuda dapat membuat sejumlah masker wajah dan lulur.
POTENSI EKSTRAK DAUN TANAMAN KARAMUNTING (Melastoma malabathricum L.) DI DAERAH KALIMANTAN SEBAGAI ANTIBAKTERI Staphylococcus aureus Rakhmadhan Niah; Riki Nirwan Baharsyah
Jurnal Ilmiah Manuntung Vol 4 No 1 (2018): Jurnal Ilmiah Manuntung
Publisher : jurnal ilmiah manuntung sekolah tinggi ilmu kesehatan samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51352/jim.v4i1.138

Abstract

The year 2008 recorded the death toll reached 16,769 soul due to infection. Infection is one of the diseases caused by bacteria or parasites. Staphylococcus aureus is one of the bacteria causes infection of the skin that is often the case in Indonesia. Staphylococcus aureus bacterial infection can be treated naturally, one of the plants that can be utilized is plant karamunting. Plant leaf karamunting (Melastoma malabathricum l.) contain flavonoids and alkaloids that have activity as antibacterial. The purpose of this research is to know the power of drag karamunting folium of extract against the growth of Staphylococcus aureus. In vitro studies were conducted with diffusion agar method. The extraction of leaf maceration method done with karamunting solvent ethanol 96%. Concentration of karamunting folium of extract used are: 25%, 50%, 75%, and 100%. Microbiology research results indicate that karamunting folium of extract have drag against the growth of bacteria Staphylococcus aureus with extract concentration 50% yield of 5.34 mm; the concentration of extract 75% of 9.40 mm; the concentration of extract 100% of 12.43 mm.
Aktivitas Antioksidan Ekstrak Etanol Kulit Buah Naga Merah Daerah Pelaihari, Kalimantan Selatan Dengan Metode DPPH (2,2-difenil-1-pikrilhidrazil) Rakhmadhan Niah; Helda Helda
Journal of Pharmascience Vol. 3 No. 2 (2016): Jurnal Pharmascience
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v3i2.5736

Abstract

Stres oksidatif merupakan ketidakseimbangan antara radikal bebas dan antioksidan yang dapat menyebabkan kerusakan oksidatif mulai dari tingkat sel, jaringan, hingga ke organ tubuh. Stres oksidatif dapat diatasi dengan antioksidan alami, seperti kulit buah naga merah yang mengandung antosianin. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji persen aktivitas antioksidan dan IC50 dari ekstrak etanol kulit buah naga merah. Pengukuran aktivitas antioksidan dilakukan menggunakan metode DPPH (2,2-difenil-1-pikrilhidrazil). Analisis data yang dihasilkan berupa persen aktivitas antioksidan dan nilai IC50 dari ekstrak etanol kulit buah naga merah. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa ekstrak etanol kulit buah naga merah dengan konsentrasi 0,0625; 0,125; 0,25; 0,5; dan 1 gram/100 mL memberikan persentse aktivitas antioksidan dengan rata-rata masing-masing sebesar 6,468%; 9,738%; 12,286%; 13,141% dan 20,867%. Ekstrak etanol kulit buah naga merah memiliki aktivitas antioksidan dengan nilai IC50 3,14 gram/100 ml. Kata kunci : kulit buah naga, antioksidan, DPPH
Uji Aktivitas Antioksidan Ekstrak Etanol Kulit Buah Naga Merah Super (Hyclocereus costaricencis) Rakhmadhan Niah; Riki Nirwan Baharsyah
Journal of Pharmascience Vol. 5 No. 1 (2018): Jurnal Pharmascience
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v5i1.5781

Abstract

ABSTRAK Indonesia merupakan negara penghasil tanaman buah naga, terutama daerah tropis. Kalimantan Selatan meruakan salah satu daerah yang menghasilkan buah naga, terutama buah naga super yang berwarna merah. Buah naga merah super (Hyclocereus Costaricencis) banyak diperdagangkan dalam bentuk cemilan, minuman jus dan pewarna. Tiga puluh lima persen bagian buah naga tersebut adalah kulit buah yang merupakan produk sampingan yang belum dimanfaatkan secara optimal dan seringkali hanya dibuang menjadi sampah. Kulit buah naga diduga memiliki kadar flavonoid yang besar seperti daging buah yang dapat digunakan sebagai antioksidan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui % aktivitas antioksidan dan nilai IC50 yang terdapat pada ektrak kulit buah naga merah super. Penelitian ini menggunakan spektofotometri dengan reagen DPPH pada ektrak kental yang terbagi menjadi konsentrasi 1%, 0,5%, ,25%, 0,125%, dan 0,0625%. Pengukuran aktivitas antioksidan dinilai sampai diperoleh IC50 dengan memasukan nilai y (y=50) pada persamaan garis y = bx + a. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa nilai % aktivitas paling besar terdapat pada konsentrasi 1 % yaitu sebesar 36,73 % dan nilai % aktivitas paling rendah adalah pada konsentrasi 0,0625% yaitu sebesar 10,48%. Nilai IC50 yang didapat sebesar 1,583 % atau 15.830 ppm dengan katagori aktivitas antioksidan yang sangat lemah. Kata Kunci : Kulit Buah Naga Merah Super, Antioksidan, DPPH ABSTRACT Indonesia was the country plants producing fruit, especially the tropics. South Kalimantan is one of the areas that produce the fruit, especially the super Dragon fruit red. Super Dragon fruit Red (Hyclocereus Costaricencis) lots traded in the form of snacks, drink juice and coloring. Thirty-five percent of the parts of the Dragon fruit is fruit leather is a byproduct of untapped optimally and often simply dumped into the garbage. The peel of the fruit is suspected of having large levels of flavonoids such as fruit that can be used as an antioxidant. This research aims to know the percent of antioxidant activity and IC50 values contained on the super Red Dragon fruit extract peel leather. This research use reagents with the DPPH spektofotometri on ekstract which is divided into a thick concentration of 1%, 0.5%, .2,5 %, 0.125% and 0.0625%. Measurement of antioxidant activity assessed until retrieved with IC50 value is input y (y = 50) in the equation of the line y = b x + a. The results showed that the value of % activity concentration is present on most 1% i.e. of 36.73% and % the lowest activity was at a concentration of 0.0625% i.e. of 10.48%. IC50 values obtained amounted to 1.583% or 15,830 ppm with the requirement of the antioxidant activity is very weak. Keyword : Super dragon fruit red peel, Antioxidant, DPPH
Aktivitas Antibakteri Minyak Atsiri Kulit Jeruk Siam Banjar (Citrus reticulata) Terhadap Pertumbuhan Pseudomonas aeruginosa Dwi Rizki Febrianti; Yugo Susanto; Rakhmadhan Niah; Siti Latifah
Journal of Pharmascience Vol. 6 No. 1 (2019): Jurnal Pharmascience
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v6i1.6070

Abstract

ABSTRAK Jeruk siam yang berkembang di Kalimantan Selatan telah dikukuhkan menjadi varietas unggul nasional dengan nama jeruk siam Banjar. Kulit jeruk belum dimanfaatkan secara optimal hanya dibuang sebagai limbah. Kulit jeruk mengandung beberapa senyawa salah satunya mengandung senyawa aktif minyak atsiri. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya aktivitas antibakteri minyak atsiri kulit jeruk siam Banjar (Citrus reticulata) terhadap pertumbuhan Pseudomonas aeruginosa. metode penarikan minyak atsiri kulit jeruk siam Banjar menggunakan metode destilasi air. Uji aktivitas antibakteri dilakukan dengan menggunakan metode difusi cakram terhadap bakteri Pseudomonas aeruginosa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa  minyak atsiri kulit jeruk siam Banjar diperoleh sebanyak 10 mL (0,58%), berwarna kuning, aroma khas jeruk, bentuk cair, rasa getir dan tidak ada noda transparan. Hasil penelitian uji aktivitas menunjukkan minyak atsiri kulit jeruk siam Banjar dapat menghambat pertumbuhan bakteri Pseudomonas aeruginosa. Pada volume 50 µL, 75 µL, dan 100 µL minyak atsiri kontrol positif (ciprofloxacin) sedangkan kontrol negatif (aqua pro injection). diameter zona bening disekitar cakam  dengan rata-rata diameter zona hambat yang dihasilkan beturut-turut 3,55 mm, 4,54 mm, 5,14 mm, 22,38 mm, dan 0 mm. Kata kunci: Kulit jeruk siam Banjar (Citrus reticulata), Minyak atsiri,  Pseudomonas aeruginosa. ABSTRACT Jeruk siam that develop in South Kalimantan have been confirmed as national superior varieties by the name of jeruk siam banjars. Citrus skin has not been used optimally only as waste. Orange peel contains several compounds, one of which contains active compounds of essential oils. The purpose of this study was to determine the antibacterial activity of essential oils of jerk siam banjars skin (Citrus reticulata) to the growth of Pseudomonas aeruginosa. method of withdrawal of jeruk siam banjars essential oil using a water distillation method. Antibacterial activity test was carried out using the disc diffusion method against the bacterium Pseudomonas aeruginosa. The results showed that 10 mL (0.58%) of essential oil from the jeruk siam banjars, yellow, orange aroma, liquid form, bitter taste, and no transparent stains. The results of the activity test showed that the essential oil of the skin of the jeruk siam banjars could inhibit the growth of the bacterium Pseudomonas aeruginosa. At the volume of 50 µL, 75 µL, and 100 µL of essential oil control positive (ciprofloxacin) while the negative control (aqua pro injection). the diameter of the clear zone around the paper disk with the average diameter of the inhibition zone produced was 3.55 mm, 4.54 mm, 5.14 mm, 22.38 mm and 0 mm respectively.Keywords: jeruk siam banjar (Citrus reticulata), essential oil, Pseudomonas aeruginosa.
Uji Aktivitas Ekstrak Etanolik Daun Kemangi (Ocimum sanctum L.) terhadap Staphylococcus aureus secara In Vitr Novia Ariani; Dwi Rizki Febrianti; Rakhmadhan Niah
Journal of Pharmascience Vol. 7 No. 1 (2020): Jurnal Pharmascience
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v7i1.8080

Abstract

ABSTRAK Tanaman kemangi banyak dimanfaatkan oleh masyarakat untuk pengobatan infeksi khususnya bagian daun. Hal ini dikarenakan daun kemangi memiliki senyawa aktif seperti minyak atsiri, alkaloid, saponin, flavonoid, triterpenoid, steroid, tannin dan fenol yang dapat menghambat pertumbuhan bakteri. Tujuan penelitian ini dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya aktivitas, mengetahui diameter zona hambat dan mengetahui klasifikasi kekuatan aktivitas daya hambat antibakteri ekstrak etanol daun kemangi. Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimental dengan metode difusi lubang sumuran dengan teknik pengambilan sampel adalah purposive sampling.  Konsentrasi ekstrak yang digunakan yaitu konsentrasi 100%, 80%, 60%, 40%, 20%, sedangkan untuk kontrol positif digunakan klindamisin 30µg, dan kontrol negatif yang digunakan etanol 96%. Hasil diameter zona hambat yang terbentuk diukur dengan jangka sorong. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun kemangi memiliki aktivitas dalam menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dengan diameter rata-rata yang didapat dari setiap perlakuan yaitu 100% (10,08 mm), 80% (8,10 mm), 60% (6,49 mm), 40% (4,29 mm), 20% (2,26 mm), dan sebagai klasifikasi kekuatan aktivitas daya hambat antibakteri yaitu pada konsentrasi 100% kuat, 80%-60% sedang dan 40%-20% lemah. Kata Kunci : Daun kemangi, Ekstrak, Difusi, Staphylooccus aureus  ABSTRACT Part of the basil plant (Ocimum sanctum L.) that widely used by people for treatment of infections is basil leaves. This is because basil leaves have active compounds such as essential oils, alkaloids, saponins, flavonoids, triterpenoids, steroids, tannins and phenols which can inhibit bacterial growth. This research aimed to find out the presence or absence of activity, to determine the diameter of the inhibitory zone and the classification of antibacterial mention against what the name of bacterial is activity of ethanol extract of basil leaves. The type of this research is experimental research with a well diffusion method with sampling technique is purposive sampling. The concentration of extracts used were concentrations of 100%, 80%, 60%, 40%, 20%, while as positive control is  clindamycin 30µg, and the negative control used 96% ethanol. The resulting diameter of the inhibition zone is measured by the calipers.  The results showed that the ethanol extract of basil leaves had an activity in inhibiting the growth of Staphylococcus aureus bacteria with an average diameter obtained from each treatment that was 100% (10,08mm); 80% (8,10mm); 60% (6,49mm); 40% (4,29mm); 20% (2,26mm), and as the antibacterial activity classification, that were strong in 100% of extract concentration, medium in 60-80% of extract concentration, and weak in 20-40% of extract concentration. Keywords : Basil leaf, Extract, Diffusion, Staphylooccus aureus