Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Evaluasi Fasilitas Sisi Udara Bandara Sisingamangaraja XII terhadap Pesawat Rencana A350 – 900 Ali Husin; Akiyas Afifullah; Hendi Bowoputro; Achmad Wicaksono
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol. 1 No. 2 (2025): Student Journal
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bandara Sisingamangaraja XII merupakan fasilitas strategis untuk memaksimalkan potensi kawasan wisata Danau Toba. Untuk memudahkan jangkauan wisatawan internasional ke kawasan wisata Danau Toba, maka diperlukan aksesibilitas kawasan internasional yang lebih mumpuni, salah satu upaya yang bisa dilakukan adalah menggunakan pesawat yang lebih besar, dalam hal ini direncanakan A350-900. Pada penelitian ini, dilakukan perhitungan kebutuhan dimensi geometri serta tebal perkerasan terhadap pesawat rencana A350-900, kemudian hasil perencanaan dibandingkan dengan kondisi eksisting. Perencanaan geometri menggunakan metode ICAO dan perencanaan perkerasan menggunakan metode FAA .Hasil perencanaan untuk pesawat rencana A350-900 adalah sebagai berikut. Panjang eksisting runway 2650 meter perlu penambahan 3050 meter menjadi 5700 meter, panjang taxiway eksisting 123 meter perlu penambahan panjang 114 meter menjadi 237 meter, serta lebar apron eksisting 250 meter perlu pelebaran 48 meter menjadi 298 meter. Nilai ACR > PCR menunjukkan bahwa perkerasan tidak cukup kuat menerima beban pesawat serta CDF > 1 yang berarti umur perkerasan sudah habis. Perbaikan metode overlay dibutuhkan tambahan overlay 566 mm. Dengan metode rekonstruksi, runway dan taxiway memiliki lapisan permukaan 120 mm, lean concrete 150 mm, cement treated base 150 mm, serta Uncrushed Aggregate  844 mm. Pada apron direncanakan perkerasan kaku, lapisan permukaan 563 mm, lean concrete 150 mm, cement treated base 300 mm, serta Uncrushed Aggregate 300 mm. Karena dimensi geometri dan tebal perkerasan yang terlalu besar sehingga sulit diimplementasikan, maka direncanakan alternatif pesawat rencana A320 family. Dengan pesawat rencana A320 family diperoleh penambahan panjang runway 850 meter dari panjang eksisting 2650 meter, sehingga panjang runway menjadi 3500 meter. Dibutuhkan overlay  195 mm dengan perkerasan lentur di runway dan taxiway serta overlay 434 mm di apron dengan perkerasan kaku.. Dengan  demikian, Bandara Sisingamangaraja XII lebih ideal untuk melayani pesawat A320. Kata kunci: Bandara Sisingamangaraja XII, evaluasi fasilitas sisi udara bandara, pesawat A350-900, overlay perkerasan, pesawat A320
Perencanaan Geometrik dan Perkerasan Lentur Jalan Alternatif JLS Kretek – Girijati Yogyakarta Afifah Lathifunnisa; Ompusunggu, Samantha Rosa; Hendi Bowoputro; Achmad Wicaksono
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol. 1 No. 2 (2025): Student Journal
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu pembangunan Jalur Lintas Selatan (JLS) yang tengah dilaksanakan oleh pemerintah adalah JLS Kretek–Girijati. Pada beberapa segmen jalan yang telah direncanakan terdapat kemiringan yang melebihi standar geometrik sehingga diperlukan peninjauan dan perencanaan ulang sekaligus perencanaan tebal perkerasan jalan untuk menjamin kemampuan struktur dalam menahan beban lalu lintas. Penelitian ini bertujuan  untuk merencanakan alinyemen horizontal dan vertikal yang mengacu pada Pedoman Desain Geometrik Jalan 2021 (PDGJ 2021) dan Peraturan Menteri PUPR No. 5 Tahun 2023, serta merencanakan tebal perkerasan lentur menggunakan Manual Desain Perkerasan 2024 (MDP 2024). Data yang digunakan meliputi data lalu lintas, peta topografi, dan data CBR tanah dasar yang diperoleh dari B2PJN Jawa Tengah–DI Yogyakarta. Proses perencanaan didukung oleh penggunaan aplikasi AutoCAD Civil 3D. Hasil perencanaan menunjukkan bahwa ruas STA 3+000 – STA 5+779,940 dengan kecepatan rencana 40 km/jam, tipe jalan (2/2 TT), lebar lajur 3,50 m dan lebar bahu 2,00 m memiliki alinyemen horizontal yang terdiri atas 2 tikungan full circle dan 14 tikungan spiral–circle–spiral dengan Rmin 50 m dan superelevasi maksimum 8%, alinyemen vertikal terdiri atas 11 lengkung cembung dan 10 lengkung cekung dengan kemiringan maksimum 10%. Pada tebal perkerasan lentur didapat tebal jalur utama dengan lapis AC WC 40 mm, AC BC 65 mm dan 80 mm, LPA Kelas A 200 mm, serta LPA Kelas B 150 mm, sedangkan perkerasan bahu jalan terdiri atas AC WC 60 mm, LPA Kelas A 200 mm, dan LPA Kelas B 150 mm.
Penilaian Kerusakan Jalan Menggunakan UAV (Unmanned Aerial Vehicle) dengan Membandingkan Metode IRI (International Rougness Index) dan PCI (Pavement Condition Index) Fazri Fadzila Alwi; Hendi Bowoputro; Roland Martin Simatupang
Jurnal Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil Vol. 1 No. 1 (2026): Student Journal
Publisher : Jurusan Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Jalan raya merupakan infrastruktur vital yang memerlukan pemantauan berkala demi menjamin keselamatan pengguna, yang umumnya dilakukan menggunakan metode konvensional seperti International Roughness Index (IRI) dan Pavement Condition Index (PCI); namun, tingginya intensitas kerusakan dan padatnya lalu lintas menuntut metode survei yang lebih efisien, cepat, dan aman. Dilakukan pada ruas Jalan Surabaya-Madiun (STA 8+800 – 10+800), penelitian ini mengumpulkan data primer melalui survei lapangan menggunakan pesawat nirawak, alat IRI Meter 2, serta survei visual manual, di mana data UAV diolah melalui tahapan fotogrametri digital hingga Orthomosaic untuk divalidasi dengan data manual. Hasil analisis menunjukkan tingkat akurasi metode UAV terhadap metode manual PCI sebesar 88% dengan kecenderungan estimasi luasan kerusakan lebih besar 12% akibat sensitivitas sensor kamera, yang menyimpulkan bahwa meskipun belum sepenuhnya dapat menggantikan metode manual, teknologi pesawat nirawak layak digunakan sebagai metode survei pendahuluan yang efektif dan minim risiko.