Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Resiko Usahatani Kopi di Kabupaten Lampung Barat Fikri Syahputra
JIA (Jurnal Ilmiah Agribisnis) : Jurnal Agribisnis dan Ilmu Sosial Ekonomi Pertanian Vol. 9 No. 1 (2024)
Publisher : Department of Agribusiness, Halu Oleo University Jointly with Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia - Indonesian Society of Agricultural Economics (PERHEPI/ISAE)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37149/jia.v9i1.1001

Abstract

The plantation sub-sector plays an essential role in maintaining the stability of food security and as a provider of raw materials for national industry. Coffee plants are a commodity that can grow optimally if cultivated in tropical areas. Lampung Province is one of the largest coffee producers in Indonesia. Production in 2022 will reach 118,043 tons. Most coffee farmers in the region form partnerships with companies by forming farmer groups. This research aims to (1) determine the difference in income between company-partner coffee farming and company-non-partner coffee farming and (2) determine the difference in the risk level of company-partner coffee farming and company-non-partner coffee farming. This research method is a survey method. This method is implemented by direct observation of a research object. This research was carried out in 2022. The location was selected based on West Lampung Regency being the largest coffee-producing area in Lampung. The total respondents were 67 coffee farmers from the Sumberjaya sub-district area. Sumberjaya subdistrict was chosen with consideration because it has coffee farmers who are partners and not partners with companies. The respondents were 49 coffee farmers who partnered with a company (PT. Indocafco) and 18 respondents who did not partner with a company. The research respondents were used as a whole (Arikunto, 2006) based on a population <100 (Nazir, 2014). Research data analysis consists of the coffee farming business income of company partners and non-partner farmers and risk analysis of the coffee farming business of company partners and non-partner farmers. The research results found that the total income of the company's partner coffee farms was greater than that of the company's non-partner coffee farms. Partner and non-partner farming is worth pursuing based on the R/C ratio value indicator >1. The coffee farming business of company partners and non-partners has potential risk with the coefficient of variation (CV) indicator value> 0.5. The coffee farming of company partners and non-partners can be profitable with the lower limit value indicator (L)>0.
Pengolahan Limbah Sabut Kelapa Menjadi Pupuk Organik Cair di Desa Sidomekar Fikri Syahputra; Bigi Undadraja; Muhammad Adie Syaputra
BERNAS: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 4 No. 4 (2023)
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31949/jb.v4i4.6706

Abstract

Masyarakat Desa Sidomekar terhadap tanaman kelapa berfokus pada kegiatan pengupasan buah kelapa. Dari jumlah buah kelapa yang telah dikupas menghasilkan limbah sabut kelapa yang cukup banyak. Tumpukan limbah sabut kelapa jika tidak ditangani akan menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan masyarakat. Tujuan dari kegiatan pengabdian ini adalah membantu masyarakat untuk mengolah limbah sabut kelapa menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi dan manfaat. Metode yang digunakan pada kegiatan ini dalam bentuk pelatihan mengolah limbah sabut kelapa menjadi pupuk organik cair dengan proses fermentasi anaerob. Setelah dilakukan pelatihan adanya produk hasil pengolahan limbah sabut kelapa berupa pupuk organik cair yang siap diaplikasikan untuk tanaman. Adanya kegiatan ini diharapkan dapat memberikan motivasi, kreativitas, pengetahuan dan keterampilan warga desa dalam menyelesaikan permasalah limbah sabut kelapa. Selain itu adanya produk pupuk organik cair dapat membukan peluang usaha bagi warga desa dan berdampak pada pendapatan serta tingkat kesejahteraan.
Pemberdayaan Masyarakat Melalui Pelatihan Pengemasan dan Digital Marketing Produk Pupuk Organik di Kabupaten Lampung Selatan Fikri Syahputra
BERNAS: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 5 No. 1 (2024)
Publisher : Universitas Majalengka

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31949/jb.v5i1.7682

Abstract

Masyarakat di lokasi pengabdian berkeinginan agar produk pupuk organik yang dihasilkan dapat dibeli oleh masyarakat umum, baik di tingkat daerah maupun nasional. Kendala yang dihadapi peternak adalah belum adanya pengetahuan akan pemasaran produknya. Selain itu produk yang dihasilkan juga belum dikemas dengan menarik. Adapun solusi yang ditawarkan adalah dalam bentuk pendampingan penyuluhan dan pelatihan. Kegiatan pendampingan tersebut berbentuk penyuluhan/pelatihan (1) pengemasan produk pupuk organik dengan kemasan menarik dan modern; (2) pemasaran produk pupuk organik berbasis On-Line dengan konsep modern. Metode yang diterapkan pada pengabdian ini dengan cara penyuluhan dan pelatihan. Dari hasil pengabdian di lapangan diperoleh terdapat peningkatan pengetahuan sebesar 80%. Kemudian pada pelatihan pengemasan produk pupuk organik dan pemasaran pupuk ogranik terjadi peningkatan pemahaman peserta sebesar 80%. Adanya penyuluhan/pelatihan yang telah diberikan dapat memberikan motivasi kepada peserta pengabdian. Kemudian dengan adanya kegiatan penyuluhan/pelatihan diharapkan dapat membantu peserta pengabdian dalam meningkatkan jumlah penjualan produk pupuk organik sehingga berdampak terhadap pendapatan keluarga peserta pengabdian masyarakat.