Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

PENERAPAN TERAPI MUSIK TERHADAP NYERI NEUROPATI PADA PENYANDANG DIABETES MELLITUS Jeanny Rantung
NUTRIX Vol 3 No 1 (2019): Volume 3, Issue 1, 2019
Publisher : Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Klabat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (298.12 KB) | DOI: 10.37771/nj.Vol3.Iss1.392

Abstract

Abstrak Nyeri neuropati adalah salah satu komplikasi kronik yang dapat dialami penyandang Diabetes Mellitus (DM) yang dapat menyebabkan gangguan fisik, sosial dan spiritual. Terapi musik adalah alah satu upaya yang dapat diberikan perawat untuk mengontrol nyeri selain terapi farmakologis yang diberikan oleh tim medis. Tujuan: menerapkan intervensi keperawatan nonfarmakologi dengan menggunakan terapi musik dalam mengurangi nyeri neuropati pada pasien DM. Metode: penelitian ini adalah penerapan Evidance Based Nursing (EBN) dengan melibatkan 10 orang responden yang dibagi menjadi kelompok intervensi terapi musik dan kelompok control, yang diperoleh dengan teknik accidental sampling. Intensitas nyeri diukur dengan menggunakan Visual Analogue Scale (VAS) yang dilakukan sebelum terapi musik diberikan, pada menit ke-30 dan menit ke-60. Hasil: responden yang mendapat terapi musik mengalami penurunan intensitas nyeri, dari nyeri sedang menjadi nyeri ringan, dan pada kelompok kontrol mengalami penurunan intensitas nyeri tapi masih dalam kategori nyeri sedang. Diskusi: Terapi musik merupakan intervensi keperawatan yang dapat menjadi pilihan terapi atau pengobatan terhadap nyeri neuropati pada penyandang diabetes sehingga menjadi pelengkap terhadap upaya medis yang sudah dilakukan. Kata kunci: Nyeri, Neuropati, Terapi Musik Abstract Neuropathic pain is one of the chronic complications of diabetes mellitus (DM) that causes physical, social and spiritual disorders. Music therapy is one of the efforts that nurses can provide to control pain in addition to the pharmacological therapy provided by the medical team. Objective: to apply nonfarmacological nursing intervention by using music therapy to reduce neuropathic pain in type 2 DM patients. Method: the study was an aplication of Evidance Based Nursing (EBN) with 10 respondents involved who were divided into music therapy intervention group and control group, which were obtained by accidental sampling technigue. Pain intensity was measured using the Visual Analogue Scale (VAS) which was performed before music therapy was given, in the 30th minute and 60th minute. Results: respondents who received music therapy experienced a decrease in pain intensity, from moderate to mild pain, and the control group experienced a decrease in pain intensity but still in the moderate pain category. Discussion: Music therapy is a nursing intervention that can be an option of therapy or treatment for neuropathic pain among person with diabetes, so that it becomes a complement to the medical efforts that have been made. Key words: Pain, Neuropathy, Music therapy
Pengetahuan tentang Covid-19 Berhubungan dengan Kepatuhan Protokol Kesehatan Yance Lumintang; Jeanny Rantung
Jurnal Penelitian Perawat Profesional Vol 3 No 4 (2021): November 2021, Jurnal Penelitian Perawat Profesional
Publisher : Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jppp.v3i4.583

Abstract

Saat ini protokol kesehatan merupakan peraturan yang diterapkan oleh pemerintah untuk memutus mata rantai penyebaran virus Covid-19 yang semakin meluas. Protokol kesehatan dapat dilakukan dengan benar dan tepat apabila masyarakat memahami bagaimana penyebaran virus Covid-19 terjadi. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengetahuan tentang Covid-19, kepatuhan dalam menjalankan protokol kesehatan dan hubungan antara pengetahuan dan kepatuhan dalam menjalankan protokol kesehatan. Metode penelitian adalah deskriptif kuantitatif dengan desain cross sectional. Menggunakan tehnik purposive sampling dalam mengumpulkan sampel, penelitian ini melibatkan 125 orang pengunjung klinik Universitas Advent Indonesia (UNAI). Alat ukur yang digunakan adalah kuesioner pengetahuan dan kepatuhan dalam menjalankan protokol kesehatan, kemudian data diolah dan dianalisis dengan menggunakan Spearman Rho. Hasil pengolahan data menunjukkan pengunjung klinik UNAI memiliki tingkat pengetahuan tentang Covid-19 yang tinggi (89.6%) dan kepatuhan dalam menjalankan protokol kesehatan juga tinggi (69.6%). Ditemukan hubungan yang bermakna antara pengetahuan dan kepatuhan menjalankan protokol kesehatan dengan nilai korelasi sebesar 0.357 lebih besar dari nilai alpha 0.05, dengan arah korelasi positif dan kekuatan hubungan yang lemah.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kejadian Demam Tifoid Tenny Norita Manalu; Jeanny Rantung
Jurnal Penelitian Perawat Profesional Vol 3 No 4 (2021): November 2021, Jurnal Penelitian Perawat Profesional
Publisher : Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jppp.v3i4.710

Abstract

Demam tifoid merupakan penyakit infeksi akut yang disebabkan oleh bakter Salmonella typhi. Penelitian ini dilakukan untuk mencari tahu faktor yang dapat mempengaruhi kejadian demam tifoid di klinik Pratama Angelina. Metode penelitian bersifat deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional dimana pengambilan sampel memakai teknik purposive sampling. Responden penelitian adalah pasien thypoid dan pasien yang tidak thypoid yang berjumlah 43 responden. Pengumpulan data menggunakan kuesioner hygiene perorangan dan pengetahuan tentang demam tifoid yang dianalisis menggunakan uji pearson correlation. Hasil penelitian ialah faktor-faktor yang mempengaruhi kejadian demam tifoid di Klinik Pratama Angelina adalah responden memiliki riwayat demam tifoid dan pengetahuan tentang penyakit tifoid. Sedangkan faktor-faktor yang tidak mempunyai hubungan dengan kejadian demam tifoid adalah umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan dan personal hygiene.
A Phenomenological Study of Nursing Students' Experience in Clinical Practice When The Post Covid-19 Era Jeanny Rantung; Evelyn Hemme Tambunan
Jurnal Gema Keperawatan Vol 16, No 1 (2023): Jurnal Gema Keperawatan
Publisher : Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33992/jgk.v16i1.2542

Abstract

Clinical practice is a pivotal requirement in nursing education to shape professional nurses. The Covid-19 pandemic has interfered with the effectiveness of clinical practice processes. Yet it must be a starting point to create a better clinical learning environment. The aim of this study is to explore the experiences of nursing students in engaging clinical practice in the era of post Covid-19 pandemic. A descriptive phenomenological approach was used to collect data from individual in-depth interviews from 18 March to 10 April 2023 using purposive sampling technique. Ten nursing students were interviewed in depth and audio-recordings were transcribed verbatim. Colaizzi's seven-step descriptive phenomenological methodology served as the basis for data analysis. Lincoln and Guba criteria were applied to assure the trustworthiness of this study. Four main themes were generated: initial feeling of clinical practice in post Covid-19 era, challenges in theory-practice gap, clinical practice environment, grateful for the opportunity to conduct clinical practice offline. The findings of this study are useful for nursing education together with the clinical field to facilitate a supportive clinical learning environment to enhance clinical engagement of nursing students. There is a need for scrutinizing factors that hinder or enhance the clinical learning process of nursing students. Studies on what makes nursing education and clinical fields involve deeply in students' clinical practice and learning while others do not are also pertinent.
Hubungan Kualitas Hidup Dan Depresi Pada Pasien dengan Perawatan Hemodialisis di Rumah Sakit Swasta Bandung Riana Rebecca lasut; Jeanny Rantung
Jurnal Syntax Admiration Vol. 4 No. 11 (2023): Jurnal Syntax Admiration
Publisher : Syntax Corporation Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46799/jsa.v4i11.773

Abstract

Hemodialysis is given to patients with acute kidney disease and requiring dialysis therapy, where depression is a psychological reaction that is often experienced and is closely related to the patient's quality of life. This study will observe the relationship between quality of life and depression in patients with hemodialysis treatment. An observational analytic design with a cross-sectional approach was used in this study, which was carried out in April 2023 at a hemodialysis unit belonging to a private hospital in Bandung. Respondents consisted of 50 patients undergoing hemodialysis treatment who met the inclusion criteria. A questionnaire with the Beck Depression Inventory II (BDI II) scale was used to measure depression and WHOQOL-BREF was used to measure quality of life. The results showed that of the 50 patients undergoing hemodialysis therapy, 36 (72%) had normal conditions, nine (18) had mild mood disorders, two (4%) had clinical depression, two (4%) had moderate depression, one (2 %) had severe depression, three (6%) had fair quality of life, nine (18%) showed good quality of life, and 38 (76%) had very good quality of life. Statistical data shows a significant correlation (0.041 < 0.05) between depression and quality of life index. Depression is significantly related to the quality of life of patients undergoing hemodialysis therapy. The relationship between depression and quality of life has a weak correlation strength with a negative correlation direction. It is necessary to provide biopsychosocial and spiritual nursing care regarding the risk of depression and improve the quality of life of patients and dig deeper into depression and the quality of life of patients undergoing hemodialysis by using qualitative research methods and increasing the number of larger samples and research populations.
Kemampuan Berperilaku Asertif Mahasiswa Ilmu Keperawatan Universitas Advent Indonesia Sekar Ayu Diah Pitaloka; Jeanny Rantung
Jurnal Skolastik Keperawatan Vol 9 No 2 (2023): Juli-Desember
Publisher : Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Advent Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35974/jsk.v9i2.3255

Abstract

Latar Belakang: Perilaku asertif adalah kemampuan untuk mengkomunikasikan apa yang diinginkan, dirasakan, dan dipikirkan kepada orang lain secara jujur dan terbuka dengan tetap menghormati hak pribadi dan orang lain. Sangat penting bagi perawat untuk memiliki perilaku asertif, agar mudah mencari solusi penyelesaian secara efektif. Kenyataan yang ditemukan dalam praktik keperawatan di lapangan, banyak hal yang dapat memicu perilaku asertif sulit untuk diimplementasikan. Metode: Penelitian ini berjenis kuantitatif dengan analisis deskriptif dengan metode survei. Populasinya mahasiswa sarjana ilmu keperawatan Universitas Advent Indonesia angkatan 2020-2021 dengan jumlah 82 mahasiswa, besar sampel pada penelitian ini adalah sebanyak 72 responden. Angket yang disusun peneliti mengacu pada skala Likert dengan empat alternatif pilihan (Skala empat) dengan uji validitas adalah 0,25 dan reliabilitas dan nilai Alpha Cronbach’s 1,00. Hasil: Usia remaja terbanyak yaitu usia 19  tahun sebanyak 26 orang, perempuan 54 responden dan laki-laki 18 responden. Distribusi responden tingkat 2 berjumlah 42 orang, dan tingkat 3 berjumlah 30 orang. Tingkat kemampuan berperilaku asertif sedang didominasi oleh 23 responden. Diskusi: Didapati kesimpulan perilaku asertif Mahasiswa/i Keperawatan Universitas Advent Indonesia adalah asertif sedang.
Hubungan Bermain Game Online Dengan Kualitas Tidur Pada Mahasiswa Keperawatan Universitas Advent Indonesia Matthew William Amos Sitanggang; Jeanny Rantung
Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO) Vol. 6 No. 02 (2024): Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO)
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/jsi.v6i02.126

Abstract

Game yang berbasis visual serta elektronik dimana memanfaatkan internet sebagai medianya disebut sebagai game online. Terdapat banyak dampak negatif dari bermain game online, salah satunya ialah kualitas tidur yang bermasalah. Ketika seseorang mengalami peningkatan level dalam game online akan memicu rasa penasaran dalam dirinya untuk bermain secara terus menerus dan mengabaikan waktu. Riset riset ini bertujuan guna mengetahui hubungan bermain game online dengan kualitas tidur pada mahasiswa keperawatan Universitas Advent Indonesia dengan menggunakan metode penelitian korelatif, dimana sampel sebanyak 55 mahasiswa. Instrumen yang digunakan ialah kuesioner melalui google form. Didapati hubungan antara kebiasaan bermain game online dengan kualitas tidur pada mahasiswa keperawatan Universitas Advent Indonesia, dimana nilai p = 0,000. Diperlukannya pemberian pemahaman mengenai pentingnya mengatur waktu dengan bijak apabila ingin bermain game online supaya kualitas tidur yang baik tetap bisa terjaga.
Hubungan Self Care dan Kualitas Hidup Penderita Diabetes Melitus Tipe 2 Pada Pasien Rawat Jalan Rumah Sakit Advent Bandung Sianturi, Ably Eunike Grace; Rantung, Jeanny
Jurnal Ners Vol. 9 No. 2 (2025): APRIL 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v9i2.44494

Abstract

Diabetes mellitus (DM) adalah kelompok penyakit metabolik yang ditandai oleh tingginya kadar glukosa dalam darah, yang disebabkan oleh gangguan dalam sekresi insulin, atau kombinasi dari keduanya. DM merupakan masalah metabolisme yang terjadi akibat kekurangan hormon insulin, yang mengakibatkan peningkatan kadar glukosa dalam darah (hiperglikemia). Penurunan sekresi insulin oleh sel-sel beta pankreas menjadi penyebab utama terjadinya gangguan dalam pengeluaran insulin, yang dapat mengakibatkan resistensi insulin atau kombinasi dari kedua kondisi tersebut. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif korelasi, dengan populasi yang terdiri dari pasien rawat jalan penderita diabetes mellitus tipe 2 di Rumah Sakit Advent Bandung. Sampel diambil melalui metode purposive sampling, dan variabel yang diteliti mencakup self-care serta kualitas hidup. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner SDSCA dan DQOL, sementara analisis data dilakukan dengan pendekatan univariat dan bivariat.Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata usia responden adalah 64,4 tahun, dengan 63,6% tidak mengalami komplikasi. Rata-rata penghasilan responden mencapai Rp. 3.800.000, dan lama menderita diabetes rata-rata 5,5 tahun. Rata-rata self-care responden adalah 4,5 hari per minggu, sedangkan kualitas hidup mencapai 4,3, menunjukkan tingkat kepuasan yang baik. Namun, analisis bivariat dengan uji Spearman Rho menunjukkan tidak ada hubungan signifikan antara self-care dan kualitas hidup (Sig = 0,293). Penelitian ini menyimpulkan bahwa meskipun self-care penting, faktor lain seperti kondisi psikologis dan komplikasi kesehatan juga perlu diperhatikan dalam meningkatkan kualitas hidup penderita diabetes. Kata Kunci: Diabetes Melitus tipe 2, kualitas hidup, perawatan diri Abstract Diabetes mellitus (DM) is a group of metabolic diseases characterized by high blood glucose levels, caused by disorders in insulin secretion, or a combination of both. DM is a metabolic problem that occurs due to a deficiency of the hormone insulin, which results in increased blood glucose levels (hyperglycemia). Decreased insulin secretion by pancreatic beta cells is the main cause of disorders in insulin secretion, which can result in insulin resistance or a combination of both conditions. This study used a descriptive correlation design, with a population consisting of outpatients with type 2 diabetes mellitus at the Adventist Hospital in Bandung. Samples were taken using a purposive sampling method, and the variables studied included self-care and quality of life. Data collection was carried out using the SDSCA and DQOL questionnaires, while data analysis was carried out using univariate and bivariate approaches. The results showed that the average age of respondents was 64.4 years, with 63.6% having no complications. The average income of respondents reached IDR 3,800,000, and the average duration of diabetes was 5.5 years. The average self-care of respondents was 4.5 days per week, while the quality of life reached 4.3, indicating a good level of satisfaction. However, bivariate analysis with the Spearman Rho test showed no significant relationship between self-care and quality of life (Sig = 0.293). This study concluded that although self-care is important, other factors such as psychological conditions and health complications also need to be considered in improving the quality of life of people with diabetes. Keywords: content, formatting, article.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Risiko Terjadinya Hipertensi pada Mahasiswa Fakultas Ilmu Keperawatan di Universitas Advent Indonesia Anggita Trianaputri, Ruthkania; Rantung, Jeanny
Jurnal Impresi Indonesia Vol. 4 No. 4 (2025): Indonesian Impression Journal (JII)
Publisher : Riviera Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58344/jii.v4i4.6435

Abstract

Hipertensi, dikenal sebagai “The Silent Killer,” merupakan salah satu Penyakit Tidak Menular (PTM) yang memberikan kontribusi besar terhadap angka kematian global. Di Indonesia, prevalensi hipertensi pada remaja menunjukkan tren peningkatan, termasuk di kalangan mahasiswa keperawatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang mempengaruhi risiko terjadinya hipertensi pada mahasiswa Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Advent Indonesia, menentukan faktor dominan, serta faktor yang tidak dominan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan 73 responden yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner online dan dianalisis secara deskriptif menggunakan SPSS 27.0. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor dominan yang mempengaruhi risiko hipertensi adalah tingginya konsumsi junk food (93,2%) dan rendahnya aktivitas fisik (52,1%). Faktor non-dominan meliputi riwayat penyakit tidak menular dalam keluarga (12,3%) dan status obesitas berdasarkan Indeks Massa Tubuh (31,5%). Selain itu, 27,4% responden mengalami stres, yang meskipun bukan faktor utama, tetap berkontribusi terhadap risiko hipertensi bila dikombinasikan dengan faktor gaya hidup lainnya. Penelitian ini menyimpulkan bahwa intervensi gaya hidup sehat, seperti peningkatan aktivitas fisik dan edukasi tentang pola makan seimbang, sangat penting untuk diterapkan pada usia muda. Implikasi penelitian ini mendorong institusi pendidikan untuk mengembangkan program promosi kesehatan berkelanjutan guna mencegah hipertensi sejak dini di kalangan mahasiswa.
HUBUNGAN FATIGUE DENGAN KUALITAS HIDUP PASIEN GAGAL GINJAL KRONIK YANG MENJALANI TERAPI HEMODIALISA DI RUMAH SAKIT SWASTA BANDAR LAMPUNG Wahyudi, Fransisco Febrian Nafes; Rantung, Jeanny
Klabat Journal of Nursing Vol. 6 No. 1 (2024): Nursing Overarches All Clinical Setting
Publisher : Fakultas Keperawatan, Universitas Klabat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37771/kjn.v6i1.1067

Abstract

Proses hemodialisa harus dilakukan oleh pasien dengan teratur sejumlah 1 hingga 3 kali dalam seminggu dan menghabiskan waktu sekitar 4 sampai dengan 5 jam dalam setiap pertemuan. Efek negatif yang mencolok pada pasien hemodialisa ialah fatigue. Fatigue yang tidak ditangani pada pasien gagal ginjal kronik (GGK) yang menjalani hemodialisa juga dapat mengakibatkan gejala-gejala seperti hipotensi, badan yang terasa lemas, kram pada otot, mual muntah, dan pusing, selain itu hal ini juga akan berdampak pada proses berpikir, konsentrasi, gangguan hubungan sosial dan kualitas hidup dari pasien. Hal ini dapat mempengaruhi kualitas hidup pasien dengan mengurangi energi dan kemampuan untuk menjalani aktivitas sehari-hari dengan optimal yang memberi dampak kualitas hidup pasien hemodialisa menjadi menurun. Penelitian ini bertujuan untuk memahami korelasi tingkat fatigue dengan kualitas hidup pasien gagal ginjal kronik yang menjalani terapi hemodialisa. Metode studi ini menerapkan pendekatan kuantitatif korelasi. Teknik pengambilan sampel menerapkan purposive sampling sejumlah 40 responden. Alat ukur yang diterapkan ialah kuesioner Fatigue Assessment Scale (FAS) dan kuesioner WHOQOL-BREF. Data dianalisa menggunakan pearson correlation. Perolehan studi memperlihatkan adanya hubungan signifikan dari tingkat fatigue dengan kualitas hidup pasien GGK yang menjalani Hemodialisa dengan nilai p 0.048 dimana nilai p < dengan nilai α. Keeratan hubungan mempunyai nilai 0.314 yang berarti memiliki keeratan hubungan rendah dengan arah hubungan negatif, yang mempunyai arti saat tingkat fatigue tinggi menyebabkan kualitas hidup buruk. Saran untuk peneliti selanjutnya bandingkan tingkat fatigue dengan kualitas hidup pasien GGK yang menjalani terapi hemodialisa 1x /minggu, 2x /minggu, 3x /minggu, serta faktor yang menyebabkan fatigue pada hemodialisa. The hemodialysis process must be performed by patients regularly 1 to 3 times a week and takes about 4 to 5 hours per appointment. A notable negative effect on hemodialysis patients is fatigue. Untreated fatigue in chronic renal failure (CKD) patients undergoing hemodialysis can also lead to symptoms such as hypotension, weakness, muscle cramps, nausea and vomiting, and dizziness. In addition, this will also have an impact on the patient's thought process, concentration, impaired social relationships and quality of life. This can affect the patient's quality of life by reducing energy and the ability to carry out daily activities optimally, which results in a decreased quality of life for hemodialysis patients. This study aims to understand the correlation of fatigue levels with the quality of life of chronic renal failure patients undergoing hemodialysis therapy. This study method applies a quantitative correlation approach. The sampling technique applied purposive sampling of 40 respondents. The measuring instruments applied were the Fatigue Assessment Scale (FAS) questionnaire and the WHOQOL-BREF questionnaire. Data were analyzed using Pearson correlation. The results of the study showed a significant relationship between the level of fatigue and the quality of life of GGK patients undergoing hemodialysis with a p value of 0.048 where the p value was < the α value. The closeness of the relationship has a value of 0.314 which means that it has a low relationship closeness with a negative relationship direction, which means that when the level of fatigue is high, it causes poor quality of life. Suggestions for further researchers compare the level of fatigue with the quality of life of GGK patients undergoing hemodialysis therapy 1x / week, 2x / week, 3x / week, as well as factors that cause fatigue in hemodialysis. KEYWORDS: Chronic Kidney Disease, Fatigue, Hemodialysis, Quality Of Life