Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Pengaruh latihan fisik akut terhadap saturasi oksigen pada pemain basket mahasiswa Fakultas Kedokteran Unsrat Simanjuntak, Ryan H.; Engka, Joice N. A.; Marunduh, Sylvia R.
e-Biomedik Vol 4, No 1 (2016): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v4i1.10817

Abstract

Abstract: Physical exercise is a planned regular and repeated activities in a certain intensity to improve health. Based on duration, there are two kinds of physical exercise. Physical exercise with shorter amount of time is called acute physical exercise. While physical exercise with longer amount of time is called chronic physical exercise. Physical exercise will make some changes in the body, such as blood oxygen levels. Some studies showed the influence of physical exercise on oxygen saturation but some studies had the opposite result. Therefore, this study was carried out to investigate the effect of acute physical exercise on oxygen saturation. This study was a field experimental with pre-post one group test design that was conducted to 32 Medical Faculty student basketball players of Sam Ratulangi University. Each subject had to play basketball for 20 minutes. Value of oxygen saturation was checked using pulse oximeter before exercise and immediately after exercise. Case analysis use paired samples T test. This study has found an increase on oxygen saturation after the acute physical exercise (p=0,041;p<0,05).Keywords: acute physical exercise, oxygen saturationAbstrak: Latihan fisik adalah aktivitas yang dilakukan secara terencana, teratur dan berulang ulang dalam intensitas tertentu untuk meningkatkan taraf kesehatan. Berdasarkan durasinya, ada dua jenis latihan fisik. Latihan fisik dengan durasi singkat disebut latihan fisik akut. Sedangkan latihan fisik dengan durasi yang lama disebut latihan fisik kronik. Latihan fisik akan menyebabkan beberapa perubahan dalam tubuh, seperti kadar oksigen dalam darah. Beberapa penelitian menunjukkan adanya pengaruh latihan fisik terhadap terhadap saturasi, namun beberapa penelitian menunjukkan hasil sebaliknya. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh antara latihan fisik akut terhadap saturasi oksigen. Penelitian ini merupakan suatu penelitian eksperimental lapangan dengan rancangan pre-post one group test yang dilakukan terhadap 32 orang mahasiswa pemain basket Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi. Responden diberi perlakuan berupa olahraga basket selama 20 menit. Nilai saturasi diperiksa menggunakan alat pulse oksimetri, diperiksa sesaat sebelum latihan dan sesaat sesudah latihan. Analisis hasil penelitian menggunakan uji T berpasangan. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya peningkatan pada nilai saturasi oksigen setelah latihan fisik akut (p=0,041;p<0,05).Kata kunci: latihan fisik akut, saturasi oksigen
Pengaruh Intensitas Latihan Beban terhadap Massa Otot Tambing, Agustina; Engka, Joice N. A.; Wungouw, Herlina I. S.
e-Biomedik Vol 8, No 1 (2020): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v8i1.27099

Abstract

Abstract: Muscles can be formed by weight training to be ideal and athletic that will improve performance and confidence of a man. One of the factors that influence weight training is intensity, which shows the severity of the weight of an exercise. The American College of Sports Medicine recommends an intensity of> 70% 1-RM for the purpose of increasing muscle mass. This study was aimed to determine the effect of weight training intensity on muscle mass. This was an experimental study with two group pretest and posttest design. Subjects were 42 Sam Ratuangi University male students divided into two groups. Both groups were given different training intensities (50-60% 1-RM and 50-80% 1-RM). Tricep biceps mass was measured on the circumference of the upper arm using a meter (cm) before and after exercise for 8 weeks. Data were tested for normality using the Shapiro Wilk test and paired t test to determine differences in the average before and after training in each group. In both groups the results showed a p-value of 0.000 (p <0.05), which indicated that there was an increase of muscle mass in each group. Meanwhile, the independent sample t-test of the difference between the two groups obtained a p-value of 0.072 (p> 0.05) which indicated that there was no significant effect between the two different intensities on muscle mass. In conclusion, there was no significant effect of weight training intensity on muscle mass.Keywords: muscle mass, intensity of weight training Abstrak: Otot dapat dibentuk dengan latihan beban agar menjadi ideal dan atletis yang akan meningkatkan performa dan kepercayaan diri bagi seorang laki-laki. Salah satu faktor yang memengaruhi latihan beban ialah intensitas, yang menunjukkan berat ringannya beban suatu latihan. American College of Sports Medicine merekomendasikan intensitas>70% 1-RM untuk tujuan peningkatan massa otot. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh intensitas latihan beban terhadap massa otot. Jenis penelitian ialah eksperimental dengan rancangan two grouppretest dan posttest. Subjek penelitian ialah mahasiswa Unsrat yang berjenis kelamin laki-laki dengan jumlah 42 orang, dibagi ke dalam dua grup. Kedua grup diberikan intensitas latihan yang berbeda (50-60% 1-RM dan 50-80% 1-RM). Massa otot bisep trisep diukur pada lingkar lengan atas dengan menggunakan meteran (cm) sebelum dan sesudah latihan selama 8 minggu. Data penelitian diuji normalitas dengan Shapiro wilk test dan uji t berpasangan untuk mengetahui perbedaan rerata sebelum dan sesudah latihan pada masing-masing grup. Pada kedua grup didapatkan hasil p=0,000 (p<0,05) yang menunjukkan bahwa terdapat peningkatan massa otot pada setiap grup. Pada uji beda selisih antara kedua grup yang menggunakan independent sample t-test didapatkan nilai p=0,072 (p>0,05) yang menunjukkan tidak terdapat pengaruh bermakna antara kedua intensitas yang berbeda terhadap massa otot. Simpulan penelitian ini ialah tidak terdapat pengaruh bermakna dari intensitas latihan beban terhadap massa otot.Kata kunci: massa otot, intensitas latihan beban
Latihan Fisik Pada Pasien Obesitas Oroh, Pricillia J.; Wungow, Herlina I. S.; Engka, Joice N. A.
Jurnal Biomedik : JBM Vol 13, No 1 (2021): JURNAL BIOMEDIK : JBM
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.13.1.2021.31773

Abstract

Abstract: Increase in cases of obese patients in developed and developing countries is a problem that occurs from year to year. Prevalence rates of obesity cases has increased in the last 5 years. Prevalence rate of obesity in Indonesia is 21.8%. North Sulawesi is the province with the highest obesity in Indonesia. Obesity can cause many health problems, therefore it takes effort by doing regular physical exercise, in order to increase the body metabolism for obese patients. Purpose of this study is to determine the effect/benefit of physical exercise in obese patients. Material and method used is a literature review with five databases, namely, Clinical Key, PubMed, Science Direct, and Indonesian Scientific Repository. Keywords used are physical activity OR physical training OR exercise program OR exercise therapy OR obesity. Study selection stage obtained 20 literature consisting of 19 randomized controlled trials, and 1 experimental study. Results of the literature review study show that all physical exercise provides benefits to the body, but aerobic physical exercise is mostly done in obese patients. Conclusion: Physical exercise in the form of aerobic exercise, anaerobic exercise, and regular resistance training can provide weight loss, and reduce body fat in obese patients.Key words: physical exercise, physical activity, obesity.  Abstrak: Peningkatan kasus pasien obesitas di negara maju, dan negara berkembang merupakan suatu masalah yang terjadi dari tahun ke tahun. Prevalensi kasus obesitas meningkat pada 5 tahun terakhir. Tingkat prevalensi obesitas di Indonesia adalah 21,8%. Sulawesi Utara merupakan provinsi dengan obesitas tertinggi di Indonesia. Obesitas dapat menyebabkan banyak gangguan kesehatan bagi tubuh, maka diperlukan upaya dengan melakukan latihan fisik yang tepat, agar mampu meningkatkan metabolisme tubuh bagi pasien obesitas. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh atau manfaat latihan fisik pada pasien obesitas. Materi dan metode penelitian yang digunakan literature review dengan lima database yaitu Clinical Key, PubMed, Science Direct, dan Repositori Ilmiah Indonesia. Kata kunci yang digunakan yaitu physical activity OR physical training OR exercise program OR exercise therapy OR obesity. Tahap seleksi studi didapatkan 20 literatur terdiri dari 19 randomized controlled trial, dan 1 penelitian eksperimental. Hasil penelitian literature review menunjukkan semua latihan fisik memberikan manfaat bagi tubuh, tetapi latihan fisik aerobik paling banyak dilakukan pada pasien obesitas. Kesimpulan: Latihan fisik dalam bentuk latihan aerobik, latihan anaerobik, dan latihan daya tahan yang teratur dapat memberikan penurunan berat badan, dan mengurangi lemak tubuh pada pasien obesitas.Kata kunci:  Latihan fisik, aktifitas fisik, obesitas
Happy Hypoxia Pada Coronavirus Disease Shianata, Chrisshania M.; Engka, Joice N. A.; Pangemanan, Damajanty H. C.
Jurnal Biomedik : JBM Vol 13, No 1 (2021): JURNAL BIOMEDIK : JBM
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/jbm.13.1.2021.31743

Abstract

Abstract: COVID-19 is a multifaceted disease with respiratory failure as a common manifestation. SARS-CoV-2 primarily attacks respiratory epithelial cells via adhesion to Angiotensin-Converting Enzyme 2 (ACE-2), patients may develop a mild to severe inflammatory response and acute lung injury. Several reports suggest that many patients appear to show less respiratory effort and experience less dyspnea when exposed to acute respiratory failure and hypoxemia, a phenomenon called “happy hypoxia” or “silent hypoxemia”. This causes COVID-19 patients to be unaware of the hypoxemia in their bodies and fail to seek help which leads to death. The purpose of this study is to discover the process of Happy Hypoxia in COVID-19 patients. The materials and methods used are literature reviews with data from PubMed, ClinicalKey, and Google Scholar. The keywords were Happy Hypoxia OR Silent Hypoxemia AND COVID-19 OR Coronavirus Disease. This literature study addresses potential pathways that may be associated with this interesting clinical feature. The hypothesis is that SARS-CoV-2 can cause nerve damage to the cortico-limbic tissue and alter dyspnoea perception and respiratory control. Future research will bring opportunities and advances in the study of the mechanism of hypoxia induced by COVID-19Key Words: Happy Hypoxia, Silent Hypoxemia, COVID-19, Coronavirus Disease.  Abstrak: COVID-19 merupakan penyakit multifaset dengan kegagalan pernafasan sebagai manisfestasi yang umum. SARS-CoV-2 terutama menyerang sel epitel pernafasan melalui adhesi ke Angiotensin-Converting Enzyme 2 (ACE-2), pasien mengembangkan respon inflamasi ringan hingga parah dan cedera paru akut. Beberapa laporan menunjukkan banyak pasien menunjukkan upaya pernapasan dan dispnea yang lebih sedikit saat terkena gagal pernapasan akut dan hipoksemia, sebuah fenomena yang disebut “happy hypoxia” atau “silent hypoxemia ". Hal ini menyebabkan pasien COVID-19 tidak sadar akan hipoksemia yang terjadi pada tubuh mereka sehingga mereka tidak mencari pertolongan dan dapat berakhir dengan kematian. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui proses terjadinya Happy Hypoxia pada penderita COVID-19. Materi dan metode yang digunakan berbentuk literature review dengan pencarian data menggunakan database PubMed, ClinicalKey, dan Google Scholar. Kata kunci yang digunakan yaitu Happy Hypoxia OR Silent Hypoxemia AND COVID-19 OR Coronavirus Disease. Studi literatur ini membahas jalur potensial yang mungkin terkait dengan fitur klinis yang menarik ini. Hipotesis yang berkembang adalah bahwa SARS-CoV-2 dapat menyebabkan kerusakan saraf pada jaringan kortiko-limbik dan kemudian mengubah persepsi dispnea dan kontrol pernapasan. Penelitian lanjut di masa depan akan membuka peluang dan kemajuan dalam studi mengenai mekanisme sentral hipoksia yang diinduksi COVID-19.Kata kunci: Happy Hypoxia, Silent Hypoxemia, COVID-19, Coronavirus Disease.
Perbandingan Kapasitas Vital Paksa Perokok Elektronik dan Perokok Tembakau Siwu, Imanuel L.; Engka, Joice N. A.; Marunduh, Sylvia R.
e-CliniC Vol. 13 No. 1 (2025): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v13i1.60617

Abstract

Abstract: Smoking can cause reduced lung function such as decreased forced vital capacity (FVC), heart diseases, and cancer. An electronic cigarette or vape is an electrically powerful device that heats an e-liquid aerosol containing propylene, glycerin, glycol, nicotine, and various additives to produce aerosols that can be breathed. Electronic cigarettes are popular because they are considered as safer and healthier device than conventional cigarettes since they do not contain tobacco that is hazardous to health. This study aimed to find out the comparison of forced vital capacity of electronic smokers with tobacco smokers among students of Universitas Sam Ratulangi. This was an observational and analytical study with a cross-sectional study design. Samples consisted of 51 students obtained by using the purposive sampling method and met the inclusion and exclusion criteria. The results showed that highest percentages were found in respondents aged 20 years (39.2%), tobacco smokers (58.8%), and low FVC (76.5%). The independent sample t-test used to compare the FVC of electronic smokers with tobacco smokers obtained a p-value of 0.719 indicating there was no significant difference between the two groups. In conclusion, there is no significant comparison between the forced vital capacity values of electronic smokers and tobacco smokers among students of Universitas Sam Ratulangi. Keywords: FVC, electronic smokers; tobacco smokers    Abstrak: Merokok dapat menyebabkan penurunan fungsi paru antara lain penurunan kapasitas vital paksa (KVP), penyakit jantung dan kanker. Rokok elektronik atau vape adalah sebuah perangkat berdaya listrik yang memanaskan aerosol e-liquid yang mengandung propilena, gliserin, glikol, nikotin dan berbagai perasa yang aditif untuk menghasilkan aerosol yang bisa di hirup. Rokok elektronik atau vape populer karena dianggap sebagai perangkat yang lebih aman dan sehat daripada rokok konvensional karena tidak memiliki kandungan tembakau yang berbahaya bagi kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan KVP perokok elektronik dan perokok tembakau pada mahasiswa Universitas Sam Ratulangi. Jenis penelitian ialah analitik observasional dengan desain potong lintang. Sampel berjumlah 51 mahasiswa yang diperoleh dengan metode purposive sampling serta memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Hasil penelitian mendapatkan persentase tertinggi pada responden berusia 20 tahun (39,2%), perokok tembakau (58,8%), dan hasil pengukuran KVP dengan nilai low (76,5%). Hasil uji independent sample t-test terhadap KVP perokok tembakau dan elektronik memperoleh nilai p=0,719, yang membuktikan bahwa tidak terdapat perbedaan bermakna antara nilai KVP perokok elektronik dan perokok tembakau. Simpulan penelitian ini ialah tidak terdapat perbandingan bermakna antara nilai kapasitas vital paksa perokok elektronik dan perokok tembakau pada mahasiswa Universitas Sam Ratulangi. Kata kunci: kapasitas vital paksa; perokok elektronik; perokok tembakau
Perbandingan Rasio FEV1/FVC pada Perokok Elektronik dan Perokok Tembakau Mahasiswa Universitas Sam Ratulangi Marasi, Trinita E.; Sapulete, Ivonny M.; Engka, Joice N. A.
e-CliniC Vol. 13 No. 2 (2025): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v13i2.61016

Abstract

Abstract: Smoking can accelerate decrease of lung function due to the abundant harmful substances in cigarettes. Decreased lung function is characterized by a decrease in the values of forced expiratory volume 1 (FEV1), forced vital capacity (FVC), and FEV1/FVC ratio. This study aimed to compare the FEV1/FVC ratio in electronic smokers and tobacco smokers among students of Universitas Sam Ratulangi. This was a quantitative study using analytical and observational method with a cross-sectional design. Samples were students of the Faculty of Engineering Class 2021, Department of Electrical Engineering, Universitas Sam Ratulangi, obtained by using the purposive sampling method. There were 51 male students as respondents. The Mann-Whitney test on  the FEV1/FVC ratio obtained a p-value of 0.022 (2-tailed) (<0.05). In conclusion, there is a significant difference in the FEV1/FVC ratio between electronic smokers and tobacco smokers. Keywords: ratio of FEV1/FVC; electronic smoker; tobacco smoker;    Abstrak: Merokok dapat mempercepat penurunan fungsi paru akibat mengandung banyak zat berbahaya. Penurunan fungsi paru ditandai dengan penurunan nilai forced expiratory volume 1 (FEV1), forced vital capacity (FVC), dan penurunan rasio FEV1/FVC. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan rasio FEV1/FVC pada perokok elektronik dan perokok tembakau mahasiswa Universitas Sam Ratulangi. Jenis penelitian ini ialah kuantitatif yang menggunakan metode penelitian observasional analitik dengan desain potong lintang. Sampel penelitian ialah mahasiswa Fakultas Teknik Angkatan 2021 Jurusan Teknik Elektro Universitas Sam Ratulangi, diperoleh dengan metode purposive sampling. Hasil penelitian mendapatkan 51 mahasiswa laki-laki sebagai responden penelitian. Hasil uji Mann-Whitney terhadap FEV1/FVC pada perokok tembakau dan perokok elektronik mendapatkan nilai p=0,22 (2-tailed) (p<0,05). Simpulan penelitian ini ialah terdapat perbedaan bermakna pada rasio FEV1/FVC antara  perokok elektronik dan perokok tembakau. Kata kunci: rasio FEV1/FVC; perokok elektronik; perokok tembakau
Persepsi Mahasiswa Fakultas Kedokteran Terhadap Lingkungan Belajar Menggunakan Dreem (Dundee Ready Education Enviroment Measure) Lengkong, Jeffry S.J; Pangemanan, Damajanty H. C.; Puk, Jimmy Rumam; Engka, Joice N. A.; Kaligis, Stefana H. M.
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36418/syntax-literate.v9i5.15850

Abstract

Lingkungan belajar merupakan salah satu faktor penting yang dapat mempengaruhi keberhasilan mahasiswa dalam belajar. Lingkungan belajar yang baik dapat menciptakan suasana yang kondusif untuk belajar, sehingga mahasiswa dapat belajar dengan lebih efektif dan efisien. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persepsi mahasiswa Fakultas Kedokteran terhadap lingkungan belajar menggunakan DREEM (Dundee Ready Education Environment Measure). Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif-analitik dengan pendekatan studi cross sectional. Populasi penelitian ini adalah mahasiswa fakultas kedokteran di Universitas X, sampel dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan studi literatur dan kuesioner menggunakan Dundee Ready Educational Environment Measure (DREEM). Analisis Data menggunakan metode uji Pearson. Hasil penelitian menunjukan bahwa 168 (84%) mahasiswa Fakultas Kedokteran memiliki persepsi yang cenderung positif. Terdapat hubungan yang signifikan antara persepsi mahasoswa fakultas kedokteran terhadap lingkungan belajar dengan nilai uji p= 0,054 (p>0,5). Penelitian menyimpulkan persepsi mahasiswa Fakultas Kedokteran terhadap lingkungan belajar adalah positif. Hal ini menunjukkan bahwa lingkungan belajar di Fakultas Kedokteran Universitas X secara umum sudah baik dan mendukung keberhasilan mahasiswa dalam belajar.