Deddy Erdiono
Jurusan Arsitektur, FT-UNSRAT

Published : 30 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 30 Documents
Search

EVOLUTIONARY ARCHITECTURE Muntu, Irving Richard; Erdiono, Deddy
MEDIA MATRASAIN Vol 14, No 3 (2017)
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Evolutionary Architecture merupakan salah satu strategi teori perancangan yang mendeskripsikan konsep arsitektural dalam bentuk ‘kode genetik’, Kode ini dikembangkan oleh program komputer menjadi sebuah rentetan model dengan menerapkan Prinsip morfogenesis, replikasi, kode genetik, mutasi dan seleksi dalam prosesnya. Model-model demikian kemudian dievaluasi serta disimulasikan dan kode dari model yang sukses dipakai untuk menganalisa proses selanjutnya hingga sampai di tahap di mana pengembangannya dipilih untuk membuat suatu prototipe. Dalam Evolutionary Architecture menjelaskan bahwa konsep adalah proses yang terkemudi; yang artinya, dengan peraturan pembentuk wujud atau bentuk yang bukan terdiri dari komponen-komponen, tapi sejumlah proses. Disugestikan bahwa sistemnya bersifat hierarki, di mana satu proses mendorong proses selanjutnya. Dengan cara yang sama, bentuk dan teknologi yang kompleks seharusnya bisa dievolusikan secara hierarki dari bentuk dan teknologi yang sederhana. 
KREATIFITAS BERARSITEKTUR MELALUI SALURAN PARADOKS DAN METAFISIKA ( A Controversial Attitude Toward the Generally Accepted ) Erdiono, Deddy
MEDIA MATRASAIN Vol 11, No 1 (2014)
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak“…………….Architecture is war. War is architecture. I am at war with my time, with history, with all authority that resides in fixed and frightened forms………………………… I am an architect, a constructor of worlds, a sensualist who worships the flesh, the melody, a silhouette against the darkening sky. I can not know your name. Nor can you know mine………………” ( Lebbeus Woods: “Manifesto” ; Source ; Andreas Papadakis, “Theory and Experimentation”, 1993).Arsitek yang kreatif adalah arsitek yang selalu bereksperimen dengan berbagai saluran kreatifitas arsitektur, selalu ingin mencoba menembus batas kebekuan ruang dan waktu serta status quo ( keadaan tetap pada suatu saat tertentu ) dalam konteks arsitektur, sebagai sesuatu yang fenomenal dan bersifat misteri. Arsitek harus mampu dan sanggup mengarahkan arsitektur ke masa depan yang tidak semata-mata didikte oleh masa lalu dan ke kini-an, karena ia memang tidak pernah mendefinisikan apapun yang ada di depannya. Tanpa kegelisahan dan semangat pencarian yang gencar dan berlanjut untuk menghasilkan karya-karya terdepan, kita hanya akan menjadi bayang-bayang masa lalu, kita percaya bahwa itu adalah kemungkinan terburuk yang harus kita hindari.Paradoks dan metafisik merupakan salah satu saluran kreatifitas arsitektur yang dapat mengakomodasikan keinginan arsitek untuk merealisasikan obsesinya dalam memenuhi ambisinya. Melalui otoritasnya, arsitek berani menentang arus terhadap pendapat umum yang dianggap benar. Sesuatu yang nampaknya begitu absurd (mustahil dan tak masuk akal), meskipun demikian dengan jujur arsitek tetap berupaya mencari kebenaran berdasarkan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya (true and sublime).Arsitek memahami benar konsekuensi yang bakal terjadi bahwa nantinya hal ini akan dapat membawanya pada suatu kondisi yang cukup riskan, mengundangnya ke dunia pertentangan dan kontradiksi (a sphere of contradictionary and confrontation) yang pada akhirnya mungkin mereka akan mengucilkan dirinya (condemnation of the latter).Kata kunci  : saluran kreatifitas, paradoks dan metafisik, pendapat umum, absurd, true and sublime, a sphere of contradictionary and confrontation, condemnation of the latter.
FOLDING ARSITEKTUR Torondek, Vicky; Erdiono, Deddy
MEDIA MATRASAIN Vol 14, No 3 (2017)
Publisher : Jurusan Arsitektur, FT - UNSRAT Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Folding Architecture merupakan suatu proses menghasilkan bentukan dalam desain arsitektur yang pada intinya bereksperimen untuk menghasilkan suatu bentuk konfigurasi melalui suatu proses. Penerapannya ke dalam perancangan arsitektur menggunakan metode ?borrowing? yakni meminjam karakter kertas dan mentransformasikannya kedalam sebuah bentuk melalui proses lipat, potong, tekan dll. Peminjaman karakter kertas dipakai sebagai media dalam membuat bentukan, karena sifat kertas yang mudah dilipat dan ditekuk. Setiap proses lipatan itu bertransformasi menjadi sebuah bentuk yang hasilnya tidak terduga sebelumnya. Itu disebabkan karena Folding bersifat spontan dan tidak memiliki cara yang terikat dalam memproses sebuah bentuk. Setiap bentukan yang dihasilkan pasti akan berbeda walaupun prosesnya sama. Dari bentukan inilah yang nantinya akan diolah menjadi suatu desain arsitektur
NEW METAPHOR IN ARCHITECTURE (METAFORA BARU/TERKINI DALAM ARSITEKTUR) Sinadia, Stendri; Erdiono, Deddy
MEDIA MATRASAIN Vol 8, No 3 (2011)
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK“New Metaphor”(Metafora Baru/Terkini) dalam arsitektur sebagai strategi pendekatan perancangan yang Baru/Terkini dengan maksud dapat menghasilkan sebuah desain rancangan Arsitektur yang representatif dan tereksplorasi dengan baik, suatu rancangan yang ditinjau dari segi bentuk maupun fungsinya serta mempunyai ciri khas tertentu sebagai suatu rancangan arsitektur yang bergaya “New Metaphor”(Metafora Baru/Terkini) itu sendiri, sehingga dapat juga menjadi salah satu identitas yang menarik ketika “New Metaphor”(Metafora Baru/Terkini) menyampaikan pesan lewat karyanya, Kiasan dari Metafora Baru/Terkini yang diambil ini adalah sebuah karya rancangan baru yang dikembangkan setelah metafora, rancangan yang mengambil bentuk-bentuk/hubungan antara alam dan manusia, yang lebih fungsional, yang secara filosofis memiliki titik temu dengan objek perancangan arsitektur, rancangan yang berdasarkan atau memakai elemen alam secara keseluruhan, dimana ini akan menjadikan suatu strategi desain yang saling mendukung.Kata kunci : “New Metaphor”(metafora baru/ terkini), alam, manusia dalam arsitektur
MUSEUM PERFILMAN NASIONAL DI JAKARTA (Analogi Dramaturgi Dalam Arsitektur) Tawalujan, Yieldni; Erdiono, Deddy
Jurnal Arsitektur DASENG Vol 2, No 3 (2013): Volume 2 No.3 November 2013
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Film merupakan suatu karya seni yang juga merupakan  media komunikasi paling modern saat ini. Film telah berkembang demikian pesat sehingga membutuhkan pengaturan yang lebih baik dan apresaisi yang lebih mendalam terhadap dunia perfilman nasional. Museum beserta fasilitas-fasilitas pendukungnya yang menyimpan segala informasi dan benda perfilman ini diharapkan dapat menjadi mata rantai yang terus menjaga rantai perfilman Indonesia. Dengan mempelajari film-film lama dan sejarahnya, kita dapat mengetahui bagaimana cara orang berfikir dari waktu ke waktu. DKI Jakarta merupakan pusat organisasi dari semua bidang dalam perfilman . Ibu kota ini pula menjadi basis utama semua bidang tersebut. Oleh karena itu Jakarta merupakan lokasi yang sesuai dengan objek rancangan ini. Analogi Dramaturgi adalah kegiatan-kegiatan manusia sering dinyatakan sebagai teater (“seluruh dunia adalah panggung‟), dan karena itu lingkungan buatan dapat dianggap sebagai pentas panggung. Manusia memerankan peranan, dan demikian pula bangunan-bangunan merupakan rona panggung dan perlengkapan yang menunjang pagelaran panggung.. Pemanfaatan analogi dramaturgi ini membuat sang arsitek bertindak hamper seperti dalang. Sang  arsitek mengaturaksi seraya menunjangnya. Sebuah drama hadir dari jalinan peristiwa yang disebut alur dan dalam kondisi tertentu alur menjadi sangat berarti ketika ditunjang dengan kesan suasana, dimana peristiwa itu lahir, disini tata panggung menjadi penting. Komponen-komponen ruang luar dan konfigurasi massa bersinergi membentuk sebuah komposisi baru yang saling mengisi kekosongan diantaranya. Seperti sebuah drama yang hadir dalam tautan peristiwa, demikian objek ini, hadir dalam jalinan ruang, fungsi dan sirkulasi yang semuanya itu mampu mengungkapkan makna dibalik sebuah museum perfilman nasional di Jakarta. Kata Kunci : Museum PerfilmanNasional, Analogi, Dramaturgi.
PERANCANGAN HOTEL PANTAI DI PULAU KUMO ‘BIOMORFIK ARSITEKTUR’ Tawakali, Rifons; Erdiono, Deddy; MT, Suryono
Jurnal Arsitektur DASENG Vol 4, No 1 (2015): Volume 4 No.1 Mei 2015
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Wisata bahari telah memberikan sumbangan yang berarti bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Kontribusi pariwisata bahari ini terhadap pembangunan nasional berupa penyediaan lapangan pekerjaan dan aktivitas ekonomi lainnya serta pemasukan devisa bagi Negara. Halmahera utara mempunyai potensi wisata yang perlu dikembangkan diantaranya meliputi wisata terumbu karang, wisata bahari, wisata budaya, wisata sejarah peninggalan  perang dunia II yang jika dikelola dengan baik dapat memberikan keuntungan kepada berbagai pihak. Pemerintah  Kabupaten  Halmahera Utara memproyeksikan kawasan pulau Tagalaya dan Pulau Kumo sebagai daerah wisata bahari. Pengembangan kawasan wisata tersebut diharapkan menjadikannya sebagai daerah tujuan wisata. Pengembangan tersebut diharapkan memberikan dampak bagi peningkatan kesejahteraan penduduk, kelestarian sumberdaya pesisir, peningkatan pendapatan asli daerah (PAD) dan mendorong pertumbuhan perekonomian Kabupaten Halmahera Utara. Melihat kondisi Halmahera Utara yang semakin hari semakin berkembang diberbagai  sektor dan budaya serta didukung oleh SDM dan infrastruktur yang memadai, maka perlu dihadirkan Hotel Pantai di Pulau Kumo dengan fasilitas rekreasi yang lengkap dengan memanfaatkan potensi dan keadaan alam setempat.     Kata Kunci : Pulau Kumo, Hotel Pantai, Biomorfik Arsitektur
RUMAH SAKIT MATA DI MANADO BLIND SPACE Pello, Pingkan S.; Rogi, Octavianus H. A.; Erdiono, Deddy
Jurnal Arsitektur DASENG Vol 5, No 2 (2016): Volume 5 No.2 November 2016
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kesehatan indera penglihatan merupakan syarat penting untuk kualitas sumber daya manusia dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Penderita penyakit mata di Indonesia semakin meningkat, seperti halnya di Provinsi Sulawesi Utara sesuai data dari Balai Kesehatan Mata Masyarakat total pasien selama tahun 2011 yakni sebanyak 12.090 terhitung seluruh pasien lama maupun pasien baru. Melihat permasalahan tersebut, maka sangat penting Rumah Sakit Mata untuk memenuhi kebutuhan pasien akan pelayanan kesehatan mata, . Perancangan rumah sakit mata ini merupakan program pengembangan dari Balai Kesehatan Mata Masyarakat (BKKM) Sulut dalam rangka meningkatkan status menjadi sebuah Rumah Sakit Khusus Mata. Metode perancangan Rumah Sakit Mata ini dikaji berdasarkan pendekatan perancangan dan kerangka pikir.  Melalui pendekatan dari beberapa aspek, yaitu pendekatan kajian objek, pendekatan kajian tapak dan lingkungan, serta melalui pendekatan tematik. Kerangka pikir dimulai dari latar belakang serta maksud dan tujuan mengapa rumah sakit mata ini perlu dihadirkan di Kota Manado, atas hal tersebut maka hadirlah beberapa poin yang menjadi sebuah rumusan masalah. Deskripsi objek rancangan terdiri dari kajian tipologi objek, kajian tematik, dan kajian lokasi dan tapak. Ketiga kajian tersebut dianalisis sehingga menghasilkan konsep umum perancangan. Konsep tersebut  kemudian di transformasikan dalam bentuk desain yang adalah hasil akhir dari Perancangan Rumah Sakit Mata. Konsep perancangan Rumah Sakit Mata ini adalah bentuk pengaplikasian tema ‘blind space’ dengan eksplorasi ruang melalui direct modes, yaitu berdasarkan kemampuan non visual manusia. Tema ‘blind space’ lebih mengoptimalkan sistem pendengaran, sentuhan dan penciuman. Konsep perancangan dimulai dari ruang luar, yaitu penempatan zoning berdasarkan karakter dan fungsi tiap massa. Massa dibagi menjadi tiga bagian, yaitu kelompok massa pertama yakni menampung semua aktivitas pelayanan rawat jalan, unit gawat darurat, dan pelayanan penunjang medis dan non medis, kelompok massa kedua diperuntukkan bagi unit rawat inap, dan kelompok massa ketiga yaitu bagian service. Konsep gubahan massa merespon dari bentuk kondisi site dan dirancang sesuai tema, yakni melalui penataan sirkulasi, view, dam aksesbilitas yang baik. Konsep interior ruang dalam dikaji melalui pemilihan warna pada dinding dan lantai, pemilihan perabot/furniture, dan terutama pengunaan/pemilihan material yang dianggap sangat penting dalam rangka pengaplikasian tema ‘blind space’ pada objek rancangan. Kata Kunci : Rumah Sakit Mata, Kota Manado, Blind Space
FASILITAS REKREASI AIR “FLOATING ARCHITECTURE” Baso, Fransisca P. Y.; Erdiono, Deddy; Sela, Rieneke L. E.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol 6, No 1 (2017): Volume 6 No.1 Mei 2017
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Fasilitas Rekreasi Air adalah suatu sarana yang dihadirkan untuk memenuhi kebutuhan akan suatu fasilitas yang bisa menjadi tempat untuk menyegarkan pikiran dan tempat untuk bersosialisasi. Tema yang diangkat adalah Floathing Architecture, yang dipakai untuk struktur bagunan. Dengan menghadirkan objek wisata ini kiranya bisa memenihi kebutuhan wisatawan dan menghadirkan objek arsitektural yang belum ada di SULUT, dan menampilkan sesuatu dengan wajah yang baru. Metode perancangan meliputi 3 pendekatan yaitu pendekatan tipologi objek, pendekatan tapak dan pendekatan tematik. Fasilitas-fasilitas rekreasi air yang akan dihadirkan ditinjau dari segi fungsi utama yaitu Fasilitas rekreasi yang berhubungan dengan air, seperti waterpark, kolam arus, tempat pemancingan ikan, watersport, dari segi fungsi penunjang dalam kegiatan rekreasi/hiburan, management, dan pelayanan yaitu restaurant, gasebo, taman, kantor pengelola, wc umum, parkir, gudang, pos jaga masuk/keluar kendaraan dan loket-loket tiket untuk fasilitas rekreasi/hiburan, tempat spa, resort dan convention hall. Kata kunci : Fasilitas, Rekreasi, Air, Floating Architecture.
REDESAIN TERMINAL PENUMPANG PELABUHAN UMUM DI TAHUNA “IMPLEMENTASI STRATEGI SINSIGN DALAM SEMIOTIKA OLEH CHARLES SANDER PIERCE” Malalantang, Ryan L.; Papia, Franklin J. C.; Erdiono, Deddy
Jurnal Arsitektur DASENG Vol 5, No 1 (2016): Volume 5 No.1 Mei 2016
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Sebagian besar wilayah Indonesia berpotensi rawan dan sering mengalami kejadian bencana, baik bencana alam, bencana non alam, maupun bencana sosial. Sulawesi Utara khususnya Kota Manado merupakan daerah yang juga rawan akan bencana alam. Kejadian bencana dapat menimbulkan keadaan darurat yang ditandai dengan terancamnya keselamatan dan kesejahteraan masyarakat. Hampir semua jenis bencana dapat menimbulkan korban jiwa, kerugian harta benda, dan rusaknya prasarana dan sarana publik. Untuk itu diperlukan penanganan yang cepat dan tepat guna mengurangi timbulnya dampak yang lebih buruk. Dalam situasi darurat bencana, sering terjadi kesimpang-siuran data dan informasi korban maupun kerusakan, sehingga mempersulit pengambilan kebijakan penanganan darurat. Pelaksanaan tanggap darurat juga sering kurang saling mendukung, distribusi bantuan dan pelayanan kurang cepat, kurang merata, sulit terpantau dengan baik, sehingga kemajuan hasil kegiatan tanggap darurat bencana kurang bisa terukur secara objektif. Situasi-situasi tersebut disebabkan antara lain karena kurangnya koordinasi antar instansi terkait dalam kegiatan tanggap darurat bencana. Dilihat dari kebutuhan yang ada, Kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) merupakan lembaga yang dapat membantu pelaksanaan kegiatan Tanggap Darurat Bencana di daerah Sulawesi Utara dengan menggunakan pendekatan konsep “Ekspresi Arsitektur Minahasa pada Bangunan Perkantoran” adalah sebuah konsep perancangan atau perencanaan bangunan yang menerapkan konsep Adat Minahasa yang merupakan salah satu budaya yang ada di Provinsi Sulawesi Utara. Dan memiliki keunikan tersendiri dalam perancangannya. Kata Kunci : Bencana, Kantor, Tradisional.
STASIUN KERETA API TRANS SULAWSIDI BITUNG MUTASI GENETIKA DAN EMBRIOGENESIS DALAM ARSITEKTUR Lainus, Nandar L.; Erdiono, Deddy; Tinangon, Alvin J.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol 4, No 1 (2015): Volume 4 No.1 Mei 2015
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkeretaapian sebagai salah satu moda transportasi angkutan darat, merupakan salah satu element dalam perkembangan transportasi massal di Indonesia. Seiring dengan perkembangan tersebut, proses modernisasi dan pengembangan sarana prasarana harus terus ditingkatkan baik dari segi kualitas pelayanan maupun kuantitas bangunan stasiun. Untuk itu perlu direncanakan pembangunan sebuah Stasiun Kereta Api yang ada di Sulawesi Utara. Stasiun Kereta Api Trans Sulawesi di Bitung mempunyai tujuan untuk memfasilitasi pelayanan umum dalam hal transportasi dan juga mewadahi perpindahan moda transportasi di Sulawesi Utara. Objek rancangan ini merupakan hasil dari penelitian tentang metode dari beberapa faktor-faktor dalam studi kasus yang coba ditelusuri oleh perancang, yang kemudian di hadirkan dengan tema Mutasi Genetika dan Embriogenesis dalam Arsitektur.Perancangan proyek tugas akhir ini meliputi perancangan pola dan kondisi tapak serta bentukan massa bangunan. Pembangunan Stasiun Kereta Api Trans-Sulawesi merupakan mega proyek pemerintah yang telah resmi akan dibangunan di pulau Sulawesi. Peran dari pemerintah sangat membantu dalam proses perancangan karena dalam proses perancangan ini, perancang sangat membutuhkan data-data yang akurat untuk menunjang perancangan proyek tugas akhir ini. Tema Mutasi Genetika dan Embriogenesis dalam Arsitekturakanmenyebabkan terjadinya sebuah perkawinan antara dua fungsi, yang kemudian dimasukan dalam Indikator rekayasa ruang. Pada tahap berikutnya hasil perkawinan fungsi tersebut dimasukan di dalam sebuah proses embriogenesis, proses ini memungkinkan terjadinya sebuah pertumbuhan dan perkembangan fungsi secara“alami” dan bertahap yang disebut dengan proses Embriogenesis dalam Arsitektur.   Kata kunci : Stasiun Kereta Api, Mutasi Genetika, Embriogenesis.