Erianti Erianti
Fakultas Ilmu Keolahragaan Univeristas Negeri Padang

Published : 15 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

PELATIHAN TENIS TERHADAP GURU PENDIDIKAN JASMANI SEKOLAH DASAR NEGERI DI KOTA PADANG Damrah, Damrah; Pitnawati, Pitnawati; Erianti, Erianti
JURNAL WIDYA LAKSANA Vol 8 No 2 (2019)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (248.378 KB) | DOI: 10.23887/jwl.v8i2.19237

Abstract

The issue of sports nursery is a very important issue to get national and international athletes, especially to get talented and quality tennis athletes. The purpose of this training is to get athletes in the field of sports through tennis training for physical education and physical education. The Physical Education teacher is the main source to help get talented students in sports including tennis. The method used in this activity is in the form of training given to physical and health physical education teachers who have the potential and desire to develop tennis in their respective elementary schools. Because there are relatively many primary schools in the city of Padang, the object of this study was conducted in the District of Tangah City, this is because the Koto area has adequate human resources and facilities to foster talented children. Thus the number of PJOK teachers involved in this training was 31 teachers and 62 students. From the results that have been carried out for one semester for the 2018/2019 school year are 1) 15 teachers (48%) PJOK who have the ability to foster and train children with adequate support facilities, namely support for infrastructure, school support and support the community. And 10 (31%) PJOK teachers who have the ability to foster and but do not have full support from schools and communities. The remaining 6 teachers (19%) still do not have the ability to develop tennis, but are ready to support this training program. 2) 56 students (90%) have talents and interests in tennis, while 6 other students (19%) still need to be given an understanding and understanding of the benefits of tennis.
SOSIALISASI TES KEMAMPUAN DAYA TAHAN CARDIOVASCULAR (VO2MAX) DENGAN MENGGUNAKAN AUDIO BLEEP TEST PADA PERGURUAN PERISAI DIRI SEMEN PADANG Mardius, Ali; Siswara, Meuthia Rezika; Erianti, Erianti; Astuti, Yuni; Rosmawati, Rosmawati
JURNAL WIDYA LAKSANA Vol 9 No 2 (2020)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (249.446 KB) | DOI: 10.23887/jwl.v9i2.25908

Abstract

This community service activity aims to socialize to trainers and athletes how to measure aerobic capacity and cardiovascular endurance or often called VO2max by using the bleep test. The continuation of this program is that trainers who have been given knowledge about the bleep test can be introduced to other trainers and can practice to their athletes, so that the trainer can know the ability of cardio vascular endurance for each athlete in accordance with the norm VO2Max level, so that achievement can be achieved to the maximum.
Pendampingan Tes Sekora Sport Talent Identification (SpTI) untuk Cabang Olahraga Sepak bola di Sekolah Dasar Erianti, Erianti; Astuti, Yuni; Haris, Fahmil; Salim, Musannif Nur; Muprizal, Muprizal
Jurnal Abdidas Vol. 5 No. 5 (2024): October 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/abdidas.v5i5.1013

Abstract

Urgensi dari pelaksanaan pengabdian ini yaitu mendukung penuh Inpres Nomor 3 Tahun 2019 terkait dengan percepatan pembangunan persepakbolaan nasional. Sebagai akademisi dibidang olahraga maka perlu memberikan kontribusi untuk mendukung program yang dicanangkan pemerintah tersebut dengan melakukan deteksi bakat anak dari usia dini sekolah dasar khususnya untuk cabang olahraga sepakbola. Sehingga anak-anak ini bisa menekuni cabang olahraga sesuai dengan bakat yang dimiliki dari lahir dan akan memudahkan untuk melatih teknik dari suatu cabang olahraga. Berdasarkan data yang ditemukan bahwa: deteksi bakat belum dilakukan dari usia dini, 2) pemilihan untuk bibit-bibit atlet yang akan dilakukan pembinaan hanya berdasarkan pengamatan dari seorang guru olahraga dan tidak berdasarkan data yang akurat menggunakan instrument yang tepat, 3) belum adanya sistem yang baku dalam menjaring siswa yang memiliki bakat yang akan diberikan pembinaan untuk cabang olahraga. Tujuan Pelaksanaan pengabdian ini yaitu melakukan pendampingan terhadap guru-guru Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan (PJOK) di sekolah dasar karena program deteksi bakat ini merupakan suatu system dalam melahirkan atlet-atlet profesional yang dilakukan oleh beberapa negara yang terstruktur dan terukur. Untuk mendeteksi bakat siswa khsusus cabang olahraga sepakbola pengabdi nantinya akan bekerjasama dengan Tim dan ahli yang ada di Indonesia yang sudah bekerja sama dari tahun 2019 yang merupakan ahli binaan dari Negara Eropa yang telah memiliki suatu sistem online webplatform untuk mendeteksi dan mengidentifikasi potensi dan bakat  olahraga anak-anak sejak usia dini yang valid, terukur, terstruktur dan dapat diterapkan secara massal. Pada pengabdian ini nantinya akan dilakukan di Kelompok Kerja Guru PJOK di Kecamatan Koto Tangah Kota Padang.
Profil Multikomponen Kebugaran Jasmani Siswa Putra Kelas VIII Menggunakan TKSI Fase D Ihsan, Muhammad; Sepriadi, Sepriadi; Erianti, Erianti; Antoni, Despita
Journal of Authentic Research Vol. 5 No. 3 (2026): August
Publisher : LITPAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/jar.v5i3.6133

Abstract

Pelaporan kebugaran siswa hanya melalui skor komposit dapat menutupi kebutuhan latihan pada komponen tertentu. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan kebugaran jasmani keseluruhan dan variasi profil lima komponen Tes Kebugaran Siswa Indonesia (TKSI) Fase D pada siswa putra kelas VIII SMP Muhammadiyah 6 Padang. Penelitian menggunakan desain deskriptif potong lintang. Dari 35 siswa putra, 22 siswa yang hadir dan menyelesaikan seluruh tes dianalisis sebagai sampel tersedia, sedangkan 13 siswa tidak hadir dan tidak diuji ulang. Instrumen meliputi koordinasi mata-tangan, sit-up 30 detik, standing broad jump, T-test kelincahan, dan bleep test. Data mentah diringkas dengan rerata dan simpangan baku atau median dan rentang, sedangkan skor ordinal 1-5 dilaporkan melalui median, rentang interkuartil, frekuensi, dan persentase. Skor total rata-rata adalah 14,59 ± 3,11 dengan median 15 dan rentang 9-20, sehingga kelompok berada pada kategori sedang. Distribusi peserta terdiri atas 18,18% kategori baik, 40,91% sedang, 36,36% kurang, dan 4,55% kurang sekali; tidak ada kategori baik sekali. Proporsi skor kurang-kurang sekali tertinggi ditemukan pada T-test kelincahan (54,55%), standing broad jump (40,91%), dan sit-up (36,36%), sedangkan 95,45% hasil bleep test berada pada kategori sedang atau lebih baik. Temuan menunjukkan variasi deskriptif antarkomponen yang tidak terlihat apabila interpretasi berhenti pada skor total. Hasil ini merupakan baseline kontekstual bagi peserta yang diukur dan dapat digunakan untuk merancang serta mengevaluasi pembelajaran PJOK yang lebih terarah, dengan tetap mempertimbangkan keterbatasan sampel nonacak dan satu sekolah. Reporting student fitness only as a composite score may conceal component-specific training needs. This study described overall physical fitness and the profile variation of five Indonesian Student Fitness Test (TKSI) Phase D components among eighth-grade male students at SMP Muhammadiyah 6 Padang. A cross-sectional descriptive design was employed. Of 35 eligible male students, 22 who attended and completed all tests were analyzed as an available-case sample; 13 students were absent and were not reassessed. The battery comprised hand-eye coordination, 30-second sit-ups, standing broad jump, the agility T-test, and the bleep test. Raw outcomes were summarized using means and standard deviations or medians and ranges, whereas ordinal scores of 1-5 were reported using medians, interquartile ranges, frequencies, and percentages. The mean total score was 14.59 ± 3.11, with a median of 15 and a range of 9-20, placing the measured group in the moderate category. The distribution included 18.18% good, 40.91% moderate, 36.36% poor, and 4.55% very poor; no participant reached the very good category. The largest proportions of poor-very poor scores occurred in the agility T-test (54.55%), standing broad jump (40.91%), and sit-ups (36.36%), while 95.45% of bleep-test results were moderate or better. These findings indicate descriptive variation across components that would be overlooked if interpretation relied only on the total score. The results provide a contextual baseline for the measured participants and may inform more targeted physical education planning and follow-up assessment, while acknowledging the non-random, single-school sample.  
Hubungan Kekuatan Otot Lengan dan Koordinasi Mata-Tangan dengan Kemampuan Passing Atas Pemain Bolavoli Ganesta Kabupaten 50 Kota Nofindra, Genta; Astuti, Yuni; Erianti, Erianti; Saputra, Mardepi
Journal of Authentic Research Vol. 5 No. 3 (2026): August
Publisher : LITPAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/jar.v5i3.6475

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kekuatan otot lengan dan koordinasi mata-tangan dengan kemampuan passing atas pemain bolavoli Ganesta Kabupaten 50 Kota. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Sampel penelitian berjumlah 20 pemain inti putra yang dipilih melalui purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan tes push up untuk kekuatan otot lengan, tes lempar tangkap bola tenis untuk koordinasi mata-tangan, dan tes passing atas untuk mengukur kemampuan teknik. Analisis data menggunakan uji normalitas Liliefors, korelasi Pearson Product Moment, dan korelasi ganda. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan signifikan antara kekuatan otot lengan dengan passing atas (r=0,767; kontribusi 58,83%), koordinasi mata-tangan dengan passing atas (r=0,71; kontribusi 50,41%), serta hubungan simultan kekuatan otot lengan dan koordinasi mata-tangan dengan passing atas (r=0,913; kontribusi 83,36%). Temuan ini menunjukkan bahwa peningkatan kualitas passing atas tidak hanya dipengaruhi aspek teknik, tetapi juga kemampuan fisik dan koordinasi neuromotorik pemain. Overhead passing performance among regional-club volleyball players has received limited attention when upper-limb physical capacity and visual-motor coordination are examined simultaneously, as prior studies have largely focused on school or developmental-athlete populations. This study examined the partial and combined relationships of upper-limb muscular endurance and hand-eye coordination with overhead passing ability among Ganesta volleyball players in Lima Puluh Kota Regency. A quantitative correlational design was used with 20 male core players purposively selected from a population of 30 players. Upper-limb muscular endurance was assessed using a one-minute push-up test, hand-eye coordination using a tennis-ball wall throw-and-catch test, and overhead passing ability using a wall passing test. Data were analyzed using the Liliefors normality test, Pearson product-moment correlation, correlation significance tests, and multiple correlation at α=0.05. Upper-limb muscular endurance was positively associated with overhead passing ability (r=0.767, t=5.07, p<0.001, R²=58.83%), as was hand-eye coordination (r=0.710, t=4.28, p<0.001, R²=50.41%). Jointly, both predictors showed a very strong association with overhead passing ability (R=0.913, F=42.57, p<0.001, R²=83.36%). These findings indicate a strong linkage between repeated upper-limb physical capacity, visual-motor coordination, and overhead passing performance in the studied sample. Because the sample was small, male-only, and drawn from one club, the findings should be generalized cautiously and should not be interpreted causally.