Dewi Fitriani
Dosen, Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Widya Dharma Husada Tangerang, Jl.pajajaran No 1 Pamulang, Kota Tangerang Selatan

Published : 14 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Determinan Faktor Hipotermi Pasca Operasi dengan General Anestesi di Instalasi Bedah Sentral RSUD Banten Dewi Fitriani; Betty Betty; Encep Nurohman; Liselia Armanda
Health and Medical Journal Vol 5, No 1 (2023): HEME January 2023
Publisher : Universitas Baiturrahmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33854/heme.v5i1.1147

Abstract

Pendahuluan: Anestesi umum merupakan teknik yang banyak ditemukan pada pembedahan, yaitu lebih dari 80%, dan ditemukan 2,5% pasien mengalami komplikasi setelah menjalani anestesi, dan pasien pasca anestesi hampir 80% mengalami kejadian hipotermia.Tujuan:Identifikasi faktor penyebab hipotermia pasca anestesi umum pada RSUD IBS Banten. Metode: Penelitian kuantitatif dengan jenis penelitian observasional analitik. Sampel penelitian berjumlah 56 responden pascaoperasi dengan anestesi umum dengan teknik consecutive sampling, pengujian yang digunakan adalah uji Chi-Square.Hasil: Teridentifikasinya karakteristik responden berdasarkan faktor usia pascaoperasi hipotermia dengan anestesi umum yaitu hampir separuh pada rentang usia 46-55 tahun yaitu 40%. Dan mengidentifikasi karakteristik responden berdasarkan faktor jenis kelamin dengan hipotermia pasca operasi dengan anestesi umum yaitu lebih dari separuh responden berjenis kelamin laki-laki yaitu 55%. Ada hubungan antara faktor IMT (p = 0,032) dengan hipotermia, ada hubungan antara lama pembedahan (p = 0,001) dengan hipotermia, ada hubungan antara jenis pembedahan (p = 0,012), ada hubungan ada hubungan antara suhu kamar (p = 0,015) dengan hipotermia pasca anestesi umum, ada hubungan yang teridentifikasi antara faktor penyebab hipotermia pasca operasi (IMT, durasi operasi, jenis operasi, suhu kamar) dengan hipotermia (p = 0,020) . Kesimpulan: Ada hubungan faktor usia, IMT, jenis kelamin, lama pembedahan, jenis pembedahan dan suhu ruangan dengan hipotermia post anestesi umum di RSUD IBS Banten. Saran : Diharapkan peneliti selanjutnya dapat mengembangkan Penelitian ini dengan meneliti lebih lanjut tentang faktor-faktor lain yang berhubungan dengan hipotermia pada klien post operasi dengan anestesi umum, terutama cairan infus yang akan digunakan dan obat anestesi.
The effectiveness of wound caring technique with polyhexamethylene biguanide and dialkyl carbamoyl chloride to healing process duration of diabetic foot ulcer patient Armi Armi; Dewi Fitriani; Mila Sartika; Yana Setiawan
Jurnal Keperawatan Padjadjaran Vol. 11 No. 1 (2023): Jurnal Keperawatan Padjadjaran
Publisher : Faculty of Nursing Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkp.v11i1.2152

Abstract

Background: Antimicrobial dressing on moist-based wound care is a successful wound care technique, especially for diabetes mellitus wounds. The moisture on wound can be made by closed wound care to reach a standard moisture in various wounds. The antimicrobial dressing type that can increase the wound healing is Polyhexamethylene biguanide (PHMB) and Dialkyl carbamoyl chloride (DACC). Polyhexamethylene biguanide can accelerate the tissue granulation and reduce the risk of infection. Dialkyl carbamoyl chloride is a part of moist wound healing with strong hydrophobic threat so the bacteria will be lifted and accelerate the wound healing process.  The aim of this research is to analyze the effect of healing technique  using Polyhexamethylene biguanide and Dialkyl carbamoyl chloride wound healing process on diabetic foot ulcer patients.   Methods: This research was quasi-experimental with 129 respondents.  The instruments were Bates Jensen’s observation sheet and data were processed by double linear regression. Results: It was obtained an average difference between the duration of the wound healing process between PHMB and DACC therapy with a p-value of 0.0005. Conclusion: The use of this type of DACC dressing is more effective against the duration of the healing process of diabetic foot ulcers because of the time needed for DACC to work  on killing bacteria in-vitro in 30 minutes compared to other dressing.
Tantangan Etis Perawat di Era Pandemi COVID-19: Studi Literatur Amelia Nurul Hakim; Uswatun Hasanah; Dewi Fitriani; Ni Bodro Ardi
NURSING ANALYSIS: Journal of Nursing Research Vol 3, No 1 (2023)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Widya Dharma Husada Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Wabah Covid-19 saat ini menjadi pandemi global di seluruh penjuru dunia. Perawat merupakan pekerjaan yang paling sering terpapar penyakit dan infeksi. Wabah Covid-19 menjadikan perawat mengalami perubahan pada pekerjaan dan kehidupannya. Situasi pandemi telah menempatkan para pelayanan kesehatan menghadapi berbagai tantangan etika. Untuk menganalisis gambaran penatalaksanaan caring perawat dalam merawat pasien COVID-19. Metode yang digunakan penelitian ini adalah Meta-Analisis. Data yang digunakan dalam penelitian bersumber dari database publikasi Google Scholar, PubMed, Scopus, MEDLINE, CINAHL. Kriteria yang digunakan adalah penelitian inggris artikel diterbitkan 2021 - 2022, artikel full text. Hasil penelitian menunjukan bahwa Tantangan etika perawat dikategorikan ke dalam tiga bidang tematik: keselamatan perawat, peran dan tekanan moral, alokasi sumber daya, dan hubungan klien-perawat. Dengan demikian, kurangnya perlindungan penuh perawat telah menimbulkan pertanyaan etis seperti sejauh mana tugas mereka, sumber daya yang langka, dan kegagalan alat pelindung diri. Sehubungan dengan itu, sejumlah besar perawat juga menghadapi tekanan moral karena tekanan berkepanjangan untuk mempertahankan sumber daya yang dibutuhkan untuk memberikan asuhan keperawatan yang aman dan berkualitas tinggi.
Implementasi aplikasi m-health model psikoedukasi dalam peningkatan pengetahuan dan kepatuhan minum obat pada pasien tuberkulosis paru Dewi Fitriani; Gilang Rahmatulloh; Firman Yudiatma; Asep Fiqri Hidayat
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 18 No. 10 (2024): Volume 18 Nomor 10
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v18i10.577

Abstract

Background: Many Patient Pulmonary TB sufferers don’t comply with treatment because they feel bored. Pulmonary TB treatment lasts quite a long time so that many sufferers drop out of treatment and experience psychological problems. The importance of strategies and efforts to increase knowledge and compliance with the use of technology. Purpose: To analyze the differences in the implementation of the psychoeducational model m-health application in improving knowledge and compliance in taking medication in pulmonary tuberculosis patients. Method: The research was carried out using a quantitative approach, with a true experimental research design using two control groups with the provision of psychoeducation. Intervention group by providing psychoeducational m-health applications. The total sample size was 140 participants, with details of 70 in the control group and 70 participants in the intervention group at the South Tangerang regional health center. Results: The majority of participants' education was junior high school-high school graduates, in the control group there were 49 participants (70%) and the intervention group there were 46 participants (65.7%). Based on statistical tests, there were differences in the level of knowledge and compliance of the control and intervention groups with a p-value of 0.000 <0.05. Conclusion: There is a difference between the intervention group and the control group. The intervention group using the m-health application of the psychoeducational model has a better level of knowledge and compliance than the control group because it uses the m-health application.   Keywords: Application; Compliance; Knowledge; Psychoeducation; Pulmonary Tuberculosis.   Pendahuluan: Banyak penderita tuberculosis (TB) paru yang tidak patuh terhadap pengobatan karena merasa jenuh. Pengobatan TB paru berlangsung cukup lama sehingga banyak penderita yang putus berobat dan mengalami masalah psikologi. Pentingnya strategi dan upaya dengan peningkatan pengetahuan dan kepatuhan dengan pemanfaatan teknologi. Tujuan: Untuk menganalisis perbedaan implementasi aplikasi m-health model psikoedukasi dalam peningkatan pengetahuan dan kepatuhan minum obat pasien tuberculosis paru. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain true eksperiment menggunakan dua kelompok kontrol pemberian psikoedukasi. Kelompok intervensi dengan pemberian Aplikasi m-health psikoedukasi. Total jumlah sampel 140 partisipan, dengan rincian 70 kelompok kontrol dan 70 partisipan pada kelompok intervensi pada puskesmas wilayah Tangerang Selatan. Hasil: Mayoritas pendidikan partisipan adalah lulusan SMP-SMA, pada kelompok kontrol adalah 49 partisipan (70%) dan kelompok intervensi sebanyak 46 partisipan (65.7%). Berdasarkan uji statistik, terdapat perbedaan tingkat pengetahuan dan kepatuhan kelompok kontrol dan intervensi dengan p-value 0.000 <0.05. Simpulan: Terdapat perbedaan antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol. Kelompok intervensi dengan menggunakan aplikasi m-health model psikoedukasi memiliki tingkat pengetahuan dan kepatuhan yang lebih baik daripada kelompok kontrol.   Kata Kunci: Aplikasi; Kepatuhan; Pengetahuan; Psikoedukasi; Tuberculosis Paru.