Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

KELANGSUNGAN HIDUP BENIH IKAN PATIN (Pangasius hypophthalmus) PADA SISTEM AKUAPONIK DENGAN KEPADATAN TANAMAN AIR YANG BERBEDA Muarofah Ghofur; Muhammad Yusuf Arifin
Jurnal Akuakultur Sungai dan Danau Vol 3, No 2 (2018): Oktober
Publisher : Universitas Batangahari Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (667.626 KB) | DOI: 10.33087/akuakultur.v3i2.32

Abstract

The purpose of this research is to know the optimum plant density of water for the maintenance of fish catfish (P. hypophthalmus) on akuaponik system in order to produce a high fish survival. As for the benefits of this activity is to improve the production results mainlyfrom the  fishery  commodity  fish catfish  (P. hypophthalmus).  This research plan will be implemented in March and July of 2018 in the porch Area Fish Seed Telanaipura the province of Jambi. Research conducted using Complete Random Design environmental design (RAL) with four (4) treatment and three replicates, each treatment are: A treatment: 5 bar/hole, B treatment: 10bar/hole, the treatment C: 15 shaft/hole,  D treatment: 20 bar/hole.  The  research of the parameters observedwere: survival rates of fish and water quality. Keywords: Aquatic plants, fish catfish, akuaponik AbstrakTujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kepadatan optimum tanaman air untuk pemeliharaan ikan patin (P. hypophthalmus) pada sistem akuaponik agar dapat menghasilkan kelangsungan hidup ikan yang tinggi. Adapun manfaat dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan hasil produksi perikanan terutama dari komoditas ikan patin (P. hypophthalmus). Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Maret sampai bulan Juni tahun 2018 di Balai Benih Ikan Daerah Telanaipura Provinsi Jambi. Penelitian yang dilakukan menggunakan rancangan lingkungan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 (empat) perlakuan dan 3 (tiga)  ulangan, masing – masing perlakuan tersebut adalah : perlakuan A : 5 batang/lubang, perlakuan B : 10 batang/lubang, perlakuan C : 15 batang/lubang, perlakuan D : 20 batang/lubang. Parameter penelitian yang diamati adalah: Tingkat Kelangsungan Hidup Ikan dan Kualitas Air. Hasil penelitian yang diperoleh adalah tingkat kelangsungan hidup ikan patin selama dipelihara dengan system akuaponik sebesar 84,68 persen dan hasil pengukuran kualitas air menunjukkan suhu berkisar antara 28,7-31,5, pH berkisar 5-7, oksigen terlarut sekitar 3-7 mg/L dan karbondioksida 0,345-0,803 mg/L. Sedangkan nitrat sebesar 0,005-0,028 mg/L, nitrat berkisar antara 0,12-0,25 mg/L dan amoniak sekitar 0,0111-0,033 mg/L.Kata kunci : tanaman air, ikan patin, akuaponik
PERBEDAAN DEBIT AIR PADA SISTEM RESIRKULASI TERHADAP KELANGSUNGAN HIDUP LARVA IKAN LELE DUMBO (Clarias gariepinus B) Muarofah Ghofur; M Sugihartono; Julianto .
Jurnal Akuakultur Sungai dan Danau Vol 1, No 1 (2016): Oktober
Publisher : Universitas Batangahari Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (662.919 KB) | DOI: 10.33087/akuakultur.v1i1.9

Abstract

AbstractThis study aimed to obtain of survival rate and growth for catfish larvae were mainten in recirculation system with different water discharge . Benefit of this research are increase to aquaculture production especially catfish larvae.The experiment was conducted on March to August 2016 in Regional Technical Implementation Unit Taman Anggrek  Telanaipura Subdistrict of Jambi Province. This study used Random Design Analisys with 4 treatments and 3 replicates respectively treatment A: without circulation (control), treatment B: 10 ml / sec of water, treatment C: 20 ml / sec of water, treatment D: 30 ml / sec of water.The parameter were observated of Survival rate and Water Quality. The data have been obtained were tabulated and analyzed in accordance with the perpose of research, and then analysis of variance (ANOVA) at the 95% confidence interval.The result showed that different water discharge significant effect on survival rate catfish larvae. Percent of best survival rate for catfish larvae amounted to 95.33% at the discharge of water 30 ml / sec (treatment D). Keywords: Water Discharge, Recirculation System, Survival Rate, Catfish AbstrakTujuan penelitian ini adalah mengetahui tingkat kelangsungan hidup dan pertumbuhan larva Ikan Lele Dumbo (C. gariepinus.B) yang dipelihara dalam sistem resirkulasi dengan debit air yang berbeda.  Adapun manfaat dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan hasil produksi perikanan terutama dari komoditas ikan lele dumbo (C.gariepinus.B).Penelitian ini rencananya akan dilaksanakan pada bulan Maret sampai bulan Agustus tahun 2016 di Unit Pelaksana Teknis Daerah Instalasi Taman Angrek Kecamatan Telanaipura Provinsi Jambi. Penelitian yang dilakukan menggunakan rancangan lingkungan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 (empat) perlakuan dan 3 (tiga)  ulangan, masing – masing perlakuan tersebut adalah :perlakuan A : tanpa sirkulasi ( kontrol ), perlakuan B : 10   ml/detik air, perlakuan C : 20   ml/detik air, perlakuan D : 30   ml/detik air.Parameter penelitian yang diamati adalah: Tingkat Kelangsungan Hidup Ikan dan Kualitas Air. Data yang telah diperoleh kemudian ditabulasi dan dianalisis sesuai dengan tujuan penelitian, kemudian dilakukan analisis ragam (ANOVA) pada selang kepercayaan 95%.Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan debit air memberikan pengaruh nyata terhadap kelangsungan hidup larva ikan lele dumbo. Persentase kelangsungan hidup yang terbaik untuk larva ikan lele dumbo adalah sebesar 95,33 % pada debit air 30 ml/detik (perlakuan D). Kata kunci : Debit Air, Sistem Resirkulasi, Kelangsungan Hidup, Ikan Lele Dumbo
LAMA WAKTU DAN PERKEMBANGAN TELUR IKAN PATIN SIAM (Pangasius hypophtalmus) DALAM CORONG PENETASAN DENGAN KEPADATAN YANG BERBEDA Donly Sitinjak; Muhammad Sugihartono; Muarofah Ghofur
Jurnal Akuakultur Sungai dan Danau Vol 4, No 1 (2019): April
Publisher : Universitas Batangahari Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (735.134 KB) | DOI: 10.33087/akuakultur.v4i1.42

Abstract

Ikan patin adalah salah satu komiditi ikan air tawar introduksi dari Thailand yang pesat perkembangan budidayanya di Indonesia (Hamid dan Setyowibowo, 2010). Banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan pada masa pembenihan, salah satunya adalah tingkat kepadatan telur pada saat penetasan, kepadatan yang tinggi dapat menyebabkan rendahnya daya tetas dan lambatnya fase perkembangan telur, hal ini disebabkan karena semakin tinggi kepadatan telur maka semakin sempit/kecil kesempatan embrio telur untuk berkembang hal ini bisa menghambat perkembangan telur (Marzuki, 2013). Adapun manfaaf dari kegiatan ini adalah meningkatkan hasil produksi perikanan terutama dari komuditas ikan patin melalui penggunaan teknologi budidaya yang tepat. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan maret-april tahun 2018 di di UPR (Unit Pembenihan Rakyat)  Kenali Besar. Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap ( RAL ) dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan, dimana masing-masing perlakuan tersebut adalah : perlakuan A 1000 butir/liter, perlakuan B 1200 butir/liter, perlakuan C 1400 butir/liter dan perlakuan D 1600 butir/liter. Parameter yang diamati adalah : Lama waktu penetasan, Morfologi telur dan kualitas air. Hasil penelitian yang diperoleh untuk perlakuan terbaik lama waktu penetasan adalah perlakuan B 25,35 jam, morfologi telur diapatkan dari warna dan ukuran setiap perlkuan tidak berbeda.
KELANGSUNGAN HIDUP BENIH IKAN BETOK (Anabas testudineus, BL) DENGAN DEBIT AIR YANG BERBEDA PADA SISTEM RESIRKULASI Azrianto Azrianto; Muhammad Sugihartono; Muarofah Ghofur
Jurnal Akuakultur Sungai dan Danau Vol 3, No 1 (2018): April
Publisher : Universitas Batangahari Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (296.614 KB) | DOI: 10.33087/akuakultur.v3i1.23

Abstract

Fish betok (Anabas testudineus, BL) is a type of fish that live and breed naturally, especially in the swamps of Lebak on the island of Sumatra and Kalimantan. The fish is an important type of fish in public waters. In general, the price of fish cake in Indonesia ranges from Rp 20.000,00 to Rp 40.000,00 per kg for that there needs to be efforts to increase production. The purpose of this research is to know the optimum water discharge rate for survival and growth of fish seeds of betok. This study used four differents water discharge rates, without water discharge, 10 ml / sec, 20 ml / sec and 30 ml / sec. The fish seeds are then stocked into an aquarium with a water volume of 49 liters with a density of 2-tail fish / liter. The results showed that the water discharge rate of 30 ml / sec gave the best survival rate and growth of the best fish seeds.  AbstrakIkan betok (Anabas testudineus, BL) merupakan jenis ikan yang hidup dan berkembang biak secara alami terutama di rawa lebak di Pulau Sumatera dan Kalimantan. Ikan betok merupakan jenis ikan ekonomis penting di perairan umum. Secara umum harga ikan betok di Indonesia berkisar antara Rp 20.000,00 sampai Rp 40.000,00 per kg untuk itu perlu ada upaya penimgkatan produksi. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui debit air yang optimal untuk kelangsungan hidup dan pertumbuhan benih ikan betok. Penelitian ini menggunakan 4 perlakuan laju debit air yang berbeda yaitu tanpa debit air, 10 ml/detik, 20 ml/detik dan 30 ml/detik. Benih ikan betok kemudian ditebar ke dalam akuarium dengan volume air sebanyak 49 liter dengan kepadatan benih ikan betok 2 ekor/liter. Hasil penelitian menunjukkan bahwa laju debit air sebanyak 30 ml/detik memberikan tingkat kelangsungan hidup benih ikan betok terbaik.  Kata Kunci : Benih betok, sistem resirkulasi, debit air, kelangsungan hidup, kualitas air
Fekunditas Ikan Betok (A. testudineus. Bloch) Yang diinduksi dengan hCG dan Hipofisa Ayam Broiler Melsy Apriadyanti; Muhammad Sugihartono; Muarofah Ghofur
Jurnal Akuakultur Sungai dan Danau Vol 7, No 1 (2022): April
Publisher : Universitas Batangahari Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33087/akuakultur.v7i1.127

Abstract

This study aims to determine the effect of ovulation response on betok fish (A. testudeineus, Bloch) using the combination of the hormone hCG and hypophysis of broiler chickens, this study used a completely randomized design (CRD) with 5 treatments and 3 replications. Where each treatment is given an injection dose: Treatment A: hCG hormone 0.3 ml/kg (100%). Treatment B: 0.225 ml/kg (75%) hCG hormone + 125 ml/kg (25%). Treatment C : 0.15 ml/kg (50%) hCG hormone + 250 ml/kg (50%) broiler hypophysis. Treatment D : Hormone hCG 0.075 ml/kg (25%) + Hypophysis broiler chicken 375 ml/kg (75%). Treatment E: Hypophysis broiler chicken 500 ml/kg (100%). The results showed that the fekundity was 30.552 eggs.
SUHU OPTIMAL UNTUK KELANGSUNGAN HIDUP PEMELIHARAAN LARVA IKAN BOTIA (Chromobotia macrachantus) Muarofah Ghofur; Muhammad Sugihartono; Husna Daya Aulia
Jurnal Akuakultur Sungai dan Danau Vol 3, No 2 (2018): Oktober
Publisher : Universitas Batangahari Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (562.168 KB) | DOI: 10.33087/akuakultur.v3i2.34

Abstract

Temperature is one of the most dominant water quality parameters on the survival of fish, and almost every living organism has the optimum temperature for its life. One of the obstacles in the cultivation activity is the high level of death in the most critical phase of the larvae so that the handling and carrying capacity of optimal environmental conditions can minimize the death of the larvae as well as the extreme temperature changes will also cause higher death rates of larvae. In the maintenance effort, the quality and quantity of the resulting larva becomes an important factor, as the success of production support to reach the next phase. Therefore, to find out the larval synthesis is done research about the optimum temperature with treatment temperature 240C, 260C, 280C and 300C to the survival of maintenance of botia larvae (Chromobotia macrachantus). The water quality parameters of CO2, NH3, DO, and pH are carried out at the beginning and end of the study for 28 days. The results showed that the highest survival rate at temperature treatment 240C and 260C with a value of 100%.Keywords : Botia Larvae, Temperature, Survival Rate AbstrakSuhu merupakan salah satu parameter kualitas air yang sangat dominan terhadap kelangsungan hidup ikan, dan hampir setiap organisme yang hidup didalamnya memiliki suhu optimum untuk kehidupannya. Salah satu kendala dalam kegiatan budidaya adalah tingginya tingkat kematian pada fase paling kritis yaitu larva sehingga penanganan dan daya dukung kondisi lingkungan yang optimal dapat meminimalisir kematian larva demikian pula dengan perubahan suhu yang ekstrim juga akan menyebabkan tingkat kematian larva semakin tinggi. Dalam upaya pemeliharaan, kualitas dan kuantitas larva yang dihasilkan menjadi faktor penting, sebagai penunjang keberhasilan produksi  hingga mencapai fase selanjutnya. Oleh karena itu, untuk mengetahui sintasan larva dilakukan penelitian mengenai suhu optimal dengan suhu perlakuan 240C, 260C, 280C dan 300C terhadap kelangsungan hidup pemeliharaan larva ikan botia (Chromobotia macrachantus). Parameter kualitas air yitu CO2, NH3, DO, dan pH dilakukan pada awal dan akhir penelitian yang dilakukan selama 28 hari. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kelangsungan hidup tertinggi pada perlakuan suhu 240C dan 260C dengan nilai sebesar 100%.Kata Kunci : Larva Botia, Suhu,Tingkat Kelangsungan Hidup
KELANSUNGAN HIDUP LARVA IKAN PATIN SIAM (Pangasius hypopthalmus) HASIL PENETASAN TELUR YANG DIRENDAM EKSTRAK DAUN TEH Muhlis Muhlis; Muarofah Ghofur; Muhammad Sugihartono
Jurnal Akuakultur Sungai dan Danau Vol 4, No 1 (2019): April
Publisher : Universitas Batangahari Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (467.648 KB) | DOI: 10.33087/akuakultur.v4i1.46

Abstract

Ikan patin siam adalah jenis ikan yang secara taksonomi termasuk species Pangasius  hypophthalmus yang hidup di perairan tropis Indo Pasific SNI (2000).   Di Indonesia ikan patin mempunyai prospek yang baik dalam pemasaran, karena mempunyai nilai ekonomis yang tinggi  baik pada tingkat benih sebagai ikan hias maupun pada tingkat dewasa sebagai ikan konsumsi. Adapun salah satu penghambat keberhasilan dalam usaha budidaya ikan patin siam (P.  hypophthalmus) adalah serangan penyakit baik pada ikan dewasa, benih, bahkan pada fase telur. Daun teh mengandung senyawa antibakteri dan jamur yaitu tanin dan flavonoid yang mampu menghambat seranggan bakteri dan jamur (Martono dan Setiyono, 2014). Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat kepada pembenih dengan cara pemanfaatan ekstrak daun teh (C.  sinensis) yang diberikan pada telur ikan patin siam (P.  hypohthalmus ) sebagai antibakteri pada proses penetasan telur ikan patin siam (P.  hypohthalmus). Kegiatan penelitian ini dilakukan di unit pembenihan rakyat (UPR) kenali besar kota jambi yang  dilaksanakan selama 1 bulan. Rencana Penelitian ini menggunakan rancangan lingkungan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 ulanagan, dengan masing-masing perlakuan tersebut adalah : (Perlakuan A) Konsentrasi 0,4 ml/L, (Perlakuan B) Konsentrasi 0,6 ml/L, (Perlakuan C) Konsentrasi 0,8 ml/L, (Perlakuan D) Konsentrasi 0 ml/L. Parameter yang diamati adalah : Tingkat kelansungan hidup larva dan kualitas air. Hasil penelitian yang diperoleh untuk perlakuan terbaik didapat pada perlakuan B dengan persentase sebesar 89,27%.
KINERJA PRODUKSI IKAN BOTIA (Chromobotia macracanthus) PADAT TEBAR TINGGI DENGAN SISTEM RESIRKULASI Muarofah Ghofur; Eko Harianto
Jurnal Akuakultur Sungai dan Danau Vol 3, No 1 (2018): April
Publisher : Universitas Batangahari Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (232.233 KB) | DOI: 10.33087/akuakultur.v3i1.25

Abstract

ABSTRACTCultivation technology and systems development   especially on the breedstock phase with a focus of study is the density of the initial activities in determining the degree of success of the cultivation. This research aims to determine the performance of fish production botia (c. Macracanthus Bleeker) with dense stocking 2 e/L, 3 L, and e/e/4 L on recirculation systems as a basis for increased productivity of biomass. Long-term goals to be achieved the creation of a technologypackage pendederan botia fish skalla bulk production to support  the fish are botia Jambi. Maintenance carried out for 3 months with a target size of botia fish scale market. Cultivation of technical indicators that measure in  among others,the degree of viability (DKH), specific growth rate (LPS),  feed conversion (KP), keefesien the diversity of weights (KK) and water quality. The results showed that the degree of viability (DKH) best of 91.67% (treatment A), specific growth rate (LPS) of 9.75 (treatment B),the value of the feed conversion (KP) in A treatment of 1.3 and koefesien diversity of  weights  (KK) highest of 112.67 treatment b. While for water quality data are all in the normal range, the temperature is 28oC, d.o. 5.5 – 7.5 mg/L, CO2 0.5423 – 0.7657 mg NH3/L, 0.0011 – 0.0019 mg/L, and a pH range from 6.68 – 7.89.Keyword: Fish Are Botia, Dense Stocking, Production, Recirculation ABSTRAK Pengembangan sistem dan teknologi budidaya terutama pada fase pendederan dengan fokus kajian kepadatan merupakan kegiatan awal dalam menentukan tingkat keberhasilan budidaya.  Penelitian ini bertujuan untuk menetukan kinerja produksi ikan botia  (C. Macracanthus Bleeker) dengan padat tebar 2 e/L,  3 e/L, dan 4 e/L pada sistem resirkulasi sebagai dasar peningkatan produktivitas biomassa. Tujuan jangka panjang yang ingin dicapai terciptanya paket teknologi pendederan ikan botia skalla massal untuk mendukung produksi ikan botia Jambi. Pemeliharaan dilakukan selama 3 bulan dengan target ukuran ikan botia skala pasar. Indikator teknis budidaya yang di ukur antara lain, derajat kelangsungan hidup (DKH), laju pertumbuhan spesifik (LPS), konversi pakan (KP), keefesien keragaman bobot (KK) dan kualitas air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa derajat kelangsungan hidup (DKH) terbaik sebesar 91.67% (perlakuan A), laju pertumbuhan spesifik (LPS) sebesar 9,75 (perlakuan B), nilai konversi pakan (KP) terbaik pada perlakuan A sebesar 1,3 dan koefesien keragaman bobot (KK)  tertinggi sebesar 112,67 pada perlakuan B. Sedangkan untuk data kualitas air semuanya dalam kisaran normal, suhu 28oC, DO 5,5 – 7,5 mg/L, CO2 0,5423 – 0,7657 mg/L, NH3 0,0011 – 0,0019 mg/L, dan pH berkisar 6,68 – 7,89.   Keyword         :  Ikan Botia, Padat Tebar, Produksi, Resirkulasi
DAMPAK PEMBERIAN TEPUNG ECENG GONDOK (Eichhornia crassipes) DALAM PAKAN BUATAN BAGI PERUBAHAN WARNA DAN KELANGSUNGAN HIDUP IKAN MAS KOKI (Carassius auratus) Syahrizal Syahrizal; Muarofah Ghofur; Ardi Aljumrada
Jurnal Akuakultur Sungai dan Danau Vol 2, No 2 (2017): Oktober
Publisher : Universitas Batangahari Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (622.567 KB) | DOI: 10.33087/akuakultur.v2i2.20

Abstract

Efforts to improve the quality of ornamental fish other than manipulate its genetic material we can add supplements at pakannya containing pigments or dyes, so that it can increase the brilliance of the color quality of ornamental fish. One type of fish community of interest is a carp of the chef because of the prominence of the shape and colour of its body. The method of research done using Random Design is complete with 3 replicates IE A = without adding flour water hyacinth (control), B = addition of flour water hyacinth 100 g/Kg Feed, C = Artificial addition of flour 200 hyacinth g/Kg Feed Artificial and D = addition of flour water hyacinth 300 g/Kg Feed. From the results of research that has been done is obtained that addition of carotenoids that are derived from the flour water hyacinth (Eichhornia crassipes) on artificial feed gives influence on color change and the growth of Goldfish chef. Color change obtained for each treatment is A Treatment: 0.41, 1.18, B: C: and D: 1.34 1.65. The highest color changes occur in the treatment of D of 1.65. The absolute weights of the CARP growth chef every treatment is A: 29.31, B: 30.10, C: and D: 28.64 28.07 and highest in treatment B of 30.10 grams and the survival rate of 100%.Keywords : Water hyacinth, artificial feeding, carp cooksUsaha untuk meningkatkan kualitas dari ikan hias selain dari memanipulasi genetiknya kita dapat menambahkan bahan suplemen pada pakannya yang mengandung pigmen atau pewarna, sehingga dapat meningkatkan kecemerlangan kualitas warna ikan hias tersebut. Salah satu jenis ikan hias yang diminati masyarakat adalah ikan mas koki karena keunggulan bentuk dan warna tubuhnya. Metode penelitian yang dilakukan adalah menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan 3 ulangan yaitu A = tanpa penambahan tepung eceng gondok (kontrol),  B = Penambahan tepung eceng gondok 100 gram/Kg Pakan Buatan, C = Penambahan tepung eceng gondok 200 gram/Kg Pakan Buatan dan D = Penambahan tepung eceng gondok 300 gram/Kg Pakan Buatan. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan didapatkan bahwa penambahan karotenoid yang berasal dari tepung eceng gondok (Eichhornia crassipes) pada pakan buatan memberikan pengaruh terhadap perubahan warna dan pertumbuhan ikan mas koki. Perubahan warna yang didapat tiap perlakuan adalah Perlakuan A : 0,41, B : 1,18, C : 1,34 dan D : 1,65. Perubahan warna tertinggi terdapat di perlakuan D sebesar 1,65. Pertumbuhan bobot mutlak ikan mas koki setiap perlakuan adalah A : 29,31, B : 30.10, C : 28,64, dan D :28,07 dan tertinggi di perlakuan B sebesar 30,10 gram dan tingkat kelangsungan hidup sebesar 100%.Kata Kunci : Enceng gondok, pakan buatan, ikan mas koki
KOMBINASI HORMON OVAPRIM DENGAN EKSTRAK HIPOFISA AYAM SBROILER TERHADAP WAKTU LATENSI OVULASI (Hatching Rate) IKAN LELE SANGKURIANG (Clarias gariepinus var. sangkuriang) Aan Aryanti Sandra; Muhammad Sugihartono; Muarofah Ghofur
Jurnal Akuakultur Sungai dan Danau Vol 5, No 1 (2020): April
Publisher : Universitas Batangahari Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33087/akuakultur.v5i1.60

Abstract

Ikan lele sangkuriang (Clarias gariepinus var. sangkuriang) Merupakan salah satu ikan air tawar yang banyak dikonsumsi dan dibudidayakan di Indonesia (Pratiwi, 2014). Untuk meningkatkan produksi ikan lele dapat dilakukan dengan cara menerapkan teknik Pemijahan buatan. Pemijahan buatan bisa dilakukan dengan perangsangan menggunakan hormon berupa Ovaprim. Ovaprim memiliki kandungan GnRH dan antidopamine. Namun, Hormon ovaprim ini memiliki harga yang mahal yaitu berkisar antara Rp 28.000- 30.000/ml, sehingga perlu dipelajari alternatif bahan dengan menggunakan hipofisa ayam broiler. Rancangan penelitian yang dilakukan menggunakan model Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 5 perlakuan dan 3 kali ulangan, masing-masing perlakuan tersebut adalah Perlakuan P1 Hormon Ovaprim 0,3 ml/Kg (100%), Perlakuan P2 Hormon Ovaprim 0,225 ml/Kg (75%) + Hipofisa ayam broiler 125 mg/Kg (25%), Perlakuan P3 Hormon Ovaprim 0,15 ml/Kg (50%) + Hipofisa ayam broiler 250 mg/Kg (50%), Perlakuan P4 Hormon Ovaprim 0,075 ml/Kg (25%) + Hipofisa ayam broiler 375 mg/Kg (75%), Perlakuan P5 Hipofisa ayam Broiler 500 mg/Kg (100%).Kata Kunci : Ovaprim, Antidopamin, GnRH, Hipofisa, Pemijahan