Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU PERSIT KARTIKA CHANDRA KIRANA TENTANG KANKER SERVIKS DENGAN PRAKTIK PAPSMEAR DI YONIF 407 TEGAL Ike Putri Setyatama; Siti Erniyati Berkah Pamuji; Tri Agustina Hadiningsih
Bhamada: Jurnal Ilmu dan Teknologi Kesehatan (E-Journal) Vol 6 No 2 (2015)
Publisher : STIKES BHAMADA SLAWI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kanker Leher Rahim (kanker serviks) merupakan sebuah tumor ganas yang tumbuh di dalam leher rahim/serviks. Kanker serviks ini sering muncul pada perempuan usia 35-55 tahun. Tingginya tingkat kematian akibat kanker terutama di Indonesia antara lain disebabkan karena terbatasnya pengetahuan masyarakat tentang bahaya kanker, faktor-faktor resiko terkena kanker, cara penanggulangannya secara benar serta membiasakan diri dengan pola hidup sehat. Kegiatan penelitian dilaksanakan di Batalyon TNI AD 407 melibatkan Persit (Persatuan Istri Prajurit) Kartika Chandra Kirana. Hasil survei awal yang dilakukan peneliti pada Persit Kartika Chandra Kirana Batalyon TNI AD 407 Tegal, banyak yang belum mengetahui tentang kanker serviks, berada di lingkungan perokok aktif, dan banyak yang mengalami keputihan, serta berada diusia yang rentan terkena kanker serviks, dimana hal-hal tersebut merupakan faktor risiko terjadinya kanker serviks. Jenis penelitian survey pendekatan cross sectional. Jumlah sampel 40. Analisis data secara univariat, bivariat dengan menggunakan uji Chi Square. Hasil penelitian menunjukkan karakteristik responden berdasarkan umur responden paling banyak berusia antara 20-35 tahun yaitu 87,5%. Pendidikan terakhir responden yang paling banyak adalah tamat SMA/Sederajat 75%. Paritas responden sebagian besar adalah primipara 52,5%. Sebagian besar pengetahuan responden tentang kanker servik dikategorikan baik. Pelaksanaan papsmear oleh ibu-ibu Persatuan Istri Tentara Batalyon Infanteri Angkatan Darat 407 Tegal menunjukkan bahwa sebagian besar ibu-ibu Persit telah melakukan papsmear. Hasil analisis bivariat dengan Chi Square, terdapat hubungan antara pengetahuan dengan praktik pelaksanaan papsmear.
HUBUNGAN ANTARA USIA IBU DENGAN INVOLUSI UTERI PADA IBU POSTPARTUM Siti Erniyati Berkah Pamuji; Tri Jaka Kartana
Bhamada: Jurnal Ilmu dan Teknologi Kesehatan (E-Journal) Vol 6 No 2 (2015)
Publisher : STIKES BHAMADA SLAWI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Proses involusi uterus adalah kembalinya uterus kedalam keadaan sebelum hamil setelah melahirkan. Proses ini di mulai segera setelah plasenta keluar akibat kontraksi otot-otot polos uterus. Salah satu komponen involusi adalah penurunan fundus uteri. Kecepatan involusi uteri dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain usia ibu, jumlah anak yang dilahirkan (paritas), menyusui eksklusif dan mobilisasi dini. Angka Kematian Ibu (AKI) di Kabupaten Tegal pada tahun 2014 sebesar 190,97/ 100.000 kelahiran hidup (51 kematian ibu maternal dari 26.705 kelahiran hidup), kematian ibu pada saat persalinan sejumlah 26 (50,9%) dari 51 kematian ibu maternal, disusul kemudian pada waktu hamil sebesar 13 (25,49%) dari 51 kematian ibu maternal dan pada waktu nifas sebesar 12 (23,52%) dari 51 kematian ibu maternal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Hubungan Antara Usia Ibu dengan Involusi Uteri pada Ibu Postpartum di BPS Wilayah Puskesmas Slawi Kabupaten Tegal. Jenis penelitian analitik observasional dengan desain cross sectional. Jumlah sampel 27. Analisis data bivariat dengan chi square, didapatkan hasil bahwa usia ibu postpartum < 20 tahun seluruhnya mengalami proses involusi uteri yang cepat, ibu postpartum yang dalam usia reproduksi sehat (20-35 tahun) involusinya sebagian besar berjalan dengan cepat, sedangkan ibu postpartum usia >35 tahun involusinya sebagian besar berjalan dengan lambat. Hasil perhitungan statistik menggunakan uji chi square diperoleh kesimpulan bahwa tidak ada hubungan antara usia ibu dengan involusi uteri pada ibu postpartum di Bidan Praktek Swasta Puskesmas Slawi ( p value 0,381 > α = 0,05).
PENGARUH KOMBINASI METODE PIJAT WOOLWICH DAN ENDORPHINE TERHADAP KADAR HORMON PROLAKTIN DAN VOLUME ASI (STUDI PADA IBU POSTPARTUM DI GRIYA HAMIL SEHAT MEJASEM KABUPATEN TEGAL) Siti Erniyati Berkah Pamuji; Supriyana Supriyana; Sri Rahayu; Suhartono Suhartono
Bhamada: Jurnal Ilmu dan Teknologi Kesehatan (E-Journal) Vol 5 No 1 (2014)
Publisher : STIKES BHAMADA SLAWI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Laktasi adalah keseluruhan proses produksi dan pengeluaran ASI. Laktasi terjadi dibawah pengaruh berbagai kelenjar endokrin, terutama hormon-hormon hipofisis prolaktin dan oksitosin. Gangguan pada laktasi terjadi karena berbagai faktor diantaranya faktor bayi, ibu dan lingkungan yang dapat berpengaruh pada peningkatan kadar hormon prolaktin dan volume ASI. Cakupan ASI Eksklusif Kabupaten Tegal pada tahun 2011 hanya 47,9%, target pencapaian ASI Ekslusif sebesar 80%. Salah satu upaya peningkatan laktasi pada ibu postpartum dengan kombinasi metode pijat woolwich dan endorphine. Tujuan penelitian untuk membuktikan perbedaan pengaruh kombinasi metode pijat woolwich dan endorphine terhadap kadar hormon prolaktin dan volume ASI. Jenis penelitian quasy-experiment rancangan non randomized controlled trial design pretest posttes control group. Jumlah sampel 20. Analisis data secara univariat, bivariat dengan independent t test, wilcoxon signed rank test dan mann whitney test. Hasil penelitian berdasarkan analisis bivariat menunjukkan rata – rata kadar hormon prolaktin pada kelompok intervensi 103,80 ng/ml, sd 12,60 ng/ml dan rata-rata volume ASI kelompok intervensi 17,40 cc, sd 6,91 cc . Kelompok kontrol rata – rata 60,90 ng/ml, sd 41,45 ng/ml dan rata-rata volume ASI kelompok kontrol 0,60 cc, sd 0,84 cc, p value kadar hormon prolaktin 0,034 sedangkan p value volume ASI 0,000 (p value < α 0,05) artinya ada perbedaan bermakna rata rata kadar hormon prolaktin dan volume ASI pada kelompok intervensi dan kelompik kontrol. Kombinasi metode pijat woolwich dan endorphine berpengaruh terhadap peningkatan kadar hormon prolaktin dan volume ASI ibu postpartum. Diperlukan sosialisasi, pelatihan, dukungan serta penerapan program manajemen laktasi dalam kunjungan masa nifas (KF) tentang terapi komplementer kombinasi metode pijat woolwich dan endorphine terhadap peningkatan kadar hormon prolaktin dan volume ASI. Kata kunci : Pijat woolwich dan endorphine, kadar hormon prolaktin, volume ASI
FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN PENGETAHUAN IBU NIFAS TENTANG TANDA BAHAYA NIFAS DI WILAYAH PUSKESMAS PANGKAH KABUPATEN TEGAL Siti Erniyati Berkah Pamuji; Yuni Fitriani; Masturoh .
Bhamada: Jurnal Ilmu dan Teknologi Kesehatan (E-Journal) Vol 10 No 1 (2019)
Publisher : STIKES BHAMADA SLAWI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36308/jik.v10i1.119

Abstract

Masa nifas adalah masa setelah melahirkan selama 6 minggu atau 40 hari. Prosesini dimulai setelah selesainya persalinan dan berakhir setelah alat-alat reproduksikembali seperti keadaan sebelum hamil/tidak hamil. Selama waktu tersebut padaseorang ibu nifas seringkali terjadi masalah tanda-tanda bahaya masa nifas diantaranyaperdarahan post partum, lochea yang berbau busuk, subinvolusi uterus, nyeri pada perutdan pelvis, pusing yang berlebihan, suhu tubuh ibu >38˚C, mastitis, baby blues dandepresi postpartum. Data Dinas Kesehatan Kabupaten Tegal, angka kematian ibu diKabupaten Tegal pada tahun 2015 sebanyak 33 orang, 5 orang (15,15%) meninggalpada masa hamil, 10 orang (30,30%) meninggal pada saat persalinan dan 18 orang (54,55%) meninggal pada masa nifas. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahuifaktor-faktor yang berhubungan dengan pengetahuan ibu nifas tentang tanda bahayanifas di Puskesmas Pangkah Kabupaten Tegal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan antara faktor umur,pendidikan, pengalaman melahiran dan keterpaparan informasi terhadap pengetahuanibu nifas tentang tanda bahaya nifas. Faktor pendidikan memiliki hubungan yang eratdengan pengetahuan ibu nifas, sedangkan faktor pengalaman melahirkan, keterpaparaninformasi memiliki hubungan yang sedang dengan pengetahuan ibu nifas. Faktorpekerjaan hampir tidak berhubungan dengan pengetahuan ibu nifas. Diharapkan ibunifas meningkatkan pengetahuan dalam perawatan masa nifas, meningkatkankemampuan dalam melakukan deteksi dini tanda bahaya nifas dan faktor resikonya sertasegera melakukan pemeriksaan ke tenaga kesehatan bila menemukan tanda bahayasehingga tidak terlambat dalam penatalaksanaannya.
PENGARUH HYPNOLACTATION TERHADAP PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DI GRIYA HAMIL SEHAT MEJASEM KABUPATEN TEGAL Siti Erniyati Berkah Pamuji; Tri Agustina Hadiningsih
Bhamada: Jurnal Ilmu dan Teknologi Kesehatan (E-Journal) Vol 8 No 1 (2017)
Publisher : STIKES BHAMADA SLAWI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pemberian ASI selama 6 bulan tanpa tambahan makanan apapun atau lazim disebut ASI eksklusif terbukti dapat meningkatkan perlindungan terhadap infeksi sampai beberapa tahun setelah penghentian menyusui. Studi kohort selama 14 tahun menunjukkan semakin lama bayi menyusu, semakin berkurang gangguan mental pada anak dan remaja. Gangguan pada pemberian ASI terjadi karena berbagai faktor diantaranya faktor bayi, ibu dan lingkungan. Berdasarkan data dari Departemen Kesehatan pada pekan ASI tahun 2013 cakupan ASI eksklusif di Indonesia pada tahun 2010 adalah 61,3%, meningkat menjadi 61,5%, pada tahun 2011 dan mengalami penurunan pada tahun 2012 menjadi 61,1%, sedangkan target nasional cakupan ASI Eksklusif pada tahun 2012 yaitu 80%. Di Propinsi Jawa Tengah cakupan pemberian ASI Eksklusif tahun 2012 hanya 49,46%, sedangkan di Kabupaten Tegal 67%. Untuk mencegah dan menangani masalah pemberian ASI/ laktasi tersebut, maka dimungkinkan sebuah intervensi yaitu metode hypnolactation. Metode ini dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan refleks prolaktin dan refleks oksitosin (let down refleks). Metode ini adalah metode terbaru yang sangat baik untuk membangun niat positif dan motivasi dalam menyusui serta mampu memaksimalkan kuantitas dan kualitas ASI. Jadi, proses menyusui dapat berlangsung nyaman karena ibu merekam pikiran bawah sadar bahwa menyusui adalah proses alamiah dan nyaman. Sehingga, dasar dalam melakukan hypno-lactation adalah relaksasi yang dicapai bila jiwa raga berada dalam kondisi tenang. Dari hasil penelitian ini, diketahui ada perbedaan pengaruh hypnolactation terhadap pemberian ASI eksklusif pada kelompok kontrol dan kelompok intervensi (p value (0,004) < α (0,05)).
PERBEDAAN CAPAIAN AKSEPTOR KB DI KABUPATEN TEGAL SEBELUM DAN SESUDAH PENCANANGAN KAMPUNG KB Tri Agustina Hadiningsih; Siti Erniyati Berkah Pamuji; Adrestia Rifki
Bhamada: Jurnal Ilmu dan Teknologi Kesehatan (E-Journal) Vol 12 No 2 (2021)
Publisher : STIKES BHAMADA SLAWI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36308/jik.v12i2.308

Abstract

Jumlah penduduk Kabupaten Tegal dari tahun 2014-2016 mengalami peningkatan. Pertambahan penduduk Kabupaten tegal dari tahun 2014 sampai dengan tahun 2016 sebesar 9.280 jiwa. Untuk menekan peningkatan jumlah penduduk, pemerintah melakukan beberapa strategi diantaranya adalah penerapan model kampung keluarga berencana dalam peningkatan keefektifan program keluarga berencana. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis perbedaan capaian akseptor KB di Kabupaten Tegal sebelum dan sesudah pencanangan Kampung KB. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif analitik, yaitu mendeskripsikan capaian akseptor KB sebelum dan sesudah pencanangan program Kampung KB. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh PUS di Kabupaten Tegal tahun 2016 dan tahun 2020. Teknik pengambilan sample dengan total sampling pada PUS di Kabupaten Tegal tahun 2016 dan 2020. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi perbedaan capaian akseptor KB sebelum dan sesudah pencanangan Kampung KB di Kabupaten Tegal. Capaian akseptor KB tahun 2016 (pencangangan Kampung KB) sebanyak 69,13% dari keseluruhan jumlah PUS yaitu 22.581. Sedangkan capaian akseptor KB tahun 2020 sebanyak 64,52% dari keseluruhan jumlah PUS yaitu 45.466. Hal ini menunjukkan bahwa capaian akseptor KB sebelum pencanangan lebih banyak dibandingkan sesudah pencanangan kampung KB. Sehingga perlu dievaluasi kembali keefektifan program Kampung KB dalam upaya meningkatkan capaian akseptor KB.
Path Analisis : Tiga Keterlambatan Penyebab Kematian Maternal Di Kabupaten Brebes Masturoh Masturoh; Siti Erniyati Berkah Pamuji; Siswati Siswati
Pena Medika Jurnal Kesehatan Vol 8, No 1 (2018): PENA MEDIKA JURNAL KESEHATAN
Publisher : Universitas Pekalongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31941/pmjk.v8i1.744

Abstract

Angka kematian ibu (AKI) merupakan salah satu indikator status kesehatan. Angka kematian ibu merupakan jumlah kematian ibu pada tahun tertentu dan daerah tertentu per 100.000 kelahiran hidup. Indonesia adalah  negara berkembang dengan AKI yang masih tinggi. Berdasarkan data SDKI penurunan AKI di Indonesia terjadi sejak tahun 1991 sampai dengan 2007, yaitu dari 390/100.000 KH menjadi 228/100.000 KH. Namun demikian, SDKI tahun 2012 menunjukkan peningkatan AKI yang signifikan yaitu menjadi 359 kematian ibu per 100.000 kelahiran hidup. AKI kembali menujukkan penurunan menjadi 305 kematian ibu per 100.000 kelahiran hidup berdasarkan hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) tahun 2015.Subjek dan metods jenis penelitian adalah observasional dengan case control study dengan perbandingan 1:2, 54 kasus dan 108 kontrol. Penelitian ini dilakukan di Kabupaten Brebes, Provinsi Jawa Tengah, dilakukan dari bulan Februari samapi Maret 2017. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat menggunakan chi square yang dilanjutkan dengan analisis jalur (path analysis).Hasil Hasil dari penelitian ini faktor keterlambatan yang mempengaruhi kematian maternal adalah pengetahuan tentang tanda bahaya kehamilan, persalinan dan nifas (OR = 17,2; CI 95%= 7,6 – 39,1; p = < 0.001), pengambilan keputusan (OR = 124.2; CI95% = 33.83 – 456.14; p = <0.001), transportasi (b = 18.19; CI95% = -1.65 – 1.65; p = 1.000), dan penanganan di tempat rujukan (b = 35.69; CI95% = -1.65 – 1.65; p = 1.000).Kata Kunci : kematian maternal, path analisis
HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN IBU PERSIT KARTIKA CHANDRA KIRANA TENTANG KANKER SERVIKS DENGAN PRAKTIK PAPSMEAR DI YONIF 407 TEGAL Ike Putri Setyatama; Siti Erniyati Berkah Pamuji; Tri Agustina Hadiningsih
Bhamada: Jurnal Ilmu dan Teknologi Kesehatan (E-Journal) Vol 6 No 2 (2015)
Publisher : UNIVERSITAS BHAMADA SLAWI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kanker Leher Rahim (kanker serviks) merupakan sebuah tumor ganas yang tumbuh di dalam leher rahim/serviks. Kanker serviks ini sering muncul pada perempuan usia 35-55 tahun. Tingginya tingkat kematian akibat kanker terutama di Indonesia antara lain disebabkan karena terbatasnya pengetahuan masyarakat tentang bahaya kanker, faktor-faktor resiko terkena kanker, cara penanggulangannya secara benar serta membiasakan diri dengan pola hidup sehat. Kegiatan penelitian dilaksanakan di Batalyon TNI AD 407 melibatkan Persit (Persatuan Istri Prajurit) Kartika Chandra Kirana. Hasil survei awal yang dilakukan peneliti pada Persit Kartika Chandra Kirana Batalyon TNI AD 407 Tegal, banyak yang belum mengetahui tentang kanker serviks, berada di lingkungan perokok aktif, dan banyak yang mengalami keputihan, serta berada diusia yang rentan terkena kanker serviks, dimana hal-hal tersebut merupakan faktor risiko terjadinya kanker serviks. Jenis penelitian survey pendekatan cross sectional. Jumlah sampel 40. Analisis data secara univariat, bivariat dengan menggunakan uji Chi Square. Hasil penelitian menunjukkan karakteristik responden berdasarkan umur responden paling banyak berusia antara 20-35 tahun yaitu 87,5%. Pendidikan terakhir responden yang paling banyak adalah tamat SMA/Sederajat 75%. Paritas responden sebagian besar adalah primipara 52,5%. Sebagian besar pengetahuan responden tentang kanker servik dikategorikan baik. Pelaksanaan papsmear oleh ibu-ibu Persatuan Istri Tentara Batalyon Infanteri Angkatan Darat 407 Tegal menunjukkan bahwa sebagian besar ibu-ibu Persit telah melakukan papsmear. Hasil analisis bivariat dengan Chi Square, terdapat hubungan antara pengetahuan dengan praktik pelaksanaan papsmear.
HUBUNGAN ANTARA USIA IBU DENGAN INVOLUSI UTERI PADA IBU POSTPARTUM Siti Erniyati Berkah Pamuji; Tri Jaka Kartana
Bhamada: Jurnal Ilmu dan Teknologi Kesehatan (E-Journal) Vol 6 No 2 (2015)
Publisher : UNIVERSITAS BHAMADA SLAWI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Proses involusi uterus adalah kembalinya uterus kedalam keadaan sebelum hamil setelah melahirkan. Proses ini di mulai segera setelah plasenta keluar akibat kontraksi otot-otot polos uterus. Salah satu komponen involusi adalah penurunan fundus uteri. Kecepatan involusi uteri dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain usia ibu, jumlah anak yang dilahirkan (paritas), menyusui eksklusif dan mobilisasi dini. Angka Kematian Ibu (AKI) di Kabupaten Tegal pada tahun 2014 sebesar 190,97/ 100.000 kelahiran hidup (51 kematian ibu maternal dari 26.705 kelahiran hidup), kematian ibu pada saat persalinan sejumlah 26 (50,9%) dari 51 kematian ibu maternal, disusul kemudian pada waktu hamil sebesar 13 (25,49%) dari 51 kematian ibu maternal dan pada waktu nifas sebesar 12 (23,52%) dari 51 kematian ibu maternal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Hubungan Antara Usia Ibu dengan Involusi Uteri pada Ibu Postpartum di BPS Wilayah Puskesmas Slawi Kabupaten Tegal. Jenis penelitian analitik observasional dengan desain cross sectional. Jumlah sampel 27. Analisis data bivariat dengan chi square, didapatkan hasil bahwa usia ibu postpartum < 20 tahun seluruhnya mengalami proses involusi uteri yang cepat, ibu postpartum yang dalam usia reproduksi sehat (20-35 tahun) involusinya sebagian besar berjalan dengan cepat, sedangkan ibu postpartum usia >35 tahun involusinya sebagian besar berjalan dengan lambat. Hasil perhitungan statistik menggunakan uji chi square diperoleh kesimpulan bahwa tidak ada hubungan antara usia ibu dengan involusi uteri pada ibu postpartum di Bidan Praktek Swasta Puskesmas Slawi ( p value 0,381 > α = 0,05).
PENGARUH KOMBINASI METODE PIJAT WOOLWICH DAN ENDORPHINE TERHADAP KADAR HORMON PROLAKTIN DAN VOLUME ASI (STUDI PADA IBU POSTPARTUM DI GRIYA HAMIL SEHAT MEJASEM KABUPATEN TEGAL) Siti Erniyati Berkah Pamuji; Supriyana Supriyana; Sri Rahayu; Suhartono Suhartono
Bhamada: Jurnal Ilmu dan Teknologi Kesehatan (E-Journal) Vol 5 No 1 (2014)
Publisher : UNIVERSITAS BHAMADA SLAWI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Laktasi adalah keseluruhan proses produksi dan pengeluaran ASI. Laktasi terjadi dibawah pengaruh berbagai kelenjar endokrin, terutama hormon-hormon hipofisis prolaktin dan oksitosin. Gangguan pada laktasi terjadi karena berbagai faktor diantaranya faktor bayi, ibu dan lingkungan yang dapat berpengaruh pada peningkatan kadar hormon prolaktin dan volume ASI. Cakupan ASI Eksklusif Kabupaten Tegal pada tahun 2011 hanya 47,9%, target pencapaian ASI Ekslusif sebesar 80%. Salah satu upaya peningkatan laktasi pada ibu postpartum dengan kombinasi metode pijat woolwich dan endorphine. Tujuan penelitian untuk membuktikan perbedaan pengaruh kombinasi metode pijat woolwich dan endorphine terhadap kadar hormon prolaktin dan volume ASI. Jenis penelitian quasy-experiment rancangan non randomized controlled trial design pretest posttes control group. Jumlah sampel 20. Analisis data secara univariat, bivariat dengan independent t test, wilcoxon signed rank test dan mann whitney test. Hasil penelitian berdasarkan analisis bivariat menunjukkan rata – rata kadar hormon prolaktin pada kelompok intervensi 103,80 ng/ml, sd 12,60 ng/ml dan rata-rata volume ASI kelompok intervensi 17,40 cc, sd 6,91 cc . Kelompok kontrol rata – rata 60,90 ng/ml, sd 41,45 ng/ml dan rata-rata volume ASI kelompok kontrol 0,60 cc, sd 0,84 cc, p value kadar hormon prolaktin 0,034 sedangkan p value volume ASI 0,000 (p value < α 0,05) artinya ada perbedaan bermakna rata rata kadar hormon prolaktin dan volume ASI pada kelompok intervensi dan kelompik kontrol. Kombinasi metode pijat woolwich dan endorphine berpengaruh terhadap peningkatan kadar hormon prolaktin dan volume ASI ibu postpartum. Diperlukan sosialisasi, pelatihan, dukungan serta penerapan program manajemen laktasi dalam kunjungan masa nifas (KF) tentang terapi komplementer kombinasi metode pijat woolwich dan endorphine terhadap peningkatan kadar hormon prolaktin dan volume ASI. Kata kunci : Pijat woolwich dan endorphine, kadar hormon prolaktin, volume ASI