p-Index From 2021 - 2026
4.117
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Jurnal Komunikasi MediaTor: Jurnal Komunikasi Jurnal KOMUNIKA Jurnal Ilmu Komunikasi Journal of Urban Society´s Arts Jurnal Pendidikan dan Pemberdayaan Masyarakat Channel : Jurnal Komunikasi Dharmakarya : Jurnal Aplikasi Ipteks Untuk Masyarakat Jurnal Sosioteknologi Jurnal Kesehatan Jurnal Kajian Komunikasi Jurnal The Messenger Nomosleca ProTVF KOMUNIKA Panggung Jurnal Studi Komunikasi Jurnal Berkala Kesehatan Jurnal Komunikasi Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia Nyimak: Journal of Communication Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat MetaCommunication; Journal Of Communication Studies Lontar : Jurnal Ilmu Komunikasi Al-Izzah: Jurnal Hasil-Hasil Penelitian Al Qalam: Jurnal Ilmiah Keagamaan dan Kemasyarakatan JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT Semiotika: Jurnal Komunikasi Jurnal Profetik Jurnal Ilmu Politik dan Komunikasi Jurnal Komunikasi Universitas Garut: Hasil Pemikiran dan Penelitian Communicology: Jurnal Ilmu Komunikasi Jurnal JTIK (Jurnal Teknologi Informasi dan Komunikasi) Abdi Laksana : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Jurnal Trias Politika Atrat: Jurnal Seni Rupa Jurnal Mutakallimin : Jurnal Ilmu Komunikasi ABDI MOESTOPO: Jurnal Pengabdian pada Masyarakat Komunika: Jurnal Dakwah dan Komunikasi Jurnal Signal Mamangan Social Science Journal Journal of Socio Economics on Tropical Agriculture (Jurnal Sosial Ekonomi Pertanian Tropis) (JOSETA) Jurnal Ilmu Komunikasi UHO : Jurnal Penelitian Kajian Ilmu Komunikasi dan Informasi West Science Social and Humanities Studies Comdent: Communication Student Journal Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora (JKBH) Kabuyutan: Jurnal Kajian Iilmu Sosial dan Humaniora Berbasis Kearifan Lokal Panggung
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search
Journal : ProTVF

MAKNA GAMBAR 3 BIRI-BIRI DAN KOTAK PADA FILM ‘THE LITTLE PRINCE’ Indriani, Sri Seti; Prasanti, Ditha
ProTVF Vol 1, No 1 (2017): ProTVF Volume 1, No.1, Maret 2017
Publisher : Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (410.248 KB)

Abstract

Film mempengaruhi dan membentuk masyarakat berdasarkan muatan pesan (message) di baliknya, muatan pesan tersebut dibangun dengan banyak tanda Maka dengan anggapan tersebut film dapat memberi pengaruh yang banyak terhadap kehidupan masyarakat melalui tanda-tanda.Film ‘The Little Prince’ adalah film animas yang mengugah pemikiran orang dewasa yang menontonnya. Menggambarkan bagaimana kehidupan yang sedang terjadi masa kini, dimana banyaknya manusia yang hanya fokus pada masa depan, sehingga bersaing untuk mendapatkan prestasi nilai yang tinggi dan pekerjaan yang bagus, dan melupakan cara menikmati hidup pada masa sekarang, hal-hal yang esensial dalam hidup. Penelitian ini bermaksud untuk melihat makna simbol visual Biri-biri dan Kotak dari film tersebut yang berkaitan dengan hal yang esensial dalam hidup yang bermakna. Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan metode semiotika analisis Roland Barthes. Metode semiotika ini menganalisis fenomena dari segi tanda dan makna. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa  makna tanda dan penanda dalam film ‘The Little Prince’ dapat dikaji dari makna denotasi, makna konotasi, dan makna mitos. Makna yang tersirat dalam tiga Biri-biri dan Kotak menggambarkan bahwa apa yang tampak tidak dapat dipahami tanpa melihat makna konotasi dan mitos didalamnya, kotak yang berlubang, tidak hanya sekedar kotak berlubang namun adanya sebuah imajinasi sang pangeran yaitu seekor biri-biri yang hidup di dalamnya dengan rupa biri-biri sesuai dengan keinginannya.Hal ini menyimpulkan bahwa apa yang terpenting biasanya tidak terlihat kasat mata.Kata-kata Kunci: Makna, Simbol, Biri-biri, Semiotika, Film
Resepsi khalayak pada program acara televisi di Trans 7 sebagai media edukasi Rizkia Nidha Amalia; Sri Seti Indriani; Jimi Narotama Mahameruaji
ProTVF Vol 6, No 1 (2022): March 2022
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/ptvf.v6i1.36061

Abstract

Peminatan masyarakat pada program edukasi dalam televisi mengalami kemunduran, ini disebabkan karena jadwal tayang yang tidak sesuai dengan sasaran, pembukaan program dan beberapa diantaranya kurang menarik perhatian masyarakat. Meskipun demikian adapun salah satu acara televisi “Tau Gak Sih” yang mencoba mengambil kembali perhatian masyarakat dengan tema edukasinya. Komunitas Peduli Akademik dan Kemasyarakatan merupakan salah satu komunitas pemerhati masalah edukasi dalam masyarakat memiliki kesadaran akan adanya acara televisi “Tau Gak Sih”. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui proses pembentukan kode teks atau enkoding nilai edukasi pada program acara televisi “Tau Gak Sih?” di Trans 7 dan untuk mengetahui posisi pembacaan anggota dalam Komunitas Peduli Akademik dan Kemasyarakatan (KOMPAK) terhadap nilai edukasi program acara televisi “Tau Gak Sih?” di Trans 7. Informan penelitian ini adalah guru-guru relawan yang berada di Komunitas Peduli Akademik dan Kemasyarakatan (KOMPAK). Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan analisis resepsi Stuart Hall dan teori enkoding – dekoding Stuart Hall. Hasil penelitian menunjukkan terdapat tiga indikator nilai edukasi yang membuat program acara televisi “Tau Gak Sih?” sebagai media edukasi yaitu memberikan wawasan, didukung oleh sumber terpercaya, dan pesan sampai kepada khalayak dan mudah dipahami. Posisi pembacaan Komunitas Peduli Akademik dan Kemasyarakatan untuk tiga indikator nilai edukasi, mayoritas berada pada posisi Hegemoni – Dominan. Maka dapat disimpulkan bahwa program acara televisi “Tau Gak Sih?” menjadi media edukasi untuk komunitas tersebut.
Analisis Interaksi Simbolik pada Konten Ofensif Iklan Grab #pilihaman Sri Seti Indriani; Lilis Puspitasari; Evi Rosfiantika
ProTVF Vol 3, No 1 (2019): March 2019
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1049.591 KB) | DOI: 10.24198/ptvf.v3i1.21245

Abstract

Iklan memiliki sifat yang menyerap dan terkadang berlebihan. Iklan dapat ditemukan di setiap platform area lingkungan kita, baik secara cetak maupun online, sehingga menyerap perhatian kita. Pertumbuhan belanja iklan sepanjang Januari-September 2018 menunjukkan tren positif di angka 5 persen, dengan total belanja iklan baik di media televisi dan cetak mencapai Rp 114,4 Triliun. Pordusen iklan berlomba-lomba bersaing merebut perhatian publik agar supaya iklan produk mereka terjual dan terbeli. Banyak cara yang dilakukan pengiklan agar menarik perhatian publik. Perhatian tersebut bisa bersifat positif maupun negatif dan bahkan tidak etis untuk ditayangkan. Salah satu iklan yang ditarik kembali oleh produsennya adalah iklan video kampanye Grab #PilihAman karena menuai berbagai reaksi dari masyarakat. Iklan tersebut diunduh oleh Grab di YouTube pada tahun 2016. Penelitian ini berupaya untuk menjelaskan bagaimana iklan tersebut menggunakan taktik pujian dalam menekankan sebuah kebenaran dan bagaimana penonton melihat iklan video kampanye Grab#PilihAman tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian deskriptif-kualitatif. Teknik pengambilan data menggunakan wawancara, studi dokumentasi dan observasi. Beberapa informan yang merupakan pemerhati iklan ditarik sebagai subjek penelitian. Hasil penelitian mengungkap bahwa adanya empat cara iklan tersebut menarik perhatian publik: (1) Pseudo_claims, (2) Comparison with an unidentified other, (3) Irrelevant Comparisons dan (4) juxtaposition. Penonton melihat iklan konten Grab tersebut sebagai hal yang: (1) ofensif (penyerang), (2) berlebihan (overclaim), (3) ektsrim dan (4) tidak etis.
PUBLISITAS DAN PROMOSI FILM ADA APA DENGAN CINTA? 2 Lilis Puspitasari; Jimi Narotama Mahameruaji; Sri Seti Indriani
ProTVF Vol 1, No 2 (2017): September 2017
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (182.648 KB) | DOI: 10.24198/ptvf.v1i2.19876

Abstract

Publisitas bagi sebuah film merupakan suatu alat  untuk menyebarkan  pesan yang direncanakan dan dilakukan untuk mencapai tujuan pemasaran lewat media tertentu untuk kepentingan dari sebuah production house tanpa pembayaran tertentu pada media. Dalam film orang yang bergerak  untuk mempublikasikan film dikenal dengan  istilah publisis. Kegiatan publisitas dalam bidang pemasaran direncanakan dalam rangka mendukung tujuan pemasaran suatu produk atau jasa perusahaan. Salah satu area bidang publisitas ini adalah entertainment publicity, dimana salah satu produknya  adalah film. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan publisitas dan promosi sebagai alat  komunikasi pemasaran pada film Ada Apa Dengan Cinta 2. Berdasarkan hasil penelitian, terdapat 3 tahapan yang diterapkan dalam mengembangkan strategi  publisitas film AADC 2. Tahap Pertama adalah Menentukan tujuan publisitas; Tahap kedua, Mengidentifikasi Target Sasaran; Tahap Ketiga, Mendefinisikan Pesan dari Film; Tahap keempat Menentukan strategi publisitas,  dan Tahap Terakhir adalah Monitoring dan evaluasi.
Industri film Indonesia dalam perspektif sineas Komunitas Film Sumatera Utara Rangga Saptya Mohamad Permana; Lilis Puspitasari; Sri Seti Indriani
ProTVF Vol 3, No 2 (2019): September 2019
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (762.547 KB) | DOI: 10.24198/ptvf.v3i2.23667

Abstract

Industri film nasional kini bangkit kembali setelah kejatuhan pada tahun 1990-an. Restrukturisasi industri film nasional dimulai dari film Petualangan Sherina dan diikuti oleh Ada Apa Dengan Cinta yang meraih 2,7 juta penonton. Film-film non-komersial juga muncul seperti Daun di Atas Bantal, Pasir Berbisik, dan lainnya. Antusiasme film-film indie muncul dan melahirkan para sineas dari luar Pulau Jawa, terutama dari Sumatera Utara (Sumut). Sineas Sumut lahir dan terpacu untuk membuat film indie mereka sendiri. Padahal, itu juga menjadi perhatian bagi para pembuat film ini tentang bagaimana mereka dapat menembus pasar industri film nasional. Kekhawatiran ini menjadi menarik untuk diketahui mengapa mereka ragu-ragu untuk mempromosikan film mereka ke arena nasional. Penelitian ini difokuskan pada perspektif sineas Komunitas Film Sumatera Utara tentang bagaimana mereka melihat industri film nasional. Penelitian ini dilakukan di kota Medan dan Berastagi, Sumatera Utara, di mana sebagian besar sineas yang menjadi anggota Komunitas Film Sumatera Utara aktif melakukan proyek film. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana pembuat film yang tergabung dalam komunitas film di Sumatera Utara memandang industri film nasional. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif, dengan metode deskriptif-kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara mendalam, studi dokumentasi dan observasi. Hasil yang ditemukan dalam penelitian ini dibagi menjadi empat kategori, yakni: 1) Jakarta-sentris; 2) Kemitraan dengan rumah-rumah produksi besar; 3) Konten film harus lebih bernuansa Indonesia; dan 4) Aturan penyiaran belum diterapkan dengan baik.
STRATEGI PROMOSI PADA TAHAPAN PRA-PRODUKSI FILM ‘HAJI ASRAMA’ (HAS) Rangga Saptya Mohamad Permana; Lilis Puspitasari; Sri Seti Indriani
ProTVF Vol 2, No 2 (2018): September 2018
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2727.693 KB) | DOI: 10.24198/ptvf.v2i2.20818

Abstract

Kini, kegiatan promosi sebuah film sama pentingnya dengan produksi film itu sendiri. Masyarakat sepertinya lebih melihat bahwa kesuksesan sebuah film itu berdasarkan bagaimana film itu dibuat, bukan dari cara mempromosikannya. Mempromosikan film sejalan dengan pembuatan film, dimulai dari tahap pra-produksi hingga pasca-produksi. Strategi promosi film harus terencana sedemikian rupa sehingga mendapatkan target pasar yang baik juga. Namun, mempromosikan sebuah film memang tidak mudah; tim produksi film harus kreatif dan aktif dalam mempromosikan film tersebut. Film non-komersial seperti film-film independen (indie) terutama film-film lokal di luar Pulau Jawa memiliki beberapa hambatan dalam mempromosikan filmnya karena harus bergelut dengan film-film komersil lainnya. Komunitas Film Sumatera Utara (KOFI Sumut) merupakan salah satu komunitas film yang ada di luar Jawa yang juga tergolong aktif membuat film-film indie berbasis budaya lokal. Penelitian ini dilakukan di Medan, Sumatera Utara. Beberapa anggota yang tergabung dalam KOFI Sumut menjadi narasumber melalui teknik pengambilan sampel purposif. Wawancara dilakukan ketika para anggota tersebut sedang dalam proses produksi film ‘Haji Asrama’ (HAS). Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan metode deskriptif. Teknik pengambilan data menggunakan wawancara mendalam, FGD, studi dokumentasi dan observasi. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan strategi promosi yang dilakukan pada tahapan pra-produksi dalam film ‘HAS’. Hasil penelitian mengungkap bahwa terdapat setidaknya empat strategi promosi film yang dilakukan kru film ‘HAS’, yang mengutamakan penayangan video klip sebagai salah satu strategi promosi utama mereka yang kemudian diikuti oleh pembuatan teaser film, promosi lewat media sosial, dilanjutkan dengan pembagian merchandiser.
MAKNA GAMBAR 3 BIRI-BIRI DAN KOTAK PADA FILM ‘THE LITTLE PRINCE’ Sri Seti Indriani; Ditha Prasanti
ProTVF Vol 1, No 1 (2017): March 2017
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (410.248 KB) | DOI: 10.24198/ptvf.v1i1.13335

Abstract

Film mempengaruhi dan membentuk masyarakat berdasarkan muatan pesan (message) di baliknya, muatan pesan tersebut dibangun dengan banyak tanda Maka dengan anggapan tersebut film dapat memberi pengaruh yang banyak terhadap kehidupan masyarakat melalui tanda-tanda.Film ‘The Little Prince’ adalah film animas yang mengugah pemikiran orang dewasa yang menontonnya. Menggambarkan bagaimana kehidupan yang sedang terjadi masa kini, dimana banyaknya manusia yang hanya fokus pada masa depan, sehingga bersaing untuk mendapatkan prestasi nilai yang tinggi dan pekerjaan yang bagus, dan melupakan cara menikmati hidup pada masa sekarang, hal-hal yang esensial dalam hidup. Penelitian ini bermaksud untuk melihat makna simbol visual Biri-biri dan Kotak dari film tersebut yang berkaitan dengan hal yang esensial dalam hidup yang bermakna. Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan metode semiotika analisis Roland Barthes. Metode semiotika ini menganalisis fenomena dari segi tanda dan makna. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa  makna tanda dan penanda dalam film ‘The Little Prince’ dapat dikaji dari makna denotasi, makna konotasi, dan makna mitos. Makna yang tersirat dalam tiga Biri-biri dan Kotak menggambarkan bahwa apa yang tampak tidak dapat dipahami tanpa melihat makna konotasi dan mitos didalamnya, kotak yang berlubang, tidak hanya sekedar kotak berlubang namun adanya sebuah imajinasi sang pangeran yaitu seekor biri-biri yang hidup di dalamnya dengan rupa biri-biri sesuai dengan keinginannya.Hal ini menyimpulkan bahwa apa yang terpenting biasanya tidak terlihat kasat mata.
PESAN RASISME DALAM EPISODE THE VINYARDS PADA FILM AMERICAN HISTORY X Sri Seti Indriani; Evi Rosfiantika
ProTVF Vol 2, No 1 (2018): March 2018
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (237.389 KB) | DOI: 10.24198/ptvf.v2i1.19879

Abstract

Film berlatarbelakang rasisme yang menekankan anti-rasisme sepertinya menjadi tren di perfilman Hollywood. Film-film tersebut sebagai media informasi ini mendemonstrasikan perubahan masyarakat yang rasisme menjadi ‘post-rasisme’ American History X merupakan salah satu film yang berupaya menekankan anti-rasis. Film tersebut menceritakan bagaimana kebencian seseorang terhadap perbedaan ras dapat menjadi suatu masalah besar bahkan menghancurkan sebuah keluarga. Fokus penelitian ini bertujuan untuk melihat penanda sebagai petanda pesan rasisme pada salah satu episode dalam film American History X. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan semiotika dalam menemukan penanda dan petanda pesan rasisme yang ada pada episode “The Vinyards” pada film American History X.  Subjek analisis dalam penelitian ini merupakan komunikasi verbal dan nonverbal yang berupa dialog dan narasi gambar pada episode tersebut. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa penanda sebagai petanda pesan rasisme pada episode ”The Vinyards” dalam film American History X dilihat dari penggunaan komunikasi verbal dan nonverba yang meniputi (1) bahasa tubuh, (2) bahasa verbal, (3) bahasa non-verbal yang dilakukan berupa kekerasan yang terjadi, (4) intonasi suara, (5) teknik pengambilan gambar, dan (6) sudut pandang pengambilan gambar.
Diegetic and nondiegetic sounds in film scoring of Pengabdi Setan film Pandu Watu Alam; Rangga Saptya Mohamad Permana; Sri Seti Indriani
ProTVF Vol 7, No 2 (2023): September 2023
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/ptvf.v7i2.47281

Abstract

Background: This research examines the 2017 film Pengabdi Setan scoring function. Joko Anwar wrote and directed the film Pengabdi Setan, released on September 28, 2017. This film is a remake of a 1980 film of the same name. In this film, the score is essential for visually confirming symbols or incomplete messages. There are two types of sound: diegetic sound and non-diegetic sound. Purpose: This research aims to determine how diegetic and non-diegetic sound were used to create a horror atmosphere in the film Pengabdi Setan. Methods: The authors described the audio analysis results in the form of diegetic and non-diegetic sounds using a qualitative descriptive analysis. Documented assessment and observation were employed as data collection techniques. Results: The results indicate that infrasonic sound (infrasound) and sub-bass frequencies in the form of non-diegetic sounds emotionally impact audiences. The typical frequency is 31 Hz, and although it is inaudible to the human ear, the audience can sense the vibrations of this frequency. This frequency can typically only be perceived as a “chest rumble.” In general, both diegetic and non-diegetic sounds in the film Pengabdi Setan contribute to completing the defective message symbol. The combination of infrasonic sound effects, sub-bass, and musical composition validates the visual messages or symbols. Implications: This research can theoretically serve as a resource for future researchers interested in studying diegetic and non-diegetic sound in film. Directors and cinema sound engineers can use this research to construct diegetic and non-diegetic sound in their films, particularly horror films.
Narrative analysis of character Po’s identity crisis in Kung Fu Panda 3 Setiadi, Raymond Victor; Indriani, Sri Seti; Puspitasari, Lilis
ProTVF Vol 9, No 1 (2025): March 2025
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/ptvf.v9i1.54837

Abstract

Background: Kung Fu Panda 3 is an animated film from the United States that collaborated with a Chinese company. The film tells the story of Po's journey in handling his identity crisis as the main antagonist threatens the village's peace. Addressing social issues such as identity crisis, this animated film, a combination of action and comedy genres, is considered interesting to research as the presence of identity crisis issues is relatively unnoticed among people of different ages. Purpose: This research aims to provide the process of Po's character in handling their identity crisis throughout the story of Kung Fu Panda 3. Methods: This research uses a qualitative research method using narrative analysis by Tzvetan Todorov, which is supported by the approach of Lacey and Gillespie. Results: This research’s findings depict the process of Po's character in resolving its identity crisis whilst overcoming the menace from the villain, which is analyzed according to the five stages of narrative structure in Tzvetan Todorov's narrative analysis method with the approach of Lacey and Gillespie. Scenes are classified into five stages: equilibrium, disruption, recognition of disruption, attempt to repair disruption, and reinstatement of equilibrium. Conclusion: This research concludes with an overall representation of how the character Po can overcome their identity crisis through the five stages and suggests a utilitarian application of a thorough narrative analysis from a communication perspective. Implications: This research can theoretically serve as to how identity crises arise and are resolved in people with the role of other individuals around them in communications. Directors and scriptwriters, especially those producing animated films, can use this research to communicate issues on mental health in a way that people can perceive easily and have fun.