Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

SIFAT PEMESINAN EMPAT JENIS KAYU KURANG DIKENAL DAN HUBUNGANNYA DENGAN BERAT JENIS SERTA UKURAN PORI Achmad Supriadi; Osly Rachman
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 20, No 1 (2002): Buletin Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.2002.20.1.70-85

Abstract

The machining properties of four lesser known wood species from natural forest in Kalimantan has been investigated. The wood species were gading (Koilodepes sp.), penjalin (Drypetes sp.), arang (Diospyros macrophylla B.) and sibau (Blumeodendron kurzii I.I Sm) with their specific gravities, i.e. 0.83, 0.81, 0.55, and 0.56, respectively. Further, assessment was conducted on the relation between wood characteristics (i.e. specificgravity and vessel diameters) and the possible occurrence of defect due to machining. The machining work included planning, shaping, boring, turning and sanding.The results revealed that machining properties were significantly affected by wood specific and vessel diameter. The higher the specific gravity and the smaller the pore diameter, the less defect that resulted from wood machining. As such, the machining quality of gading and penjalin woods was regarded as very good. Meanwhile, the machining qualities of arang and sibau woods as good to very good. Therefore, to infer, wood with higher specific gravity tends to improve machining properties. Likewise, wood with larger vessel diameter will downgrade the machining properties.
UJI COBA MESIN PENGERING KAYU KOMBINASI TENAGA SURYA DAN PANAS DARI TUNGKU TIPE I Efrida Basri; Achmad Supriadi
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 24, No 5 (2006): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2425.527 KB) | DOI: 10.20886/jphh.2006.24.5.437-448

Abstract

Telah dilakukan uji coba teknis dan finansial terhadap mesin pengeringan kayu kombinasi tenaga surya dan panas dari tungku tipe SC+TI untuk kapasitas 19 m3 di salah satu industri/pengrajin kayu di Ngaringan, Grobogan, Jawa Tengah.   Uji coba dilakukan terhadap kayu jati (Tectona grandis L.f.). Kebutuhan panas pengeringan di siang hari diperoleh dari tenaga surya dan di malam hari atau tergantung kebutuhan diperoleh dari tungku pembakaran dengan  bahan bakar biomas/limbah kayu dari penggergajian sendiri. Tujuan uji coba adalah untuk mengetahui kelayakan teknis dan finansial dari pemanfaatan masin pengering tersebut.Hasil uji coba menunjukan suhu rata-rata harian dari panas surya yang diterima ruang pengering berkisar    antara 40 - 50°C, sementara suhu untuk pengeringan kayu jati berkisar antara 45 - 70°C. Kekurangan panas diperoleh dari tungku bakar. Untuk mengeringkan sortimen kayu dengan kadar air 50% sampai mencapai kadar air 10% memerlukan waktu rata-rata 13 hari dan menghasilkan rendemen kayu kering sekitar 80%. Konsumsi limbah kayu untuk bahan bakar tungku pada setiap periode pengeringan 8 m3.Investasi pendirian unit pengeringan memerlukan biaya sebesar Rp 74.635.000. Biaya produksi setahun (jumlah produksi 304 m3) adalah Rp 3.251.548.750, sehingga harga pokok produk Rp 10.695.884/m3. Analisis kelayakan finansial pemanfaatan mesin pengering menunjukan dengan harga jual kayu jati kering Rp 11.000.000/m3. Titik impas (BEP) tercapai pada produksi sebesar 86,3 m3, Nilai sekarang neto (NPV) Rp + 374.245.458 dan Internal Rate of Return (IRR) 80%. Hasil ini menunjukkan bahwa mesin pengering tersebut layak untuk dioperasikan.
EFISIENSI SALURAN DISTRIBUSI PRODUK MEBEL: STUDI KASUS PADA PERUSAHAAN MEBEL UKIR DI JEPARA Achmad Supriadi
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 15, No 4 (1997): Buletin Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.1997.15.4.267-278

Abstract

Keberhasilan suatu perusahaan selain akan sangat ditentukan oleh tingkat efisiensi produksi, juga ditentukan oleh ketepatan menggunakan saluran distribusi untuk memasarkan produk perusahaan ke tangan konsumen. Mebel ukir merupakan komoditi kayu olahan yang penting di daerah Jepara yang produknya antara lain dipasarkan di dalam negeri melalui berbagai tipe saluran pemasaran. Penelitian ini dilakukan rmtuk mengetahui efisiensi dari tipe tipe saluran distribusi yang digunakan oleh perusahaan mebel ukir tersebut.Perusahaan mebel ukir yang menjadi objek studi memasarkan produknya melalui 2 tipe saluran distribusi yaitu : Perusahaan → Konsumen (tipe 1) dan Perusahaan →Distributor →Pengecer →Konsumen (tipe II). Untuk menilai efisiensi, dilakukan analisis biaya distribusi dan volume penjualan selama 3 tahun (tahun 1993 - 1995).Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada saluran tipe I, persentase biaya distribusi terhadap volume penjualan cenderung terus menurun yaitu dari 3,25 % menjadi 2, 70%). Besamya biaya distribusi untuk setiap satu unit produk terjual juga terus menurun yaitu dari Rp 7.538 menjadi Rp 6.213. Rata-rata persentase perubahan volume penjualan lebih besar dibandingkan dengan rata-rata persentase perubahan biaya distribusi yaitu 63,9 % dengan 48,33%.Pada tipe II, persentase biaya distribusi terhadap volume penjualan menunjukkan kecenderungan yang terus meningkat yaitu dari 2,07 % menjadi 2,57%. Besarnya biaya distribusi. untuk setiap satu unit produk terjual juga meningkat dari Rp 4. 031 menjadi Rp 6. 739. Sedangkan rata-rata persentase perubahan volume penjualan lebih kecil dibandingkan dengan rata-rata persentase perubahan biaya distribusi yaitu 80, 75% dengan 110,80%. Hal tersebut menunjukkan bahwa saluran distribusi tipe 1 telah dikelola secara lebih efisien dibandingkan dengan saluran tipe II. Meskipun demikian didalam upaya memperluas pangsa pasar, keberadaan saluran distribusi tipe II masih diperlukan oleh perusahaan karena dapat lebih memperluas jangkauan pasar produk perusahaan.
ANALISIS TEKNIS DAN EKONOMIS PENGOLAHAN ROTAN Achmad Supriadi; D Martono; T Puspitodjati; O Rachman
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 20, No 2 (2002): Buletin Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5010.114 KB) | DOI: 10.20886/jphh.2002.20.2.127-141

Abstract

Investigation the modified on processing of large-diameter rattan species, i.e. karokok (Calamus viminalis), seuti (Calamus ornatus), and lilin (Calamus spp.) originating from West Java has been conducted. in this regard, two alternatives of rattan processing were implemented, i.e. first alternative : fresh rattan -->flying --> sun-drying to air-dry condition -- > scropping ; and second alternative : fresh rattan --> preserving --> sun-drying to air-dry condition --> scrapping. The main aim of this investigation was to assess the resistance of ranan against blue-stain, the chief price of production, and the benefits as obtained from each of the two processing alternatives. Research results indicated That the occurence of blue-stain attack on rattan from the first alternative processing at 5.5 percent and 1. 7 percent intensity, respectively. Those percentages were much lower than the one in rattan industry implementing the conventional processing (i.e. 19 percent). Meanwhile. the durations of sun-drying stage required in the first and second alternatives were consecutively 9 days and 14 days. On the other hand. the scrapping time of both first and second alternatives were practically similar to each other (i.e 13 second for each piece of the corresponding rattan). Further, species of rattan and manner of processing (i.e. first and second alternatives) were interacted there by significantly affecting the rattan resistence the biological infestation attack and the processingproductivity.The chief price of rattan piece for the first and second alternatives were consecutively Rp 1. 640 and Rp 1.587. Meanwhile the priceforthe conventional rattan industry was Rp 1.825. Therefore. the theoritical gross benefits per piece of rattan for the first and second alternatives were Rp 860 and Rp 913. in addition, the added value of rattan from both alternatives was in the range of Rp 1.500- Rp 1.689.Based on the resistance of rattan against blue-stain, chief price of production and benefits, the second processing alternatives turned out to be technically and economically the best.
EFISIENSI SALURAN DISTRIBUSI PRODUK MEBEL: STUDI KASUS PADA PERUSAHAAN MEBEL UKIR DI JEPARA Achmad Supriadi
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 15, No 4 (1997): Buletin Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (5766.333 KB) | DOI: 10.20886/jphh.1997.15.4.267-278

Abstract

Keberhasilan suatu perusahaan selain akan sangat ditentukan oleh tingkat efisiensi produksi, juga ditentukan oleh ketepatan menggunakan saluran distribusi untuk memasarkan produk perusahaan ke tangan konsumen. Mebel ukir merupakan komoditi kayu olahan yang penting di daerah Jepara yang produknya antara lain dipasarkan di dalam negeri melalui berbagai tipe saluran pemasaran. Penelitian ini dilakukan rmtuk mengetahui efisiensi dari tipe tipe saluran distribusi yang digunakan oleh perusahaan mebel ukir tersebut.Perusahaan mebel ukir yang menjadi objek studi memasarkan produknya melalui 2 tipe saluran distribusi yaitu : Perusahaan → Konsumen (tipe 1) dan Perusahaan →Distributor →Pengecer →Konsumen (tipe II). Untuk menilai efisiensi, dilakukan analisis biaya distribusi dan volume penjualan selama 3 tahun (tahun 1993 - 1995).Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada saluran tipe I, persentase biaya distribusi terhadap volume penjualan cenderung terus menurun yaitu dari 3,25 % menjadi 2, 70%). Besamya biaya distribusi untuk setiap satu unit produk terjual juga terus menurun yaitu dari Rp 7.538 menjadi Rp 6.213. Rata-rata persentase perubahan volume penjualan lebih besar dibandingkan dengan rata-rata persentase perubahan biaya distribusi yaitu 63,9 % dengan 48,33%.Pada tipe II, persentase biaya distribusi terhadap volume penjualan menunjukkan kecenderungan yang terus meningkat yaitu dari 2,07 % menjadi 2,57%. Besarnya biaya distribusi. untuk setiap satu unit produk terjual juga meningkat dari Rp 4. 031 menjadi Rp 6. 739. Sedangkan rata-rata persentase perubahan volume penjualan lebih kecil dibandingkan dengan rata-rata persentase perubahan biaya distribusi yaitu 80, 75% dengan 110,80%. Hal tersebut menunjukkan bahwa saluran distribusi tipe 1 telah dikelola secara lebih efisien dibandingkan dengan saluran tipe II. Meskipun demikian didalam upaya memperluas pangsa pasar, keberadaan saluran distribusi tipe II masih diperlukan oleh perusahaan karena dapat lebih memperluas jangkauan pasar produk perusahaan.
PRODUKTIVITAS DAN BIAYA PRODUKSI SERPIH KAYU MENGGUNAKAN MESIN SERPIH MUDAH DIPINDAHKAN (SMD): Studi Kasus di BKPH Parungpanjang, Bogor Achmad Supriadi; Osly Rachman; M I Iskandar
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 24, No 2 (2006): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.2006.24.2.103-115

Abstract

Hasil pemanenan kayu di areal hutan baik hutan alam maupun hutan tanaman masih menyisakan potongan-potongan kayu kecil. Potongan kayu yang biasa disebut sebagai limbah pemanenan pada umumnya ditinggalkan di hutan dan sebagian yang dianggap masih laik dijual kepada penduduk sekitar hutan untuk dimanfaatkan sebagai kayu bakar atau bahan baku energi lainnyaDalam rangka meningkatkan pemanfaatan limbah kayu dari hasil pemanenan hutan tanaman, telah dilakukan penelitian pengolahan limbah kayu jenis mangium (Accacia mangium) di areal hutan tanaman di BKPH Parungpanjang, Bogor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor konversi rarta- rata limbah pemanenan untuk bahan baku serpih (chip) adalah 1 sm = 0,4791 m3   = 0,257 ton. Rendemen serpih sebelum disaring dan setelah disaring masing-masing adalah 97% dan 53%. Produktivitas penyerpihan adalah 1,6 ton/hari. Investasi pendirian satu unit pengolahan serpih kayu sebesar Rp 38.000.000. Biaya produksi per tahun sebesar Rp 156.109.113  dan harga pokok produksi serpih sebesar Rp 325.227 per ton serpih. Dengan harga jual serpih Rp 360.000 per ton, dapat diperoleh laba kotor dan laba bersih rata-rata per tahun masing-masing sebesar Rp 16.691.040 dan Rp 14.187.784.
PENERAPAN PROGRAM SIMULASI KOMPUTER PADA PENGGERGAJIAN EMPAT JENIS KAYU HUTAN TANAMAN INDUSTRI Achmad Supriadi; Osly Rachman
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 16, No 1 (1998): Buletin Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.1998.16.1.36-48

Abstract

Tujuan penggunaan program simulasi komputer dalam proses penggergajian adalah untuk menentukan posisi pembelahan pertama terbaik pada dolok agar diperoleli rendemen maksimal. Program ini telah diuji cobakan pada kayu mahoni, tusam, sungkai dan mangium. Panjang rata-rata dolok 226,29 cm (200 cm - 300 cm ) dan diameter rata-rata dolok 24 cm (19 cm - 42 cm). Rendemen rata-rata uji coba ke empat jenis kayu tersebut adalah sebesar 56,39%, rendemen rata-rata simulasinya 69,77%, ratio antara kedua rendemen tersebut rata-rata 0,81. Berdasarkan kelas diameter yaitu 13-20 cm; 21-30 cm; 31-40 cm dan lebih dari 40 cm, besar rendemen rata-rata uji coba berturut-turut adalah 49,85%; 58,57%; 59,47% dan 36,99%. Rendemen rata-rata simulasi berturut-turut adalah 67,02%; 72,68%; 80,02% dan 82,70%.Panjang dolok mempengaruhi rendemen kayu gergajian, sedangkan pengaruh diameter dan kelengkungan dolok tidak nyata. Panjang, diameter dan kelengkungan dolok secara serempak mempengaruhi rendemen.
SIFAT PELENGKUNGAN KAYU TUSAM (Pinus Mekusii Jungh et de Vries) DENGAN DUA MACAM PERLAKUAN AWAL Achmad Supriadi; Osly Rachman
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 20, No 5 (2002): Buletin Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.2002.20.5.367-378

Abstract

The investigation on the bending characteristics of wood conducted in Indonesia was still very limited. In contrast, the use of bent wood in the country has intensively increase particularly in furniture industry. The preparation of such bent wood at present still dominated by sawing and planing, thereby resulting in enormous woody wastes. Besides, the strength of the corresponding wood and the beauty of its orienting fiber grains are decreasing sharply.The experiment on the bending of tusam wood taken from either its tapped or untapped portion of trees has been conducted. Tusam wood was bent with the following pretreatments : boiling the wood in the hot water al 100°C, and immersing it in urea solution. Wood bending was also prepared without such pretreatments (as control). The bending was performed at five various radiuses, i.e 80 cm; 56 cm; 45 cm; 25 cm and 15 cm. The evaluation of bending value used an ordinal scale beginning from 1 to 5 were respectively for the biggest to the smallest radius. The results of bending experiment turned out to be the best for the one with the boiling pretreatment prior to bending, and the values were consecutively 2,65; 2,28 and 1,58. The critical events occurred at 15 cm radius for the bent wood with the boiling treatment, and at 25 cm for the ones with urea immersion as well as control. The bending radius significantly effected the bending results, while the tapping and fiber grain orientation did not cause a pronounced effect.The deformation setting in the radius resulting from the bending ranged from 1,93 to 4, 13 percent. The was a trend that the longer the boiling duration, the lower the changes in the bending radius.
IDENTIFIKASI POLA DAN EFISIENSI TATA NIAGA ROTAN DI JAWA Achmad Supriadi; Osly Rachman
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 19, No 4 (2001): Buletin Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.2001.19.4.209-218

Abstract

The marketing chain of rattan commodity is closely related to the income distribution of those who perform efficiently the marketing and mechanism system of rattan. This study deals with the investigation on the patterns of rattan-marketing in Java, i.e. (I) Inter-islands merchant --> rattan crafter --> crafter collector --> domestic consumer; (2) Inter-islands merchant --> rattan crafter --> domestic consumer; (3) Rattan crafter --> exporter producer --> overseas consumer.Viewed from the degree of benefit, all the parties involved in those rattan-marketings have gained a reasonable benefit with the revenue and cost ratio (RCR) values ranging between 1.11 and 1.27. Evaluated from the benefit distribution, rattan marketing with pattern (1) was efficient, while those with pattern (2) and (3) were inefficient and the most efficient, respectively. In the pattern (3). there appeared a positive trend about the presence of domination by Exporter producer. This is be cause that domination has brought about some benefit to those taking part in the other rattan-marketing activities. Keywords : Rattan, marketing, efficiency, and benefit.   
KARAKTERISTIK DOLOK DAN SIFAT PENGGERGAJIAN KAYU SAWIT (Elaeis guineensis Jacq.) Achmad Supriadi; Osly Rachman; Edi Sarwono
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 17, No 1 (1999): Buletin Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.1999.17.1.1-20

Abstract

Kayu  sawit  merupakan  salah  satu  komoditas  dari limbah perkebunan yang  mempunyai potensi  untuk  menambah pasokan  kayu  bundar di  Indonesia. Penelitian  ini bertujuan  untuk menyediakan informasi tentang sifat fisis  (kerapatan, kadar air dan kerapatan ikatan pembuluh), dimensi dolok dan  rendemen penggergajian kayu sawit. Untuk maksud itu diteliti sebanyak 9 dolok dari pohon  sawit yamg berasal dari tanaman perkebunan di Lampung.Kerapatan kayu sawit berkisar antara 0,21 sampai 0,41  g/cm3.  Kadar air basah berkisar antara 138,90 sampai 343, 69%. Kerapatan ikatan pembuluh berkisar antara 0,84 sampai 1,01 bh/mm2.  Posisi  kayu  dalam  arah transversal  berpengaruh  nyata  terhadap  ketiga  sifat fisis tersebut.Diameter rata-rata dolok termasuk kulit adalah 46,64 cm,  tanpa kulit 42,55 cm, diameter bagian medium dan lunak 24,54 cm.  Volume rata-rata dolok untuk tiap meter panjang dengan kulit adalah 0,1745 m3,  tanpa kulit 0,1456 m3, bagian keras 0,0988  m3, bagian medium 0,0288 m3 dan  bagian  lunak  0,019  m3.  Mutu dolok  menunjukan kebundaran  di atas  95% dengan  pengurangan    diameter  rata-rata  2,61 cm/m.  Rendemen  penggergajian  rata-rata  adalah  44%, terdiri  dari bagian    keras   31%,  bagian  medium  9%  dan bagian  lunak  4%  serta  limbah penggergajian  sebesar    56%. Posisi  dolok  dalam  arah  vertikal  batang  berpengaruh   nyata terhadap  rendemen penggergajian.Berdasarkan  kerapatan,  bagian  keras  batang  kayu  sawit   termasuk   kelas  kuat  IV.   Bagian medium  dan   lunak   termasuk  kelas  kuat V, sehingga  bagian  keras  batang  dapat     digunakan sebagai  bahan  konstruksi  ringan  seperti  mebel. Berdasarkan  bagian  keras  ini  tersedia  potensi kayu  sebanyak  2,8 juta  m3/tahun yang berasal dari penebangan pohon sawit tua.