Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

PENERAPAN MODEL SIMULASI PENGGERGAJIAN PADA DOLOK HASIL PENJARANGAN HTI UNTUK MENINGKATKAN RENDEMEN DAN PRODUKSI PAPAN SAMBUNG Achmad Supriadi; Osly Rachman; Edi Sarwono
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 17, No 1 (1999): Buletin Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.1999.17.1.40-56

Abstract

Kayu hasil penjarangan Hutan  Tanaman Industri  (HTI)  mempunyai ciri yang  khas yaitu berdiameter  kecil,  sehingga proses  penggergajiannya  menghasilkan  rendemen papan  yang rendah dan berukuran sempit. Untuk meningkatkan rendemen, maka dalam  penggergajian  akan diterapkan model simulasi penggergajian, dan hasil penggergajian sebenamya  dibandingkan dengan pola konvensional. Penelitian menggunakan dua jenis kayu hasil penjarangan, yaitu leda (Eucalyptus deglupta Bl.) dan damar (Agathis loranthifolia).Rendemen papan dengan penerapan pola simulasi dan pola konvensional untuk kayu leda masing-masing adalah 55,99% dan 53,37%, sedangkan untuk kayu damar adalah 58,33% dan 55, 24%. Pembelahan  papan dari masing-masing pola tersebut menjadi bilah untuk bahan papan sambung menghasilkan rendemen yang  tidak berbeda nyata. Rendemen bilah pola simulasi dan pola konvensional untuk kayu leda masing-masing adalah 52,59% dan 49,90%, sedangkan untuk kayu damar  adalah  54,01%  dan 51,43%. Papan sambung yang dibuat dari kayu leda, damar dan campuran keduanya, hanya yang dari kayu damar dan campuran leda dan  damar saja yang memenuhi syarat Standar Indonesia untuk kayu bangunan non struktural.
PERUBAHAN WARNA DAN LAPISAN FINISHING LIMA JENIS KAYU AKIBAT PENCUACAAN Krisdianto Krisdianto; Esti Rini Satiti; Achmad Supriadi
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 36, No 3 (2018): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.2018.36.3.205-218

Abstract

Peningkatan penggunaan produk kayu disebabkan karena warna alami kayu menimbulkan kesan hangat dan nyaman. Namun demikian, untuk penggunaan di luar ruangan secara alami kayu mengalami penurunan kualitas diantaranya perubahan warna dan pengurangan lapisan finishing di permukaan kayu. Penelitian ini bertujuan mempelajari perubahan warna dan ketahanan lapisan finishing setelah satu tahun terpampang di luar ruangan. Lima jenis kayu kurang dikenal dari Riau diberi pelapis bahan finishing transparan menggunakan bahan finishing akrilik, enamel, poliuretan, ultran lasur ultra violet (UV), dan ultran politur P-03 UV sebelum dipaparkan di luar ruangan selama satu tahun. Perbedaan warna kayu diukur berdasarkan sistem CIELab dan ketahanan lapisan film finishing dianalisis secara digital menggunakan perangkat lunak ImageJ. Hasil penelitian menunjukkan warna kayu berubah menjadi abu-abu pucat setelah terpapar cuaca di luar ruangan selama satu tahun. Perubahan warna sangat tinggi tercatat pada bulan pertama, dan sedang sampai kecil pada setiap bulan pengamatan selanjutnya. Permukaan kayu yang diberi bahan finishing lebih tahan terhadap pencuacaan daripada permukaan kayu alami tanpa bahan finishing. Bahan enamel (ET), lasur (LSR), dan P03 (PP) merupakan bahan finishing yang lebih baik dari bahan lainnya dalam hal perlindungan di luar ruangan. Hubungan antara penutupan bahan finishing dengan perubahan warna menunjukkan korelasi sedang, yaitu semakin luntur bahan finishing di permukaan kayu, maka perubahan warna semakin besar.
KARAKTERISTIK LAMINASI BAMBU PADA PAPAN JABON Achmad Supriadi; Ignasia Maria Sulastiningsih; Subyakto Subyakto
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 35, No 4 (2017): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.2017.35.4.263-272

Abstract

Tanaman jabon (Anthocephallus cadamba Miq.) sudah banyak ditanam oleh masyarakat sebagai bahan alternatif untuk keperluan bangunan dan mebel. Kayu jabon memiliki dua kelemahan, yaitu tidak kuat (termasuk kelas kuat IV) dan tidak awet (kelas awet V). Untuk meningkatkan sifat kekuatan kayu jabon dalam penelitian ini dilakukan pembuatan papan komposit kayu jabon laminasi bambu atau papan jabon laminasi bambu (PJLB). Bambu yang digunakan adalah bambu mayan (Gigantochloa robusta Kurz) dan bambu andong (Gigantochloa pseudoarundinaceae (Steudel) Widjaja). Kayu jabon dan bilah bambu andong dan bambu mayan yang digunakan untuk membuat PJLB direndam dalam larutan boron 7% hingga mencapai target retensi 6 kg/m3. PJLB dibuat dengan empat macam komposisi lapisan, menggunakan perekat isosianat dengan berat labur 250 g/m2 permukaan, dikempa dingin dengan lama pengempaan satu jam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan kualitas kayu jabon akibat rekayasa PJLB dan pengaruh jumlah lapisan bambu tersebut terhadap sifat PJLB. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kualitas PJLB secara nyata dipengaruhi oleh jumlah lapisan bambu, kecuali keteguhan rekatnya. Pelapisan bambu pada kayu jabon (PJLB) telah meningkatkan nilai kerapatan sebesar 10%, modulus elastisitas (MOE) 71%, modulus patah (MOR) 34% dan keteguhan tekan 20% dibanding kayu jabon tanpa laminasi. PJLB memiliki sifat mekanis atau kekuatan setara dengan kayu kelas kuat III.
PENGUPASAN DAN PEMOLISAN ROTAN DALAM KEADAAN BASAH DAN KERING Efrida Basri; Osly Rachman; Achmad Supriadi
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 15, No 8 (1998): Buletin Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.1998.15.8.475-487

Abstract

Pengupasan  dan pemolisan   rotan  berdiameter  besar selama  ini dilakukan  pada  keadaan kering. Yang menjadi permasalahan  di sini adalah  untuk mencapai  keadaan  kering,  waktu pengeringan  yang  diperlukan  sangat  lama yakni  bisa satu bulan atau lebih untuk mencapai  kadar air ±  16%. Keadaan yang  demikian  tentu tidak menguntungkan   karena selain menghambat  proses produksi, juga keawetan rotan  menjadi  turun.Penelitian  ini dilakukan  dengan  tujuan memperoleh  beberapa faktor   konversi  dalam pengupasan dan pemolisan yang   dilakukan  pada  rotan  dalam  keadaan  basah  dan  kering.  Sasarannya   adalah untuk  mengetahui   apakah  pengupasan  dan  pemolisan  rotan  pada  keadaan   kering  dapat  diganti dengan pada keadaan  basah.Bahan yang  digunakan  dalam  penelitian  ini  adalah  tiga jenis  rolan  berdiameter   besar,  yaitu manau (Calamus manan Miq.),  seuti (Calamus  ornatus BL.), dan nunggal  (Calamus ornatus BL.) yang masing-masing  dikupas  dan dipolis  dalam keadaan  basah  (KA. 70-80%) dan kering  (KA.  15 - 18%). Faktor yang  diamati  pada  saat pengupasan  dan pemolisan  adalah pengurangan   diameter,  rendemen, cacat  serat  berbulu  dan serat patah,  cacat warna, dan produktivitasnya.Pengupasan   dan  pemolisan  rotan  dalam  keadaan  basah  menghasilkan  rendemen  lebih  rendah  serta  cacat  serat   berbulu  dan  serat  patah  lebih  tinggi, namun  pengurangan  diameter    dan produktivitas   sama dengan  rotan yang  dikupas  dan dipolis dalam keadaan kering.Mengacu  kepada  klasifikasi  pemesinan,   pengupasan   dan pemolisan  rotan  dalam  keadaan  basah menghasilkan   rotan  dengan  mutu  baik  untuk jenis  manau  dan nunggal,  dan mutu  sedang  untuk jenis seuti.  Sedangkan,   apabila  ketiga  jenis  rotan  tersebut  dikupas   dan  dipolis  dalam   keadaan  kering mutunya  menjadi  sangat  baik.Mengingat  alat pengupasan  dan pemolisan rotan yang  ada sekarang  hanya  untuk  rotan  kering, maka untuk meningkatkan   mutu  rotan kupas dan polis  basah perlu merekayasa  kedua  alat tersebut.
SIFAT PEMESINAN EMPAT JENIS KAYU KURANG DIKENAL DAN HUBUNGANNYA DENGAN BERAT JENIS SERTA UKURAN PORI Achmad Supriadi; Osly Rachman
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 20, No 1 (2002): Buletin Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.2002.20.1.70-85

Abstract

The machining properties of four lesser known wood species from natural forest in Kalimantan has been investigated. The wood species were gading (Koilodepes sp.), penjalin (Drypetes sp.), arang (Diospyros macrophylla B.) and sibau (Blumeodendron kurzii I.I Sm) with their specific gravities, i.e. 0.83, 0.81, 0.55, and 0.56, respectively. Further, assessment was conducted on the relation between wood characteristics (i.e. specificgravity and vessel diameters) and the possible occurrence of defect due to machining. The machining work included planning, shaping, boring, turning and sanding.The results revealed that machining properties were significantly affected by wood specific and vessel diameter. The higher the specific gravity and the smaller the pore diameter, the less defect that resulted from wood machining. As such, the machining quality of gading and penjalin woods was regarded as very good. Meanwhile, the machining qualities of arang and sibau woods as good to very good. Therefore, to infer, wood with higher specific gravity tends to improve machining properties. Likewise, wood with larger vessel diameter will downgrade the machining properties.
UJI COBA MESIN PENGERING KAYU KOMBINASI TENAGA SURYA DAN PANAS DARI TUNGKU TIPE I Efrida Basri; Achmad Supriadi
Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol 24, No 5 (2006): Jurnal Penelitian Hasil Hutan
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20886/jphh.2006.24.5.437-448

Abstract

Telah dilakukan uji coba teknis dan finansial terhadap mesin pengeringan kayu kombinasi tenaga surya dan panas dari tungku tipe SC+TI untuk kapasitas 19 m3 di salah satu industri/pengrajin kayu di Ngaringan, Grobogan, Jawa Tengah.   Uji coba dilakukan terhadap kayu jati (Tectona grandis L.f.). Kebutuhan panas pengeringan di siang hari diperoleh dari tenaga surya dan di malam hari atau tergantung kebutuhan diperoleh dari tungku pembakaran dengan  bahan bakar biomas/limbah kayu dari penggergajian sendiri. Tujuan uji coba adalah untuk mengetahui kelayakan teknis dan finansial dari pemanfaatan masin pengering tersebut.Hasil uji coba menunjukan suhu rata-rata harian dari panas surya yang diterima ruang pengering berkisar    antara 40 - 50°C, sementara suhu untuk pengeringan kayu jati berkisar antara 45 - 70°C. Kekurangan panas diperoleh dari tungku bakar. Untuk mengeringkan sortimen kayu dengan kadar air 50% sampai mencapai kadar air 10% memerlukan waktu rata-rata 13 hari dan menghasilkan rendemen kayu kering sekitar 80%. Konsumsi limbah kayu untuk bahan bakar tungku pada setiap periode pengeringan 8 m3.Investasi pendirian unit pengeringan memerlukan biaya sebesar Rp 74.635.000. Biaya produksi setahun (jumlah produksi 304 m3) adalah Rp 3.251.548.750, sehingga harga pokok produk Rp 10.695.884/m3. Analisis kelayakan finansial pemanfaatan mesin pengering menunjukan dengan harga jual kayu jati kering Rp 11.000.000/m3. Titik impas (BEP) tercapai pada produksi sebesar 86,3 m3, Nilai sekarang neto (NPV) Rp + 374.245.458 dan Internal Rate of Return (IRR) 80%. Hasil ini menunjukkan bahwa mesin pengering tersebut layak untuk dioperasikan.
EFEKTIVITAS KONSENTRASI EKSTRAK BIJI SIRSAK GUNUNG (Annona montana Macf.) TERHADAP MORTALITAS RAYAP TANAH (Coptotermes curvignathus Holmgren., Rhinotermitidae Agus Ismanto; Moerfiah Moerfiah; Achmad Supriadi; Muhamad Nizar Zulfikar
JURNAL SAINS NATURAL Vol. 10 No. 1 (2020): Sains Natural
Publisher : Universitas Nusa Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (444.985 KB) | DOI: 10.31938/jsn.v10i1.279

Abstract

One of the insects that cause a lot of damage are termites. Forms of damage that can be caused by termites include damage to building components that made of wood and the contents of the building in the form of furniture, books, cloth, and even securities. One example of a termite species that is dangerous as a pest is Coptotermes curvignathus. Mountain soursop seeds have bioactive compounds that are very cytotoxic, so they have potential as insecticides. This research Used a Completely Randomized Design (CRD) consisting of controls and 5 treatments (P1) 20%, (P2) 40%, (P3) 60%, (P4) 80% (P5) 100% mountain soursop seed extract. The parameters observed were retention, termite mortality, and weight reduction in the test sample. Mountain soursop seed extract is effective as an insecticide against subterranean termites. The concentration of mountain soursop seed extract 40% (P2) causes termite mortality of 100% and a decrease in sample weight by 0.43%. Mountain soursop seed extract has the potential to be developed as an anti-termite species Coptotermes curvignathus Holmgren. The retention value produced in the test sample based on SNI 03-5010.1-1999 shows that the mountain soursop seed extract with a concentration of 20% (P1) meets the standard retention of interior wood use, while extracts with a concentration of 40% (P2) meet the standard of retention of exterior wood use.Keywords: Mountain soursop seeds, Retention, mortality, weight decrease, Subterranean TermiteABSTRAKRayap banyak menimbulkan kerugian seperti rusaknya komponen bangunan yang terbuat dari kayu, beserta isi bangunannya seperti furnitur, kertas, bahan kain dan lain-lain. Salah satu contoh spesies rayap yang berbahaya sebagai hama adalah Coptotermes curvignathus. Biji sirsak gunung memiliki senyawa bioaktif bersifat sitotoksik yang sangat kuat, sehingga memiliki potensi sebagai insektisida. Rancangan penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL), terdiri dari 6 perlakuan yaitu (P1) 20%, (P2) 40%, (P3) 60%, (P4) 80% (P5) 100% dan kontrol. Parameter yang diamati meliputi retensi, mortalitas rayap, dan penurunan berat sampel. Ekstrak biji sirsak gunung efektif sebagai insektisida terhadap rayap tanah. Konsentrasi ekstrak biji sirsak gunung 40% (P2) menyebabkan mortalitas rayap sebesar 100% dan penurunan berat contoh uji sebesar 0,43%. Ekstrak biji sirsak gunung berpotensi dikembangkan sebagai anti rayap tanah jenis Coptotermes curvignathus Holmgren. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak biji sirsak gunung dengan konsentrasi 20% (P1) memenuhi standar retensi penggunaan kayu interior, sementara ekstrak dengan konsentrasi 40% (P2) memenuhi standar retensi penggunaan kayu eksterior.