Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

IDENTIFIKASI KULTUR TEKNIS LADA VERIETAS MALONAN 1 DI DESA BATUAH KECAMATAN LOA JANAN Sukariyan Sukariyan; Muhamad Tanto Agung Laksana; Fathiah Fathiah; Muhamad Yazid Bustomi; Jamaluddin Jamaluddin
Jurnal Agriovet Vol. 6 No. 1 (2023): JURNAL AGRIOVET
Publisher : LPPM UNIVERSITAS KAHURIPAN KEDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51158/agriovet.v6i1.1020

Abstract

Upaya dalam meningkatkan kualitas lada perlu dilakukan oleh petani untuk mendapatkan produksi yang maksimal. Lada juga merupakan salah satu komoditi dengan nilai jual tinggi sehingga perlu adanya cara dalam meningkatkan kualitas lada yang dihasilkan untuk menambah nilai jual. Terdapat beberapa alternatif cara dalam meningkatkan atau menjaga kualitas produksi lada, baik secara teknis budidaya maupun penanganan pascapanennya, namun pada penelitian ini lebih berfokus pada upaya dalam teknis budidaya lada khususnya varietas malonan 1. Tujuan penelitian ini yaitu mengidentifikasi kultur teknis lada varietas malonan 1 sebagai upaya dalam menjaga kualitas produksi buah lada di Desa Batuah Kecamatan Loa Janan. Penelitian dilakukan pada kelompok tani mega buana Desa Batuah Kecamatan Loa Janan. Metode penentuan sampel menggunakan sampling jenuh (sensus) yang mana seluruh anggota kelompok tani Mega Buana dijadikan sebagai responden yang berjumlah 25 orang. Metode pengumpulan data yaitu wawancara menggunakan lembar kuesioner yang kemudian dianalisis secara deskriptif kualitatif dengan menghitung persentase jawaban responden atas pertanyaan yang diajukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa upaya yang dilakukan dalam menjaga kualitas produksi buah lada di Desa Batuah yaitu sebanyak 80 persen melakukan perawatan tanaman 3 kali dalam setahun. Cara perawatan (pengendalian gulma) dilakukan dengan kombinasi cara kimia dan manual. Sementara cara pengendalian hama dan penyakit tanaman seluruhnya dilakukan dengan kombinasi cara kimia dan manual. Untuk jenis pupuk yang digunakan yaitu pupuk NPK dan pupuk kompos. Selain upaya yang telah dilakukan oleh petani tersebut, petani juga dapat meningkatkan kualitas hasil produksi yaitu menambah frekuensi perawatan yang semula hanya 2 kali dalam satu tahun menjadi 4 kali dalam satu tahun. Selain itu, perlu adanya tindakan untuk mengatasi serangan hama dan penyakit (HPT) serta rutin dan teratur dalam melakukan pemupukan tanaman.
Inventarisasi Jenis Pohon Buah yang Dibudidayakan di Lembo (Kebun Hutan) di Kecamatan Sambutan, Kota Samarinda Fathiah
Jurnal Loupe Vol 16 No 02 (2020): Edisi Desember 2020
Publisher : Jurusan Pertanian Politeknik Pertanian Negeri Samarinda Kampus Sei Keledang Jalan Samratulangi, Kotak Pos 192 Samarinda 75123

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51967/buletinloupe.v16i02.254

Abstract

Masyarakat Sambutan banyak mengelola Lembo (kebun hutan) yang merupakan salah satu pemanfaatan lahan secara tradisional dimana umumnya didominasi oleh vegetasi dan buah-buahan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis dan manfaat yang diperoleh dalam pengelolaan pohon buah hutan. Metode analisis deskrirtif kualitif dengan wawancara kepada responden 0-10%. Hasil yang didapat jenis buah durian (Durio zibethimus), kedondong (Spodias dulcis), kueni (Mangifera odorata), langsat (Lansium domesticum), melinjo (Gnentum gnemon), nangka (Arthocarpus interger), pisang (Musa Paradisiaca), rambutan (Nephelium lappaceum), sirsak (Annona muricata), sukun (Artocarpus communis), jambu air (Eugenia aquea). Pinang (Areca catechu), kelapa (Cocos mucifera), aren (Arenga pinnata), bamboo (Bambusa vulgaris), kopi (Coffea sp), kemiri (Aleurites moluccana). Manfaatnya sebagai pangan, pendapatan, obat, pewarna pakaian, bahan bangunan, dan bahan bakar. Pengelolaan pohon buah hutan di Lembo dengan melakukan kegiatan mengelola lahan antara lain (a) pemilihan lahan yaitu, dinilai masih sangat sederhana dengan melihat dari penampakan hutan, tajuknya hijau, sangat rapat dan lebat serta keadaan tanah yang berwarna gelap (b) penyiapan lahan yaitu, penebasan semak belukar, penebangan pohon, pencincangan batang atau ranting, pembakaran, dan sisa pembakaran dijadi abu sebagi pupuk tanah (c) pembibitan yaitu, bibit tidak dibeli melainkan didapat dari hutan atau permudan alam (d) penanaman yaitu, dilakukan dengan sengaja atau tidak sengaja (e) pemeliharaan yaitu, tidak ada pemeliharaan yang intensif (f) pemanenan yaitu, hasil pemanenan dinikmati setahun sekali (g) peremajaan yaitu, tanaman yang tidak produktif diganti.
Konsentrasi dan Interval Waktu Pemberian Kompos dan Teh Kompos terhadap Pertumbuhan Cabe Rawit (Capsicum frutescents L.) : Concentration and Time Interval of Compost and Tea Compost on the Growth of Cabe Rawit (Capsicum frutescents L.) Elisa Herawati; Fathiah; Agustina Murniyati; Emi Malaysia; La Ode Muh. Asdiq H.R
Jurnal Loupe Vol 19 No 02 (2023): Edisi Desember 2023
Publisher : Jurusan Pertanian Politeknik Pertanian Negeri Samarinda Kampus Sei Keledang Jalan Samratulangi, Kotak Pos 192 Samarinda 75123

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51967/buletinloupe.v19i02.2916

Abstract

Kandungan hara mineral pada media tumbuh dapat mempengaruhi pertumbuhan tanaman. Pemupukan merupakan cara untuk menambah kandungan hara mineral pada media tumbuh. Penggunaan Pupuk kimia dapat merusak tanah dan lingkungan. Penggunaan kompos dan teh kompos merupakan usaha alternatif penambahan hara mineral tanah yang ramah lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pupuk organik kompos dan teh kompos dengan konsentrasi (dosis) dan interval waktu pemupukan terhadap pertumbuhan tinggi dan diameter tanaman cabai rawit. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap dengan pola Faktorial dengan 3 faktor yaitu faktor A yang terdiri dari 2 taraf (Kompos dan Teh Kompos), faktor B yang terdiri dari 3 taraf (0 gram, 150 gram dan 300 gram) dan faktor C yang terdiri dari 3 taraf (1 minggu, 2 minggu dan 3 minggu). Hasil penelitian ini adalah perlakuan jenis pupuk organik berpengaruh sangat nyata dan interaksi perlakuan jenis pupuk organik dengan interval waktu berpengaruh nyata terhadap rata-rata laju pertumbuhan tinggi dan diameter Penggunaan pupuk teh kompos ternyata menunjukkan hasil rata-rata laju pertumbuhan tinggi dan diameter tanaman cabe rawit yang lebih tinggi dari pada pupuk kompos. Interval waktu pemberian pupuk teh kompos yang berdampak baik terhadap rata-rata laju pertumbuhan tinggi tanaman cabe rawit sebaiknya 2-3 minggu sekali, sedangkan interval waktu pemberian pupuk kompos yang berdampak baik terhadap rata-rata laju pertumbuhan tinggi tanaman cabe rawit sebaiknya 1 minggu sekali.
Effect of Differences in the Composition of Growing Media on the Growth of White Oyster Mushroom Mycelium (Pleurotus ostreatus) Elisa Herawati; Dwi Septi Amalia; Emi Malaysia; Agustina Murniyati; Fathiah
Jurnal Loupe Vol 20 No 01 (2024): June 2024
Publisher : Jurusan Pertanian Politeknik Pertanian Negeri Samarinda Kampus Sei Keledang Jalan Samratulangi, Kotak Pos 192 Samarinda 75123

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51967/buletinloupe.v20i01.3002

Abstract

The use of the main growth medium in the form of wood sawdust in mushroom domestication is still higher than that of other organic materials, even though its availability is limited, so efforts need to be made to find a growth medium composition that minimizes the percentage of sawdust use. The purpose of this study was to determine the comparison of treatment 1 (80% teak sawdust, 10% bran, 5% tapioca flour, and 5% agricultural lime) with treatment 2 (70% teak sawdust, 15% bran, 10% tapioca flour, and 5% agricultural lime) on the percentage of growth and mycelium growth of white oyster mushrooms.  Composting of growing media was carried out for 5 days, then baglog making was carried out, after which the baglog was sterilized for 4 hours. After sterilization, the baglog was cooled and inoculated. After inoculation, the baglog is incubated to grow mycelium. Then, after 15 days, data collection and calculation were carried out. The parameters measured were the percentage of growth and mycelium growth of white oyster mushrooms in baglogs. Results showed that the percentage of growth and mycelial growth of white oyster mushrooms in treatment 1 is better than in treatment 2. Reducing the percentage of the main growing medium of teak sawdust and adding the percentage of additional growing media of bran and tapioca flour has a negative impact on the number of baglogs that grow mycelium (percentage of growth) and the growth of white oyster mushroom mycelium. This means that reducing the main media of teak sawdust and adding additional media is not the right growing media composition for domestication of white oyster mushrooms, so it cannot be used as an alternative growing media composition to reduce the use of wood sawdust.