Articles
Godaan Seorang Imam dalam Pelayanan menurut Yohanes Krisostomus
Hendi Hendi;
Sesilina Gulo
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 6, No 1 (2021): Oktober 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30648/dun.v6i1.430
Abstract. This article discussed how a priest (church elder or overseer) can overcome worldly temptations through three spiritual disciplines or ascesis: prayer, fasting, and inner guarding. This article used the analytical and argumentative methods in literature written by John Chrysostom in his book "On the Priesthood" and the writings of the Church Fathers to contribute to the ministry of a priest. These three points of ascesis produce a holiness which makes him more Christlike. First, through prayer a priest can practice defeating the temptations and passions that arise from within his soul. Second, through fasting he is trained to overcome the temptations and passions that arise from the body or the flesh. Third, through inner vigilance (nepsis) he will be able to overcome the temptations of Satan who has continually seduced humans throughout the ages. These three asceses are aimed at bringing and guiding a priest to live a holy life, that is, against the desires of the flesh or worldly temptations and to produce good fruits that can be practiced in the ministry and society.Abstrak. Artikel ini mengkaji tentang cara seorang imam (penatua atau pengawas gereja) dalam mengatasi godaan-godaan duniawi melalui tiga disiplin rohani atau askesis: doa, puasa, dan keberjagaan batin. Artikel ini menggunakan metode analistis dan argumentatif di dalam literatur yang ditulis oleh Yohanes Krisostomus dalam bukunya “On The Priesthood” dan tulisan para Bapa-bapa Gereja untuk memberikan kontribusi bagi pelayanan seorang imam. Ketiga pokok askesis ini menghasilkan kekudusan yang semakin menyempurnakan dia menjadi serupa Kristus. Pertama, melalui doa seorang imam dapat berlatih mengalahkan godaan dan nafsu yang timbul dari dalam jiwanya. Kedua, melalui puasa dia dilatih untuk mengalahkan godaan dan nafsu yang timbul dari tubuh atau daging. Ketiga, melalui keberjagaan batin (nepsis) dia akan bisa mengatasi godaan dari Iblis yang senantiasa tanpa henti menggoda manusia di sepanjang zaman. Ketiga askesis ini bertujuan membawa dan menuntun seorang imam untuk hidup kudus yaitu melawan keinginan daging atau godaan-godaan duniawi dan menghasilkan buah-buah kebajikan yang bisa dipraktikkan di pelayanan dan masyarakat.
KONSEP MANUSIA BARU MENURUT KOLOSE 3:1-4
Fransiska Juliawati;
Hendi Hendi
BONAFIDE: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 2 No 1 (2021)
Publisher : SEKOLAH TINGGI TEOLOGI INJILI SETIA SIAU
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.46558/bonafide.v2i1.61
Banyak yang beranggapan menjadi manusia baru cukup dibaptis terima Yesus dan diselamatkan, bahkan orang percaya sekalipun masih banyak yang beranggapan seperti itu. Untuk itu penelitian ini bertujuan untuk memberi penjelasan tentang konsep manusia baru menurut Kolose 3:1-4. Metode yang yang digunakan yaitu metode pendekatan analisis teks yaitu fokus pada teks itu sendiri dan dikomparasikan dengan teks kitab lainnya. Hasil penelitian menyatakan bahwa berdasarkan Kolose 3:1- 4, manusia baru adalah manusia yang telah dibangkitkan bersama Kristus melalui baptisan sehingga tidak lagi memikirkan hal duniawi melainkan memikirkan hal surgawi yang ada Kristus di dalamnya. Mereka yang berlaku demikianlah yang disebut sebagai manusia baru yang terus menerus akan diperbaharui di dalam Kristus sampai mengalami Theosis atau menjadi seperti Kristus.
KONSEP BELAS KASIHAN MENURUT INJIL MATIUS 18:23-35
Reniwati Gulo;
Hendi Hendi
BONAFIDE: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 2 No 2 (2021)
Publisher : SEKOLAH TINGGI TEOLOGI INJILI SETIA SIAU
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.46558/bonafide.v2i2.70
Artikel ini merupakan hasil penelitian tentang kehidupan yang penuh belas kasihan kepada sesama manusia menurut Injil Matius 18:23-35. Metode yang digunakan adalah eksegesis. Hasilnya menunjukkan bahwa belas kasihan adalah kunci untuk mampu mengampuni sesama. Setiap orang yang percaya Yesus menerima pengampunan dari Allah oleh belas kasihan Allah yang besar melalui pribadi Yesus Kristus. Yesus mengajarkan setiap orang percaya untuk mengampuni karena telah menerima belas kasihan-Ny. Tidak mengampuni sesama berarti Allah juga tidak mengampuni kita sebab apa yang telah di tabur di dunia akan di tuai di surga. Hukuman Allah akan berlaku kepada setiap orang yang tidak mengampuni. Oleh karena itu, sikap ini perlu diambil dan diaplikasikan oleh setiap orang percaya yang telah menerima pengampunan dari Allah di dalam Yesus Kristus.
Konsep Manusia Baru Di Dalam Kristus Berdasarkan Surat Efesus 4:17-32
H Hendi;
Tiopan Aruan
Evangelikal: Jurnal Teologi Injili dan Pembinaan Warga Jemaat Vol 4, No 1 (2020): Januari
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Simpson Ungaran
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (326.155 KB)
|
DOI: 10.46445/ejti.v4i1.154
The Concept of a New Man in Christ Based on Ephesians 4:17-32. This article discusses the new man in Christ through a syntactic and semantic approach to text analysis, namely the focus on the text itself, interactions with other texts, and the writings of the Church Fathers. Only those who wear the new humanity that comes from Christ can become new human. The new human consists of soul and body which is in the new humanity. Humanity in Christ is the humanity of Adam renewed by Christ by dying on the cross, buried, and rising from the dead so that Christ has provided a new container that is humanity universally new. This new humanity is universal salvation which is a kind of clothing for every individual. Wearing new humanity or Christ's clothes becomes individual salvation. When we wear the clothes of Christ, we become new people so that our souls and bodies or our whole lives are in the new humanity. The soul and body that is in this new humanity are now continuing to process or be renewed towards a soul and body like Christ. How? That is fighting sin and doing love both spiritually and physically. Konsep Manusia Baru Di dalam Kristus Berdasarkan Surat Efesus 4:17-32. Artikel ini membahas tentang manusia baru di dalam Kristus melalui pendekatan analisis teks secara sintaksis dan semantis yaitu fokus pada teks itu sendiri, interaksi dengan teks-teks lain dan tulisan para Bapa Gereja. Hanya orang Kristen yang mengenakan kemanusiaan baru yang berasal dari Kristus yang dapat menjadi manusia baru. Manusia baru terdiri dari jiwa dan tubuh yang berada di dalam kemanusiaan baru. Kemanusiaan di dalam Kristus adalah kemanusiaan Adam yang diperbarui oleh Kristus dengan jalan Yesus mati di atas kayu salib, dikubur, dan bangkit dari kematian sehingga Kristus telah menyediakan suatu wadah baru yaitu kemanusiaan baru secara universal kepada manusia. Kemanusiaan baru adalah keselamatan universal yang menjadi semacam pakaian untuk dikenakan bagi setiap individu. Memakai kemanusiaan baru atau pakaian Kristus menjadi keselamatan individu. Ketika orang Kristen mengenakan pakaian Kristus dan menjadi manusia baru, sehingga jiwa dan tubuh serta seluruh hidup ada di dalam kemanusiaan baru. Jiwa dan tubuh yang ada di dalam kemanusiaan baru ini sekarang terus berproses atau diperbarui menuju jiwa dan tubuh seperti Kristus. Bagaimana caranya? Yaitu melawan dosa dan melakukan kasih baik secara jiwai dan badani.
Peran Kotbah Gembala Sidang Dalam Pertumbuhan Rohani Jemaat Menurut John Chrysostom
Hisikia gulo;
Hendi Hendi
CARAKA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol. 2 No. 1 (2021): Mei 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injil Bhakti Caraka
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.46348/car.v2i1.45
AbstractThe preaching role of the pastor of the congregation in the spiritual growth of the congregation has a major contribution to the salvation of every soul. This article discusses and describes the role of the pastor as a preacher in the spiritual growth of the church taught by John Chrysostom. Every pastor as a preacher must reach 3 depths of approach to preaching the word of God; Cognitive, Affective and Psychomotor. It is through the preaching of the word of God which is taught by a pastor so that someone understands and understands the meaning of following and imitating the great shepherd, Jesus Christ, and carrying out each of His teachings. The spiritual growth of each congregation is influenced by each pastor's role as the preaching of the word of God through 3 depth approaches with the aim of the need for the purity of one's soul leading to spiritual maturity. AbstrakPeran khotbah gembala sidang dalam pertumbuhan rohani jemaat memiliki kontribusi besar bagi keselamatan setiap jiwa. Artikel ini membahas dan menguraikan peran gembala sidang sebagai pengkhotbah dalam pertumbuhan rohani jemaat yang di ajarkan oleh John Chrysostom. Setiap gembala sidang sebagai pengkhotbah harus mencapai 3 kedalaman pendekatan pemberitaan firman Allah; Kognitif, Afektif dan Psikomotorik. Melalui pemberitaan firman Allah yang di ajarkan oleh seorang gembala sidang sehingga seseorang mengerti dan memahami arti dari mengikut dan meneladani gembala agung yaitu Yesus Kristus serta melakukan setiap ajaran-Nya. Pertumbuhan rohani setiap jemaat di pengaruhi dari setiap peran gembala sidang sebagai pemberitaan firman Allah melalui 3 kedalaman pendekatan dengan tujuan kebutuhan akan kemurnian jiwa seseorang menuju kepada kedewasaan rohani. Kata-kata Kunci: Gembala Sidang; Kedewasaan; Peran; Pengkhotbah.
The Theology and Practice of the Jesus Prayer
Hendi
Conference Series Vol. 2 No. 1 (2020): International Conference on Christian and Inter Religious Studies
Publisher : ADI Publisher
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
This article explains the theology and practice of the Jesus Prayer. Prayer, to the average person, is asking God for something. But the Jesus prayer is not this. It is an attempt to change the one who prays. This prayer is traditionally a monastic prayer. Its simplicity allows everyone to practice it. In this prayer, there is faith and hope in the goodness of Christ. It is the prayer from our whole being. It is a cry out of the deep heart and nepsis without ceasing. The unceasing repetition of the Jesus Prayer kept the mind on the thought of God and dispersed all irrelevant thoughts (logismoi). This is the prayer requires watchfulness as a lantern requires a candle. Watchfulness, mature in Christ, the fruit of Spirit, and theosis will follow in the praying unceasingly: the Jesus Prayer.
Peranan Diakrisis di Dalam Kehidupan Spiritual Orang Percaya Menurut Bapa-bapa Padang Gurun
Hendi Hendi;
Sarah Apriliana
DUNAMIS: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristiani Vol 7, No 1 (2022): Oktober 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Intheos Surakarta
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30648/dun.v7i1.628
Abstract. This article is an analysis of the words of the Desert Fathers regarding the important role of diacrisis in the spiritual life of believers contained in the book entitled: The Book of the Elders: “Sayings of Desert Fathers.” Diacrisis is a topic that is rarely discussed, even less studied by the Church today, so the purpose of this research is to get interesting facts about diacrisis experienced by people who have applied it in their spiritual life. The results of the analysis show that diacrisis plays an important role in the spiritual life of believers to lead to the perfection of living with God (Theosis).Abstrak. Artikel ini adalah sebuah analisis perkataan para Bapa Padang Gurun mengenai pentingnya peranan diakrisis di dalam kehidupan spiritual orang percaya yang terdapat dalam buku yang berjudul: “The Book of the Elders: Sayings of Desert Fathers.” Diakrisis ini merupakan topik yang cukup jarang dibahas bahkan kurang didalami oleh Gereja masa kini, sehingga tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan fakta menarik tentang diakrisis yang dialami oleh orang-orang yang sudah menerapkannya di dalam kehidupan spiritual mereka. Hasil analisis menunjukkan bahwa diakrisis sangatlah berperan penting dalam kehidupan spiritual orang percaya untuk menuju pada kesempurnaan hidup bersama dengan Allah (Theosis).
Tinjauan Teologis Mengenai Makna Kata “Immanuel” Menurut Kirill dari Aleksandria [Theological Review on the Meaning of the Word "Immanuel" According to Cyril of Alexandria]
Sarah Apriliana;
Hendi Hendi
Diligentia: Journal of Theology and Christian Education Vol 4, No 2 (2022): May
Publisher : Universitas Pelita Harapan
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.19166/dil.v4i2.5315
In the Old Testament, there is a prophecy about God that gave a sign that a virgin would conceive and give birth to a son, and she would name him Immanuel. Although the term sounds familiar, the word Immanuel is only mentioned 3 times in the Bible, namely in Isaiah 7:14, Isaiah 8:8 and Matthew 1:23. The word "Immanuel" itself literally means "God with us." This word is a designation that refers to the presence of God in accompanying His people. This article will discuss further the meaning of the word "Immanuel" according to the view of one of the church fathers named Cyril of Alexandria.BAHASA INDONESIA ABSTRACT: Dalam Perjanjian Lama terdapat nubuat tentang Tuhan yang memberikan tanda bahwa seorang anak dara akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamai-Nya Imanuel. Meskipun istilah ini terdengar tidak asing, kata Imanuel hanya disebutkan sebanyak 3 kali di dalam Alkitab, yaitu di dalam Yesaya 7:14, Yesaya 8:8, dan Matius 1:23. Kata "Imanuel" sendiri secara harfiah berarti "Allah menyertai kita". Kata ini merupakan sebutan yang merujuk pada kehadiran Tuhan dalam menyertai umat-Nya. Artikel ini akan membahas lebih jauh arti kata "Imanuel" menurut pandangan salah satu bapa gereja yang bernama Cyril dari Aleksandria.
Strategi Pelayanan Pastoral Bagi Kaum Awam Menurut Bapa Gereja Gregorius Agung
Hendi Hendi;
Syelin Umur
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika Vol 3, No 1 (2020): Juni 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (351.702 KB)
|
DOI: 10.34081/fidei.v3i1.68
Latar belakang dan karakteristik setiap umat sungguh beragam. Dan seorang pastor atau gembala memikul tanggung jawab untuk melayani atau menggembalakan mereka. Seorang pastor harus memiliki mata yang tajam dan strategi yang tepat untuk melayani umat yang sangat beragam. Kecakapan seorang pastor diperlukan dalam pelayanan penggembalaan. Artikel ini akan mengupas atau menguraikan strategi pelayanan pastoral yang diajarkan oleh Bapa Gereja yang bernama Gregorius Agung. Gregorius Agung menekankan setiap pastor harusnya bisa melihat dan melayani kebutuhan spiritual yang berbeda dari setiap umat. Gregorius Agung mengajarkan pentingnya nasihat-nasihat spiritual yang berbeda sesuai dengan karakter dan kondisi umat yang dilayani. Ada 11 kualifikasi dan 40 strategi bagi para pastor menggembalakan umatnya dengan spirit kerendahan hati seperti teladan dari Sang Gembala Agung Yesus Kristus.
Kemuliaan Jabatan Seorang Imam Menurut John Chrysostom
Eka Nur Cahyani;
Hendi Hendi
Fidei: Jurnal Teologi Sistematika dan Praktika Vol 4, No 1 (2021): Juni 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Tawangmangu
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.34081/fidei.v4i1.171
Di abad ke-21 yang serba cepat, Gereja umumnya dilihat dari perspektif perusahaan. Model bisnis dengan fungsi sebagai manajer tampaknya lebih unggul daripada model alkitabiah dengan fungsi sakramental. Banyak gereja yang pindah jauh dari terminologi keimamatan, dan telah mengusulkan prinsip-prinsip lain yang tidak alkitabiah dalam menyeleksi calon imam. Gereja dalam merekrut calon imam harus mengutamakan fungsi sakramental yang juga diimbangi dengan fungsi manajemen. Penulis mensintesa ide dari buku Six Books on the Priesthood sebagai buku yang menjadi landasan teori dalam membahas kemuliaan jabatan seorang imam dalam menjalankan pelayanan pastoral bagi kaum awam. Tujuannya adalah memberikan alternatif kepada Gereja dalam merekrut calon iman. Hasilnya adalah Chrysostom menekankan kemuliaan jabatan keimamatan dan membutuhkan kualifikasi khusus, penumpangan tangan dan nafas suci, yang tidak diberikan oleh semua orang. Pertama, seorang imam memengang fungsi sakramental. Kedua, seorang imam adalah pelayanan seperti malaikat. Ketiga, seorang imam harus berkarakter seperti Kristus. Keempat, seorang imam atau gembala adalah pelayanan yang sangat sulit. Jabatan seorang imam adalah mulia sebab berhubungan dengan altar, tempat suci pengorbanan dan wewenang untuk mengikat dan melepaskan seperti teladan dari Sang Gembala Agung Yesus Kristus.