Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

Elementary Student Conceptual Change About Free Fall Using Reflective Conceptual Change Model Subuh Anggoro; Ari Widodo; Badarudin Badarudin
Jurnal Penelitian Pendidikan IPA Vol 8 No 4 (2022): October
Publisher : Postgraduate, University of Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jppipa.v8i4.1998

Abstract

Students and even teachers, particularly in elementary schools, continue to have misconceptions about free fall. When using traditional learning methods, it is difficult to change these misconceptions. The purpose of this article is to reconstruct elementary school students' conceptions using a reflective conceptual change model (RCCM) aided by visual multimedia. The research design is quasi-experimental. The participants in this study were grade 4 elementary school students, 20 of whom were female and 10 of whom were male. A four-tiered test and an observation sheet were used as research instruments. Using data analysis, the findings revealed that all students had a new perspective on free fall. Male students improved their conceptual revisions better than female students. There are 90% of male students experiencing a conceptual change from misconception to scientific conception, compared to 15% of female students. RCCM assisted by visual multimedia can improve students' conception to a higher level
ANALISIS LEARNING OBSTACLE SISWA PADA MATERI OPERASI PENJUMLAHAN PECAHAN DI KELAS IV SD NEGERI KALITLAGA Anggit Wahyu Imansyah; Badarudin Badarudin
AKSELERASI: Jurnal Pendidikan Guru MI Vol. 3 No. 2 (2022): AKSELERASI : Jurnal Pendidikan Guru MI
Publisher : HMPS PGMI FTIK IAIN Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/akselerasi.v3i2.137

Abstract

Education is part of human life, with the COVID-19 pandemic, of course, education has changed in the way of doing learning which will cause a learning barrier. This study aims to describe the types and factors of learning barriers experienced by students and the solutions made by teachers in overcoming learning obstacles in learning addition operations material in class IV. In this study, the phenomenological hermeneutic method was used to analyze the learning of fourth grade students at SD Negeri Kalitlaga on the subject of addition operations. The technique used to collect data is the result of student answers, observations, interviews and documentation. There are three types of learning obstacles, namely: ontogeny obstacle, didactical obstacle, and epistemological obstacle. The results of this study suggest that ontogeny barriers are the lack of motivation obtained by students, the low ability of students in learning implementation plans that are not well planned, evaluations from teachers and the absence of learning development carried out by teachers. Then the epistemological barrier, namely the limitations of students to be associated with the context and concepts in a question. The factors that cause learning obstacles are caused by the implementation of the learning plan used by the teacher, the form of online learning to face-to-face learning. Solutions that can be used to minimize the occurrence of barriers to student learning are by continuing student motivation, implementing well-designed learning plans and using cooperative learning.  Pendidikan merupakan bagian dari kehidupan manusia, dengan adanya pandemi covid 19 tentunya pendidikan mengalami perubahan didalam cara melakukan pembelajaran yang mana akan menimbulkan suatu hambatan belajar. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan jenis dan faktor hambatan belajar yang dialami oleh siswa dan solusi yang dilakukan guru dalam mengatasi learning obstacle pada pembelajaran materi operasi penjumlahan pecahan di kelas IV. Pada penelitian ini menggunakan metode fenomenologi hermeneutika untuk menganalisis learning obstacle siswa kelas IV SD Negeri Kalitlaga pada materi operasi penjumlahan pecahan. Teknik yang digunakan untuk mengumpulkan data yaitu hasil dari jawaban siswa, observasi, wawancara dan dokumentasi. Terdapat tiga jenis learning obstacle yaitu: ontogeni obstacle, didactical obstacle, epistemologi obstacle. Hasil dari penelitian ini mengemukakan bahwa ontogeny obstacle yaitu kurangnya motivasi yang didapatkan oleh siswa, rendahnya kemampuan siswa dalam penjumlahan pecahan. sedangkan Didactical yaitu rencana pelaksanaan pembelajaran yang tidak terencana dengan baik, evaluasi dari guru dan tidak adanya pengembangan pembelajaran yang dilakukan oleh guru. Kemudian epistemology obstacle yaitu keterbatasan siswa untuk mengaitkan konteks dan konsep dalam suaru soal. Faktor yang menyebabkan learning obstacle yaitu disebabkan dari rencana pelaksanaan pembelajaran yang digunakan oleh guru, peralihan bentuk pembelajaran daring ke pembelajaran tatap muka. Solusi yang dapat digunakan untuk meminimalisir terjadinya learning obstacle siswa yaitu dengan melakukan penguatan motivasi siswa, rencana pelaksanaan pembelajaran yang tersusun dengan baik dan menggunakan pembelajaran yang kooperatif.
Analisis Learning Obstacle Siswa Pada Materi Luas Bangun Datar Persegi dan Persegi Panjang Di Kelas IV Farhan Faisal Dani; Badarudin Badarudin
Caruban: Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan Dasar Vol 5, No 2 (2022): Juli
Publisher : UNIVERSITAS SWADAYA GUNUNG JATI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (736.089 KB) | DOI: 10.33603/caruban.v5i2.7317

Abstract

Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan jenis hambatan belajar, faktor penyebab, serta solusi yang dapat dilakukan guru untuk mengurangi terjadinya learning obstacle pada siswa terkait dengan materi luas bangun datar persegi dan persegi panjang di kelas IV. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi hermeneutika. Fokus dari objek penelitian ini adalah hambatan belajar yang terjadi pada siswa kelas IV SD N Kembaran. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu observasi, soal tes tulis, analisis hasil jawaban siswa dalam mengerjakan soal luas bangun datar persegi dan persegi panjang, wawancara, dan dokumentasi. Berdasarkan hasil analisis, peneliti menemukan ada tiga jenis hambatan yang dialami siswa yaitu ontogeny obstacle, didactical obstacle, dan epistemology obstacle. Faktor yang menyebabkan terjadinya learning obstacle yaitu peralihan masa pembelajaran dari daring ke luring, kurangnya pendampingan orang tua ketika siswa belajar di rumah, penyusunan RPP yang dilakukan guru kurang relevan, dan lemahnya siswa dalam menghitung perkalian. Solusi yang dapat guru lakukan yaitu memberikan motivasi belajar, penguatan materi perkalian dasar, menggunakan metode belajar kooperatif, memberikan contoh soal-soal yang bervariasi, dan menyusun RPP secara relevan dan dinamis. Kata kunci: Learning obstacle, Faktor, Solusi, Materi luas persegi dan persegi panjang
Peningkatan Keterampilan Berpikir Kritis dan Sikap Kemandirian Belajar Siswa Melalui Model Pembelajaran Radec (Read, Answer, Discuss, Explain, Create) Materi Indonesiaku Kaya Budaya di Kelas IV SDN 1 Bantarsoka Ratna Dewi Anggraeni; Badarudin Badarudin
Journal on Education Vol 6 No 3 (2024): Volume 6 Nomor 3 Tahun 2024
Publisher : Departement of Mathematics Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joe.v6i3.5625

Abstract

The learning model used in 21st century teaching must be able to provide the development of several skills. These include problem-solving, decision-making, critical thinking, understanding information and communication technology, creative thinking, communication and collaboration, and essential skills for living in society, both domestically and internationally. The RADEC learning model is an active learning model that is quite supportive of student learning success. This research was conducted using the classroom action research (PTK) model. The class action research was conducted over two periods, generally contained in two cycles. The research was conducted using the RADEC model in each lesson. The stages of classroom action research in several cycles include planning, implementation, observation, and reflection. The results stated that the use of RADEC model can improve students' critical thinking. This improvement is evident with an average score of 69 and a percentage of completeness of 48.34% in cycle I and an increase in the average score of about 88.83 and 96.67% in cycle II. The use of the RADEC model also increased student learning independence, where the average student learning independence increased to 4.243 in cycle II with very good learning independence criteria, previously there were only 3.466 students with good student learning independence criteria
Peningkatan Keterampilan Berpikir Kritis dan Kolaborasi Melalui Pendekatan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning) pada Mata Pelajaran IPAS Kelas V SD Qotrunnada Maulidia; Badarudin Badarudin
JGK (Jurnal Guru Kita) Vol. 10 No. 3: Juni 2026
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jgk.v10.i3.74149

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya keterampilan berpikir kritis dan kolaborasi siswa pada pembelajaran IPAS di kelas V SDN 2 Banjarsari Kulon. Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini bertujuan untuk meningkatkan kedua keterampilan abad ke-21 tersebut melalui implementasi pendekatan deep learning. Subjek penelitian terdiri atas 23 siswa kelas V, dilaksanakan pada Februari 2026 di SDN 2 Banjarsari Kulon. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, tes uraian, dan dokumentasi, yang dianalisis secara deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan adanya tren peningkatan statistik yang konsisten dari Siklus I hingga Siklus II. Skor rata-rata aktivitas guru melonjak dari 78,94 menjadi 94,73 (Baik Sekali), sedangkan aktivitas siswa meningkat dari 50,00 (Cukup) menjadi 90,00 (Baik Sekali). Dampak intervensi ini berhasil menaikkan nilai rata-rata keterampilan berpikir kritis siswa dari 58,00 (Cukup) menjadi 86,96 (Sangat Baik) serta mengukuhkan skor rata-rata kolaborasi siswa dari 57,18 (Cukup) menjadi 86,59 (Sangat Baik). Dapat disimpulkan bahwa pendekatan deep learning efektif meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan kolaborasi siswa secara holistik. Rekomendasinya, pendekatan inovatif ini layak diterapkan guru secara luas untuk mengoptimalkan pembelajaran bermakna dan interaktif di sekolah dasar.