Yohanes Kartika Herdiyanto
Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Published : 54 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 21 Documents
Search
Journal : JURNAL PSIKOLOGI UDAYANA

Peran Keluarga terhadap Manajemen Relapse (Kekambuhan) pada Orang Dengan Skizofrenia (ODS) Meiantari, Ni Nengah Henny; Herdiyanto, Yohanes Kartika
Jurnal Psikologi Udayana Vol 5 No 2 (2018)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (365.912 KB) | DOI: 10.24843/JPU.2018.v05.i02.p07

Abstract

Skizofrenia merupakan gangguan psikotik yang ditandai dengan gangguan utama dalam pikiran, emosi dan perilaku. Penanganan yang umum dilakukan oleh anggota keluarga yaitu mengajak orang dengan skizofrenia (ODS) untuk melakukan pengobatan ke dokter spesialis jiwa (psikiater) maupun berobat ke rumah sakit jiwa. Kurangnya pengetahuan keluarga dan masyarakat akan deteksi dini dan penanganan pasca pengobatan di rumah sakit jiwa menyebabkan ODS tidak memperoleh penanganan dengan baik. Penanganan yang kurang baik dapat menimbulkan gejala-gejala kekambuhan atau yang sering disebut relapse. Relapse atau kambuh dapat diartikan sebagai munculnya gejala yang sama seperti sebelumnya dan mengakibatkan ODS harus dirawat kembali. Relapse dipengaruhi oleh tiga faktor, yaitu obat, keluarga dan sosial. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana peran keluarga terhadap manajemen relapse (kekambuhan) pada orang dengan skizofrenia (ODS). Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan desain penelitian fenomenologi. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara dan observasi pada 10 orang responden dan wawancara kelompok pada 2 kelompok yang terdiri dari keluarga ODS. Analisis data dilakukan dengan reduksi data, data display dan conclusion drawing atau verification. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pencegahan yang dilakukan keluarga untuk meminimalisir munculnya relapse yaitu melakukan perlindungan dari stresor, memastikan ODS minum obat secara teratur, rutin melakukan kontrol ke dokter maupun rumah sakit dan mengajak ODS untuk beraktivitas. Penanganan yang dilakukan keluarga apabila gejala relapse muncul yaitu membawa ODS ke rumah sakit, memberikan obat, dan memberikan perhatian keluarga. Kata kunci: peran keluarga, skizofrenia, relapse, ODS
Coping pada Remaja yang Kecanduan Bermain Game Online Wiguna, Ganda Yogi; Herdiyanto, Yohanes Kartika
Jurnal Psikologi Udayana Vol 5 No 2 (2018)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (330.769 KB) | DOI: 10.24843/JPU.2018.v05.i02.p15

Abstract

Masa remaja merupakan masa transisi dari anak-anak menuju dewasa yang di dalamnya terjadi perubahan fisik dan perubahan psikologis. Pada masa remaja mulai muncul rasa ingin tahu yang besar yang menyebabkan remaja tersebut mencoba hal-hal yang baru, dan mengikuti trend yang booming di teman sebayanya, salah satu trend tersebut adalah game online. Game online merupakan game yang berbasis elektronik visual serta menggunakan jaringan internet. Sebagai salah satu trend yang ramai dimainkan, game online memiliki dampak positif dan negatif. Dari dampak negatif game online akan menimbulkan masalah-masalah pada remaja yang kecanduan bermain game. Masalah-masalah ini mendorong remaja untuk melakukan beberapa coping atau solusi untuk menyelesaikannya. Masalah dan coping inilah yang akan diteliti oleh peneliti. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui masalah apa saja yang dialami remaja yang kecanduan bermain game online dan coping yang dilakukannya untuk mengatasi masalah tersebut. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Penelitian ini menggunakan lima responden yang dapat digolongkan menjadi belum bekerja, sudah bekerja dan yang ketiga masih kuliah. Hasil dari penelitian ini adalah masalah yang dialami oleh remaja yang kecanduan bermain game dapat dikelompokkan menjadi empat pokok masalah yaitu masalah dengan diri sendiri, masalah dengan orangtua, masalah dengan pacar, dan masalah dengan teman. Berikutnya coping yang dilakukan remaja yang menjadi gamers tersebut dapat dibagi menjadi dua yaitu yang efektif dan yang tidak efektif. Kata kunci: remaja, kecanduan, game online, masalah, coping
Proses Penerimaan Anggota Keluarga Orang dengan Skizofrenia Laksmi, Ida Ayu Winda Candra; Herdiyanto, Yohanes Kartika
Jurnal Psikologi Udayana Edisi Khusus
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (464.345 KB)

Abstract

Skizofrenia merupakan gangguan psikotik dalam proses berpikir, berbicara, dan berperilaku. Tak hanya memengaruhi orang dengan skizofrenia (ODS) saja, skizofrenia juga memengaruhi orang-orang disekitar ODS, termasuk anggota keluarga yang tinggal satu rumah dengan ODS. Stigma yang dibentuk oleh masyarakat membuat anggota keluarga menutup diri dan enggan bersosialisasi. Permasalahan fisik dan psikis juga dialami oleh anggota keluarga dengan keadaan ODS, maka dibutuhkan proses untuk dapat menerima keadaan diri, dengan melewati tahapan-tahapan dalam proses penerimaan. Penanganan yang tepat juga dibutuhkan untuk membantu pemulihan ODS, dengan mendapatkan pengobatan teratur dan pendampingan dari keluarga juga merupakan faktor yang penting. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan apa saja permasalahan yang dihadapi anggota keluarga ODS, proses penerimaan anggota keluarga ODS (beserta strategi kopingnya), penanganan yang dilakukan, dan faktor-faktor yang memengaruhi penerimaan anggota keluarga ODS. Menggunakan metode kualitatif fenomenologi dengan teknik pengambilan data observasi dan wawancara pada 6 orang responden yaitu anggota keluarga ODS yang tinggal satu rumah dengan ODS dan menggunakan analisis data theoretical coding. Hasil penelitian ini menunjukkan kurangnya pengetahuan keluarga mengenai skizofrenia, emosi, sikap ODS, dan penilaian lingkungan yang menjadi permasalahan anggota keluarga ODS. Proses penerimaan anggota keluarga ODS melalui tahap penolakan, marah, tawar-menawar, depresi, dan tahap penerimaan, walaupun terdapat perbedaan pada kasus-kasus yang spesifik. Penanganan pada ODS yang memberikan efek pemulihan lebih cepat adalah membawa ODS ke rumah sakit, memberikan obat dan perawatan keluarga. dorongan dari dalam diri, dukungan sosial, pandangan diri, pandangan sosial dan status ekonomi merupakan faktor penerimaan anggota keluarga ODS. Kata kunci: Proses penerimaan, anggota keluarga ODS, skizofrenia.
Dunia Sukarelawan Remaja: Frekuensi Aktivitas Kerelawanan dan Psychological Well-Being Sukarelawan Remaja di Bali Natalya, Ni Putu; Herdiyanto, Yohanes Kartika
Jurnal Psikologi Udayana Vol 3 No 1 (2016)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (379.896 KB) | DOI: 10.24843/JPU.2016.v03.i01.p14

Abstract

Voluntary activities are positive activities to facilitating the youth energy for psychologically health and have positive identity formation and predictors of psychological well-being (Bruns, 2012). These are appeal activities for youth. In fact, so much youth activity made a lot of volunteers who have been trained doesn?t participate in voluntary activities. However, there are some youth volunteers who have many years of volunteering spend some time to doing voluntary activities (Dewiyanti, 26 Oktober 2014). The amount of contributed time to voluntary activities may be related with self-acceptance, personal growth, positive relationship with others, environmental mastery, autonomy and purpose of life, there are part of psychological well-being. Purpose of this research are to know the correlation between the frequency of voluntary activities and psychological well-being and factors of that results in youth volunteers in Bali, also want to know the meaning of voluntary activities for youth volunteers in Bali.Methods of this research is quantitative combination in compelementary method (n = 398; age 13-22 years) and qualitative (n = 19 of 398). Spearman's test of quantitative data showed no significant correlation between the frequency of voluntary activities and psychological well-being of youth volunteers in Bali (Men rxy= 0,022;P=0,844, Women rxy= 0,033;P=0,556) because of early adolescence and frequency of voluntary activities can?t describe quality of voluntary activities. The meaning of voluntary activities by youth volunteer in Bali are a social identity, role and self esteem. Results of this research about factors of psychological well-being youth volunteer such as ages, quality voluntary activities, non-voluntary activities and meaning of voluntary activities will be discussed later.Keywords: volunteer, youth, psychological well-being
Perbedaan Intensitas Komunikasi Melalui Jejaring Sosial antara Tipe Kepribadian Ekstrovert dan Introvert pada Remaja Widiantari, Komang Sri; Herdiyanto, Yohanes Kartika
Jurnal Psikologi Udayana Vol 1 No 1 (2013)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (391.878 KB) | DOI: 10.24843/JPU.2013.v01.i01.p11

Abstract

The progress of information and communication technology influencethe increase of the usage of social network. Social network users are mostly inadult group. The existence of social networks can bring positive impact as well as negative impact to the society especially in adult group. The aim of this research is to find out the difference in communication intensity through social networks between extrovert and introvert types of personality in adolescents.   This research is a quantitative research with comparative method, the sampling technique used in this research is stratified proporsional randomsampling and the population is High School students in Denpasar, with the total respondents 218 student. The analysis data by t-test independent sample, and shown the result that there was a difference in the communication intensity through social network between introvert and extrovert type of personality in adolescents, the extrovert personality had a high level of communication better than introvert personality. The additional analysis, it is stated that there was a relationship between the number of social networks and the intensity of communication on social networks, and there was no difference in the intensity of communication based on gender.   Keywords: Communication intensity, social networks, extrovert,introvert  
PROSES PENERIMAAN DUKUNGAN SOSIAL ORANGTUA PADA LAKI-LAKI DALAM PERKAWINAN NYENTANA Puspani, Ni Luh Koman Desi; Herdiyanto, Yohanes Kartika
Jurnal Psikologi Udayana Edisi Khusus
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (365.088 KB)

Abstract

Sacred vows in a marriage generally requires consent from parents. Likewise in Bali on nyentana marriage, which makes the parents of the men sometimes reject and do not approve of her son who wish to nyentana to the woman's family. Psychologically, the role of parents who participated in the affairs of his marriage is a form of social support from parents. This study was conducted to determine how the acceptance of social support from parents in men which is nyentana marriage, and what are the social support received and needed by men in nyentana marriage from his parents. This research is a qualitative research with a case study approach. Collecting data in this research using observation and interviews on the two Balinese men who do the nyentana marriage with category one person divorced and one person who is not divorced. The results of this research indicate that both mens were nyentana both divorced an non-divorced get the same social support from their parents like information support, instrumental support, emotional support, and esteem support. Based on the acceptance of social support from parents, mens who divorced get the esteem support during the courtship process and get a support again when his wife is pregnant because their parents forbid their wedding before. It’s different with mens who are not divorced get te social support from his parents when their having a baby. Keywords: social support, parents, men, marriage, nyentana
Hubungan intensitas menonton film porno terhadap maskulinitas remaja laki-laki di Bali Ryoningrat, Ratih; Herdiyanto, Yohanes Kartika
Jurnal Psikologi Udayana Vol 6 No 01 (2019)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (269.172 KB) | DOI: 10.24843/JPU.2019.v06.i01.p02

Abstract

Masa remaja sebagai periode transisi perkembangan antara masa kanak-kanak dengan masa dewasa, yang melibatkan perubahan-perubahan biologis, kognitif, dan sosio-emosional. Remaja ingin mengetahui banyak hal serta ingin selalu mencoba berbagai hal baru dan ingin mengetahui berbagai informasi tentang seksualitas, karena berhubungan dengan perubahan dan perkembangan aspek fisiologis yang dialaminya. Oleh karena itu, pada masa ini, remaja mulai tertarik untuk mengeksplorasi pengetahuan tentang seksualitas dari berbagai macam sumber, termasuk mengaksesnya dari pornografi salah satunya film porno karena dianggap lebih membangkitkan gairah seksual remaja. Selain itu film porno juga memengaruhi konsep “maskulinitas” ketika remaja ingin menunjukkan pengetahuan dan keahlian yang dimilikinya dan ingin di akui oleh teman sebayanya. Maskulinitas adalah peran gender, kedudukan, perilaku, dan bentuk konstruksi kelelakian terhadap laki-laki yang dihubungkan dengan kualitas seksual kemudian dibentuk oleh kebudayaan (Barker, 2001). Maskulinitas yang tinggi juga ditemukan pada budaya yang menganut garis keturunan patrilineal yang mengganggap posisi laki-laki lebih dominan dibandingkan perempuan dalam segala hal. Darwin (2001) mengemukakan bahwa timbulnya “maskulinitas yang tinggi” pada budaya patriarki karena adanya anggapan bahwa laki-laki menjadi sejati jika berhasil menunjukkan kekuasaannya atas perempuan. Berdasarkan pemaparan diatas, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana hubungan intensitas menonton film porno terhadap maskulinitas remaja laki-laki di Bali Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan subjek sejumlah 243 remaja laki-laki pada rentang usia 15-18 tahun dan tengah menempuh pendidikan di SMAN Bali yang dipilih dengan menggunakan teknik probability sampling yaitu cluster sampling. Instrumen penelitian ada dua, yaitu skala intensitas menonton film porno (r= 0,925) dan skala sifat maskulinitas (r= 0.882). Metode analisis data menggunakan korelasi product moment dengan hasil signifikansi sebesar 0,136 (p>0,05), sehingga kesimpulan penelitian ini yaitu tidak terdapat hubungan intensitas menonton film porno terhadap maskulinitas remaja laki-laki di Bali. Kata kunci: Intensitas menonton film porno, maskulinitas, remaja Bali.
Penerapan Kearifan Lokal Masyarakat Bali yang dapat Mengurangi Stigma terhadap Orang dengan Gangguan Jiwa Pramana, Ida Bagus Gde Agung Yoga; Herdiyanto, Yohanes Kartika
Jurnal Psikologi Udayana Vol 5 No 2 (2018)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (523.23 KB) | DOI: 10.24843/JPU.2018.v05.i02.p01

Abstract

Hasil riset kesehatan dasar pada tahun 2013 menunjukkan bahwa prevalensi kasus gangguan jiwa dengan tipe skizofrenia di Indonesia sebesar 1,7 per seribu jumlah penduduk dan untuk prevalensi kasus gangguan jiwa tipe skizofrenia di Bali adalah sebesar 2,3 per seribu jumlah penduduk. Sebagian masyarakat Indonesia memandang gangguan jiwa dengan sudut pandang negatif atau yang biasa disebut dengan stigma. Stigma adalah bentuk prasangka yang mendeskreditkan atau menolak seseorang maupun kelompok karena individu atau kelompok yang ditolak tersebut dianggap berbeda dengan diri kita atau kebanyakan orang. Bali yang dikenal sebagai pulau yang sarat akan budaya dan memiliki kearifan lokal yang mengikat masyarakatnya. Kearifan lokal atau yang dikenal dengan istilah kearifan tradisional merupakan semua bentuk pengetahuan, keyakinan, pemahaman, dan wawasan serta adat kebiasaan atau etika yang menuntut perilaku manusia dalam kehidupan di dalam komunitas ekologis. Berbagai nilai atau kearifan lokal yang dimiliki oleh masyarakat Bali seharusnya mampu menekan stigma yang diterima oleh ODGJ di Bali karena nilai atau kearifan lokal tersebut secara langsung mengajarkan individu untuk berperilaku saling menghargai, peduli, dan menjaga keharmonisan satu sama lain, namun pada kenyataannya ODGJ di Bali masih mendapatkan stigma negatif dari lingkungan sekitar. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini difokuskan untuk membahas penerapan kearifan lokal masyarakat Bali yang dapat menurunkan stigma terhadap ODGJ. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Pengambilan data dilakukan dengan menggunakan teknik wawancara dan observasi pada total tujuh responden masyarakat Bali dengan dua kategori yaitu masyarakat umum berjumlah empat responden dan tokoh agama berjumlah tiga responden. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat empat konsep kearifan lokal masyarakat Bali yang dapat menurunkan stigma terhadap ODGJ yaitu tat twam asi, karma phala, tri kaya parisudha dan tri pramana. Temuan lainnya menunjukkan bahwa selain dapat menurunkan stigma, konsep karma phala ternyata dapat mendorong terbentuknya stigma masyarakat Bali terhadap ODGJ. Kata kunci: Kearifan lokal, stigma, ODGJ, masyarakat Bali.
Program Studi Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana Fitrianti, Eka Indah; Herdiyanto, Yohanes Kartika
Jurnal Psikologi Udayana Vol 3 No 2 (2016)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (426.433 KB) | DOI: 10.24843/JPU.2016.v03.i02.p13

Abstract

Every human being has a unique meaning of life, as well as individuals with schizotypal disorder. One characteristic of schizotypal patients is the distortion of mind that leads to something mystical (Halgin & Whitbourne, 2009), in this case it includes the ability to perform telepathy, know events in the past and future, as well as super abilities more similar to the characteristics of indigo people. The term children with special abilities includes the ability to perform telepathy, know events in the past and future, as well as super abilities more similar to the characteristics of indigo people. The term children with special abilities includes special and gifted children, such as genius children, gifted children, talented children, as well as indigo children who have a sixth sense or supernatural capability (Sunartini, 2009). Indigo people are also believed to have a purpose of life that is different from ordinary people generally. It leads to Frankl’s theory which states that purpose of life is part of the meaning of life (Bastaman, 2007). Therefore, researchers consider that the uniqueness of the meaning of life of indigo people and its association with the concept of self and distorted thinking on people with schizotypal disorder is important to investigate more deeply.This study used a type of qualitative research with case study approach. The study involved one respondent along with the support of informants. Data collection was done through observation, interviews, and the use of relevant documents. The results of the study were able to explain the meaning of the respondents’ lives tied to the aspects of meaningfulness of life assessment, the factors that affect the meaningfulness of life, factors of meaning formation, and the meaning of life deformation processes. Other findings were the respondents’ self-concepts and abnormalities which then lead to a result which indicates that the relationship between the meaning of life, self-concept, and abnormalities.Keywords: indigo, the meaning of life, self-concept, schizotypal disorder.
Hubungan Antara Rasa Komunitas dengan Motivasi Kerja Pengurus Subak Prayoga, Yande; Herdiyanto, Yohanes Kartika
Jurnal Psikologi Udayana Vol 1 No 2 (2014)
Publisher : Program Studi Sarjana Psikologi, Fakultas Kedokteran, Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (414.313 KB) | DOI: 10.24843/JPU.2014.v01.i02.p16

Abstract

Subak is a traditional organization of irrigation that have been known as one of the world heritages. However, it recognition should be done with the way to accomplish real problems that happened in itself, which supposed to have particular concerns. One thing that could be done is increasing the sense of community among subak's committee so that they will have job motivation to run subak. Based on that fact, the aim of this study is to know the relationship between sense of community with job motivation among subak's committee.   Methods used in this study was quantitative research methods with product-moment correlation to do data analysis. The subjects were choosen with cluster sampling technique for the total number of 58 subjects. The measurements used were sense of community modified scales from McMillan and Chavis (1986) with 34 items (cronbach's alpha is 0,898 and validity coefficient ranged from 0,314-0,637) and job motivation modified scales from Dewi (2008) with 27 items (cronbach's alpha is 0,885 and validity coefficient ranged from 0,308-0,617).   The result of this study indicates that the correlation values of sense of community and job motivation is 0,696 with 0,00 probability (p<0,05). It explained that Ho rejected and Ha accepted. Those values indicates that there are positive and significant relationship between sense of community and job motivation of subak's comittee. In addition, determinant coefficient result is 0,484 that pointed the relative contribution among sense of community with job motivation is 48,4%. This result is similiar with the theory from Hughey, et.al. (1999) which reveals that sense of community will encouraged maningful results for organization.   Keywords: sense of community, job motivation, work motivation and subak’s committee