Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

Urgensi Pemahaman Kontekstual Hadis (Refleksi terhadap Wacana Islam Nusantara) Tasbih Tasbih
Al-Ulum Vol. 16 No. 1 (2016): Al-Ulum
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Amai Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1211.245 KB) | DOI: 10.30603/au.v16i1.33

Abstract

This writing tries to show the importance of contextual understanding on hadith in order to response Islam Nusantara discourse. It is library research which takes contextual understanding on hadith and Islam Nusantara as its variables of research. The research result shown that contextual meaning is an approach which done, as an effort to analyze the meaning of hadith. it is done when there is inconsistency between the situation on a society or a certain time of decade. The hadith said that the leader should be taken from Quraisy tribe or the hadith about a nation will never find its prosperous when the leadership is given to woman are two examples which will get difficulties when it will be applied in Indonesia, as long as it is still understood textually. However, both do not find clashes when it is understood contextually. Therefore, all the Islam scientific are demanded to be ready in responding the actual problems on society life, especially in Indonesia archipelago, in order to reflect the elasticity of Islam teaching principle and method on mu’amalah and social relation issues.
Analisis Historis Sebagai Instrumen Kritik Matan Hadis Tasbih Tasbih
Al-Ulum Vol. 11 No. 1 (2011): Al-Ulum
Publisher : Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sultan Amai Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (198.146 KB)

Abstract

The main function of haditz critic is to ensure originality and validity of the haditz. Its objective is the core content (matan) a haditz. Historical analysis is used to examine validity. Historical analysis therefore is so vipotal. This is because it is associated with recognition of the authenticity and validity of honor haditzs. It is because human social-interaction associated with its environment and history. Consequently, if a hadith contradicts with historical facts, then a haditz does not meet the rules of validity; as result, the haditz can be classiefied weak (daif). Thus, historical analysis is useful to show the weakness and falsehood of a haditz.
KEDUDUKAN DAN FUNGSI KAIDAH-KAIDAH TAFSIR Tasbih Tasbih
Farabi Vol 10 No 2 (2013): AL-Farabi
Publisher : LPPM IAIN Sultan Amai Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kaidah-kaidah tafsir adalah aturan-aturan atau azas-azas yang dijadikan dasar atau landasan operasional penafsiran al-Qur’an. Kajian ini memaparkan beberapa macam kaidah tafsir yang diharapkan dapat mengungkap kedudukan dan fungsinya.
JUAL BELI MUKHADHARAH PERSPEKTIF HADIS: ANALISIS KRITIK SANAD DAN MATAN Nasrin Nazar; Tasbih Tasbih
MAHAD ALY JOURNAL OF ISLAMIC STUDIES Vol 4 No 2 (2025): Ma'had Aly Journal of Islamic Studies
Publisher : AL-BAYAN INSTITUTE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63398/ceg7sr86

Abstract

This study aims to examine the prohibition of mukhadharah (sale of unripe agricultural products) from the perspective of Hadith. Mukhadharah refers to transactions involving fruits or crops that are not yet ripe and whose quality is uncertain. In Islamic law, this practice is prohibited due to the presence of gharar (uncertainty), which may harm one of the parties. This qualitative research employs hadith takhrij and critical analysis methods. The data are derived from major hadith collections such as Sahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan al-Nasa’i, and others. The findings reveal that the hadiths prohibiting mukhadharah are classified as sahih in terms of both sanad (chain of narrators) and matn (text). Matn analysis indicates no contradiction with the Qur’an, other authentic hadiths, historical facts, or rational reasoning. Therefore, the prohibition reflects the Islamic emphasis on justice and clarity in commercial transactions.
Relevansi Ilmu Rijāl Al-Ḥadīṡ Dan Jarḥ Wa Taʿdīl Dalam Kajian Hadis Kontemporer Abdul Muthalib; Tasbih Tasbih
Jurnal Intelek Insan Cendikia Vol. 3 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sebagai instrumen verifikasi utama dalam tradisi Islam, Ilmu Rijāl al-Ḥadīṡ dan Jarḥ wa Taʿdīl berfungsi menakar kredibilitas perawi demi menjamin validitas sanad. Namun, eksistensi kedua disiplin ini kerap dipertanyakan oleh kesarjanaan kontemporer yang lebih condong pada pendekatan sosio-historis, di mana metode klasik sering dianggap terlalu normatif dan abai terhadap konteks zaman. Melalui studi kepustakaan kritis, tulisan ini membedah kembali urgensi metode klasik tersebut di tengah arus kritik modern. Analisis menunjukkan bahwa alih-alih menjadi artefak usang, perangkat metodologi lama ini justru menawarkan landasan epistemologis yang vital bagi otentisitas hadis yang tidak tergantikan oleh analisis sejarah semata. Temuan ini menegaskan bahwa pendekatan tradisional tidak seharusnya dibenturkan dengan metode baru. Sebaliknya, integrasi antara ketelitian verifikasi sanad klasik dan pisau analisis kritis modern justru berpotensi melahirkan kajian hadis yang jauh lebih holistik, objektif, dan komprehensif dalam memadukan teks wahyu dengan dinamika sejarah
Etika Komunikasi Dalam Tinjauan Al-Qur’an Dan Hadis Muhammad Aiman Nabiil Syarif; Muh Ilham; Tasbih Tasbih
JURNAL ILMIAH RESEARCH STUDENT Vol. 3 No. 1 (2026): Maret
Publisher : KAMPUS AKADEMIK PUBLISING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61722/jirs.v3i1.8337

Abstract

Communication research is a fundamental human necessity which, in Islam, is considered an act of worship when conducted in accordance with the guidance of the Qur’an and the Sunnah. However, the contemporary digital era presents complex challenges, such as the widespread dissemination of hoaxes, hate speech, and cyberbullying, indicating a decline in the ethical quality of communication. This article aims to re-explore the foundations of Islamic communication ethics as a response to these phenomena. Employing a thematic approach to Qur’anic verses and Prophetic traditions (Hadith), the study finds that Islam offers a comprehensive framework for communication through the concept of the six Qaulan principles (truthful, gentle, noble, good, effective, and pleasant speech), as well as ethical principles derived from Hadith, including self-restraint, honesty, conflict avoidance, and informational productivity. The discussion affirms that, in Islam, communication is not merely an exchange of messages, but a form of moral accountability before Allah swt, which must be grounded in the values of tawhid and humanity.
Aplikasi Metode Tahlili, Ijmali, dan Maudhu’i (Tematik) Indah Sari Dewi; Muhammad Yahya; Tasbih Tasbih
Jurnal Intelek Dan Cendikiawan Nusantara Vol. 2 No. 6 (2025): Desember 2025 - Januari 2026
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hadis Nabi Muhammad SAW menempati posisi strategis sebagai sumber normatif kedua setelah Al-Qur’an, namun proses transmisinya yang bersifat manusiawi meniscayakan penerapan metodologi ilmiah yang ketat agar terjaga keaslian dan ketepatan pemahamannya. Artikel ini bertujuan menganalisis secara sistematis karakteristik serta penerapan metode tahlīlī, ijmālī, dan maudhu‘ī (tematik) dalam kegiatan kritik sanad (naqd al-sanad) dan kritik matan (naqd al-matan), serta menegaskan relasi fungsional ketiganya dalam kajian hadis. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi kepustakaan dengan analisis deskriptif-analitis terhadap literatur klasik dan kontemporer ilmu hadis, khususnya yang berkembang dalam tradisi akademik Islam di Indonesia. Pembahasan menunjukkan bahwa metode tahlīlī berfungsi sebagai fondasi verifikasi ilmiah melalui analisis mendalam sanad dan matan, metode ijmālī berperan dalam penyederhanaan dan transmisi makna normatif hadis secara global, sedangkan metode maudhu‘ī memungkinkan sintesis tematik yang komprehensif dan kontekstual dalam merespons persoalan-persoalan kontemporer. Kesimpulannya, ketiga metode tersebut tidak bersifat dikotomis, melainkan saling melengkapi dalam satu kerangka metodologis integratif yang mampu menghasilkan pemahaman hadis yang sahih secara ilmiah, utuh secara konseptual, dan relevan secara sosial-keagamaan
Sejarah Metodologi Penyusunan Kitab-Kitab Hadist Arjung Marendeng; Tasbih Tasbih
Jurnal Intelek Dan Cendikiawan Nusantara Vol. 2 No. 6 (2025): Desember 2025 - Januari 2026
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyusunan kitab-kitab hadits merupakan salah satu pencapaian intelektual paling penting dalam tradisi keilmuan Islam, yang berkembang secara bertahap sejak masa Nabi Muhammad SAW hingga periode kodifikasi dan kajian kontemporer. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji sejarah serta metodologi penyusunan kitab-kitab hadits dengan menelusuri perkembangan tradisi periwayatan lisan, proses kodifikasi, dan pembentukan disiplin ulumul hadits. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode penelitian kepustakaan (library research), dengan menganalisis literatur klasik dan kajian akademik modern yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa metodologi penyusunan kitab hadits bersifat beragam dan kontekstual, meliputi sistematika tematik, penyusunan berdasarkan sanad, seleksi ketat hadis sahih, serta pengembangan karya analitis seperti syarah, mustadrak, dan mu‘jam. Metodologi tersebut tidak hanya bertujuan menjaga autentisitas hadis, tetapi juga memudahkan transmisi, pemahaman, dan pengembangan keilmuan Islam. Dalam konteks akademik kontemporer, metodologi klasik ini tetap relevan dan terus dikaji melalui pendekatan interdisipliner serta pemanfaatan teknologi digital, sehingga menunjukkan dinamika dan keberlanjutan tradisi keilmuan hadits dalam menjawab tantangan zaman
Budaya Attula’ Bala di Kelurahan Benjala, Kecamatan Bontobahari, Kabupaten Bulukumba Tuti Wahyuni; Hasaruddin Hasaruddin; Muhammad Yahya; Tasbih Tasbih
Jurnal Intelek Dan Cendikiawan Nusantara Vol. 2 No. 6 (2025): Desember 2025 - Januari 2026
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bulukumba adalah salah satu kabupaten, Daerah Tingkat II di Provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia. Ibu kota kabupaten ini terletak di kota Bulukumba. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 1.154,67 km, dengan jarak tempuh dari kota Makassar sekitar 153 Km. Budaya keagamaan yang kental juga cukup mempengaruhi tatanan kehidupan masyarakat Bulukumba. Sentuhan ajaran agama islam yang di bawa oleh ulama besar dari Sumatera, yang bergelar Dato Tiro (Bulukumba), telah menumbuhkan kesadaran religius dan menimbulkan keyakinan untuk berlaku zuhud, suci lahir batin, selamat dunia akhirat dalam rangka Tauhid “appaseuwang” (Meng-Esa-kan Allah SWT). Salah satu budaya keagamaan yang terletak di Kabupaten Bulukumba, tepatnya di kecamatan Bontobahari, Kelurahan Benjala yakni “Attula’ Bala”. Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dan proses tanya-jawab yang bertumpu pada saat dilakukannya budaya tersebut
Pendekatan Socio-Historis terhadap Pemaknaan Sunnah Syahdino Sahdana; Muhammad Yahya; Tasbih Tasbih
Jurnal Intelek Dan Cendikiawan Nusantara Vol. 2 No. 6 (2025): Desember 2025 - Januari 2026
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk menganalisis pemaknaan sunnah melalui pendekatan sosio-historis dengan mengkaji konteks sosial dan sejarah di balik tindakan Nabi Muhammad SAW serta penerapannya dalam masyarakat modern. Metode yang digunakan adalah kajian literatur terhadap teks-teks Al-Qur'an dan hadits, dengan fokus pada ayat-ayat yang relevan untuk memahami hubungan antara sunnah dan konteks zaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemaknaan sunnah harus memperhatikan kondisi sosial dan budaya pada masa Nabi serta perubahan yang terjadi dalam masyarakat Islam di masa mendatang. Pendekatan sosio-historis ini mengungkapkan bahwa sunnah tidak hanya dipahami secara tekstual, tetapi juga harus dipertimbangkan dalam kaitannya dengan realitas sosial yang berkembang. Oleh karena itu, pemahaman sunnah yang dinamis diperlukan agar ajaran Islam tetap relevan dalam menghadapi tantangan zaman.