Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

CHARACTER BUILDING DENGAN 5 BUDAYA SEKOLAH MEMBENTUK KARAKTER ANAK DIDIK & 7 CARA YANG DAPAT GURU GURU LAKUKAN MEMBENTUK KARAKTER ANAK DIDIK Kartini Kartini; Malabay Malabay; Holder Simorangkir; Riya Widayanti
Jurnal Abdimas Indonesia Vol. 3 No. 1 (2023): Januari-Maret 2023
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat merupakan unsur wajib dilaksanakan karena merupakan satu tridharma perguruan tinggi, untuk memberikan solusi terhadap permasalahan nyata yang terjadi pada masyarakat. Jenis-jenis program pengabdian kepada masyarakat meliputi penataan, loka karya, kursus-kursus, Pelatihan, penyuluhan, kampanye, publikasi, proyek percontohan, dan demonstrasi pameran. Maka kegiatan P2M disini menggunakan metode pelatihan dan penyuluhan. Tujuan dilaksanakannya kegiatan P2M ini yaitu untuk Penguasaan media pembelajaran daring untuk sekolah dasar dan taman kanak kanak dengan pendekatan inovasi digital, yaitu disesuaikan perkembangan zaman anak didik era teknologi. Dengan mengusung subtema pada tujuan pelaksanaan P2M ini Character Building yaitu Lima Budaya atau kebiasaan Sekolah Pembentukan Karakter anak didik dan Tujuh yang dapat guru lakukan dalam membentuk karakter anak didik, yang diselengarakan secara tatap muka dikelas dan lingkungan sekolah. Tepatnya SD IT Fatahilah Kebagusan, Ps. Minggu, Jakarta Selatan. Audiesnya Guru guru SD Islam Terpadu dan guru guru taman kanak kanak Islam Terpadu Fatahilah, dengan tahapan berupa mempersiapkan materi Sharing Knowledge, Kegiatan Diskusi dan Refleksi bersama TIM P2M, terselenggaranya kegiatan ini menambah kreatifitas, inovasi dan kemandirian tenaga pengajar dalam Pembentukan Karakter anak didik. Agar anak didik dapat tumbuh menjadi insan yang memiliki kecerdasan intelektual dan cara bersikap yang prima.
Strategi Pembangunan Dan Pengembangan Desa Wisata Berbasis Teknologi Informasi Kartini Kartini; Holder Simorangkir; Malabay Malabay; Riya Widayanti
Jurnal Abdimas Indonesia Vol. 4 No. 1 (2024): Januari-Maret 2024
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/jai.v4i1.523

Abstract

Warga desa Kadugenep Kecamatan Petir, Kabupaten Serang Provinsi Banten banyak yang membuka usaha home industri atau menjadi pelaku UMKM pengrajin tas, dompet, kelakat bambu dengan bingkai bulat rotan, dan supenir, dengan berbagai model, kwaliats dan bahan. Sudah cukup sukses, hasil kerajinan mereka sudah banyak yang dikirim ke kota propinsi lain hingga ke manca Negara. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk mengedukasi masyarakat setempat terutama para perangkat desa, para pelaku UMKM dan para pemuda karang taruna, untuk meningkatkan keterampilan dan pegetahuannya (knowledge) tentang pengusaan penggunaan teknologi informasi, agar semakin bergairah memajukan home industri UMKM, dan pariwisata desa Kadugenep, memperkenalkan (pomosi) Potensi pariwisata desa yang sejuk dengan keindahan alamnya serta UMKM wilayahnya, berbasis teknologi informasi atau digital. Pengabdian ini dilaksanakan di kantor desa Kadugenep Kecamatan Petir, Kabupaten Serang Provinsi Banten, dengan target 20 0rang warga desa, sebagian besar telah bekerja di Kawasan wisata, home industri dan pelaku ekonomi kreatif (UMKM). Metode yang digunakan ceramah, diskusi, penyuluhan, pelatihan, serta praktek dan simulasi. Adapun hasil yang di peroleh yakni warga masyarakat desa (para peserta) antusias dan bersemangat, mulai percaya diri, mampu memanfaatkan aplikasi teknologi informasi sebagai media belajar, berlatih dan mencoba memposting gambar, video objek wisata, serta produk kerajinan (yang mereka rekam dan potret langsung ditempat), kemudian mempostingnya secara mandiri menggunakan perangkat handphone miliknya ke medsos mereka (Instagram, FB, WA, lainya). Mereka juga mampu menuliskan descripsi dengan stely tulisan, warna dengan baik. Yang nantinya dapat diakses dimanapun dan kapanpun, oleh orang-orang di luar desa kadugenep.
Penerapan terapi pemberian madu dalam menurunkan frekuensi diare pada pasien anak dengan gastroenteritis akut (GEA) Utami Qhoirunnisa; Widia Sari; Titin Nurmaningsih; Kartini Kartini
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 1 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v6i1.2785

Abstract

Background: Acute gastroenteritis (GAE) is a major cause of morbidity and mortality in children. Diarrhea, the primary clinical manifestation of AE, carries the risk of dehydration, requiring comprehensive nursing care, including the use of complementary honey therapy. Purpose: To describe the application of nursing care through the administration of honey to reduce the frequency of diarrhea in pediatric patients diagnosed with acute gastroenteritis (GAE). Method: This nursing care activity uses a case study approach, encompassing assessment, establishing a nursing diagnosis, planning interventions, implementing interventions, and evaluating outcomes. The activity was conducted in the Ade Irma Suryani Pavilion Room, 2nd floor, Gatot Soebroto Army Hospital, from January 20–22, 2026. The study subjects were pediatric patients diagnosed with acute gastroenteritis (GAE), characterized by increased frequency of loose, watery bowel movements without severe complications. The objectives of this study were to reduce the frequency of diarrhea and improve stool consistency in pediatric patients with AE. The intervention consisted of administering 5 ml of pure honey three times a day for 24 hours as a complementary therapy alongside standard medical therapy. Data collection included observing bowel movement frequency, assessing stool consistency using the Bristol Stool Scale, and monitoring general condition and signs of dehydration. Data were described by comparing the patients' condition before and after honey administration to assess changes in diarrhea frequency and stool consistency. Results: The patient experienced diarrhea with a frequency of 4–5 times per day with a liquid, mucus-like consistency without blood, accompanied by vomiting three times, decreased appetite, fluid intake of less than 1 liter per day, and the child appeared weak. Physical examination showed sunken eyes, dry lips, slow return of skin turgor (±2 seconds), weak pulse, and weight loss from 14.5 kg to 13.70 kg. Fluid balance showed a negative result of -223 ml/24 hours. Stool consistency based on the Bristol Stool Scale was type 7 (liquid), and bowel sounds were heard to be increased. Routine stool examination showed positive fungi indicating an imbalance in intestinal flora (dysbiosis) and positive fiber indicating increased intestinal peristalsis. Based on the intervention results table, on the first day the frequency of diarrhea was still 3-4 times per day with stool consistency type 7 (liquid), on the second day the frequency of defecation decreased to 1 time per day with consistency type 6 (liquid mixed with dregs), and on the third day it remained 1 time per day with consistency type 4 (long, soft, and smooth). Conclusion: A three-day honey intervention for pediatric patients diagnosed with Acute Gastroenteritis (AEG) resulted in a decrease in bowel movement frequency accompanied by a gradual improvement in stool consistency. The application of nursing care combined with honey therapy provided a positive clinical response in helping reduce the frequency of diarrhea in children with acute gastroenteritis. Suggestion: Honey administration can be considered as an adjunct therapy for children with acute gastroenteritis, as recommended by healthcare professionals. Keywords: Acute gastroenteritis; Diarrhea frequency; Honey therapy; Pediatric patients Pendahuluan: Gastroenteritis akut (GEA) merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada anak. Diare sebagai manifestasi klinis utama GEA berisiko menyebabkan dehidrasi, sehingga memerlukan asuhan keperawatan komprehensif termasuk pemanfaatan terapi komplementer madu. Tujuan: Untuk menggambarkan penerapan asuhan keperawatan melalui pemberian madu dalam menurunkan frekuensi diare pada pasien anak dengan diagnosis Gastroenteritis akut (GEA). Metode: Kegiatan ini merupakan asuhan keperawatan dengan pendekatan studi kasus yang mencakup tahap pengkajian, penetapan diagnosis keperawatan, perencanaan tindakan, pelaksanaan intervensi, serta evaluasi hasil. Kegiatan dilaksanakan di Ruang Paviliun Ade Irma Suryani lantai 2 RSPAD Gatot Soebroto pada tanggal 20–22 Januari 2026. Subjek penelitian adalah pasien anak dengan diagnosis medis Gastroenteritis Akut (GEA) yang ditandai oleh peningkatan frekuensi buang air besar bertekstur cair tanpa disertai komplikasi berat. Sasaran dalam penelitian ini adalah penurunan frekuensi diare dan perbaikan konsistensi feses pada pasien anak dengan GEA. Intervensi diberikan berupa pemberian madu murni dengan dosis 5 ml selama 3X24 jam sebagai terapi komplementer bersamaan dengan terapi medis standar. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi frekuensi buang air besar, penilaian konsistensi feses menggunakan Skala Tinja Bristol, serta pemantauan kondisi umum dan tanda-tanda dehidrasi. Data digambarkan dengan cara membandingkan keadaan pasien sebelum dan setelah pemberian madu untuk melihat perubahan frekuensi diare dan konsistensi feses. Hasil: Pasien mengalami diare dengan frekuensi 4–5 kali per hari dengan konsistensi tinja cair berlendir tanpa adanya darah, disertai muntah sebanyak tiga kali, nafsu makan menurun, asupan cairan kurang dari 1 liter per hari, serta anak tampak lemas. Pemeriksaan fisik menunjukkan mata tampak cekung, bibir kering, turgor kulit kembali secara lambat (±2 detik), nadi teraba lemah, dan terjadi penurunan berat badan dari 14,5 kg menjadi 13,70 kg. Balance cairan menunjukkan hasil negatif sebesar –223 ml/24 jam. Konsistensi feses berdasarkan Skala Tinja Bristol berada pada tipe 7 (cair), dan bising usus terdengar meningkat. Pemeriksaan feses rutin menunjukkan jamur positif yang mengindikasikan adanya ketidakseimbangan flora usus (dysbiosis) serta serat positif yang menunjukkan peningkatan peristaltik usus. Berdasarkan tabel hasil intervensi, pada hari pertama frekuensi diare masih 3–4 kali per hari dengan konsistensi feses tipe 7 (cair), pada hari kedua frekuensi buang air besar menurun menjadi 1 kali per hari dengan konsistensi tipe 6 (cair bercampur ampas), dan pada hari ketiga tetap 1 kali per hari dengan konsistensi tipe 4 (berbentuk panjang, empuk, dan halus). Simpulan: Intervensi pemberian madu pada pasien anak dengan diagnosis medis Gastroenteritis Akut (GEA) selama tiga hari menunjukkan penurunan frekuensi buang air besar disertai perbaikan konsistensi feses secara bertahap. Penerapan asuhan keperawatan yang dikombinasikan dengan terapi madu memberikan respons klinis yang positif dalam membantu menurunkan frekuensi diare pada anak dengan gastroenteritis akut. Saran: Pemberian madu dapat dipertimbangkan sebagai terapi pendamping pada anak dengan gastroenteritis akut sesuai anjuran tenaga kesehatan.
Analisis, Perancangan Layanan Terpadu e-Mall multi_mitra teknologi SOA menghadapi PandemiCOVID-19 kartini kartini; Riya Widayanti
Jurnal Komputasi Vol. 8 No. 1 (2020)
Publisher : Jurusan Ilmu Komputer Fakultas MIPA Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/komputasi.v8i1.2534

Abstract

The progress of the development of information technology, communication and SOA (Service Oriented Architecture) that is very fast making all activities of aspects of human life must follow. Especially creating long distance shopping and transactions, one way to avoid the crowds and chaos of people when conditions (epidemics that are simultaneously contagious everywhere, covering large geographical areas) the COVID-19 pandemic. Among them are business, business, education, and other activities. Constraints developing applications, it is very difficult and expensive and requires a long time due to differences in platforms between applications and limited access to the server for the security of the server itself. SOA can solve this problem, can make existing programs become service oriented. This can be done with programs that have been built in a modular manner so that it is enough to only add web services techniques in them. Then a service interface is created without changing the logic of the program. Thus the testing is sufficient on the interface, while the function / logic in it does not need to be tested again because it does not change. SOA integrates and accelerates Multi-Partner business processes, all of which can improve efficiency in all fields. Based on this fact this research was conducted. The research method begins with a literature study, and documentation of related journals as a reference source for analysis. Then proceed with direct observation, conducting interviews with several Mall partners; store owner, banks, residents / customers in the Mall (the author is not allowed to mention the name of the store owner, customer name, name of the store owner, and the name of the Mall) to get the required data Modeling the system design process of the Unified Modeling Language, Enterprise Architect and tenology used by SOA. The system development method uses Prototype. The end result of this research (study) is expected to be used by related parties in developing remote transactions and other parties interested in SOA.
PENGUATAN PERAN IBU DALAM PENANGGULANGAN STUNTING MELALUI MODUL EDUKASI Widia Sari; Sri Wulandari; Kartini Kartini; Ratna Dewi; Rian Adi Pamungkas
Devote: Jurnal Pengabdian Masyarakat Global Vol. 4 No. 2 (2025): Devote : Jurnal Pengabdian Masyarakat Global, Juni 2025
Publisher : LPPM Institut Pendidikan Nusantara Global

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55681/devote.v4i2.3878

Abstract

Stunting is a major child health issue caused by chronic malnutrition and negatively affects children’s growth and development. One key risk factor is the lack of maternal knowledge regarding nutrition, childcare, and stunting prevention. This community engagement program aimed to enhance mothers' understanding of stunting prevention through an interactive educational module. The activity was conducted on December 24, 2024, at Posyandu Beringin 2, Sukawali Village, Tangerang Regency, involving 46 mothers of children aged 1–5 years and 5 health cadres. The method included needs assessment, development of contextual educational materials, and implementation of education and MPASI (complementary feeding) preparation demonstrations. The results indicated a significant improvement in mothers’ knowledge post-intervention. Most children had normal nutritional status, though some were at risk of stunting, indicating the need for follow-up. This program demonstrated that the use of educational modules and the active involvement of community health cadres are effective in increasing maternal awareness about the importance of nutrition during the first 1000 days of life. In conclusion, strengthening mothers’ roles through community-based education is an effective and sustainable strategy for stunting prevention.