Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search

ANALISIS KESIAPAN BELAJAR SISWA MENJELANG UJIAN AKHIR PADA PESERTA DIDIK KELAS IX MTS AINUS SYAMSI (STUDI KASUS MENURUT TEORI THORNDIKE) Nuraeni Nuraeni; Hading Hading; Eka Damayanti
Al Asma: Journal of Islamic Education Vol 1 No 1 (2019): MAY
Publisher : Faculty of Tarbiyah and Teacher Training

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/asma.v1i1.11129

Abstract

AbstrakTujuan penelitian ini adalah untuk : 1) mengetahui  bagaimana kesiapan belajar dalam menghadapi ujian akhir pada peserta didik kelas IX MTs Ainus Syamsi, 2) mengetahui penghambat peserta didik dalam menghadapi ujian akhir pada peserta didik kelas IX MTs Ainus Syamsi. Penelitian ini merupakan jenis penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif dengan pendekatan studi kasus. Pada penelitian ini teknik pemilihan sumber data dilakukan dengan purposive sampling yaitu maximum variation sampling. Penarikan sampel yang dilakukan dengan memilih subjek berdasarkan kriteria spesifik yang ditetapkan peneliti. Peneliti melakukan wawancara mendalam untuk menemukan informasi lebih jelas mengenai peserta didik yang menjadi sampel penelitian. Wawancara mendalam dilakukan dengan orang terdekat, teman kelas ataupun dari guru. Subjek yang diteliti adalah Si N dan Si A. Hasil penelitian diperoleh bahwa peserta didik Si N siap menghadapi ujian. Si N menyiapkan diri dalam menghadapi ujian sebagaimana dalam tiga hukum belajar throndike, sedangkan peserta didik Si A kurang siap menghadapi ujian, hal tersebut dikarenakan karena Si A kurang mempersiapkan diri baik fisik maupun mental dalam menghadapi ujian, Si A sangat jarang masuk sekolah, ia sering bolos dan jarang melakukan latihan dalam menghadapi ujian. Selain itu, keretakan hubungan rumah tangga orang tuanya yang mengakibatkan Si A merasa tidak diperdulikan sehingga tidak menyiapkan diri dalam belajar dan menghadapi ujian. AbstractThe objective of this study is to : 1) find out how the readiness of learning in facing the final examination in class IX MTs Ainus Syamsi students, 2) know the inhibitors of students in facing the final examination in class IX MTs Ainus Syamsi students. This research is a descriptive qualitative research with a case study approach. In this study, the technique of selecting data sources is done by purposive sampling, namely maximum variation sampling. Sampling is done by selecting subjects based on specific criteria set by researcher. Researcher conducted in-depth interviews to find clearer information about students who became the sample of research. In-depth interview are conducted with close friends, classmates or teachers. The subject studied were student N and student A. The results of the study were obtained that student N student is ready for the examination. N prepared himself for the examination as in three Thorndike study laws, while student A are less ready to face the examination, it is because student A is less prepared both physically and mentally in facing in facing examination, student A is rarely in school often misses and rarely examination. In addition, his parents’ broken family ties caused student A to feel left out and unable to prepare for his studies and to face examination.
PENGARUH STRATEGI GROUP TO GROUP EXCHANGE BERBASIS EKSPERIMEN TERHADAP HASIL BELAJAR FISIKA SISWA SMPN 2 LEMBANG KAB. PINRANG Rostina Rostina; Hading Hading
JPF (Jurnal Pendidikan Fisika) Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar Vol 5 No 2 (2017): Vol 5, No 2, 2017
Publisher : Pendidikan Fisika UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (700.242 KB) | DOI: 10.24252/jpf.v5i2.3418

Abstract

Masalah penelitian ini adalah Bagaimana hasil belajar fisika siswa sebelum dan sesudah penerapan strategi pembelajaran Group to Group Exchange Berbasis Eksperimen pada kelas VIII SMPN 2 Lembang Kab. Pinrang serta apakah terdapat perbedaan hasil belajar siswa sebelum dan setelah diajar dengan menggunakan Group to Group Exchange Berbasis Eksperimen pada kelas VIII SMPN 2 Lembang Kab. Pinrang. Desain penelitian yang digunakan adalah One-Group Pretest-Posttest Design. Sampel penelitian berjumlah 24 orang yang dipilih dengan menggunakan teknik random sampling. Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa skor rata-rata penguasaan konsep fisika peserta didik kelas VIII SMP Negeri 2 Lembang Kab. Pinrang setelah diajar melalui strategi Group to Group Exchange Berbasis Eksperimen sebesar 69,167. Sedangkan skor rata-rata penguasaan konsep fisika peserta didik kelas VIII SMP Negeri 2 Lembang Kab. Pinrang sebelum diajar melalui strategi Group to Group Exchange Berbasis Eksperimen sebesar 48,75. Hasil analisis inferensial menunjukkan bahwa hasil belajar fisika peserta didik setelah diajar melalui strategi Group to Group Exchange Berbasis Eksperimen lebih besar dibandingkan dengan sebelum diajar melalui strategi Group to Group Exchange Berbasis Eksperimen pada taraf nyata = 0,05.
EFEKTIVITAS METODE PEMBELAJARAN PROBLEM POSING TIPE PRE SOLUTION POSING TERHADAP KEMAMPUAN MENGANALISIS PESERTA DIDIK Andi Jusriana; Astianinsi Sawedi; Hading Hading
JPF (Jurnal Pendidikan Fisika) Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar Vol 7 No 2 (2019): September
Publisher : Pendidikan Fisika UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (763.73 KB) | DOI: 10.24252/jpf.v7i2.5343

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan tingkat kemampuan menganalisis antara peserta didik yang diajar dengan metode pembelajaran problem posing tipe pre solution posing dan peserta didik yang diajar dengan metode pembelajaran langsung pada kelas X MAN 2 Bulukumba. Pemilihan sampel melalui teknik pemadanan sampel (matching). Instrument pengumpulan data yang digunakan adalah tes kemampuan menganalisis  dengan teknik analisis data statistik deskriptif dan inferensial. Berdasarkan hasil analisis data menggunakan statistik deskriptif diperoleh hasil tes kemampuan menganalisis peserta didik yang diajar dengan metode pembelajaran problem posing tipe pre solution posing dikategorikan dalam kategori baik, sedangkan hasil tes kemampuan menganalisis peserta didik yang diajar dengan metode pembelajaran langsung dikategorikan dalam kategori cukup. Selanjutnya, statistik inferensial menyatakan bahwa thitung>ttabel  sehingga terdapat perbedaan tingkat kemampuan menganalisis antara peserta didik yang diajar dengan metode pembelajaran problem posing tipe pre solution posing dan peserta didik yang diajar dengan metode pembelajaran langsung pada kelas X MAN 2 Bulukumba.
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN THINK PAIR SHARE TERHADAP KEMAMPUAN MENGANALISIS SOAL Hading Hading; Saprin Saprin; Rosta Rosta
JPF (Jurnal Pendidikan Fisika) Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar Vol 6 No 2 (2018): September
Publisher : Pendidikan Fisika UIN Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (521.849 KB) | DOI: 10.24252/jpf.v6i2.5897

Abstract

Penelitian ini merupakan penelitian quasi eksperiment yang bertujuan untuk mengetahui kemampuan menganalisis soal  pada peserta didik yang diajar dengan model think pair share, mengetahui kemampuan menganalisis soal  pada peserta didik yang diajar dengan metode konvensional, mengetahui perbedaan kemampuan menganalisis soal pada peserta didik yang diajar dengan model think pair share dan yang diajar dengan metode konvensional. Desain penelitian yang digunakan adalah the matching only posttes only control group design. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh peserta didik kelas X IPA MAN 1 Bulukumba yang berjumlah 95 orang yang tersebar dalam 3 kelas. Sampel penelitian berjumlah 15 pasang sampel yang dipilih dari dua kelas dengan menggunakan teknik sampel pemadanan (matching). Hasil penelitian deskriptif menunjukkan bahwa nilai rata-rata kemampuan menganalisis peserta didik yang diajar dengan model think pair share sebesar 2,95 dan yang diajar dengan konvensional sebesar 2,10.  Berdasarkan hasil analisis statistik yang menunjukkan bahwa thitung yang diperoleh sebesar 12,46  dan ttabel sebesar 2,05, sehingga thitung>ttabel hal ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan kemampuan menganalisis yang signifikan antara peserta didik yang diajar dengan model think pair share dan yang diajar dengan metode konvensional pada kelas X MAN 1 Bulukumba.
المعرفة واستعمالها في اللغة العربية Hading Hading
Shaut al Arabiyyah Vol 1 No 1 (2013): Jurnal Shaut Al-'Arabiyah
Publisher : Jurusan Pendidikan Bahasa Arab

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/saa.v1i1.187

Abstract

المعرفة واستعمالها في اللغة العربيةبقلم: هادينج* ABSTRAK Bahasa termasuk bahasa Arab berfungsi sebagai alat komunikasi yang dengannya manusia dapat mencurahkan isi hati, pikiran dan perasaannya serta bertukar pikiran dan pandangan antara dua orang atau antar anggota kelompok.Sebagai nikmat pemberian Allah swt. yang terpelihara dengan terpeliharanya al-Qur’an, bahasa Arab memiliki keistimewaan-keistimewaan jika dibandingkan dengan bahasa-bahasa lain di dunia. Di antara keistimewaan-keistimewaan itu adalah dijadikanya sebagai bahasa al-Qur’an dan al-Sunnah sebagi dua sumber utama ajaran Islam, dan sebagai bahasa persatuan dunia Islam.Selain itu, bahasa Arab juga teristimewa dengan aneka macam ilmunya (علوم اللغة العربية) dan kaedahnya, dimana dengannya para penuturnya dan siapa saja yang menggunakannya dapat menghindari kesalahan-kesalahan dalam penggunaannya, baik secara lisan maupun tulisan.Dan di antara   ilmu itu adalah ilmu qawa’id al-Nahwi atau tata bahasa bagaimana menempatkan kata kata serta perubahannya dalam rangka menyusun kalimat dalam bahasa Arab sesuai dengan porsi dan posisinya masing-masing serta ketentuan terkait dengannya secara baik dan benar, termasuk di dalamnya ketentuan atau aturan berkaitan dengan isim-isim makrifah dengan berbagai bentuknya; yaitu makrifah dengan alif dan lam, makrifah dengan isim ‘alam, makrifah dengan isim isyarah, makrifah dengan isim dhamir, makrifah dengan isim mauhshul, dan makrifah karena sandar atau disandarkan kepada isim makrifah.    Kata Kunci: Bahasa Arab, Qawa’id, dan makrifah. المراجعالقرآن الكريم[1] http://arabic1lan.arabblogs.com/archive/2008/2/484791.html, Diakses Senin, 4/11/13 [1]http://www.islamstory.com/diakses, Rabu, 06-08-2013.الأنصاري، جمال الدين عبد الله بن هشام، شرح قطر الندى وبلّ الصدى، (بيروت-لبنان، 2008).ضيف، شوقي ، تجديد النحو(الطبعة الثانية؛ القاهرة: دار المعارف، 1982).عمر، أحمد مختار وأصدقائه، النحو الأساسي, (الطبعة الرابعة؛ الكويت: دار السلاسل، 1994.الغلاييني، الشيخ مصطفى,جامع الدروس العربية، الجزء الأول  (الطبعة الأولى؛ مصر: دار ابن هشام،، 2005).نعمة، فؤاد، ملخص قواعد اللغة العربية (الطبعة الثالثة والعشرون، القاهرة: المكتب العلمي للتاليف والترجمة بدون سنة). النقراط، عبد الله ، الشامل في العربية، (الطبعة الأولى؛ بنغازي – ليبيا: دار الكتب الوطنية، 203).   
JIHAD PERSPEKTIF AL-QUR’AN Hading Hading
Shaut al Arabiyyah Vol 4 No 1 (2015): Jurnal Shaut Al-'Arabiyah
Publisher : Jurusan Pendidikan Bahasa Arab

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/saa.v4i1.1056

Abstract

Jihad dari kata ’Arab جهد يجهد – جهدا وجهادا yang dimaksudkan sebagai upaya sungguh-sungguh yang dilakukan oleh setiap muslim disertai dengan kesabaran dalam menerima berbagai macam halangan dan rintangan demi terwujudnya apa yang dicita-citakan dan dalam rangka mencari keridhaan Allah swt. menurut al-Qur’an, dapat berupa jihad melawan musuh yang nyata yaitu orang-orang kafir dan munafiq, dapat pula dalam bentuk musuh yang tidak nyata yaitu diri sendiri dan bisikan setan, serta kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan.Tujuan dari jihad itu sendiri dalam kenyataannya tidak hanya dilaksanakan dalam rangka mendakwahkan agama (Islam) ke seluruh umat manusia dan mengarahkan manusia untuk beriman kepada Sang Pencipta (Allah swt)., tetapi juga dilakukan dalam rangka mengokohkan kekuatan dan memperluas wilayah kekusaan, tentunya dengan jalan damai sesuai yang telah dicontohkan oleh Rsulullah saw.   Untuk suksesnya jihad, setiap muslim dituntut pengorganannya, baik berupa harta benda,  diri (anfus), maupun kedua-duanya dengan menggunakan berbagai sarana dan prasarana secara efektif dan efisien
Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Hadis Hading Hading
Shaut al Arabiyyah Vol 4 No 2 (2016): Jurnal Shaut Al-'Arabiyah
Publisher : Jurusan Pendidikan Bahasa Arab

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/saa.v4i2.1222

Abstract

Hadis atau Sunnah sebagai sumber ajaran Islam kedua seteleh al-Qur’an jika dilihat dari segi periwayatan berbeda dengan al-Qu’an, dimana yang kedua setiap kali ayat ayatnya turun, Rasulullah saw. langsung memerintahkan penulis wahyu untuk menulisnya, sementara untuk hadis Nabi saw., tidak demikian halnya. Periwayatan hadis Nabi saw., dengan demikian lebih banyak berlangsung secara lisan dibandingkan  dengan  tulisan,  akibat  dari  ada  larangan  Rasulullah  saw.  secara umum kepada para sahabat untuk menulis hadis  hingga Khalifah ‘Umar bin ‘Abd al-‘Azīz (salah seorang Khalifah Bani Umayyah) memandang perlunya penulisan dan pembukuan hadis-hadis Nabi saw., dengan mempertimbangkan berbagai faktor, berupa: adanya kekhawatiran akan lenyapnya hadis; munculnya hadis palsu akibat pertentangan politik dan mazhab; berpencarnya para sahabat di beberapa kota, serta banyaknya dianta sahabat  yang meniggal dunia dalam peperangan.   Hasil dari upaya pembukuan hadis  itu  telah  melahirkan kitab-kitab hadis standar  sebagai rujukan  dalam  hal  pengamalan  Sunnah  Nabi  saw.,  dalam  kehidupan  kaum muslimin, serta untuk kepentingan penelitian dan pengkajian.
Musibah Perspektif Hadis Hading Hading
Shaut al Arabiyyah Vol 3 No 2 (2015): Jurnal Shaut Al-'Arabiyah
Publisher : Jurusan Pendidikan Bahasa Arab

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/saa.v3i2.1257

Abstract

Musibah yang dimaksudkan sebagai sesuatu yang menimpa, mencakup hal-hal yang  buruk maupun yang baik., tetapi kebanyakan orang memandang  sesuatu itu sebagai musibah jika dalam bentuk bencana dan malapetaka (yang tidak disukai), dan sedikit orang yang melihat dan menyadari berbagai kenikmatan –yang tidak disikapi dengan baik- sebagai  suatu musibah  yang dapat menggoyahkan dan merusak keimanan.Dari tujuh macam musibah yang dapat menimpa manusia menurut hadis Rasulullah saw., satu yang menyangkut fisik yaitu naṣab, dan  enam lainnya (waṣab, wahm, huzb, ażả, dan al-syaukah yusyảkuha), menyangkut fisik dan non fisik sekaligus. Ketujuh jenis musibah itu pada dasarnya tidak disukai oleh manusia dan tidak disebutkan tentang jenis musibah yang disukai. Rasulullah saw. Hanya menggambarkan sikap muslim yang begitu luar biasa dalam menyikapi kesusahan dan kebahagiaan yang menimpanya., dimana untuk yang pertama yaitu musibah berupa kesusahan dan kesedihan disikapinya dengan kesabaran, dan musibah berupa kesenangan disikapinya dengan kesyukuran, dan kedua sikap itu baik untuknya.Yang dituntut dari seorang muslim manakala ia mendapatkan musibah yang tidak disenangi adalah bersabar pada saat hantaman (saat-saat) pertama  (al-ṣadamat al-ulả), lalu ditindaklanjutinya dengan istirjả’ (inna lillảh wa inna ilaihi rảji’un), bahwa sesungguhnya kita dari Allah dan sesungguhnya kepada-Nya jualah kita akan kembali, sehingga tidak ada yang perlu dirisaukan secara berlebihan.
Hadis Ḍa’īf (Sebab-Sebab Ke-Ḍa’īf-an dan Ke-Ḥujjah-annya Menurut Ulama Ahli Hadis) Hading Hading
Shaut al Arabiyyah Vol 5 No 1 (2017): Jurnal Shaut Al-'Arabiyah
Publisher : Jurusan Pendidikan Bahasa Arab

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/saa.v5i1.2683

Abstract

Hadis yang mencakup perkataan, perbuatan, taqrīr, hal ihwal serta sifat-sifat Nabi Muhammad saw., merupakan sumber kedua ajaran Islam setelah al-Qur’an. Hanya saja, untuk meyakini apakah sesuatu yang dinyatakan bersumber dari Nabi itu dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, perlu adanya upaya penelitian dan pengkajian  baik menyangkut kuantitas (jumlah) orang yang terlibat dalam periwayatannya berikut kualitas orang perorang yang terlibat dalam proses transformasi maupun terkait keabsahan isi atau materi beritanya itu sendiri agar seseorang tidak salah dalam memberikan penilaian dan menentukan sikap. Dan untuk melakukan pengkajian terkait kualitas suatu hadis,  pengetahuan terkait kriteria maupun syarat-syarat suatu hadis yang layak diterima atau bahkan ditolak untuk selanjutnya diamalkan merupakan suatu keharusan. Hadis ḍa’īf sebagai  salah satu jenis hadis dilihat dari segi kualitasnya menempati tingkat terendah setelah hadis sahih dan hasan dan sebab-sebab ke-ḍa’īf-an dan macam-macamnya serta bagaimana ke-ḥujjah-annya menjadi bahan diskusi dan pembahasan menarik di kalangan ulama ahli hadis antara yang menerima secara mutlak, menolak secara mutlak atau menerima dengan syarat-syarat tertentu, terutama jika dihubungkan dengan faḍā’il al-‘amal atau keutamaan beramal.
IMPLEMENTASI MANAJEMEN PESERTA DIDIK PADA SATUAN PAUD Ade Agusriani; Hading Hading; Hilda Ayu Wahdaniah; Siti Hardiyanti Syarif; Dila Rizki Amalia; Nur Ismi A. Arsyad
NANAEKE: Indonesian Journal on Early Childhood Education Vol 2 No 2 (2019)
Publisher : Early Childhood Islamic Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/nananeke.v2i2.11561

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran implementasi manajemen peserta didik di TK Pertiwi Malaka Jl. Massusungan DG Matutu Desa Malaka, Kec. Tondong Tallasa, Kab. Pangkep. Jenis penelitian yang di lakukan adalah penelitian deskriptif kualitatif  dengan objek penelitian adalah seorang guru TK Pertiwi Malaka dengan teknik pengumpulan datamelalui observasi dan wawancara. Hasil penelitian menunjukkan bahwa TK Pertiwi Malaka telah memenuhi  standar dalam manajemen peserta didik yaitu: a) Tahapan pertama perencanaan peserta didik dengan melakukan analisis kebutuhan peserta didik dengan mempertimbangkan rasio jumlah ruang kelas, jumlah guru dan murid. b) Kehadiran dan ketidak hadiran  peserta didik disebut dengan istilah absensi disekolah. c) Pencatatan dan pelaporan peserta didik dapat dimulai dari anak masuk sekolah sampai anak lulus/tamat sekolah. d) Pelaksanaan tata tertib peserta didik yaitu pakaian seragam sekolah sudah menjadi kewajiban bagi setiap peserta didik. e) Evaluasi kegiatan peserta didik dilakukan melalui beberapa cara  yakni observasi, wawancara dan portofolio. f) Pembiayaan peserta didik. g) Kelulusan dan alumni peserta didik di buktikan dengan pemberian ijazah saat lulus.