Wirdanengsih Wirdanengsih
Postgraduate Student At The School Of Postgraduate Studies, Universitas Pendidikan Indonesia, Lecturer Of UniversitasNegeri Padang, Indonesia

Published : 29 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search
Journal : Culture

Persepsi Masyarakat Terhadap Perempuan Bercadar Pada Masa Pandemi Covid-19 di Kelurahan Aur Kuning Yaya Permatasari; Wirdanengsih Wirdanengsih
Culture & Society: Journal Of Anthropological Research Vol 2 No 3 (2021): Culture & Society: Journal of Anthropological Research (March 2021)
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/csjar.v2i3.68

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan persepsi masyarakat terhadap perempuan bercadar di Kelurahan Aur Kuning Kota Bukittinggi pada masa pandemi Covid-19. Penelitian ini dilakukan melalui pendekatan kuantitatif dengan metode survey. Pengambilan sampel dilakukan secara random kepada 534 penduduk laki-laki dan perempuan di Kelurahan Aur Kuning dengan batasan usia 25-29 tahun. Pengumpulan data dilakukan dengan penyebaran angket kepada 53 responden dan dianalisa dengan teknik analisis statistik deskriptif, erta dijelaskan dengan teori etnosains yang dikembangkan oleh Goodenough. Goodenough menyatakan bahwa perilaku masyarakat suatu kebudayaan tergantung dengan pengetahuan yang ia miliki. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa persepsi masyarakat Kelurahan Aur Kuning pada umumnya responden laki-laki dan perempuan mengetahui cadar. Sedangkan persepsi masyarakat mengenai perempuan bercadar pada masa pandemi Covid-19, sebagian kecil responden perempuan beranggapan cadar juga termasuk sebagai alat penyaring virus covid-19 sedangkan responden laki-laki beranggapan bahwa cadar bukanlah alat penyaringan virus. Perempuan bercadar di sekitar Kelurahan Aur Kuning merasa nyaman menggunakan cadarnya pada masa pandemi Covid-19 dan tetap diperlakukan sama dengan masyarakat lainnya. Berbeda sebelum masa pandemi perempuan becadar merasa terasingkan dan tidak percaya diri dalam bergaul.
Orang Minangkabau dalam Tradisi Rewang dan Nyumbang Ratih Purwati Ningsih; Wirdanengsih Wirdanengsih
Culture & Society: Journal Of Anthropological Research Vol 4 No 1 (2022): Culture & Society: Journal of Anthropological Research (June 2022)
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/csjar.v4i1.100

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk meneliti modal sosial tradisi rewang pada masyarakat Jawa di Desa Penelitian ini menjelaskan mengenai orang Minang dalam tradisi rewang dan nyumbang di Jorong Pujorahayu Nagari Koto Baru Kabupaten Pasaman Barat. Tradisi rewang dan nyumbang di Jorong Pujorahayu tidak hanya dilakukan oleh orang Jawa saja, tetapi juga dilaksanakan oleh orang Minang yang tinggal di daerah tersebut. Hal ini menjadi menarik karena tradisi rewang dan nyumbang sejatinya adalah tradisi yang dimiliki masyarakat Jawa. Teori yang digunakan dalam penelitian ini yaitu teori pemberian dari Marcel Mauss. Marcel Mauss berpendapat bahwa, tidak ada pemberian secara gratis atau cuma-cuma namun segala bentuk pemberian haruslah dibarengi dengan imbalan atau pemberian kembali. Pendekatan penelitian ini adalah kualitatif dengan metode etnografi. informan dalam penelitian ini berjumlah 15 orang, diantaranya : 10 orang orang Jawa dan 5 orang Minangkabau. Data dikumpulkan melalui teknik observasi, wawancara, dan studi dokumen. Hasil penelitian ini menjelaskan partisipasi orang Minangkabau dalam tradisi rewang dan nyumbang, seperti bekerja sama atau melakukan gotong royong untuk membantu terselenggaranya sebuah hajatan dan turut serta me-nyumbang dalam acara hajatan yang ada di Jorong Pujorahayu
Ziarah Kubur ke Makam Syekh Burhanuddin Masa Pandemi Covid-19 (Studi Fungsional: Aktivitas Peziarah di Makam Syekh Burhanuddin) Salsa Yusari Dilta; Wirdanengsih Wirdanengsih; Muhammad Hidayat
Culture & Society: Journal Of Anthropological Research Vol 4 No 2 (2022): Culture & Society: Journal of Anthropological Research (December 2022)
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/csjar.v4i2.101

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan mengapa masyarakat tetap melakukan ziarah kubur ke makam Syekh Burhanuddin pada masa pandemi Covid-19. Hal menarik di masa pandemi Covid-19, masyarakat tetap melakukan ziarah kubur ke makam Syekh Burhanuddin. Penelitian ini dianalisis dengan Teori Fungsional Bronislaw Malinowski dalam menjawab pertanyaan tujuan pada penelitian. Teori fungsional mengkaji tiga tingkatan abstraksi yaitu (1) Fungsi sosial mengenai pengaruh terhadap adat, tingkah laku manusia dan pranata sosial, (2) Fungsi sosial mengenai pengaruh terhadap kebutuhan suatu adat, (3) Fungsi sosial mengenai pengaruh terhadap kebutuhan mutlak secara terintegrasi dari suatu sistem sosial tertentu. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu pendekatan kualitatif, dengan jenis penelitian etnografi. Pemilihan informan dilakukan secara teknik purposive sampling dengan 8 orang informan, pengumpulan data dilakukan secara observasi, wawancara mendalam, studi kepustakaan, dan studi dokumentasi. Untuk mengkaji kredibilitas dari penelitian digunakan teknik triangulasi data. Data dianalisis dengan teknik model analisis data berlangsung atau mengalir (flow model analysis) Miles dan Huberman dengan cara pengumpulan data, reduksi data, display data, dan verifikasi/menarik kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan ziarah kubur tetap dilakukan oleh masyarakat Tarekat Syattariyyah pada masa pandemi Covid-19 disebabkan karena adanya keyakinan yang kuat, anggapan masyarakat tentang penyakit yang datang dari Tuhan, dan penghormatan kepada Syekh Burhanuddin serta menganggap makam tersebut adalah makam keramat.
Badantam Pada Upacara Perkawinan Lora Oktavia; Wirdanengsih Wirdanengsih
Culture & Society: Journal Of Anthropological Research Vol 4 No 2 (2022): Culture & Society: Journal of Anthropological Research (December 2022)
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/csjar.v4i2.115

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan kearifan lokal tradisi Badantam pada upacara perkawinan di Nagari Sandi Ulakan Kecamatan Ulakan Tapakis Kabupaten Padang Pariaman. Pelaksanaan tradisi Badantam pada masa pandemi COVID-19 didukung oleh partisipasi aktif masyarakat Nagari Sandi Ulakan. Penelitian ini dianalisis dengan menggunakan teori etnosains oleh James P. Spradley serta pendekatan kualitatif tipe etnografi. Lokasi penelitian yaitu di Nagari Sandi Ulakan. Teknik pemilihan informan yaitu purposive sampling dengan informan berjumlah 15 orang. Teknik pengumpulan data yaitu observasi partisipasi, wawancara mendalam dan dokumentasi. Untuk mendapatkan data yang valid dilakukan triangulasi data. Analisis data menggunakan model analisis etnosains. Hasil penelitian ini menunjukkan kearifan lokal dari tradisi Badantam berupa nilai-nilai dari tradisi Badantam yang masih menjadi kebudayaan masyarakat hingga sekarang ini di Nagari Sandi Ulakan. Nilai-nilai dari tradisi Badantam yaitu: tolong menolong, silaturrahmi, kebersamaan, persatuan, kekeluargaan dan suka rela.
Solidaritas Sosial Masyarakat pada Tradisi Pajuguk Koum-koum Nurainun Nurainun; Wirdanengsih Wirdanengsih
Culture & Society: Journal Of Anthropological Research Vol 5 No 1 (2023): Culture & Society: Journal of Anthropological Research (June 2023)
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/csjar.v5i1.124

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis solidaritas sosial pada tradisi pajuguk koum-koum di Jorong Lubuk Juangan Kecamatan Sungai Aur Kabupaten Pasaman Barat. Pajuguk koum-koum merupakan serangkaian acara yang dilaksanakan sebelum pesta perkawinan di Jorong Lubuk Juangan, Pajuguk koum-koum sudah menjadi suatu kebiasaan yang dibentuk oleh ninik mamak atau tokoh masyarakat yang bertujuan untuk menolong keluarga yang akan melaksanakan pesta pernikahan. Masyarakat Jorong Lubuk Juangan sebagian besar bermata pencaharian petani, pedagang dan ada juga sebagai peternak. Pesta perkawinan membutuhkan biaya yang cukup besar, pajuguk koum-koum dapat membantu beban keluarga dalam pelaksanaan pesta perkawinan. Permasalahan ini dianalisis dengan teori pemberian oleh Marcel Mauss. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif tipe etnografi. Pemilihan informan dilakukan melalui purposive sampling dengan jumlah informan keseluruhan sebanyak 12 orang. Data dikumpulkan melalui teknik observasi, wawancara mendalam, studi dokumen. Analisis data yang dilakukan dalam penelitian ini menggunakan model interaktif dikembangkan oleh Milles dan Huberman. Hasil temuan menunjukkan bahwa kegiatan pajuguk koum-koum dapat membentuk solidaritas dalam masyarakat. Hal ini terwujud ketika mempersiapkan tradisi pajuguk koum-koum melalui kerja sama dalam mengumpulkan alat dan bahan serta kerja sama dalam memasak nasi ketan (sipulut). Solidaritas sosial terdapat juga pada pelaksanaan pajuguk koum-koum yaitu tolong menolong dalam mengumpulkan dana, kerja sama dalam membagikan hidangan, makan bersama dan bersilaturahmi.
Perilaku Sehat dan Sakit Masayarakat pada Masa Pandemi Covid-19 Hijratul Fera; Wirdanengsih Wirdanengsih; Lia Amelia
Culture & Society: Journal Of Anthropological Research Vol 5 No 2 (2023): Culture & Society: Journal of Anthropological Research (December 2023)
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/csjar.v5i2.118

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan perilaku sehat dan sakit Masyarakat Nagari Rambatan pada masa pandemi Covid-19. Masyarakat Nagari Rambatan menggunakan pengobatan tradisional dalam penyembuhan penyakit, selain itu masyarakat juga berupaya untuk menjaga kondisi fisik mereka agar tetap sehat sehingga terhindar dari penyakit. Penelitian ini dianalisis dengan teori aksi oleh Talcott Parsons. Pendekatan penelitian yang dilakukan yaitu pendekatan kualitatif, dengan jenis penelitian studi kasus. Pemilihan informan dilakukan melalui teknik purposive sampling dengan 16 orang informan yang terdiri dari masyarakat Nagari Rambatan, penyintas Covid-19 dan petugas kesehatan. Pengumpulan data dilakukan secara observasi partispasi, wawancara mendalam, dan studi dokumentasi. Untuk mengkaji kredibilitas dari penelitian dilakukan teknik triangulasi data. Teknik triangulasi yang dilakukan yaitu triangulasi sumber, dan analisis data yang dipakai yaitu model analisis data Mile and Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku sakit masyarakat Nagari Rambatan pada masa pandemi Covid-19 adalah menggunakan pengobatan tradisional, seperti mengkonsumsi jahe, kunyit, serai, kencur, kulit manis, bawang putih, lengkuas, dan ketumbar, dan pengobatan modern dengan berkunjung ke Puskesmas Rambatan II untuk melakukan pemeriksaan, sedangkan perilaku sehat yang masyarakat Nagari Rambatan terapkan adalah mencuci tangan, memakai masker, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, makan dengan menu seimbang, melakukan aktivitas fisik, dan istirahat yang cukup.
Perangkat Badikie pada Tradisi Mandoa dalam Upacara Kematian di Nagari Campago Weni Astuti; Wirdanengsih Wirdanengsih
Culture & Society: Journal Of Anthropological Research Vol 5 No 2 (2023): Culture & Society: Journal of Anthropological Research (December 2023)
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/csjar.v5i2.121

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan fungsi perangkat badikie dalam tradisi mandoa upacara kematian di Nagari Campago Kecamatan V Koto Kampung Dalam, Kabupaten Padang Pariaman. Penelitian ini dianalisis dengan menggunakan teori Struktural Fungsional Radcliffe-Brown. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif tipe etnografi. Pemilihan informan dilakukan secara purposive sampling dengan jumlah informan 25 orang yaitu urang siak terdiri dari 3 tuangku, 5 labai, 3 tukang dikie, katik terdiri dari 2 orang, niniak mamak terdiri dari 3 orang, datuak terdiri dari 1 orang, tamu undangan dan tuan rumah terdiri dari 5 orang, pegawai nagari terdiri dari 3 orang. Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi partisipasi pasif, wawancara mendalam dan studi dokumen. Agar data yang diperoleh dapat dipercaya kebenaran dan keabsahan maka dilakukan triangulasi data. Dalam triangulasi, penulis melakukan triangulasi sumber. Kemudian data yang dikumpulkan dianalisis dengan memakai model analisis interaktif Miles dan Huberman dengan langkah-langkah: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa dalam badikie mandoa terdapat perangkat badikie yang terdiri dari tuangku, labai dan tukang dikie. Tuangku, labai dan tukang dikie berperan dalam memimpin doa-doa kematian dan doa dikie mulai dari mandoa manigo hari sampai dengan mandoa terakhir yaitu maatuih hari. Tuangku memiliki fungsi sebagai pemimpin doa kematian dalam ritual badikie mandoa. Selanjutnya labai memiliki fungsi sebagai pemimpin doa khusus yang akan dibacakan dalam badikie. Labai juga memiliki fungsi dalam memimpin proses mancabiak kain kafan sampai dengan memandu pemakaman jenazah. Selanjutnya tukang dikie memiliki fungsi sebagai orang yang akan mentaranumkan doa dikie.
Harmonisasi Sosial Masyarakat Beragam Sukubangsa Edwin Akbar Prakoso; Wirdanengsih Wirdanengsih
Culture & Society: Journal Of Anthropological Research Vol 6 No 1 (2024): Culture & Society: Journal of Anthropological Research (June 2024)
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/csjar.v6i1.166

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan dan menganalisis harmonisasi sosial pada masyarakat dengan keberagaman sukubangsa di Kelurahan Wirotho Agung. Kelurahan Wirotho Agung terdiri atas beragam sukubangsa yaitu orang Jawa, orang Minangkabau, orang Batak, dan orang Melayu. Hubungan di antara perbedaan tersebut terlihat harmonis tanpa adanya konflik di permukaan. Menarik untuk mengkaji keharmonisan tersebut. Teori yang dipakai sebagai alat analisis yaitu teori struktural fungsional skema AGIL dari Talcott Parsons. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif dengan tipe studi kasus. Teknik pemilihan informan dilakukan dengan cara purposive sampling, informan berjumlah 15 orang terdiri dari perangkat kelurahan dan masyarakat Kelurahan Wirotho Agung dengan kriteria yaitu orang Jawa, orang Minangkabau, orang Batak, dan orang Melayu yang telah berumur lebih 17 tahun dan bertempat tinggal di Kelurahan Wirotho Agung minimal selama 15 tahun. Pengumpulan data dilakukan secara observasi partisipasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan model interaktif yang dikembangkan oleh Miles dan Huberman. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa harmonisasi masyarakat Kelurahan Wirotho Agung dalam keberagaman sukubangsa yaitu Pertama, masyarakat mengutamakan kebersamaan dalam keberagaman sukubangsa dengan saling tolong menolong dalam kegiatan yang dilakukan oleh warga dan saling berbaur satu sama lain. Kedua, masyarakat tidak membeda-bedakan hak setiap sukubangsa, masyarakat saling menghargai terhadap perbedaan latar belakang yang dimiliki setiap sukubangsa. Ketiga, masyarakat menghindari konflik antara sukubangsa.