Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : Jurnal Signal

PENGALAMAN BERLITERASI PENULIS DI KOTA BANDUNG DALAM PEMERTAHANAN BUDAYA LOKAL SUNDA Santi Susanti; Kokom Komariah
JURNAL SIGNAL Vol 8, No 1 (2020): JURNAL SIGNAL
Publisher : Universitas Swadaya Gunung Djati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (312.315 KB) | DOI: 10.33603/signal.v8i1.3029

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan pengalaman berliterasi penulis di Kota Bandung dalam menjalani perannya sebagai penulis Sunda.Pokok bahasan yang digali meliputi aspek pendorong menjadi penulis Sunda, pilihan jenis dan tema tulisan untuk menyampaikan perasaan dan pikiran penulis, serta aspek harapan dalam menjalani peran sebagai penulis Sunda.Metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi digunakan untuk menguraikan pengalaman pada penulis Sunda dalam berliterasi. Wawancara mendalam dan penelusuran literatur digunakan untuk memperoleh data dari 8 penulis yang menjadi informan penelitian ini. Hasil studi menunjukkan, lingkungan dan kebiasaan membaca menjadi faktor utama yang mendorong penulis untuk menulis dalam bahasa Sunda. Tulisan fiksi dan nonfiksi menjadi pilihan penulis untuk menyampaikan pikiran dan perasannya melalui tulisan. Masalah sosial, sejarah klasik Sunda, kearifan lokal, humor, dan peristiwa aktual menjadi pilihan tema dalam tulisan para informan. Adapun yang menjadi aspek harapan sebagai penulis Sunda adalah memelihara keberlangsungan bahasa Sunda, serta berharap dapat membawa budaya Sunda ke peradaban global. Kata kunci: Literasi, Budaya Sunda, Penulis Sunda, Pelestarian Budaya ABSTRACTThis research aims to describe the author's experience in doing literacy as a Sundanese writer in Bandung City. The subject explored includes the driving aspects of being a Sundanese writer, choice of types and themes of writing, as well as aspects of hope in carrying out the role as a Sundanese writer. The qualitative method with a phenomenological approach is used to describe the experience of Sundanese writers in literacy. In-depth interviews and literature were used to obtain data from 8 writers who became informants of this study. The result shows that environment and reading habits are the main factors that encourage writers to write in the Sundanese language. Fiction and nonfiction literature contents are used to convey a writer’s thoughts and feelings through writing. Social problems, Sundanese classical history, local wisdom, humor, and actual events are the themes in the informants' writings. The aspect of hope as a Sundanese writer is to maintain the continuity of Sundanese language, and hope to bring Sundanese culture to global civilization.Keywords: Literacy, Sundanese Culture, Sundanese Writers, Cultural Preservation
LITERASI BUDAYA SUNDA PADA INDIVIDU TIONGHOA DI SUMEDANG Santi Susanti; Suwandi Sumartias
JURNAL SIGNAL Vol 7, No 2 (2019): JURNAL SIGNAL
Publisher : Universitas Swadaya Gunung Djati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (184.489 KB) | DOI: 10.33603/signal.v7i2.2413

Abstract

 Abstract This study aims to describe a dance artist, Memey Maria, in preserving and inherit Sumedang classical dance to the younger generation and explore cultural literacy process she went through in loving the Sumedang classical dance. Occupied descriptive qualitative methods with a phenomenological approach, the process of collecting data is done through interviews, direct observation, and document review. The results showed that Memey's efforts to maintain the classical dance of Sumedang were based on her love for Sundanese culture since she was a kid. Memey interacts and communicates with Sundanese around her every day. She learned Sumedang classical dance from the maestro, Raden Ono Lesmana Kartadikusumah. The regeneration process is done by teaching the dance to students at Universitas Sebelas April (Unsap), Sumedang. Although there were fewer participants, Memey still exited in teaching the dance to female students. The conclusion of this study shows that communication plays an important role in the process of culture learning. Internalization will be formed inside the individual if the cultural learning process continuously takes place. Keywords: Sumedang classical dance, learning culture, regeneration, Chinese. Abstrak Penelitian ini bertujuan mengungkapkan upaya Memey dalam memertahankan dan mewariskan tarian klasik Sumedang kepada generasi muda serta menggali proses literasi budaya yang Memey jalani sehingga mencintai tarian klasik Sumedang. Melalui metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan fenomenologi, proses pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, pengamatan langsung serta penelaahan dokumen. Hasil penelitian menunjukkan, upaya Memey memertahankan tarian klasik Sumedang agar tetap hidup didasari oleh rasa cintanya akan budaya Sunda yang melingkupinya sejak ia kecil. Dalam kehidupan sehari-hari, Memey berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang Sunda di sekelilingnya. Ia pun belajar langsung tarian klasik Sumedang dan maestronya, yakni Raden Ono Lesmana Kartadikusumah. Proses regenerasi dilakukan dengan mengajarkan tarian tersebut kepada mahasiswi di Universitas Sebelas April (Unsap), Sumedang. Meski yang ikut tidak banyak, tapi Memey tetap semangat untuk mengajarkan tarian tersebut kepada pada mahasiswi. Kesimpulan penelitian ini menunjukkan, komunikasi berperan penting dalam proses belajar budaya. Internalisasi baru akan terbentuk dalam pribadi individu, jika proses pembelajaran budaya berlangsung secara berkesinambungan. Kata kunci: Tarian klasik Sumedang, belajar budaya, regenerasi, Tionghoa.
PENGALAMAN BERKOMUNIKASI PARA GURU SEKOLAH BERBASIS KEWIRAUSAHAAN DALAM PEMBELAJARAN DARING SAAT PANDEMI COVID-19 Santi Susanti; Rachmaniar Rachmaniar
JURNAL SIGNAL Vol 10, No 1 (2022): JURNAL SIGNAL
Publisher : Universitas Swadaya Gunung Djati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (327.825 KB) | DOI: 10.33603/signal.v10i01.6303

Abstract

Pandemi COVID-19 memunculkan berbagai dampak dalam kehidupan manusia, termasuk dalam proses pembelajaran. Pemerintah mengeluarkan edaran agar proses pembelajaran dialihkan dari tatap muka menjadi belajar jarak jauh dari rumah, untuk mencegah penyebaran COVID-19. Pihak sekolah, orang tua dan siswa, banyak yang tidak siap dengan keputusan darurat tersebut. Meski demikian proses belajar tetap harus berlanjut. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan pengalaman berkomunikasi para guru dalam pembelajaran jarak jauh di Sekolah Bestari Utami, Garut, yang terdiri dari sekolah dasar dan sekolah menengah pertama. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi untuk mengungkapkan pengalaman berkomunikasi para guru dalam memberikan materi pembelajaran saat pandemi COVID-19 kepada siswa sekolah Bestari Utami, Garut. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam kepada para guru serta observasi lapangan di lokasi, serta studi dokumentasi dan literatur yang relevan dengan topik penelitian. Hasil penelitian mengungkapkan perubahan komunikasi dilakukan guru kepada sesama pengajar, kepada orang tua dan kepada peserta didik sekolah Bestari Utami. Untuk memudahkan penyampaian, maka digunakan beberapa media online, yakni Whatsapp, Email, Google Drive, Zoom Meetings, Google Meet dan video call. Hambatan komunikasi kepada siswa muncul ketika peserta didik Hambatan yang ditimbulkan dari komunikasi yang berlangsung secara daring adalah kesulitan peserta didik untuk memahami materi yang berkaitan dengan pemahaman atau logika. Selain itu, lemahnya sinyal dan keterbatasan kepemilikan telepon seluler maupun laptop menjadi hambatan komunikasi yang dilangsung dari para guru kepada peserta didik di Sekolah Bestari Utami. Hambatan komunikasi dengan orang tua terjadi ketika adanya orang tua yang menolak diajak berdiskusi untuk membicarakan perihal perkembangan anak mereka serta seputar PJJ dan aturan sekolah yang terkait dengan PJJ.
PENGALAMAN BERKOMUNIKASI PARA GURU SEKOLAH BERBASIS KEWIRAUSAHAAN DALAM PEMBELAJARAN DARING SAAT PANDEMI COVID-19 Santi Susanti; Rachmaniar Rachmaniar
JURNAL SIGNAL Vol 10 No 1 (2022): JURNAL SIGNAL
Publisher : Universitas Swadaya Gunung Jati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33603/signal.v10i01.6303

Abstract

Pandemi COVID-19 memunculkan berbagai dampak dalam kehidupan manusia, termasuk dalam proses pembelajaran. Pemerintah mengeluarkan edaran agar proses pembelajaran dialihkan dari tatap muka menjadi belajar jarak jauh dari rumah, untuk mencegah penyebaran COVID-19. Pihak sekolah, orang tua dan siswa, banyak yang tidak siap dengan keputusan darurat tersebut. Meski demikian proses belajar tetap harus berlanjut. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan pengalaman berkomunikasi para guru dalam pembelajaran jarak jauh di Sekolah Bestari Utami, Garut, yang terdiri dari sekolah dasar dan sekolah menengah pertama. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan fenomenologi untuk mengungkapkan pengalaman berkomunikasi para guru dalam memberikan materi pembelajaran saat pandemi COVID-19 kepada siswa sekolah Bestari Utami, Garut. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam kepada para guru serta observasi lapangan di lokasi, serta studi dokumentasi dan literatur yang relevan dengan topik penelitian. Hasil penelitian mengungkapkan perubahan komunikasi dilakukan guru kepada sesama pengajar, kepada orang tua dan kepada peserta didik sekolah Bestari Utami. Untuk memudahkan penyampaian, maka digunakan beberapa media online, yakni Whatsapp, Email, Google Drive, Zoom Meetings, Google Meet dan video call. Hambatan komunikasi kepada siswa muncul ketika peserta didik Hambatan yang ditimbulkan dari komunikasi yang berlangsung secara daring adalah kesulitan peserta didik untuk memahami materi yang berkaitan dengan pemahaman atau logika. Selain itu, lemahnya sinyal dan keterbatasan kepemilikan telepon seluler maupun laptop menjadi hambatan komunikasi yang dilangsung dari para guru kepada peserta didik di Sekolah Bestari Utami. Hambatan komunikasi dengan orang tua terjadi ketika adanya orang tua yang menolak diajak berdiskusi untuk membicarakan perihal perkembangan anak mereka serta seputar PJJ dan aturan sekolah yang terkait dengan PJJ.