Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

Studi Awal Potensi Bahan Galian Pada Daerah Kabupaten Belitung Timur, Indonesia Natasia, Nanda; Barkah, Muhammad Nursiyam; Saputra, Dian Hari; Alfadli, Muhammad Kurniawan
Bulletin of Scientific Contribution Vol 14, No 2 (2016): Bulletin of Scientific Contribution
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1736.891 KB) | DOI: 10.24198/bsc.v14i2.9801

Abstract

The mining development is influences the economy growth and support to increases the society prosperity. East Belitung be able to execute the mining development which have some potential mining resources such tin, galena, iron ore, bauxite, granite, quartz sand, and kaolin. The research method is field observation to find out the geological condition and the mining material resources along with GIS analysis for representation the geomorphology and geology in East Belitung. East Belitung geomorphology consist of plains and hills with elevation more than 600 msl. The plain area is used for tin exploration and oil palm plantation, while the hill area for protected forest. East Belitung geology consist of alluvium, carbon sand, Tajam Formation, Kelapakampit Formation, Siantu Formation, Tanjungpandan Granite, Baginda Adalemite, Burungmandi Granodiorite, Batubesi Quartz Diorite. The geology structure in East Belitung are fold, fault and crack. Generally, the fold direction is NW-SE, the fault direction is NE-SE. Based on geochemical analysis and the distribution of mining material resources can be concluded that East Belitung area have large potential of mining material resources, it seen from galena, iron ore and bauxite materials that have intermediate until good quality. Besides that, from the delineation of potential distribution map shown the mining material have extensive distributions and can be optimization for regional development and society prosperity. Keywords : Mining Material, East Belitung, Delineation of Potential Distribution, Mining ABSTRAKPerkembangan area pertambangan sangat berpengaruh kepada pertumbuhan ekonomi suatu daerah dan membantu dalam peningkatkan kesejahteraan masyarakat. Salah satu daerah yang dapat melakukan pengembangan area pertambangan adalah Belitung Timur yang memiliki beberapa potensi bahan galian antara lain timah, galena, biji besi, bauksit, granit, pasir kuarsa, dan kaolin. Metode penelitian berupa pengamatan lapangan untuk mengetahui kondisi geologi dan sumberdaya bahan galian serta analisis GIS untuk mendapatkan gambaran geomorfologi dan geologi Kepulauan Belitung. Geomorfologi pada daerah Belitung Timur berupa pedataran dan perbukitan yang ketinggiannya berada diatas 600 mdpl. Pedataran lebih banyak dipergunakan untuk penambangan timah dan perkebunan sawit, sedangkan perbukitan dimanfaatkan untuk hutan lindung. Geologi pada daerah Belitung Timur terdiri dari Aluvium, Pasir berkarbon, Formasi Tajam, Formasi Kelapakampit, Formasi Siantu, Granit Tanjungpandan, Adalemit Baginda, Granodiorit Burungmandi, Diorit Kuarsa Batubesi. Struktur geologi yang berkembang pada kawasan ini adalah lipatan, sesar dan kekar .Arah sumbu lipatan umumnya Baratlaut-Tenggara, sedangkan sesar berarah Timurlaut-Baratdaya. Berdasarkan analisis geokimia dari sampel lapangan dan sebaran dari bahan galian yang ada dapat disimpulkan bahwa daerah kawasan Belitung Timur memiliki potensi bahan galian yang besar, terlihat dari kandungan bahan galian galena, biji besi, dan bauksit yang memiliki kadar menengah hingga tinggi. Selain itu, dari hasil deliniasi sebaran potensi memperlihatkan sebaran bahan galian berpotensi yang berada pada kawasan Belitung Timur sangat besar dan dapat dioptimalisasi agar berguna untuk pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Kata kunci : Bahan Galian, Belitung Timur, Deliniasi Sebaran Potensi, Pertambangan.
ANALISIS FASIES RESERVOIR A FORMASI MENGGALA DI LAPANGAN BARUMUN TENGAH, CEKUNGAN SUMATRA TENGAH Natasia, Nanda; Syafri, Ildrem; Alfadli, Muhammad Kurniawan; Arfiansyah, Kurnia
Bulletin of Scientific Contribution Vol 15, No 2 (2017): Bulletin of Scientific Contribution GEOLOGY
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (774.137 KB) | DOI: 10.24198/bsc.v15i2.13387

Abstract

ABSTRAKLapangan Barumun Tengah adalah lapangan yang baru dikembangkan semenjak ditemukannya potensi hidrokarbon pada sumur eksplorasi BT-1 pada lapisan batupasir A dan B tahun 1984. Pengambilan data baru berupa sumur pengembangan dan seismik 3D dapat digunakan untuk melihat pola sebaran lateral dan geometri batupasir yang sesuai dengan model lingkungan pengendapan yang diajukan, sehingga diperlukan studi lebih lanjut untuk memahami tipe fasies, distribusi lateral, geometri dan kualitas reservoir pada reservoir batupasir A. Kelompok Sihapas berumur Awal Miosen menindih tidakselaras terhadap Formasi Pematang. Formasi ini mengandung batupasir dengan ukuran butir medium-coarse dan batulempung yang diendapkan pada delta plain- delta front. Ketebalan pada Formasi Lower Sihapas di sumur BT-1 adalah 130 kaki dan terdapat 4 batupasir individu berukuran 40kaki, 8kaki, 30kaki, dan 10kaki masing-masing. Sedangkan pada sumur BT-2 ketebalan Lower Sihapas 150kaki dengan 4 batupasir individu juga masing-masing 53kaki, 23kaki, 5kaki, 22kaki. Berdasarkan deskripsi litofasies, maka dapat diinterpretasikan asosiasi fasies yang terdapat pada sumur BT-3 terdiri dari dua asosiasi fasies (genetic unit). Kata kunci: Fasies,Formasi Menggala, Sumatera Tengah ABSTRACTBarumun Tengah is one of newly developed field since the discovery of hidrocarbon potential in BT-1 Well on Sand A and B in 1984. Newly well and seismic data taken was able to determinate the geometry and lateral distribution of the sand facies. But the new integrated study to understand the facies type is needed. The Early Miocene Sihapas group was deposited unconformitely the Older Pematang Group, Consist of medium to coarse sandstone and shale deposited in delta plain to delta front environment. Thickness of the sand in BT-1 sand is aproximately 130 ft in total with 4 separated sandstone layer, from bottom to top 40ft, 8 ft, 30ft, and 10ft. while thickness in BT-2 Well 53ft, 23ft, 5ft, and 22ft respectively.  Based on litofacies description, there are two genetic unit can be found. Keyword: Facies, Menggala Formation, Central Sumatera
PENGARUH PARAMETER SEMENTASI M PADA PERHITUNGAN SATURASI AIR PADA RESERVOIR BATUGAMPING Natasia, Nanda; Alfadli, Muhammad Kurniawan
Bulletin of Scientific Contribution Vol 16, No 1 (2018): Bulletin of Scientific Contribution GEOLOGY
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (367.189 KB)

Abstract

Penelitian ini melakukan perbandingan perhitungan nilai saturasi air formasi dengan berbagai metode untuk melihat seberapa besar perbedaan hasil dari masing masing metode tersebut . Keanekaragaman tipe porositas pada batugamping menjadi tantangan yang besar saat melakukan evaluasi terhadap batuan karbonat, khususnya batugamping. Batugamping adalah batuan sedimen yang utamanya tersusun oleh kalsium karbonat (CaCO3) yang dapat terjadi secara organik, mekanik, maupun kimiawi. Sumber utama yang membentuk batuanini adalah sisa dari organisme laut yang memiliki cangkan karbonat dan diendapkan dalam bentuk batuan. karena sifat pembentukannya ini maka batuan yang dihasikan akan memiliki tingkat heterogenitas yang tinggi, terutama pada porositasnya. Porositas yang dihasilkan akan dapat berupa rongga asal dari cangkang biota, hasil pelarutan cangkang, maupun porositas hasil peretakan. Parameter pada persamaan Archie yang menggambarkan s ist im porositas adalah “m exponent”. Perhitungan kejenuhan air (Sw) yang dilakukan pada data bawah permukaan merupakan tahapan yang sangat penting pada saat evaluasi suatu formasi. Perhitungan ini akan sangat mempengaruhi seberapa besar cadangan hidrokarbon yang dapat diperkirakan. Sedikit kesalahan dalam perhitungan nilai tersebut akan mempengaruhi besaran cadangan suatu lapangan. Pada daerah dengan nilai porositas kecil, perhitungan saturasi perlu mendapatkan perhatian yang lebih karena simpangan nilai saturasi akan semakin besar. terlihat perbedaan hingga maksimum 0.35 pada porositas yang sangat kecil. perbedaan ini sangat signifikan pada perhitungan cadangan suatu lapangan.Kata kunci: batugamping, evaluasi formasi, exponen m, archie, saturasi air
FACIES AND PETROGRAPHIC CHARACTERISTICS OF CILETUH FORMATION IN THE MANDRAJAYA AREA, CIEMAS SUBDISTRICT, WEST JAVA Sayaf, Ival Umar; Isnaniawardhani, Vijaya; Hardiyono, Adi; Natasia, Nanda
Bulletin of Scientific Contribution Vol 23, No 2 (2025): Bulletin of Scientific Contribution : GEOLOGY
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/bsc.v23i2.65345

Abstract

The Eocene Ciletuh Formation, exposed within the Ciletuh-Palabuhanratu UNESCO Global Geopark, provides a key record of syn-tectonic sedimentation in West Java. While its general submarine fan setting is known, detailed facies and petrographic studies in specific localities are limited. This study aims to characterize the sedimentology of the Ciletuh Formation sandstone in the Mandrajaya area through an integrated analysis of lithofacies, petrography, and their spatial distribution to reconstruct its depositional environment. The methodology involved geological mapping to document outcrop characteristics and collect samples, followed by petrographic analysis of sandstones and conglomerates. Four primary lithofacies were identified: (a) matrix-supported polymictic conglomerate, (b) graded sandstone, (c) parallel-laminated sandstone, and (d) massive sandstone. Petrographic analysis reveals that the sandstones are texturally immature Lithic Arenites, and the conglomerates contain polymictic clasts of gabbro and recycled sandstone within a similar lithic arenite matrix. The spatial distribution of these facies delineates a submarine fan architecture, characterized by channel-fill deposits (conglomerates and massive sandstones) flanked by associated levee and overbank deposits (graded and laminated sandstones). The lithofacies association and petrographic composition confirm deposition within a dynamic submarine fan system sourced from a "Recycled Orogenic" belt, specifically the uplifted Ciletuh mé‎lange complex, within a tectonically active Paleogene fore-arc basin.Keywords: Submarine Fan, Lithic Arenite, Conglomerate, Fore-arc Basin, Sedimentation, Turbidite, Eocene.
Rekonstruksi Struktur Lipatan Endapan Vulkaniklastik Laut Dalam di Zona Antiklinorium Majalengka, Cekungan Bogor Darojat, Akmal Maulana; Abdurrokhim, .; Natasia, Nanda
Bulletin of Scientific Contribution Vol 23, No 2 (2025): Bulletin of Scientific Contribution : GEOLOGY
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/bsc.v23i2.63675

Abstract

Endapan vulkaniklastik laut dalam di Cekungan Bogor umumnya menunjukkan karakteristik litologi yang seragam, sehingga menyulitkan identifikasi penanda stratigrafi yang dapat diandalkan dalam menentukan urutan dan korelasi stratigrafinya. Penelitian ini bertujuan untuk merekonstruksi struktur lipatan endapan vulkaniklastik laut dalam di zona antiklinorium Majalengka, dengan menggunakan data biostratigrafi sebagai panduan untuk mendudukkan posisi stratifikasi batuan dengan benar. Analisis biostratigrafi dilakukan pada tiga buah sampel yang diperoleh dari beberapa lokasi di zona antiklinorium. Data biostratigrafi tersebut kemudian diintegrasikan dengan rekonstruksi penampang geologi berdasarkan persebaran data jurus dan kemiringan perlapisan batuan, guna menentukan posisi stratigrafi setiap perlapisan batuan secara lebih akurat dan dalam kerangka waktu geologi yang tepat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Anggota Bawah Formasi Cinambo dan Anggota Atas Formasi Cinambo, yang berumur Miosen Awal, serta Anggota Bawah Formasi Halang, yang berumur Miosen Tengah, terendapkan secara selaras dan mengalami perlipatan secara bersamaan akibat aktivitas tektonik kompresional pada kala Miosen Akhir. Meskipun demikian, di daerah penelitian ditemukan hubungan tidak selaras lokal antara Formasi Cinambo dan Formasi Halang, yang diduga merupakan hasil dari aktivitas sesar normal pasca-kompresi sebagai respons terhadap peluruhan tegangan (stress release) setelah fase kompresional utama. Struktur lipatan yang terbentuk akibat tektonik kompresional tersebut bersifat asimetris dan membentuk kompleks antiklinorium dengan perbedaan elevasi yang mencolok antar elemen struktural.
DELINIATION OF SHALLOW GAS ZONE POTENTIAL USING SUBSURFACE DATA APPROACH IN ‘X’ FIELD KUTAI BASIN Yuniardi, Yuyun; Alfadli, Muhammad Kuniawan; Mohammad, Febriwan; Natasia, Nanda; Nur, Andi Agus
Bulletin of Scientific Contribution Vol 23, No 2 (2025): Bulletin of Scientific Contribution : GEOLOGY
Publisher : Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/bsc.v23i2.65622

Abstract

The presence of shallow gas (Shallow Gas) in exploration wells poses significant operational risks, including kicks or blowouts during exploration activities. To mitigate these risks, it is essential to delineate subsurface data and identify areas potentially containing shallow gas. Subsurface interpretation was conducted using various datasets, including electrolysis cutting analysis, well log data (GR, RT, NEU, RHOB) from 39 wells, and gas data obtained from chromatograph-based mud logs. Well correlation was performed to identify anomalies, gas presence, and facies characteristics.The primary stratigraphic marker surfaces indicative of shallow intervals in Field X are, from deeper to shallower, MF2, Fs-s1, s2-Fs, Fs-s3, Fs-s4, Fs-s5, and Fs-s6, with the shallow gas accumulation predominantly observed within the intervals associated with Fs-s2 and Fs-s3, at depths ranging from approximately 950 to 1300 meters below sea level (MSS). These intervals demonstrate isolated gas accumulations, primarily comprising methane (C1), with minor traces of C2, C3, C4, and C5 gases detected in the shallow zone above the marker MF2.Gas analysis indicates a surge in total gas content within the 950-1300 MSS interval, correlating with anomalies identified from the Master Log data. This surge is attributed to limestone and coal layers, as corroborated by gas bearing reservoir mapping.Based on the analyzed data, it can be concluded that shallow gas accumulations are localized within the 950-1300 MSS interval, specifically between the Fs-s2 and Fs-s3 markers. For subsequent drilling activities on Platform M, it is recommended to monitor and consider this depth zone to mitigate related risks effectively.