Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Efektifitas teknik relaksasi nafas dalam terhadap tekanan darah pada pasien hipertensi di jakarta Yanti Anggraini
Jurnal JKFT Vol 5, No 1 (2020): Jurnal JKFT
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tangerang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31000/jkft.v1i1.2806

Abstract

AbstraskHipertensi merupakan penyakit the silent killer yang mengakibatkan 7.5 juta kematian diseluruh dunia. Di RSU UKI Jakarta ditemukan 1.066 pasien hipertensi. Penanganan hipertensi dapat dilakukan secara farmakologi dan non farmakologi. Pentalaksanaan non farmakologi dengan menggunakan teknik relaksasi nafas dalam. Tujuan penelitian adalah mengetahui upaya penurunan tekanan darah dengan teknik relaksasi nafas dalam pada pasien hipertensi. Jenis penelitian eksperimental desian One Group Pretest-Posttest. Pasien berjumlah 30 responden dipilih dengan random sampling di RSU UKI dan Puskesmas Kelurahan Cawang Jakarta Timur dari desember 2019- februari 2020. Hasil: adanya perbedaan tekanan darah sistolik dan sistolik sebelum dan sesudah intervensi teknik relaksasi  nafas dalam (p=0.000), ada hubungan usia terhadap tekanan darah diastolik (p=0.043) dan ada hubungan makanan berlemak tinggi terhadap tekanan darah diastolik (p=0.037). Kesimpulan: Teknik relaksasi nafas dalam dapat menurunkan tekanan darah pada pasien hipertensi selama empat hari dan direkomendasikan perawat mengajarkan tarik nafas dalam dan memotivasi pasien untuk latihan mandiri di rumah.Kata Kunci: Pasien hipertensi, teknik relaksasi Tarik nafas dalam, tekanan darah   AbstractHypertension is a silent killer disease that causes 7.5 million deaths worldwide. In RSU UKI Jakarta found 1,066 hypertensive patients. Management of hypertension can be  pharmacologically and non-pharmacologically. Non-pharmacological treatment using deep breathing relaxation techniques. The purpose of this study was to determine efforts to reduce blood pressure with deep breathing relaxation techniques in hypertensive patients. This type of experimental research is Desian One Group Pretest-Posttest. Patients totaling 30 respondents were selected by random sampling at the UKI General Hospital and the Cawang District Health Center in East Jakarta from December 2019-February 2020. Results: There was a difference in systolic and systolic blood pressure before and after the intervention of deep breathing relaxation techniques (p = 0.000), there was a relationship of age to diastolic blood pressure (p = 0.043) and there was a relationship between high fat food and diastolic blood pressure (p = 0.037). Conclusion: Deep breathing relaxation techniques can reduce blood pressure in hypertensive patients for four days and it is recommended that nurses teach deep breathing and motivate patients to exercise independently at home.Keywords: Hypertension patients, relaxation techniques Inhale deeply, blood pressure
Edukasi Kesehatan Kepada Masyarakat Umum Dengan Menggunakan Metode Daring Tentang Kegawatdaruratan Positif Covid-19 Di SMAN 14 Jakarta Erita Erita; Adventus MRL; Yanti Anggraini; Donny Mahendra
JURNAL Comunità Servizio : Jurnal Terkait Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat, terkhusus bidang Teknologi, Kewirausahaan dan Sosial Kemasyarakatan Vol. 4 No. 2 (2022): OKTOBER
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM), Univesitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/cs.v4i2.3843

Abstract

Emergency handling of positive Covid-19 is important for the general public to know, this is because the number of deaths due to Covid-19 is very high. The purpose of this activity is to increase knowledge about Covid-19 positive emergencies. The number of participants involved as many as 120 participants. This community service activity begins with a pretest, material presentation, discussion and question and answer sessions using the Zoom meeting application, then ends with filling out a post test. Univariate and bivariate data were analyzed using paired t test. The results of this activity indicate that there is an increase in the average knowledge of respondents significantly pretest 72.06 and post test 85.09 with a significance of 0.00. This shows that the use of online methods can increase respondents' knowledge regarding the health education topics that have been given. The conclusion is that the implementation of health education using online methods can increase respondents' knowledge. It is hoped that the implementation of health education with this method can be carried out to provide information for the respondents involved.
Pemeriksaan Golongan Darah Di Panti Sosial Asuhan Anak Balita Tunas Bangsa Cipayung Jakarta Timur Erita Sitorus; Donny Mahendra; Yanti Anggraini
JURNAL Comunità Servizio : Jurnal Terkait Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat, terkhusus bidang Teknologi, Kewirausahaan dan Sosial Kemasyarakatan Vol. 5 No. 2 (2023): OKTOBER
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM), Univesitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/cs.v5i2.4717

Abstract

Blood group examination is a very important part of knowing the type of blood type as an identity. The purpose of carrying out community service is to find out the blood type of children and toddlers at the Panti Sosial Asuhan Anak dan Bangsa, Cipayung, Jakarta Timur. The number of children whose blood group examination was carried out was 89 children. The blood group examination process is divided into three sessions, the first session is for toddlers, followed by infants and the last examination is for school children. The blood group examination results varied with classifications A, B, AB and O, it was found that most of the children had blood type O as many as 33 children (37.1%). All children have positive rhesus (RH+) on blood group examination. In conclusion, the blood group examination carried out on children apart from providing the identity of the child in the orphanage is also a procedure or initial screening requirement to find out the child's blood type if something unexpected happens.
Deteksi Dini dan Pertolongan Pertama Pada Pasien Serangan Jantung di Kelurahan Cawang Yanti Anggraini; Sri Melfa Damanik
Journal of Social Work and Empowerment Vol 5 No 2 (2026): Journal of Social Work and Empowerment - (Januari-Februari 2026)
Publisher : Yayasan Sinergi Widya Nusantara (Sidyanusa)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58982/jswe.v5i2.1066

Abstract

Setiap tahunnya lebih dari 36 juta orang meninggal karena Penyakit Tidak Menular (PTM). Secara global, PTM menjadi penyebab kematian nomor satu setiap tahunnya. Kematian “dini” yang disebabkan oleh penyakit jantung terjadi berkisar sebesar 4% di negara berpenghasilan tinggi sampai dengan 42% terjadi di negara berpenghasilan rendah. Peningkatan peran kader, dapat dilakukan dengan memberdayakan program penyuluhan kesehatan. Tujuan kegiatan pengabdian kepada Masyarakat (PkM) adalah untuk meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat dalam mendeteksi dini serta memberikan pertolongan pertama pada kasus serangan jantung. Kegiatan PkM ini dilaksanakan tanggal 16 Desember 2024 pukul 13.00-18.00 WIB di Kelurahan Cawang yang diikuti oleh 30 peserta masyarakat awan dan kader. Kegiatan PkM ini diawali dengan peserta diukur tekanan darah, nadi, mengisi pre kuesioner, mendengarkan materi dari 2 narasumber, praktek skill BHD (Bantuan Hidup Dasar), sesi tanya jawab dan diakhiri dengan mengisi link post kuesioner tentang deteksi dini serangan jantung. Hasil kegiatan ini adalah peserta terbanyak perempuan sebanyak 29 orang (96,66%). Tingkat pendidikan terbanyak SMA sebanyak 26 orang (86,66%), dan sebagian besar dengan latar belakang pekerjaan Ibu rumah tangga sebanyak 28 orang (93,33%). Hasil pretest sebagian besar peserta memiliki pengetahuan kurang sebesar 76,66% (23 orang). Hasil post test sebagian besar peserta memiliki tingkat pengetahuan yang baik sebesar 66,66% (20 orang). Kesimpulan kegiatan PkM adalah praktek skill dan pemberian materi deteksi dini serangan jantung bisa meningkatkan pengetahuan dan keahlian masyarakat dan kader dalam mendeteksi dini serangan jantung. Implikasi agar latihan BHD ini bisa dilakukan oleh masyarakat dalam mengatasi anggota keluarga yang mengalami serangan jantung dirumah.
TERAPI INHALASI DAN CHEST THERAPY UNTUK MENGATASI KETIDAKBERSIHAN JALAN NAFAS PADA PASIEN PENYAKIT PARU OBSTRUKTIF KRONIK (PPOK) DI RSUD BUDHI ASIH: INHALATION THERAPY AND CHEST THERAPY TO TREAT AIRWAY OBSTRUCTION IN PATIENTS WITH CHRONIC OBSTRUCTIVE PULMONARY DISEASE (COPD) IN BUDHI ASIH GENERAL HOSPITAL Yanti Anggraini; Afrianialita Saputri Kembaren
HelFin Journal Vol. 3 No. 2 (2026): Juli (In Press)
Publisher : Fakultas Vokasi Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/helfin.v3i2.7907

Abstract

Secara dunia, penyakit PPOK menjadi penyebab kematian ketiga dengan jumlah 3,23 juta dan penyebab kematian ketiga tertinggi. Pasien PPPOK mengalami sesak nafas dan batuk produktif. Masalah keperawatan yaitu bersihan jalan nafas tidak efektif. Terapi inhalasi dan Fisioterapi dada bisa mengatasi sesak nafas dan meningkatkan keluarnya dahak. Untuk melakukan asuhan keperawatan, khususnya penerapan tindakan mandiri dan kolaborasi pada pasien penyakit obstruktif paru kronik dengan melakukan chest therapy dan terapi inhalasi untuk mengatasi ketidakefektifan jalan napas. Studi kasus dengan mengambil 2 pasien PPOK yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi serta diberikan intervensi inhalasi dan chest terapi dalam tiga hari. Sebelum intervensi, kedua pasien sesak nafas dan batuk susah mengeluarkan dahak. Pasien 1 RR= 27 kali/menit dan Saturasi 93%. Pasien 2 RR= 30 kali/menit dan Saturasi 95%. Setelah intervensi, kedua pasien tidak sesak nafas lagi dan batuk berkurang serta bisa mengeluarkan dahak dengan konsistensi encer dan berwarna putih kekuningan. Pasien 1 RR= 21 kali/menit dan saturasi 99%. Pasien 2 RR= 20 kali/menit dan saturasi 100%. Kombinasi terapi inhalasi dan chest therapy terbukti efektif dalam mengatasi ketidakbersihan jalan napas pada pasien PPOK. Intervensi yang rutin disertai dukungan keluarga berperan penting dalam keberhasilan perawatan.