n/a Wijono
Jurusan Teknik ELektro Fakultas Teknik Universitas Brawijaya

Published : 18 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

PERBAIKAN FAULT CLEARING TIME PADA PENYULANG GARDU INDUK KEBONAGUNG MENGGUNAKAN PENGAMAN RELE ARUS LEBIH POLA NON KASKADE Muh. Ardiansyah A. P.; Hery Purnomo; n/a Wijono
Jurnal Mahasiswa TEUB Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Jurnal Mahasiswa TEUB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rele arus lebih memegang peranan penting dalam melindungi peralatan Gardu Induk Kebonagung dari gangguan hubung singkat, khususnya pada gangguan hubung singkat tiga fasa dan antar fasa. Kurang baiknya pola pengaman kaskade yang saat ini digunakan pada Gardu Induk Kebonagung membuat waktu pemutusan gangguan relatif lama. Oleh sebab itu adanya penelitian ini bertujuan untuk memperbaiki kinerja pengaman pada Gardu Induk Kebonagung dengan menggunakan pola pengaman non kaskade. Pada pola ini rele arus lebih disisi penyulang Klayatan dapat dikomunikasikan dengan rele disisi masukan 20 kV. Pada lokasi gangguan 13% - 100% panjang penyulang dengan arus gangguan hubung singkat tiga fasa sebesar 4915,03 – 745,3 ampere, dan lokasi gangguan 7% - 100% panjang penyulang dengan arus gangguan hubung singkat antar fasa sebesar 4528,27 – 372,65 ampere, memiliki selisih waktu kerja antara sisi penyulang Klayatan dan sisi masukan 20 kV yang tidak sesuai dengan ketentuan PLN yaitu sebesar 0,3-0,8 detik. Jadi dengan menggunakan proteksi pola non kaskade pada gardu induk, maka saat terjadi gangguan arus hubung singkat di sisi penyulang maka rele arus lebih akan memberikan perintah ke PMT penyulang untuk trip, jika PMT penyulang gagal terbuka maka tCBF akan mengirim sinyal trip ke rele arus lebih sisi masukan 20 kV untuk segera bekerja dengan waktu tunda 0,3 detik. Kata kunci: rele arus lebih, kaskade, non-kaskade, arus gangguan hubung singkat, penyulang, tCBF.   ABSTRACT Overcurrent Relay has an important in keep equipment ini Kebonagung Substation of short-circuit fault, especially caused by 3 phase and phase to phase short-circuit fault. Poor protection of Cascade Pattern that currently used on substation kebonagung make fault clearing time work long enough. Therefore, the goals of this study to improve safety performance on Kebonagung substation using non cascade protection pattern. In this pattern, overcurrent relay on Klayatan feeder can communicated with overcurrent relay on upstream or incoming 20 kV system. Location of fault on feeder with 13% - 100% from feeder’s distance with value of three phase fault current is 4915,03 – 745,3 ampere, and Location of fault on feeder with 7% - 100% from feeder’s distance with value of  phase to phase fault current is 4528,27 – 372,65 ampere, having the difference pick up time between feeder’s Klayatan and Incoming 20 kV which is not in accordance with PLN Standard which is 0,3-0,8 second pick up time. Therefore, using the non-cascade protetion pattern on Kebonagung Substaton, So when there are short-circuit fault current at feeder then overcurrent relay will given instrution to feeder PMT for trip, but if PMT fail to open, tCBF will send signal trip to overcurrent relay at incoming 20 kV for trip with pick up time 0,3 second. Keyword: overcurrent relay, cascade, non cascade, short-circuit fault current, feeder, tCBF.
Perancangan Charge Controller Untuk Bicycle Power Generator Pada Instalasi Listrik DC House Lutfir Rahman Aliffianto; n/a Soeprapto; n/a Wijono
Jurnal Mahasiswa TEUB Vol 3, No 5 (2015)
Publisher : Jurnal Mahasiswa TEUB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (81.093 KB)

Abstract

Energi manusia merupakan energi terbarukan yang cukup melimpah persediaannya,sehingga dapat dimanfaatkan khususnya pada instalasi listrik DC House.Dalam memanfaatkan energi listrik dibutuhkan bicycle power generator yang dapat mengubah energi manusia menjadi energi listrik dan baterai sebagai media penyimpan energi tersebut. Namun, energi manusia yang berasal dari kayuhan sepeda itu selalu berubah-ubah sehingga dapat menyebabkan baterai cepat rusak. Karena arus dan tegangan yang masuk ke baterai tidak konstan.Untuk itu penulis merancang dan membuat charge controller agar tegangan dan arus yang masuk ke baterai relatif konstan. Dalam perancangan charge controller menggunakan topologi Buck Converter yang dapat mengatur arus medan ( If ) yang masuk ke alternator sehingga tegangan keluaran alternator menjadi konstan. Arus dari sumber akan mengalir menuju rangkaian Buck Converter. Pengaturan arus medan ( If ) di dalam Buck Convertermenggunakan mikrokontroler dengan cara mengubah duty cycle. Pada saat putaran alternator tinggi, diatur dengan menurunkan nilai arus medan ( If ) dan saat putaranalternator rendah, diatur dengan menaikkan kembali nilai arus medan ( If ). Sehinnga tegangan keluaran alternator akan tetap konstan walaupun dihasilkan dari putaran yang berubah-ubah.Index Terms—charge controller, buck cobverter, bicycle power generator.
PERANCANGAN DAN PEMBUATAN PEMANAS INDUKSI DENGAN METODE PANCAKE COIL BERBASIS MIKROKONTROLLER ATMEGA 8535 Yukovany Zhulkarnaen; n/a Wijono; Mochammad Dhofir
Jurnal Mahasiswa TEUB Vol 2, No 2 (2014)
Publisher : Jurnal Mahasiswa TEUB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (936.48 KB)

Abstract

Adanya peluang dalam membuat produk akhir pemanas induksi perlu didahului dengan pembuatan prototype. Namun sebelum membuat prototype perlu diawali dengan membuat desain dan melakukan riset pemanas induksi. Dalam skripsi ini dirancang sebuah pemanas induksi dengan koil berbentuk pancake coil dan berbasis mikrokontroller ATMega 8535. Dengan adanya mikrokontroller dan perangkat elektronika, besarnya nilai frekuensi kerja dapat diubah-ubah dan dapat dilakukan pengujian untuk mengetahui responnya terhadap karakteristik panas yang dihasilkan. Selain itu hasil pengujian dapat digunakan untuk menghitung besarnya energi elektrik, energi kalor, dan efisiensi energi dari pemanas induksi yang dirancang. Pemanas induksi dirancang resonansi di 40kHz. Hasil pengujian menunjukkan perubahan frekuensi kerja pada pemanas induksi memiliki pengaruh pada waktu pencapaian panas, besarnya daya, energi elektrik, dan efisiensi energi. Naiknya frekuensi kerja mendekati 40 kHz membuat waktu pencapaian suhu relatif lebih lama dan setelah melewati 40 kHz menjadi relatif lebih cepat.Kata Kunci : Pemanas Induksi, Pancake Coil, ATMega 8535, Eddy Current .
ANALISIS GAYA TAHAN TRANSLATOR MOTOR LINIER PADA SUATU ELEVATOR Duta Narendratama; n/a Wijono; Rini Nur Hasanah
Jurnal Mahasiswa TEUB Vol 2, No 6 (2014)
Publisher : Jurnal Mahasiswa TEUB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1024.207 KB)

Abstract

Motor linier merupakan salah satujenis mesin elektrik yang bekerja denganmenghasilkan gerak linier. Padaperkembangannya penggunaan motor liniermulai dikenal dan digunakan pada beberapaaplikasi industri dan angkutan masal. Gerakyang dihasilkan motor linier juga digunakanpada aplikasi ropeless elevator. Elevator jenis initidak lagi bergantung pada konversi gerak putarmenjadi gerak linier. Hal ini berakibat padapeningkatan efesiensi dan keandalan elevator.Kebanyakan motor linier digunakan padaaplikasi gerak linier yang horizontal. Oleh sebabitu, penggunaan pada gerak vertikal harusdiperhatikan ketahanannya. Hal itu dikarenakanketika elevator berhenti harus mampu menahanberat penumpang yang sudah naik maupunpenumpang baru. Untuk itulah, penelitian inidilakukan. Pada penelitian ini, akan diambilmotor linier jenis permanent magnet linearsynchronous motor (PMLSM) dengan coil beradapada bagian stator. Linier motor jenis inimemiliki kemampuan untuk menghasilkan gayayang besar serta bagian translator memiliki beratyang ringan.Dari penelitian ini diketahui karakteristik motorlinier, yaitu hubungan arus dari sumber yangditerapkan pada elevator motor linier adalahberbanding lurus terhadap beban yang mampuditahan oleh motor linier dalam keadaan diamatau berhenti.Kata kunci: motor linier, ropeless elevator,PMLSM
PERANCANGAN GENERATOR SINUS UNTUK APLIKASI SISTEM WPT Ibnu Kurnia Cahya; n/a Wijono
Jurnal Mahasiswa TEUB Vol 7, No 7 (2019)
Publisher : Jurnal Mahasiswa TEUB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sistem wireless power transfer (WPT) menggunakan converter daya untuk menghasilkan arus dengan frekuensi tinggi pada primary/source coil untuk membuat gandengan magnetik ke satu atau lebih secondary coil melewati celah udara tanpa konduksi elektrik secara langsung. Di dalam paper ini berisi tentang penjelasan, simulasi, pembuatan prototipe, dan pengujian rancangan generator sinus sebagai converter daya untuk sistem WPT yang menggunakan gandengan magnetik. Pembuatan prototipe dan hasil pengujian mendemonstrasikan bahwa rancangan dapat digunakan untuk converter daya dengan frekuensi tinggi yang dapat dirubah dan dengan konstruksi yang ringkas dan sederhana. Didapatkan faktor kalibrasi rancangan menggunakan simulator dan secara praktik sebesar 0.92 pada frekuensi uji sinus yang 1 kHz.  Pengujian menggunakan coil WPT menghasilkan bentuk gelombang sinus cacat pada semua frekuensi uji dan amplitudo gelombang tertinggi menggunakan coil WPT dengan jarak celah 0.4 cm dihasilkan pada frekuensi uji sinus 8 kHz. Kata Kunci: WPT, frekuensi, perancangan, converter daya. ABSTRACT Wireless power transfer system (WPT) employ power converter to generate high frequency current in the primary/source coil to make couple power magnetically to one or more secondary coil across air gap without direct electrical contact. In this paper contains about the explanation, simulation, prototyping, and testing the sine generator design as a power converter for magnetic coupled WPT system. Prototyping and test result demonstrate that the design allows for high variable frequency  power converter with compact and simple construction. Design calibration factor is obtained by simulator and build practically is 0.92 in test sine frequency 1 kHz. The test result using WPT coil obtaining defective wave form in all test frequency variation and the higher amplitude of wave in employ WPT at 0.4 air gap coil test is ghatered in test sine frequency 8 kHz. Keyword: WPT, frequency, design, power converter.
PELAPISAN LOGAM MENGGUNAKAN MEDIA PLASMA DINGIN DENGAN METODE DC MAGNETRON SPUTTERING Bob Alvin Sidabutar; n/a Wijono
Jurnal Mahasiswa TEUB Vol 7, No 4 (2019)
Publisher : Jurnal Mahasiswa TEUB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Upaya yang dilakukan untuk memperbaiki sifat material dapat dilakukan salah satunya dengan teknik deposisi lapisan tipis pada permukaan material. Salah satu metode teknik deposisi lapisan tipis adalah metode DC magnetron sputtering. Metode ini menggunakan plasma untuk menghasilkan lapisan tipis pada permukaan material. Rangkaian flyback digunakan untuk membangkitkan plasma pada penelitian ini. Pada penelitian ini akan diuji pengaruh jarak elektroda dan lama waktu proses sputtering terhadap luas bercak lapisan pada permukaan substrat. Jarak elektroda diubah dari 1 cm, 2 cm, 3 cm, dan 4 cm. Sementara itu, lama waktu proses sputtering bervariasi dari 36 menit, 72 menit, 108 menit, 144 menit, dan 180 menit. Substrat yang akan digunakan pada penelitian ini adalah besi sedangkan bahan pelapis yang digunakan adalah aluminium, tembaga, timbal, zink, dan perak. Penelitian ini menggunakan bentuk elektroda piring – piring dalam proses pelapisan. Proses sputtering ini menghasilkan bercak pada susbtrat. Bercak pada substrat akan dibandingkan secara kualitatif pada setiap jarak elektroda, lama proses sputtering, dan bahan pelapis yang digunakan. Bercak pada permukaan susbstrat dikelompokkan dalam 6 kelompok “ketebalan” lapisan untuk mendapat data kuantitatif dan dibuat dalam bentuk grafik. Dalam penelitian ini didapatkan bahan pelapis perak adalah bahan pelapis yang membutuhkan waktu paling singkat untuk melapisi substrat besi yaitu 36 menit. Pada waktu 36 menit hasil bercak yang diperoleh bahan pelapis perak termasuk dalam kelompok tertinggi  dibandingkan dengan bahan pelapis yang lain. Selain itu, dalam penelitian ini dapat diketahui bahwa perubahan jarak elektroda mempengaruhi besar tegangan elektroda dan nilai kelompok “ketebalan” bahan pelapis. Semakin jauh jarak elektroda semakin besar juga besar tegangan elektroda dan nilai kelompok “ketebalan” bahan pelapis. Kata kunci: Teknik deposisi, DC magnetron sputtering, plasma. Abstract The attempt to improve material’s characteristics can be done using the technique of thin layer depositioning on the material’s surface. DC magnetron sputtering is one of the methods frequently used to do so. This method uses plasma to create a thin layer on the material's surface. In this research, flyback circuit is used to generate plasma. This research examines the effects of electrodes’ gap and sputtering process time on the width of marks that appear on the substrate’s surface. The electrodes’ gap varies in range of 1, 2, 3, and 4 cm, whereas the sputtering process time varies in range of 36, 72, 108, 144, and 180 minutes. The substrate used in this research is iron and the coating materials used are aluminium, copper, lead, zinc, and silver. This research uses plate-shaped electrodes in the coating process. The sputtering process resulted in the appearance of marks on the substrate’s surface. The marks were compared qualitatively with every gap range of electrodes, sputtering process time, and the coating material used. Next, they were categorized into 6 groups according to the thickness of the marks’ layer in order to obtain quantitative data which were then made into graphics. The results of this research show that silver coating material takes the shortest time to coat iron substrate, which is 36 minutes. In 36 minutes, the marks produced by silver coating fall under the group with the highest marks, compared to other coating materials. This research also shows that alteration of the electrodes' gap will affect the voltage of electrodes and the coating’s thickness groups. The further the gap between the electrodes, the higher the electrodes’ voltage and the coating’s thickness groups will be. Keywords: Deposition technique, DC magnetron sputtering, plasma.
KAJIAN PENINGKATAN KEANDALAN SISTEM DISTRIBUSI DENGAN RELOKASI SECTIONALIZER PADA PENYULANG PUJON DENGAN PEMBANGKIT TERDISTRIBUSI Syamsu Dhuha; Hadi Suyono; n/a Wijono
Jurnal Mahasiswa TEUB Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Jurnal Mahasiswa TEUB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyulang Pujon merupakan penyulang tipe radial yang mendapat suplai daya energi listrik dari Gardu Induk Sengkaling, Malang. Penambahan pembangkit terdistribusi menyebabkan arus hubung singkat semakin besar, sehingga diperlukan respon sistem proteksi yang semakin cepat dalam menetralisir gangguan. Penelitian ini mengkaji nilai keandalan dan perubahan setelan recloser dan sectionalizer penyulang pujon dengan penambahan pembangkit terdistribusi. Metode analisis pendekatan dampak kegagalan suatu peralatan kepada seluruh sistem penyulang digunakan untuk perencanaan relokasi sectionalizer. Simulasi gangguan hubung singkat dua fasa dan tiga fasa pada kondisi eksisting dan kondisi penambahan pembangkit terdistribusi yang disertai perencanaan relokasi sectionalizer dilakukan dengan software ETAP 12.6.0 untuk mengetahui besar arus hubung singkat, waktu yang dibutuhkan recloser dan sectionalizer untuk menetralisir gangguan, serta jumlah pelanggan padam. Nilai indeks keandalan (SAIFI, SAIDI dan CAIDI) pada kondisi eksisting adalah 0,685200041, 0,008119295 dan 0,011849525, sedangkan setelah dilakukan perencanaan relokasi sectionalizer turun menjadi 0,47489553, 0,005482114 dan 0,011544949. Arus hubung singkat dua fasa dan tiga fasa terkecil pada kondisi eksisting adalah 669A dan 772A, sedangkan pada kondisi penambahan pembangkit terdistribusi adalah 670A dan 774A. Nilai arus hubung singkat dua fasa dan tiga fasa terbesar pada kondisi eksisting adalah 7.832A dan 9.044A, sedangkan pada kondisi penambahan pembangkit terdistribusi adalah 7.837A dan 9.049A. Waktu yang dibutuhkan recloser dan sectionalizer untuk menetralisir gangguan (fault clearing time / FCT) pada kondisi penambahan pembangkit terdistribusi lebih cepat dari kondisi eksisting. Jumlah pelanggan padam ketika terjadi gangguan pada kondisi perencanaan relokasi sectionalizer lebih sedikit dari kondisi eksisting. Kata kunci - pembangkit terdistribusi, indeks keandalan, recloser, sectionalizer
Perancangan Soft Starter Motor Induksi Satu Fasa dengan Metode Closed Loop Menggunakan Mikrokontroler Arduino Ardhito Primatama; n/a Soeprapto; n/a Wijono
Jurnal Mahasiswa TEUB Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : Jurnal Mahasiswa TEUB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1176.056 KB)

Abstract

Motor induksi merupakan alat yang paling banyak digunakan dalam industri baik industri besar maupun industri rumahan dikarenakan konstruksinya yang sederhana dan handal. Motor yang paling banyak digunakan di industri rumahan adalah motor induksi satu fasa. Motor induksi memiliki permasalahan yang sangat merugikan sistem, yaitu arus pengasutannya yang tinggi. Salah satu solusi dari permasalahan ini adalah menggunakan soft starter. Dewasa ini teknologi elektronika daya TRIAC digunakan sebagai komponen utama dalam soft starter. Pengaturannya juga diatur dengan mikrokontroler untuk memudahkan melakukan pengasutan. Mikrokontroler yang digunakan dalam penelitian ini adalah Arduino.  Soft starter yang dirancang mampu menurunkan arus pengasutan hingga 2 kali untuk pengasutan tanpa beban dan 3 kali untuk pengasutan dengan beban generator sinkron. Torsi pengasutan yang dihasilkan oleh soft starter sebesar 0,023 Nm untuk pengasutan tak berbeban dan 0,43 Nm untuk pengasutan dengan beban generator sinkron. Waktu yang dibutuhkan untuk melakukan pengasutan menggunakan soft starter tak berbeban selama 0,77 detik sedangkan untuk kondisi berbeban generator sinkron sebesar 7,92 detik.   Index Terms— soft starter, motor induksi satu fasa, TRIAC, Arduino, arus pengasutan, torsi pengasutan.