Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

REKAYASA MODEL LAJU PENGERINGAN PADA PROSES MASERASI DAUN SUKUN (ARTOCARPUS ALTILIS) DENGAN PELARUT ETANOL Fitri Nuryani; Yustinah Yustinah; Ismiyati Ismiyati; Ratri Ariatmi Nugrahani
JURNAL KONVERSI Vol 11, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/konversi.11.1.6

Abstract

Tumbuhan banyak dimanfaatkan sebagai bahan obat tradisional (obat herbal), salah satu tanaman yang dipercaya dapat dijadikan obat adalah sukun (Artocarpus altilis). Dari beberapa penelitian yang telah dilakukan, daun sukun mengandung flavonoid yang sifatnya sebagai antibakteri. Tujuan penelitian adalah: mendapat waktu pengeringan daun sukun yang optimal, mendapatkan nilai laju pengeringan daun sukun, mendapatkan ekstrak daun sukun dengan proses maserasi, dan mendapatkan pengaruh waktu maserasi terhadap kadar flavonoid dalam ekstrak daun sukun. Penelitian dengan di awali proses persiapan bahan, yaitu daun sukun dikeringkan di oven dengan suhu 35 oC dengan variasi waktu pengeringan yaitu 1, 2, 3, 4 dan 5 Jam. Selanjutnya dilakukan ektraksi daun sukun secara maserasi dengan pelarut etanol. Proses ekstraksi dengan variasi waktu ekstraksi 24, 30, 36, 42, dan 48 jam, sehingga didapat ektraks daun sukun. Hasil ekstrak daun sukun dilakukan analisa : uji kadar air, rendemen, pH, viskositas, dan organoleptis. Hasil penelitian pada proses pengeringan di dapat, semakin lama waktu pengeringan maka semakin menurun laju pengeringannya.  Sedangkan pada proses ekstraksi, flavonoid terbesar pada waktu maserasi 42 jam dengan kadar flavonoid rata-rata sebesar 18,051 ppm
Effects of Drying Time on Yield and Moisture Content of “Sumahe” Powdered Drink Using Spray Dryer Ismiyati Ismiyati; Fatma Sari; Ratri Ariatmi Nugrahani; Anwar Ilmar Ramadhan
Aceh International Journal of Science and Technology Vol 7, No 3 (2018): December 2018
Publisher : Graduate Program of Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (543.28 KB) | DOI: 10.13170/aijst.7.3.9620

Abstract

As people today are becoming more health-conscious, various efforts have been made to keep up one’s health, such as by consuming highly nutritious food and drinks. One of the nutritious food sources produced from bees is honey, bioactive compounds of polyphenols, glyoxal and methylglioxal. Honey could be used as a health drink by mixing with ginger. This health drink is also produced as powdered drink to simplify storing, reduce the use of plastic packaging, and to add product value to increase market share. The aim of this research was to analyze the effects of drying time for 5, 15, and 25 minutes with an addition of maltodextrin on the yield, density, and moisture content of “Sumahe” instant powdered drink, made from cow’s milk, honey, and ginger. The results showed that the longer the drying time, the lower the moisture content of the drink. Meanwhile, the longer the drying time, the higher the yield became. A taste test of “Sumahe” also indicated that from 25 minutes of drying time, most of the panelists rated the drink as tasteful and delicious.
IDENTIFIKASI DINI PENYAKIT BUSUK PANGKAL BATANG (BPB) YANG DISEBABKAN OLEH JAMUR GANODERMA sp. PADA TANAMAN KELAPA SAWI Elina Olivia; Bayu Wiyantoko; Ismiyati Ismiyati
Jurnal Konversi Vol 11, No 2 (2022)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/konversi.11.2.7

Abstract

Telah dilakukan penelitian tentang identifikasi dini penyakit busuk pangkal batang atau yang sering disebut dengan BPB yang disebabkan oleh jamur Ganoderma pada tanaman kelapa sawit. Hasil komoditas tanaman kelapa sawit memiliki prospek pengembangan yang cukup tinggi bagi industri terkait, sehingga beberapa upaya dilakukan guna untuk meningkatkan hasil produksi perkebunan. Akan tetapi produktivitasnya dipengaruhi oleh beberapa faktor salah satunya penyakit busuk pangkal batang atau yang sering disebut dengan penyakit BPB. Penyakit ini disebabkan oleh jamur patogenik Ganoderma sp, untuk ituperlu adanya identifikasi dini sebaran dari penyakit BPB. Identifikasi sebaran penyakit BPB dilakukan dengan dua metode yaitu Analisa secara kualitatif dan kuantitatif. Berdasarkan uji kualitatif dilakukan dengan cara menguji sampel pada instrument NIRS (Near Infrared Spectroscopy), sedangkan uji kuantitatifmenggunakan metode gravimetri yang tujuannya untuk mengetahui kadar selulosa dan lignin pada sampel. Sampel berupa batang dari tanaman kelapa sawit yang mana ada dua kategori yaitu batang yang terserang penyakit BPB (batang sakit) dengan yang tidak terserang BPB (batang sehat). Berdasarkan identifikasi bentuk spektrum NIRS menyatakan bahwa terdapat perbedaan spektrum yang signifikan didaerah bilangan 4200-4400 cm-1, 5500-7000 cm-1 dan 7300-10000. Terdapat persamaan bentuk spektrum di daerah bilangan gelombang 5250 cm-1 7190 cm-1. Hasil penentuan kadar menggunakan metode gravimetri menyatakan bahwa rata-rata kadar selulosa dan lignin pada sampel batang sehat sebesar 45,30% dan 9,36%, sedangkan pada sampel batang sakit sebesar 37,89% dan 11,15%. Berdasarkan Independent T-test yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa hasil pengujian pada perbedaan sampel memberikan hasil kadar yang berbeda secara signifikan, karena nilai sig 2-tailed < 0,05 dan menggunakan selang kepercayaan sebesar 95%.
EFEKTIVITAS ADSORBEN ARANG AKTIF KULIT DURIAN (Durio Zibethinus) DAN WAKTU KONTAK TERHADAP PENURUNAN KONSENTRASI PEWARNA NAPHTOL LIMBAH CAIR BATIK Wike Maylani; Ismiyati Ismiyati; Yustinah Yustinah
Jurnal Teknologi Vol 15, No 2 (2023): Jurnal Teknologi
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24853/jurtek.15.2.247-256

Abstract

This study aims to analyze the characteristics of activated charcoal from durian shells and to determine the absorption capacity of activated charcoal from durian shells which acts as an adsorbent in reducing the concentration of naphtol dye in batik wastewater based on mass variations of activated charchoal (0,5%; 1%; 1,5%; 2%; dan 2,5%b/v) and variation of contact time (0, 25, 50, 75, and 100 in minutes). The characteristic results of activated charcoal from durian shells include a yield content 86,6%; moisture content of 9%; ash content of 13.3%; iodine absorption of 526.635 mg/g; the surface area using the methylene blue method is 456.24 m2/g and the SEM (Scanning Electron Microscope) test to determine the surface morphology of the activated charcoal. Based on the effect of the mass of activated charcoal from durian shells and contact time, the best results are obtained on a mass of 2,5%b/v of activated charchoal on durian shells and a contact time of t5 minutes to reduce the concentration of naphtol dye. In these parameters, the final concentration of naphtol dye from batik wastewater is obtained of 52,64 mg/l with a reduction percentage of naphtol dye of 79,52%.
PENGARUH WAKTU EKSTRAKSI KERATIN DARI BULU AYAM DAN APLIKASINYA DALAM FORMULASI BIO ACTIVE ANTI FUNGI SAMPO Dyah Prani Nurfadhilah; Fachri Azmi; David Ryan Kurniawan; Robby Julian Kurniawan; Zaki Mohammad Luthfillah; Ismiyati Ismiyati
Scientica: Jurnal Ilmiah Sains dan Teknologi Vol. 1 No. 2 (2023): Scientica: Jurnal Ilmiah Sains dan Teknologi
Publisher : Komunitas Menulis dan Meneliti (Kolibi)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.572349/scientica.v1i2.184

Abstract

Penelitian ini berfokus pada ekstraksi keratin dari limbah bulu ayam dengan variasi waktu ekstraksi pada 3,4,5,6 dan 7 jam dan aplikasinya dalam formulasi bio-active anti-fungi sampo dengan variasi konsentrasi bahan aktif F0%,F5%,F10%,F15%. Tujuan utama adalah untuk menentukan waktu ekstraksi keratin yang optimal dan formulasi terbaik pada pembuatan bio-active anti-fungi sampo . Metode yang digunakan termasuk pra-treatment bulu ayam, ekstraksi keratin, karakterisasi protein keratin, formulasi sampo, evaluasi sediaan sampo, dan pengujian zat aktif pada produk akhir. Hasil menunjukkan bahwa waktu ekstraksi optimal untuk mendapatkan rendemen tertinggi dari keratin adalah 6 jam. Selanjutnya, hasil uji menunjukkan bahwa formulasi dengan variasi konsentrasi 5% sebagai produk sampo terbaik.