Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

INTERPRETING ACCESSIBILITY AND SENSE OF PLACE FOR PEOPLE WITH DISABILITIES IN TERMINAL 3 OF SOEKARNO HATTA AIRPORT WITH AN INCLUSIVE APPROACH Raden Roro Chandrarezky Permatasari; Fatimah Asri Mutmainah; Joni Hardi; Anggi Dwi Astuti
Journal of Disability Vol 5, No 1 (2025): June
Publisher : Pusat Studi Difabilitas (PSD) LPPM Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jod.v5i1.108681

Abstract

Terminal 3 of Soekarno-Hatta Airport is ranked second and is considered superior in having facilities that support transportation mode integration, with accessibility that is friendly to people with disabilities. However, there are various obstacles for people with disabilities in accessing and utilizing the facilities provided. The research question is how accessibility facilities affect the experience and emotional engagement of people with disabilities in airport public spaces. The main argument in the context is that sense of place is formed not only from physical elements, but also from social relationships and multisensory comfort. Using a Case Study approach and qualitative methods, data were collected through observations and interviews with five disabled informants. The results showed limitations in signage, voice/visual information, quiet space, and social support. This research concludes that inclusive design and policies based on user experience are needed to realize equitable and meaningful public spaces..
SEGREGASI PEMANFAATAN RUANG KOMUNAL PADA RUMAH SUSUN SEDERHANA SEWA KS TUBUN BERDASARKAN KARAKTERISTIK PENGHUNI Fikri Alam; Joni Hardi
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol. 16 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/vitruvian.2026.v16i1.006

Abstract

Urbanisasi yang meningkat pesat di Jakarta mendorong pengembangan hunian vertikal sebagai solusi keterbatasan lahan, namun memunculkan tantangan baru terkait keberagaman sosial penghuni yang berpengaruh terhadap interaksi sosial dalam rumah susun. Penelitian ini bertujuan menganalisis segregasi pemanfaatan ruang komunal pada Rumah Susun Sederhana Sewa KS Tubun berdasarkan Karakteristik Penghuni. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode grounded theory digunakan melalui proses open coding, axial coding, dan selective coding, disertai konten analisis menggunakan perangkat JMP untuk menguji hubungan karakteristik penghuni dengan jenis kegiatan serta lokasi interaksi. Sebanyak 30 responden dipilih secara random sampling, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, dan dokumentasi visual. Dari hasil analisis data terlihat adanya hubungan yang kuat antara tempat berinteraksi sosial dengan karakteristik penghuni. Kelompok dewasa paling aktif memanfaatkan ruang komunal, remaja cenderung memilih ruang semi-terbuka, sementara lansia lebih memilih ruang yang tenang dan dekat dengan hunian. Kelompok mayoritas agama dan etnis memanfaatkan ruang publik secara lebih luas, sedangkan kelompok minoritas lebih selektif dan memilih ruang yang dianggap netral. Tingkat pendidikan turut membedakan preferensi penggunaan ruang formal dan informal. Temuan ini menunjukkan bahwa pemanfaatan ruang komunal masih tersegmentasi dan belum mendukung interaksi yang inklusif. Diperlukan strategi penataan ruang dan pengelolaan berbasis komunitas untuk mendorong interaksi lintas kelompok dan memperkuat kohesi sosial di lingkungan hunian vertikal.
Kajian Sistem Pengelolaan Bangunan Rumah Susun Sederhana Danto Sukmajati; Joni Hardi; Edy Muladi
Jurnal Permukiman Vol 8 No 1 (2013)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Bangunan Gedung dan Penyehatan Lingkungan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31815/jp.2013.8.13-23

Abstract

Pembangunan rumah susun sederhana dipercaya oleh Pemerintah Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta sebagai salah satu jalan keluar penyediaan kebutuhan rumah layak huni dan sekaligus perbaikan lingkungan di DKI Jakarta. Namun demikian penyediaannya belum didukung oleh sistem pengelolaan yang baik dan efisien. Alih-alih mencapai tujuan seperti yang diharapkan, rumah susun sederhana malah seperti memindahkan kekumuhan horizontal menjadi kekumuhan vertikal. Tulisan ini disarikan dari hasil kajian tentang pengelolaan rumah susun yang dibangun oleh Pemerintah Daerah DKI Jakarta. Kajian yang menggunakan kaidah kualitatif dengan wawancara dan observasi lapangan ini selain menghasilkan kesimpulan tentang potret pengelolaan yang ada saat ini serta dampaknya terhadap kualitas bangunan dan lingkungan. Pada bagian akhir dihasilkan beberapa usulan dan rekomendasi model pengelolaan rumah susun sederhana yang sesuai diterapkan di DKI Jakarta.
TRANSFORMASI BUDAYA BERMUKIM DALAM HUNIAN VERTIKAL: PERAN RUANG INTERAKSI SOSIAL DI KAMPUNG SUSUN KUNIR Siti Zahhra; Joni Hardi
Vitruvian : Jurnal Arsitektur, Bangunan dan Lingkungan Vol. 16 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/vitruvian.2026.v16i1.001

Abstract

Transformasi hunian dari kampung tapak ke hunian vertikal merupakan proses yang tidak hanya mengubah tatanan fisik ruang, tetapi juga memengaruhi budaya bermukim masyarakat yang menempatinya. Perubahan tersebut terutama terlihat pada cara penghuni memanfaatkan ruang, membangun kehidupan bertetangga, serta memaknai hunian dalam konteks lingkungan baru. Penelitian ini berupaya memahami perubahan budaya bermukim yang terjadi pada Kampung Kunir pascarelokasi ke Kampung Susun Kunir, dengan menitikberatkan pada hubungan antara konfigurasi ruang hunian vertikal dan praktik sosial penghuni. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode grounded theory. Data diperoleh melalui wawancara mendalam terhadap 30 responden yang merupakan penghuni Kampung Kunir sebelum relokasi dan saat ini menetap di Kampung Susun Kunir. Pengumpulan data dilengkapi dengan observasi lapangan pada ruang-ruang interaksi sosial. Analisis dilakukan melalui tahapan open coding, axial coding, dan selective coding, serta dibaca melalui kerangka teori budaya bermukim (Rapoport, 1969, 1990) dan konsep hunian sebagai sistem terbuka dari (Habraken, 1983). Hasil penelitian menunjukkan bahwa budaya bermukim di Kampung Susun Kunir tidak hilang, melainkan mengalami transformasi melalui proses adaptasi terhadap hunian vertikal. Ruang-ruang semi-publik seperti galeri, koridor, dan lantai dasar berperan penting dalam mempertahankan kehidupan bertetangga dan praktik interaksi sosial. Selain itu, keterlibatan warga dalam proses perencanaan melalui pendekatan desain partisipatif memperkuat rasa memiliki, kontrol terhadap ruang, serta kemampuan penghuni dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan hunian baru. Penelitian ini menegaskan pentingnya integrasi aspek budaya bermukim dan interaksi sosial dalam perancangan kampung susun sebagai hunian vertikal berbasis komunitas.