Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : AL KAUNIYAH

TUMBUHAN SEBAGAI OBAT TRADISONAL PASCA MELAHIRKAN OLEH SUKU ACEH DI KABUPATEN PIDIE Zumaidar Zumaidar; Saudah Saudah; Saida Rasnovi; Essy Harnelly
Al-Kauniyah: Jurnal Biologi Vol 12, No 2 (2019): Al-Kauniyah Jurnal Biologi
Publisher : Department of Biology, Faculty of Science and Technology, Syarif Hidayatullah State Islami

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (269.974 KB) | DOI: 10.15408/kauniyah.v12i2.9991

Abstract

AbstrakPemanfaatan tumbuhan sebagai obat tradisional merupakan kearifan lokal yang diturunkan secara turun temurun berdasarkan resep nenek moyang, adat istiadat, kepercayaan atau kebiasaan setempat. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis tumbuhan yang digunakan dalam pengobatan pasca melahirkan oleh Suku Aceh di Kabupaten Pidie. Metode yang digunakan dalam pengumpulan data adalah teknik Participatory Rural Appraisal dan observasi. Parameter dalam penelitian ini adalah jenis tumbuhan obat, jenis ramuan obat dan cara penggunaan ramuan dalam pengobatan pasca melahirkan. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh 25 jenis tumbuhan yang tergolong ke dalam 15 suku yang digunakan dalam pengobatan pasca melahirkan di Kabupaten Pidie. Jenis ramuan dalam pengobatan tradisional pasca melahirkan terdiri dari obat dalam dan obat luar. Obat dalam yang digunakan terdiri obat perut, bedak param, dan pilis. Penggunaan ramuan obat dalam dan obat luar selama pasca melahirkan dilakukan selama 44 hari. Manfaat dari penggunaan obat tersebut diantaranya menambah darah, meningkatkan jumlah air susu ibu, menghangatkan badan, dan menghilangkan lelah serta letih pasca melahirkan. Pemanfaatan tumbuhan obat secara tradisional sampai saat ini masih digunakan oleh masyarakat Aceh pada pengobatan ibu pasca melahirkan, selain pengobatan modern.Abstract Traditional medicine is a drug that is processed in a simple, hereditary based on ancestral recipes, customs, beliefs or local knowledge. This study aims to identify the species of plants used in post-natal care by Acehnese in Pidie District. The method used in data collection is Participatory Rural Appraisal and observation techniques. The parameters in this study are the species of medicinal plants, types of medicinal herbs and how to use the ingredients in postnatal care. The results of the study obtained 25 species plant that is grouped into 15 family used in post-natal care in Pidie District. A Traditional herbs post-natal medicine consists of internal and external medicine. The internal medicine used as stomach medicine, param powder and pilis. The use of medicinal herbs to internal and external medicine after postnatal was carried out for 44 days. The perceived benefits included adding blood, increasing the amount of breast milk, warming the body and eliminating fatigue and fatigue after childbirth. Utilization of traditional medicinal plants in this time are still used by Acehnese in the treatment of postnatal mother, besides modern treatment.
Indigenous Knowledge of Black Rice (Oryza sativa L. var. indica) in Central Aceh Namira Hamim; Zumaidar Zumaidar; Saida Rasnovi; Risa Nursanty
Al-Kauniyah: Jurnal Biologi Vol 15, No 2 (2022): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI
Publisher : Department of Biology, Faculty of Science and Technology, Syarif Hidayatullah State Islami

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/kauniyah.v15i2.21571

Abstract

Abstract Black rice (Oryza sativa L. var. indica) is less available in the market than the usual white rice. Its availability is closely related to its utilization. One of the studies on the use of plants in certain tribes was obtained through ethnobotany. This study aimed to examine information regarding the use of black rice in Central Aceh. The methods used were Purposive Sampling and Participatory Rural Appraisal (PRA). This study involved 197 respondents of ethnic group; farmer, seller, and consumer of black rice, traditional healer. The results showed that black rice in Central Aceh was used by the community as medicine (72%) for gastritis, stomach acid, cholesterol, diabetes, thrush, fever, and as fertility booster; as food ingredients (10%) to make black rice tapai, gutel, and black rice crackers; as plant protectors (9%); as tools for traditional game (4%) called bebeulen; as cosmetic (3%) for smooth facial skin; and as animal feed (2%). Differences in regions indicated differences in recipes and habits of using certain plants.Abstrak Padi beras hitam (Oryza sativa L. var. indica) keberadaannya di pasaran sedikit dibandingkan dengan beras putih. Ketersediaan erat kaitannya dengan pemanfaatan. Salah satu kajian tentang pemanfaatan tumbuhan di suku tertentu diperoleh melalui etnobotani. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji informasi menyangkut pemanfaatan padi beras hitam di Kabupaten Aceh Tengah. Metode yang digunakan adalah Purposive Sampling dan Participatory Rural Appraisal (PRA). Pada penelitian ini melibatkan 197 responden yang terdiri dari kelompok adat; petani, penjual, dan pengguna beras hitam, serta tabib. Hasil penelitian menunjukkan bahwa padi beras hitam di Kabupaten Aceh Tengah dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai obat-obatan (72%) yaitu untuk mengobati maag, asam lambung, kolesterol, diabetes, sariawan, demam, dan mudah memiliki keturunan, sebagai bahan pangan (10%) yaitu membuat tapai beras hitam, gutel, dan kerupuk nasi hitam, sebagai pelindung tanaman (9%), sebagai alat permainan (4%) yaitu bebeulen, serta sebagai bahan kosmetik (3%) yaitu menghaluskan wajah, dan sebagai pakan ternak (2%). Perbedaan daerah menunjukkan perbedaan resep dan kebiasaan penggunaan tumbuhan tertentu. 
Morphological Characteristics of Kecombrang (Etlingera elatior (Jack) R. M. Smith) in Several Regions in Aceh Province, Sumatra Rayhannisa, Rayhannisa; Zumaidar, Zumaidar; Amalia, Amalia; Sari, Widya; Saudah, Saudah
Al-Kauniyah: Jurnal Biologi Vol. 17 No. 2 (2024): AL-KAUNIYAH JURNAL BIOLOGI
Publisher : Department of Biology, Faculty of Science and Technology, Syarif Hidayatullah State Islami

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/kauniyah.v17i2.34900

Abstract

AbstractKecombrang (Etlingera elatior) is one of the plant species of the Zingiberaceae family is widely used by the community as food and medicine. Not much research has been done on the morphological diversity of kecombrang plants in Aceh, so scientific information about these plants is still minimal. Therefore, this research needs to be carried out to enrich knowledge about these plants in the Aceh region. Sampling was conducted from January to April 2022 at three places in Central Aceh, Banda Aceh, Weh Island, and Simeulue Island. This research was carried out according to the survey method by roaming and direct collection. A total of 12 groves were collected from wild and cultivated area and observed for 43 characters consisting of quantitative and qualitative data. Based on these observations, two variations of the kecombrang plant have been found based on the color of the bracts, namely the red and pink variants. Based on morphological characters of vegetative organs, all samples of Etlingera elatior had a similarity distance coefficient from 67 to 86%. In addition, the kecombrang plants found in the highlands of Central Aceh have a larger size in leaf and inflorescent compared to samples from other locations.AbstrakKecombrang (Etlingera elatior) adalah salah satu jenis tumbuhan famili Zingiberaceae yang secara luas penggunaanya dikenal oleh masyarakat sebagai makanan dan obat. Belum banyak penelitian terkait keanekaragaman morfologi tumbuhan kecombrang di Aceh, sehingga informasi ilmiah tentang tumbuhan ini masih sedikit. Oleh karena itu penelitian ini perlu dilakukan untuk memperkaya pengetahuan tentang tumbuhan tersebut di daerah Aceh. Pengambilan sampel dilakukan pada bulan Januari hingga April 2022 di tiga tempat yaitu di Aceh Tengah, Banda Aceh, Pulau Weh, dan Pulau Simeulue. Penelitian ini dilakukan dengan metode survei dengan cara jelajah dan pengumpulan langsung. Sebanyak 12 rumpun dikumpulkan dari kawasan liar dan budi daya dan diamati sebanyak 43 karakter yang terdiri dari data kuantitatif dan kualitatif. Berdasarkan pengamatan tersebut, ditemukan dua variasi tanaman kecombrang berdasarkan warna braktea, yaitu varian merah dan merah jambu. Berdasarkan karakter morfologi organ vegetatif, seluruh sampel Etlingera elatior memiliki koefisien kemiripan dari 67 hingga 86%. Selain itu, kecombrang yang ditemukan di dataran tinggi Aceh Tengah mempunyai ukuran daun dan perbungaan yang lebih besar dibandingkan sampel dari lokasi lain.