Halimuddin, Halimuddin
BAGIAN KEILMUAN KEPERAWATAN GADAR FAKULTAS KEPERAWATAN UNIVERSITAS SYIAH KUALA BANDA ACEH

Published : 28 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search
Journal : Idea Nursing Journal

ANALISIS FRAKSI EJEKSI KLIEN GAGAL JANTUNG PRE DAN POST PENERAPAN MODEL AKTIVITAS DAN LATIHAN INTENSITAS RINGAN Halimuddin, Halimuddin
Idea Nursing Journal Vol 5, No 2 (2014): IDEA NURSING JOURNAL
Publisher : Fakultas Keperawatan-Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (871.475 KB) | DOI: 10.52199/inj.v5i2.6735

Abstract

ABSTRAKTujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi pengaruh model aktivitas dan latihan klien gagal jantung terhadap fraksi ejeksi Penelitian ini menggunakan desain eksperimen semu (Quasy Experiment) tanpa kontrol group. Penelitian dilaksanakan di Rumah Sakit Jantung dan pembuluh darah Harapan Kita Jakarta. Populasi sampel adalah klien gagal jantung sebanyak 24 orang, dengan Kriteria inklusi: fraksi ejeksi 40%, tekanan darah sistole 80 – 120 mmHg, diastole 60 – 80 mmHg. Klasifikasi fungsionil NYHA: II dan III, mendapat terapi pengobatan gagal jantung Standar (Angiotension Converting enzymes - inhibitor, beta blockers, diuretic, digitalis), tidak ada disritmia yang mengancam kehidupan/bersifat fatal, infark tidak luas dan non elivasi segmen ST, usia 30 –70 tahun, mendapat izin dari dokter. Setiap responden di berikan model aktivitas dan latihan selama 6 hari di rumah sakit. Intensitas latihan di ukur dengan skala Borg. Hasil penelitian didapatkan ada perbedaan nilai fraksi ejeksi sebelum dan sesudah intervensi aktivitas dan latihan. Dengan intensitas latihan pada fase akut selama dirumah sakit (inpatient) adalah ringan. Rekomendasi penelitian ini  adalah model aktivitas dan latihan klien gagal jantung yang dikembangkan peneliti dapat diimplementasikan untuk memenuhi kebutuhan aktivitas pada fase akut selama di rumah sakit (inpatient). Pengawasan terhadap over aktivitas sangat di butuhkan selama penerapan model pada fase akut.Kata kunci: Gagal jantung, aktivitas dan latihan, dan fraksi Ejeksi ABTRACTThese research objectives are to identify the effect of activity and exercise model of heart failure client toward ejection fraction. This research used a Quasy Experiment design without control group. Thisresearch was done at National Cardiovascular Center of Harapan Kita, Jakarta. The samples were are heart failure clients, there were 24 people participated in the research who have inclusion criteria: ejection fraction 40%, systolic blood pressure 80 - 120 mmHg, diastolic 60 - 90 mmHg. In addition, the criteria were Functional classification NYHA: II and III, receiving a standard pharmacologic therapy (Angiotension Converting enzyme-inhibitor, beta-blockers, diuretics, digitalis), no fatal dysrhythmia, infarct was not large and non elevation of ST segment, age 30 - 70 years old, had permission from their attending cardiologist. Each respondent was given activity and exercise model during 6 days at the hospital. Exercise intensity is measured by Borg scale of perceived exertion. The research results indicated that there were differences between value of ejection fraction before and after activity and exercise intervention. with a light exercise intensity at acute phase during hospitalization (inpatient). This research recommendations showed that the activity and exercise for heart failure client exercise which were developed by a researcher can be implemented to fulfill an activity requirement during acute phase at hospital (inpatient period). It also suggested close observation during applying the model at this acute phase. Key words: Heart failure, activity and exercise, ejection fraction
PENGARUH MODEL AKTIVITAS DAN LATIHAN INTENSITAS RINGAN KLIEN GAGAL JANTUNG TERHADAP TEKANAN DARAH . Halimuddin
Idea Nursing Journal Vol 4, No 3 (2013): Idea Nursing Journal
Publisher : Fakultas Keperawatan-Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52199/inj.v4i3.1514

Abstract

Penurunan curah jantung, kerusakan difusi gas, dan intoleransi aktivitas merupakan masalah utama pada klien gagal jantung. Ini merupakan kondisi dilematis bagi seorang klien. Klien dianjurkan untuk beristirahat dengan cukup dan beraktivitas ringan agar tidak terlalu membebani kerja jantung. Namun disisi lain klien juga memerlukan pergerakan tubuh yang dapat meningkatkan sirkulasi darah. Oleh karena itu dibutuhkan suatu model aktivitas berbasis pada indikator yang dapat mengarah pada perbaikan kemampuan pompa jantung yaitu tekanan darah (sistole, diastole, rata-rata) Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi pengaruh model aktivitas dan latihan klien gagal jantung terhadap tekanan darah (sistole, diastole dan rata-rata). Penelitian ini menggunakan desain Quasy Experiment tanpa kontrol group. Penelitian dilaksanakan di Rumah Sakit Jantung dan pembuluh darah Harapan Kita Jakarta. Populasi sampel adalah klien gagal jantung sebanyak 24 orang, dengan Kriteria inklusi: fraksi ejeksi 40%, tekanan darah sistole 80 – 120 mmHg, diastole  60 – 80 mmHg. Klasifikasi fungsionil:  II dan III,   mendapat terapi pengobatan gagal jantung Standar (Angiotension Converting enzymes - inhibitor, beta blockers, diuretic, digitalis),  tidak ada disritmia yang mengancam kehidupan/bersifat fatal, infark tidak luas dan non elivasi segmen ST, usia 30 –70 tahun, mendapat izin dari dokter. Setiap responden di berikan model aktivitas dan latihan selama 6 hari di rumah sakit. Intensitas latihan di ukur dengan skala Borg. Hasil penelitian didapatkan ada perbedaan tekanan darah sistole, diastole dan rata-rata sebelum dan sesudah intervensi aktivitas dan latihan. Dengan intensitas latihan pada fase akut selama dirumah sakit (inpatient) adalah ringan. Rekomendasi penelitian ini adalah model aktivitas dan latihan klien gagal jantung yang dikembangkan peneliti dapat diimplementasikan untuk memenuhi kebutuhan aktivitas pada fase akut selama di rumah sakit (inpatient).
PENGETAHUAN TERAPI FARMAKOLOGI PASIEN PPOK Meina Annisa Bararah; Halimuddin Halimuddin
Idea Nursing Journal Vol 12, No 1 (2021): Idea Nursing Jurnal
Publisher : Fakultas Keperawatan-Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52199/inj.v12i1.22957

Abstract

Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) adalah gangguan pernapasan bersifat progresif dan irreversible. Penting bagi pasien memiliki pengetahuan akan terapi farmakologi PPOK untuk mengelola penyakitnya agar tetap stabil dan mencegah kecepatan perburukan fungsi paru guna dapat menjalani aktifitas sehari-harinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan pasien terhadap terapi farmakologi PPOK. Jenis penelitian deskriptif dengan desain cross sectional study. Sample penelitian  53 pasien PPOK di poliklinik paru Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin Banda Aceh.  Sample ditetapkan dengan purposive sampling dengan kriteria inklusi adalah pasien rawat jalan. Alat pengumpulan data adalah kuisioner yang mengikuti standar Bristol COPD Knowledge Quitionaire (BCKQ) tentang terapi obat-obatan dalam  bentuk skala Guttman yang terdiri dari 20 pertanyaan. Hasil penelitian bahwa tingkat pengetahuan tentang terapi farmakologi PPOK  41,5% rendah. Pengetahuan  jenis obat 26.4%  rendah dan sangat rendah, pengetahuan cara penggunaan obat  32.1% cukup tinggi, penegathuan waktu penggunaan obat 37.7% rendah,  pengetahuan dosis dan efek samping obat 35,8% rendah,  Rekomendasi. Perlu pendidikan kesehatan tentang farmakologi melalui discharge planning efektif kepada pasien PPOK. Dibutuhkan diagnosa keperawatan defisit pengetahuan farmakologi sebagai dasar intervensi pembelajaran pada pasien PPOK dan dievaluasi secara berkala saat pasien dirawat dan waktu pemulangan pasien dari Rumah sakit. Perlu penelitian tentang media pembelajaran yang tepat tentang farmakologi pada pasien PPOK.
TEKANAN DARAH DENGAN KEJADIAN INFARK PASIEN ACUTE CORONARY SYNDROME Halimuddin, Halimuddin,
Idea Nursing Journal Vol 7, No 3 (2016): Idea Nursing Journal
Publisher : Fakultas Keperawatan-Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (114.818 KB) | DOI: 10.52199/inj.v7i3.6443

Abstract

ABSTRAKAcute coronary syndrome (ACS) merupakan rangkaian gangguan klinis yang disebabkan oleh penyakit akut iskemik jantung. Spektrum klinis ACS adalah Unstable Angina Pectoris(UAP), non-ST elevasi myocardial infarction (NSTEMI), dan ST-elevasi myocardial infarction (STEMI). Proses ACS dapat berlanjut dengan infark transmural atau kematian. Infark  transmural terjadi ditandai dengan gambaran Q patologis menetap pada Elektrokardiogram. Tekanan darah tinggi merupakan salah satu faktor risiko ACS. Tekanan darah menjadi menifestasi klinis penting klien Acute coronary syndrome 24 jam pertama rawat inap. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan tekanan darah dengan kejadian infark transmural pada klien acute coronary syndrome rawat inap. Penelitian ini merupakan penelitian diskriptif kuantitatif  dengan desain perspektif studi (cohort). Jumlah sampel adalah 33 orang klien acute coronary syndrome. Teknik pengambilan sampel adalah proporsive sampling dengankriteriainklusi: diagnosa STEMI, NSTEMI, UAP, onset 24 jam, gagal jantung killip I dan II, tidak ada disritmia mengancam, mendapatkan terapi pengobatan standar (satu atau dua anti platelet, nitrat, trombolitik, oksigen). Tempat penelitian Rumah sakit dr Zainoel Abidin Banda Aceh. Variabel independen pada penelitian ini adalah tekanan darah sistole dan diastole, alat ukurnya  Sphygmomanometer-manometer air raksa, sedangkan yang menjadi variabel dependennya adalah infark dan tidak infark, alat ukurnya elektrokardiogram. Metode analisa data menggunakan uji statistik regresi logistik. Hasil penelitian bahwa pasien dengan tekanan darah sistole rata-rata tinggi memiliki kejadian infark 7.5 kali lebih besar dari sistole normal. Sementara pasien dengan tekanan diastole rata-rata tinggi memiliki kejadian infark 6.5 kali lebih besar dari tekanan diastole normal. Tekanan darah sistole dan diastole tinggi pada pasien ACS harus dimonitor dan dikontrol oleh perawat secara intensif selama 24 jam pertama untuk mencegah atau mengurangi risiko kejadianinfark.                                       Kata kunci: acute coronary syndrome, infark, tekanan darah sistole dan tekanan darah diastole. ABSTRACTAcute coronary syndrome (ACS) is a set of clinical disturbance caused by heart ischaemic acute disease.  clinical spectrum of acute coronary syndrome is unstable angina pectoris, non ST elevation myocardial infarction and ST elevation myocardial infarction. The process of  acute coronary syndrome can develop with transmural infarction or death. Transmural infarction is characterized with remain patological Q description on electrocardiogram. High blood pressure is on of risk factors of acute coronary syndrome. Blood pressure is as important clinical manifestation on patient with acute coronary syndrome during the first 24 hours. The research was to identify relationship between blood pressure and transmural infarction occurence on patient with acure coronary syndrome. The research was descriptive quantitative with perspective study (cohort) design. The number of sample was 33 patients with acute coronary syndrome. Sampling technique was proporsive sampling with inclusion criteria i.e. diagnosed with ST elevation myocardial infarction, non ST elevation myocardial infarction, unstable angina pectoris, onset 24 hours, Killip I and II heart failure, non threatening dysrhythmias, obtaining standard treatment therapy (one or two antiplatelets, trombolitik, nitrat, oksigen). The location of the research was in dr. Zainoel Abidin general hospital Banda Aceh. Independent variable  in this research were sistole and diastole blood pressure. Meanwhile the dependent variable were infaction and non infarction. Data analyzed method was use a logisticregression test of statistic. The result of the research showed that patients with high average sistole blood pressure had infarct occurence 7,5 times greater than normal sistole. Whilst patients with high average diastole blood pressure had infarct occurence 6,5 times greater than normal sistole. High sistole and diastole blood pressureon patients with acute coronary syndrome must be monitored and controlled intensively by nurses during the first 24 hours to prevent or alleviate infarction risks.Keywords: acute coronary syndrome, infarction, sistole and diastole blood pressure
POTENSIAL KOMPLIKASI BRADIKARDI ADALAH MASALAH KEPERAWATAN KOLABORATIF PADA PASIEN SINDROME KORONER AKUT INFARK ANTERIOR DAN INFERIOR Ns. Halimuddin, S.Kp., M.Kep; Octami Ruliani
Idea Nursing Journal Vol 11, No 2 (2020): Idea Nursing Journal
Publisher : Fakultas Keperawatan-Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52199/inj.v11i2.20240

Abstract

Potensial disritmia merupakan masalah keperawatan kolaboratif yang dapat menyebabkan 80-90% kematian pada pasien Sindrome Koroner Akut (SKA) fase awal. Disritmia dapat terjadi berupa bradikardia sinus maupun non sinus. Bradikardia adalah irama yang mengancam karena mengakibatkan penurunan curah jantung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan lokasi infark dengan kejadian bradikardi pasien SKA pada 24 jam pertama. Jenis penelitian deskriptif kuantitatif dengan desain retrospective study data sekunder rekam medik di Intensive Coronary Care Unit Januari sampai Desember 2017.  Variabel independen adalah lokasi infark anterior dan inferior dan variabel dependennya adalah bradikardi. Alat ukurnya elektrokardiogram. Sampel 69 pasien SKA ditetapkan dengan tehnik purposive sampling, dengan  kriteria inklusi:  pasien Onset 24 jam dan mendapat terapi farmakologi standar SKA. Tempat penelitian di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Zainoel Abidin dan Rumah Sakit Meuraxa Banda Aceh. Hasil uji statistik chi-square didapatkan p-value 0.102 (p0.05). Kesimpulan bahwa tidak ada perbedaan proporsi bradikardi antara lokasi infark anterior dan inferior. Rekomendasi: Disritmia Bradikardia terjadi pada infark anterior dan inferior pada 24 jam pertama. Potensial Disritmia bradikardia dapat ditetapkan sebagai masalah keperawatan kolaboratif sebagai dasar intervensi keperawatan kolaboratif.  Kata Kunci           : lokasi infark, bradikardi, sindrom koroner akut  ABSTRACTPotential dysrhythmias are a collaborative nursing problem that can cause 80-90% of deaths in early phase Acute Coronary Syndrome (ACS) patients. Dysrhythmias can occur in the form of sinus bradycardia or non-sinus. Bradycardia is a threatening rhythm that results in decreased cardiac output. This study aims to determine the relationship between infarct location and the incidence of bradycardia in ACS patients in the first 24 hours. This type of quantitative descriptive research with a retrospective study design secondary data of medical records in the Intensive Coronary Care Unit January to December 2017. The independent variable is the location of the anterior and inferior infarction and the dependent variable is bradycardia. Electrocardiogram measuring instrument. The sample of 69 patients with ACS was determined using purposive sampling technique, with the inclusion criteria: patients onset 24 hours and received standard ACS pharmacological therapy. Place of research at the Regional General Hospital dr. Zainoel Abidin and Meuraxa Hospital Banda Aceh. Chi-square statistical test results obtained p-value 0.102 (p 0.05). The conclusion is that there is no difference in the proportion of bradycardia between the anterior and inferior infarction sites. Recommendation: Bradycardia dysrhythmias occur in anterior and inferior infarction in the first 24 hours. The potential for dysrhythmias bradycardia can be defined as a collaborative nursing problem as the basis for collaborative nursing interventions.
KOLESTEROL TOTAL DAN KLASIFIKASI KLINIS NEW YORK HEART ASSOCIATION III DAN IV PASIEN GAGAL JANTUNG KONGESTIF Halimuddin Halimuddin; Intan Permata Sari
Idea Nursing Journal Vol 8, No 2 (2017): Idea Nursing Journal
Publisher : Fakultas Keperawatan-Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (300.102 KB) | DOI: 10.52199/inj.v8i2.8825

Abstract

ABSTRAKPasien gagal jantung  kongestif  yang tidak patuh dengan diet memiliki peluang 8.81 kali lebih besar melakukan kunjungan rawat inap ulang dibandingkan dengan klien yang patuh pada diet. Diet tinggi lemak dan rendah serat menjadi penyebab tingginya kolesterol serum.  Klinis gagal jantung kongestif diklasifikasikan berdasarkan klinis New York Heart Association (NYHA)  yang ditetapkan sesuai dengan tingkat aktifitas fisik yang menimbulkan gejala gagal jantung meliputi Klas I, II, III dan IV. Tujuan penelitian adalah untuk melihat hubungan antara klasifikasi kolesterol total dengan klasifikasi klinis New York Heart Association (NYHA) III dan IV. Jenis rancangan penelitian adalah deskriptif korelatif dengan pendekatan cross sectional study. Sample penelitian 49 pasien gagal jantung kongestif  saat masuk dan  rawat inap di rumah sakit umum daerah dr Zainoel Abidin Banda Aceh.  Sample ditetapkan dengan tehnik proporsive sampling. kriteria inklusi ialah: kadar kolesterol belum diterapi, gagal jantung tidak dengan kehamilan. Analisa  data menggunakan uji statistik Chi-square. Hasil penelitian ini didapatkan hubungan yang signifikan antara klasifikasi kolesterol total dengan klasifikasi klinis New York Heart Association III dan IV (p-value 0.007). Direkomendasikan kepada pasien gagal jantung agar mengontrol kolesterol total tidak meningkat untuk mencegah meningkatnya klasifikasi klinis keparahan gagal jantung kongestif.Kata kunci: Gagal Jantung Kongestif, Kolesterol Total, Kelas Nyha III Dan IV. ABSTRACTCongestive  heart failure patient who were disobedient to diet had an 8.81 times higher chance of doing re-visits than those who were obedient to diet. High-fat and low-fiber diets are the cause of high serum cholesterol. Clinical congestive heart failure is classified according to clinical New York Heart Association (NYHA) defined according to the level of physical activity that causes symptoms of heart failure into Class I, II, III and IV. The aim of the study was to examine the relationship between the classification of total cholesterol and the clinical classification of the New York Heart Association (NYHA) III and IV. Type of research design is descriptive correlative with cross sectional study approach. The samples of this study are 49 patients with congestive heart failure at admission and hospitalized in General Hospital dr Zainoel Abidin in Banda Aceh. The sample is determined by using proportional sampling technique. The inclusion criteria are: cholesterol level have not been treated, heart failure with non-pregnancy condition. Analyzed data was using Chi-square statistical test. The results of this study found that a significant relationship between the classification of total cholesterol with clinical classification of New York Heart Association III and IV (p-value 0.007). Recommended to patients with heart failure to control their total cholesterol does not increase to prevent the increased clinical classification of the severity of congestive heart failure. Keywords:Congestive heart failure, total cholesterol, classification NYHA III and IV.