Claim Missing Document
Check
Articles

Found 31 Documents
Search

PENINGKATAN KETANGGUHAN MASYARAKAT DUSUN GODEGAN JAMUSKAUMAN NGLUWAR MAGELANG JAWA TENGAH Restu Faizah; Willis Diana; Edi Hartono
ADIMAS Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 3, No 2 (2019): September
Publisher : Universitas Muhammadiyah Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (680.868 KB) | DOI: 10.24269/adi.v3i2.1632

Abstract

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat dilakukan di dusun Godegan, desa Jamuskauman kecamatan Ngluwar Magelang Jawa Tengah. Desa Jamuskauman termasuk pada kategori Desa Tangguh Bencana Pratama, dimana kegiatan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) masih sangat awal dilakukan di desa ini. Kegiatan ini betujuan meningkatkan ketangguhan warga dalam menghadapi bencana, dengan beberapa kegiatan yaitu pendidikan ketangguhan, diskusi potensi bencana dan pembagian buku saku tangguh bencana. Dari hasil kegiatan ini diperoleh informasi bahwa dusun Godegan memiliki potensi ancaman bencana gempabumi, angina putting beliung dan banjir lahar dingin. Kegiatan selanjutnya yang perlu dilakukan berupa pelatihan kesiapsiagaan, penentuan titik kumpul dan pembuatan jalur evakuasi. Kegiatan seperti ini sangat dibutuhkan warga, terbukti dari antusiasme warga dalam mengikuti seluruh rangkaian acara.Community service has been done in Godegan, Jamuskauman village, Ngluwar sub-district of Magelang regency, Central Java. Those event has succeeded in assessing the resilience of these villagers in the face of disasters. The village is included in the category of Desa Tangguh Bencana Pratama, whereis the Disaster Risk Reduction activities will begin (at early stage) in this village. This activity aims to increase the resilience of villagers in the face of disasters, with several activities namely disaster preparedness and resilience education, discussion of potential disasters and the distribution of disaster resilient manual books. The community succeeded in mapping out the potential disasters in the village, namely earthquakes, tornadoes and cold lava floods and improved the knowledge abaut the preparedness and resilience of disaster.  The next activity that needs to be done is in the form of preparedness training, determining the gathering point and making an evacuation route. The enthusiasm of the villagers in participating in this activity needs to be followed up by the local government and the community concerned with disasters by carrying out sustainable activities towards a resilient village
Evaluasi Pemadatan Tanah pada Proyek Pembangunan Gedung Willis Diana; Edi Hartono; Agus Setyo Muntohar; Kartika Wulandary
MEDIA KOMUNIKASI TEKNIK SIPIL Volume 28, Nomor 1, JULI 2022
Publisher : Department of Civil Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (604.443 KB) | DOI: 10.14710/mkts.v28i1.32720

Abstract

Soil compaction is one of the robust methods to improve the strength and compressibility of earthwork since the method is more efficient and practical. However, the compaction work must be evaluated to meet the maximum dry density (MDD) required from the standard laboratory compaction test. The common method used for the evaluation of field density is the sand-cone test. The main objective of this study was to investigate the relative compaction of the borrow-fill at the building construction using the sand-cone test. The test procedure followed the ASTM D1556/D1556M-15e1 and ASTM D698-12e2 for sand-cone test and Proctor standard compaction test. Statistical analysis was performed to evaluate the density and moisture obtained from the field test at Dorm and Research and Innovation Center (RIC) project construction. The probability (p) of the compaction work exceeded the 0,9 MDD or Rc=90% was calculated p=13% and p=18%. The results corresponded to average relative compaction (Rc) of 80% and 82% at the Dorm and RIC project, respectively, with the deviation standard of 8.69 dan 8.81.
Pelatihan MS-PowerPoint Untuk Meningkatkan Mutu Pembelajaran di SMP Muhammadiyah Ngluwar Edi Hartono; Willis Diana; Syaikul Khabir Muhyidin
Prosiding Seminar Nasional Program Pengabdian Masyarakat 2022: 2. Kreatifitas Pendidikan dan Pembelajaran di Sekolah dan Perguruan Tinggi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/ppm.52.1034

Abstract

Kondisi sekolah menengah swasta yang memprihatinkan terjadi dibanyak daerah di Indonesia, salah satu contohnya adalah di SMP Muhammadiyah Ngluwar di Kabupaten Magelang, Propinsi Jawa Tengah. Hal ini terlihat dari jumlah siswa yang terus menurun dari tahun ke tahun. Bahkan ditahun 2022 jumlah siswa baru hanya sebanyak 15 orang. Sebenarnya dari sisi prasarana gedung cukup memadai, namun sarana pembelajaran masih jauh tertinggal. Pembelajaran diberikan oleh guru di depan kelas dengan alat bantu hanya papan tulis. Metode pembelajaran yang tentu kurang menarik lagi dimasa sekarang. Hal tersebut kemungkinan menjadi salahsatu penyebab sekolah ini kurang bisa berkembang. Kondisi pandemi Covid-19 juga menjadi pukulan tersendiri bagi sekolah-sekolah yang tidak siap dari sisi sarana dan sumber daya manusia. Peningkatan mutu pembelajaran menjadi hal yang mutlak dilakukan di sekolah ini untuk bisa pelan-pelan mengangkat citra sekolah agar mampu bersaing dengan sekolah lain. Program pengabdian masyarakat ini bertujuan meningkatkan sarana pembelajaran berupa hibah LCD proyektor dan speaker portatable. Peningkatan kualitas guru pengajar juga dilakukan agar memberikan pengajaran dengan metode yang lebih menarik. Pelatihan optimalisasi aplikasi MS-PowerPoint telah dilakukan kepada guru pengajar di SMP Muhammadiyah Ngluwar yang berjumlah 11 orang pada tanggal 25 Maret 2022. Hasil kuisioner menunjukkan peningkatan pengetahuan dan ketrampilan dalam penggunaan aplikasi
Inisiasi Sekolah Siaga Bencana Pada SD Muhammadiyah Ngluwar Willis Diana; Edi Hartono; Muhammad Afzalurrahman; Virgina Dwiyas Alfaini
Prosiding Seminar Nasional Program Pengabdian Masyarakat 2022: 7. Sarana dan Prasarana Publik dan Mitigasi Bencana
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/ppm.57.1131

Abstract

Sekolah siaga bencana tidak hanya terpaku pada unsur kesiapsiagaan, melainkan juga meliputi upaya-upaya mengembangkan pengetahuan secara inovatif untuk mencapai pembudayaan keselamatan, keamanan, dan ketahanan bagi seluruh warga sekolah terhadap bencana. Agar siswa dapat memahami bencana secara baik dan utuh, pendidikan kebencanaan di sekolah harus diintegrasikan ke dalam beberapa mata pelajaran. SD Muhammadiyah Ngluwar merupakan sekolah dasar yang terletak di daerah Cabeyan Bligo Ngluwar Kab. Magelang, dengan jumlah siswa 378 (siswa laki-laki 209 dan siswa perempuan 169) dan jumlah rombongan belajar 17 rombangan belajar. Sebagai lembaga pendidikan, SD Muhammadiyah Ngluwar bertanggung jawab menyelenggarakan pendidikan agar siswa dapat mengembangkan potensinya dan membangun budaya, termasuk budaya siaga bencana. Menurut Peta Risiko Bencana Daerah Kabupaten Magelang, Cabeyan Bligo Ngluwar sangat rentan terhadap risiko angin ribut, banjir lahar dingin Merapi, dan gempa bumi. Pengetahuan para tenaga pendidik terhadap penanggulangan bencana tentang sikap/tindakan, kebijakan sekolah, perencanaan kesiapsiagaan, dan mobilisasi sumber daya masih perlu ditingkatkan. Masalah mitra ini dapat diatasi melalui pendampingan dan pelatihan di sekolah siaga bencana atau satuan pendidikan bencana. Tim pelaksana dan pakar terkait memberikan dukungan dan pelatihan. Pada pengabdian masyarakat tahap awal ini akan dilakukan pelatihan kesiapsiagaan terhadap siswa kelas V, dan mendeskripsikan kemampuan awal dari warga sekolah terhadap kesiapsiagaan terhadap bencana dengan melakukan survei. Hasil survei menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan siswa dan guru terhadap potensi bencana pada tingkat tinggi, panduan dan kebijakan sekolah pada tingkat rendanh, dan rencana tanggap darurat dan pengerahan sumberdaya pada tingkat sedang. Program berkelanjutan untuk mempersiapan sekolah Siaga bencana perlu dilanjutkan ditahun tahun ke depan. Pada tahun mendatang akan dipersiapkan ketersediaan dokumen kebijakan sekolah dan atribut kesiapan sekolah, termasuk informasi bencana dan mitigasinya, jalur evakuasi, dan titik kumpul
PERENCANAAN GEDUNG PPAY AMANAH WARAHMAH LIL UMAT WIROKERTEN BANTUL YOGYAKARTA Edi Hartono; Widodo Widodo; Sumiyanto Sumiyanto
Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 6, No 6 (2023): martabe : jurnal pengabdian kepada masyarakat
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jpm.v6i6.2152-2158

Abstract

Program Peduli Anak Yatim (PPAY) Amanah Warahmah Lil Umat didirikan oleh Pengurus Ranting Muhammadiyah (PRM) Wirokerten, Bantul, Yogyakarta. Saat ini PPAY mendapatkan amanah 88 orang santri. Kegiatan-kegiatan PPAY selama ini masih menumpang di beberapa masjid di wilayah Wirokerten. Berkat kepedulian dari masyarakat, PPAY mendapatkan tanah wakaf seluas 175m2. Pengurus berniat untuk membangun sebuah pondok di lahan wakaf tersebut. Program pengabdian kepada masyarakat ini dilakukan untuk membantu dalam perencanaan gedung tersebut. Langkah-langkah perencanaan dilakukan melalui tahapan pertemuan dengan pengurus, survei lokasi, perencanaan, penyerahan hasil dan evaluasi/monitoring pelaksanaan. Survei lokasi dilakukan untuk melihat situasi dan mengukur lahan. Konsultasi dengan pengurus PRM untuk mendapatkan gambaran rencana pembangunan. Perencanaan meliputi seluruh gambar rencana & gambar detail serta Rencana Anggaran Biaya (RAB). Penyerahan hasil diserahkan dalam bentuk file/softcopy dan dokumen cetak. Bangunan gedung dibuat 2 lantai, mengingat lahan yang kecil dan kebutuhan ruang yang banyak. Ada 27 jenis gambar yang dibuat meliputi Peta Situasi, Gambar Tampak (Termasuk Fasad 3D), Gambar Denah, Gambar Potongan, Gambar Atap, Gambar Struktur,Gambar Fondasi, Gambar Penulangan, Gambar Mekanikal & Elektrikal, Gambar Sanitasi dan Drainasi dan Gambar-gambar Detail. Pendampingan saat konstruksi juga dilakukan agar pelaksanaan sesuai dengan gambar rencana.
Effect of the Specimen’s Height on the Split-Tensile Strength of the Fibers Reinforced Clay-Lime-Rice Husk Ask Mixture Hartono, Edi; Muntohar, Agus Setyo; Diana, Willis; Hemeto, Abd. Dzargifar
Journal of the Civil Engineering Forum Vol. 10 No. 2 (May 2024)
Publisher : Department of Civil and Environmental Engineering, Faculty of Engineering, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jcef.11305

Abstract

Various studies on the effect of specimen size on splitting tensile strength. However, geotechnical codes lack consensus regarding the recommended specimen diameter and height-to-diameter (H/D) ratio for the split tensile strength test. Hence, it is imperative to study the effect of the height-to-diameter ratio of the specimen on the outcomes of the split tensile strength test, especially for stabilized and fiber-reinforced soil. This research examines the effect of adding lime-rice husk ash and plastic fiber and the effect of specimen size on splitting tensile strength. The height of the specimen is varied, using a height-to-diameter ratio (H/D), namely 0.5, 1.0, 1.5, 2.0, and 2.5, in which the diameter is 70 mm. Two groups of specimens were prepared as stabilized clay without fibers and stabilized clay with 0.1% fibers. The lime required for stabilization is 10% of the dry weight of the soil. In this research, the lime and rice husk ash ratio was designed as 1:1. The splitting tensile strength test was carried out after the specimen was cured for seven days. The investigation indicates that the splitting tensile strength of the specimen without fibers reduces from 217 kPa to 150 kPa as the H/D ratio grows from 0.5 to 2.5. Conversely, the tensile strength of the specimen with fibers increases from 284 kPa to 357 kPa. The findings suggest that the fiber inclusion enhances the splitting tensile strength of the stabilized clay. The specimen size affects the splitting tensile strength, but the effect becomes less noticeable when the H/D ratio exceeds 2.5. From a fracture mechanism perspective, the specimen experiences mode II (shearing) due toa probable “flexural action” along its height. It remains challenging to conclude the dimensions of the test specimen or, at the very least, estimate the correction factor for the size-to-tensile strength ratio.
Effect of curing temperature on the soil physical and mechanical properties on clay shale geopolymer fly ash stabilization Hartono, Edi; Diana, Willis; Muntohar, Agus Setyo; Azhar, Muhammad; Indriani, Lia
SINERGI Vol 29, No 1 (2025)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/sinergi.2025.1.005

Abstract

Clay shale is an easily degraded mudrock when exposed to weathering. The reduced strength due to degradation can be mitigated through soil stabilization. In recent years, soil stabilization using geopolymers has become one of the latest popular methods due to its economic benefits and lower carbon footprint. A widely used cementitious material for this method is fly ash-based geopolymer. The relationship between curing temperatures and the performance of clay shale stabilized with fly ash-based geopolymer has yet to be studied for the purpose of identifying a more effective stabilization method. In this study, clay shale was stabilized using geopolymer. The geopolymer was made of fly ash and an activator. Sodium hydroxide (NaOH) and sodium silicate (Na2SiO3) as activators. The activator is diluted with water to create a 12 M mixture. Before the unconfined compressive strength test, the specimens were subjected to various curing temperatures from 26oC to 60oC. The test result shows that, in general, higher curing temperatures increased the dry density from 1.66 g/cm3 to 1.84 g/cm3. Meanwhile, the unconfined compressive strength multiplies about 3.5 times. Furthermore, the moisture content decreased after the curing process from 19% to 2.5%. This led to the specimen volume experiencing decrement due to the shrinkage during the curing period. The volume reduces from 67.7 cm3 to 63.5 cm3. In general, temperature plays a significant role in enhancing the strength of clay shale stabilized using fly ash-based geopolymer.
Laju Pengembangan Dan CBR Lapukan Batuan Sedimen Yang Dipengaruhi Metode Stabilisasi Hartono, Edi
AGREGAT Vol 9 No 2 (2024): .
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/ag.v9i2.23971

Abstract

Clay shale dan siltstone merupakan batuan siliklastik hasil proses sedimentasi yang sebagian besar mineral penyusunnya berupa lempung dan kuarsa. Pada umumnya jenis batuan sedimen ini berada di bawah lapisan tanah atau batuan lain. Banyak konstruksi yang dibangun diatas batuan ini. Walaupun memiliki kekuatan yang tinggi pada kondisi alaminya, namun batuan sedimen tersebut mudah mengalami pelapukan apabila terkena hidrosfer dan atmosfer secara langsung. Salah satu upaya untuk meningkatkan kekuatan tanah/batuan yang telah lapuk adalah dengan stabilisasi kimiawi menggunakan semen. Pada penelitian ini nilai Califronia Bearing Ratio (CBR) digunakan sebagai parameter untuk menganalisis peningkatan kekuatan clay shale dan siltstone yang distabilisasi. Stabilisasi ini dilakukan dengan mencampur tanah dengan semen sebesar 2%, 5%, 7%, dan 10% dari berat kering spesimen.  Dua metode pencampuran yang digunakan yaitu metode campuran kering dan basah. Metode campuran kering dilakukan dengan mengaduk tanah dan semen secara kering kemudian ditambahkan air. Metode basah dilakukan dengan cara mengaduk tanah sambil disemprotkan pasta semen. Air yang digunakan dalam campuran metode kering maupun basah adalah air pada kondisi Optimum Moisture Content (OMC). Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai CBR clay shale metode basah lebih tinggi dibandingkan dengan campuran kering. Sebaliknya nilai CBR Siltstone pencampuran metode kering lebih tinggi dibandingkan dengan pencampuran metode basah. Hasil pengujian tersebut mengindikasikan bahwa metode pencampuran dapat mempengaruhi hasil dari stabilisasi, namun terdapat faktor-faktor lain yang memiliki pengaruh lebih kuat sehingga pemilihan metode pencampuran harus disesuaikan dengan jenis tanah yang distabilisasi
Laju Pengembangan Dan CBR Lapukan Batuan Sedimen Yang Dipengaruhi Metode Stabilisasi Hartono, Edi
AGREGAT Vol 9 No 2 (2024): Vol. 9 No. 2 (2024)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/ag.v9i2.23971

Abstract

Clay shale dan siltstone merupakan batuan siliklastik hasil proses sedimentasi yang sebagian besar mineral penyusunnya berupa lempung dan kuarsa. Pada umumnya jenis batuan sedimen ini berada di bawah lapisan tanah atau batuan lain. Banyak konstruksi yang dibangun diatas batuan ini. Walaupun memiliki kekuatan yang tinggi pada kondisi alaminya, namun batuan sedimen tersebut mudah mengalami pelapukan apabila terkena hidrosfer dan atmosfer secara langsung. Salah satu upaya untuk meningkatkan kekuatan tanah/batuan yang telah lapuk adalah dengan stabilisasi kimiawi menggunakan semen. Pada penelitian ini nilai Califronia Bearing Ratio (CBR) digunakan sebagai parameter untuk menganalisis peningkatan kekuatan clay shale dan siltstone yang distabilisasi. Stabilisasi ini dilakukan dengan mencampur tanah dengan semen sebesar 2%, 5%, 7%, dan 10% dari berat kering spesimen.  Dua metode pencampuran yang digunakan yaitu metode campuran kering dan basah. Metode campuran kering dilakukan dengan mengaduk tanah dan semen secara kering kemudian ditambahkan air. Metode basah dilakukan dengan cara mengaduk tanah sambil disemprotkan pasta semen. Air yang digunakan dalam campuran metode kering maupun basah adalah air pada kondisi Optimum Moisture Content (OMC). Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai CBR clay shale metode basah lebih tinggi dibandingkan dengan campuran kering. Sebaliknya nilai CBR Siltstone pencampuran metode kering lebih tinggi dibandingkan dengan pencampuran metode basah. Hasil pengujian tersebut mengindikasikan bahwa metode pencampuran dapat mempengaruhi hasil dari stabilisasi, namun terdapat faktor-faktor lain yang memiliki pengaruh lebih kuat sehingga pemilihan metode pencampuran harus disesuaikan dengan jenis tanah yang distabilisasi
PERENCANAAN GEDUNG PPAY AMANAH WARAHMAH LIL UMAT WIROKERTEN BANTUL YOGYAKARTA Hartono, Edi; Widodo, Widodo; Sumiyanto, Sumiyanto
Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 6, No 6 (2023): martabe : jurnal pengabdian kepada masyarakat
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jpm.v6i6.2152-2158

Abstract

Program Peduli Anak Yatim (PPAY) Amanah Warahmah Lil Umat didirikan oleh Pengurus Ranting Muhammadiyah (PRM) Wirokerten, Bantul, Yogyakarta. Saat ini PPAY mendapatkan amanah 88 orang santri. Kegiatan-kegiatan PPAY selama ini masih menumpang di beberapa masjid di wilayah Wirokerten. Berkat kepedulian dari masyarakat, PPAY mendapatkan tanah wakaf seluas 175m2. Pengurus berniat untuk membangun sebuah pondok di lahan wakaf tersebut. Program pengabdian kepada masyarakat ini dilakukan untuk membantu dalam perencanaan gedung tersebut. Langkah-langkah perencanaan dilakukan melalui tahapan pertemuan dengan pengurus, survei lokasi, perencanaan, penyerahan hasil dan evaluasi/monitoring pelaksanaan. Survei lokasi dilakukan untuk melihat situasi dan mengukur lahan. Konsultasi dengan pengurus PRM untuk mendapatkan gambaran rencana pembangunan. Perencanaan meliputi seluruh gambar rencana gambar detail serta Rencana Anggaran Biaya (RAB). Penyerahan hasil diserahkan dalam bentuk file/softcopy dan dokumen cetak. Bangunan gedung dibuat 2 lantai, mengingat lahan yang kecil dan kebutuhan ruang yang banyak. Ada 27 jenis gambar yang dibuat meliputi Peta Situasi, Gambar Tampak (Termasuk Fasad 3D), Gambar Denah, Gambar Potongan, Gambar Atap, Gambar Struktur,Gambar Fondasi, Gambar Penulangan, Gambar Mekanikal Elektrikal, Gambar Sanitasi dan Drainasi dan Gambar-gambar Detail. Pendampingan saat konstruksi juga dilakukan agar pelaksanaan sesuai dengan gambar rencana.