Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

PERENCANAAN GEDUNG PPAY AMANAH WARAHMAH LIL UMAT WIROKERTEN BANTUL YOGYAKARTA Edi Hartono; Widodo Widodo; Sumiyanto Sumiyanto
Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 6, No 6 (2023): martabe : jurnal pengabdian kepada masyarakat
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jpm.v6i6.2152-2158

Abstract

Program Peduli Anak Yatim (PPAY) Amanah Warahmah Lil Umat didirikan oleh Pengurus Ranting Muhammadiyah (PRM) Wirokerten, Bantul, Yogyakarta. Saat ini PPAY mendapatkan amanah 88 orang santri. Kegiatan-kegiatan PPAY selama ini masih menumpang di beberapa masjid di wilayah Wirokerten. Berkat kepedulian dari masyarakat, PPAY mendapatkan tanah wakaf seluas 175m2. Pengurus berniat untuk membangun sebuah pondok di lahan wakaf tersebut. Program pengabdian kepada masyarakat ini dilakukan untuk membantu dalam perencanaan gedung tersebut. Langkah-langkah perencanaan dilakukan melalui tahapan pertemuan dengan pengurus, survei lokasi, perencanaan, penyerahan hasil dan evaluasi/monitoring pelaksanaan. Survei lokasi dilakukan untuk melihat situasi dan mengukur lahan. Konsultasi dengan pengurus PRM untuk mendapatkan gambaran rencana pembangunan. Perencanaan meliputi seluruh gambar rencana gambar detail serta Rencana Anggaran Biaya (RAB). Penyerahan hasil diserahkan dalam bentuk file/softcopy dan dokumen cetak. Bangunan gedung dibuat 2 lantai, mengingat lahan yang kecil dan kebutuhan ruang yang banyak. Ada 27 jenis gambar yang dibuat meliputi Peta Situasi, Gambar Tampak (Termasuk Fasad 3D), Gambar Denah, Gambar Potongan, Gambar Atap, Gambar Struktur,Gambar Fondasi, Gambar Penulangan, Gambar Mekanikal Elektrikal, Gambar Sanitasi dan Drainasi dan Gambar-gambar Detail. Pendampingan saat konstruksi juga dilakukan agar pelaksanaan sesuai dengan gambar rencana.
Unconfined Compressive Strength and Damage Evolution in Geopolymer-Stabilized Clay Shale: Role of Temperature and Alkali Activator Ratio Diana, Willis; Hartono, Edi; Muntohar, Agus Setyo; Abiyoga, Nurza Purwa
Journal of the Civil Engineering Forum Vol. 12 No. 2 (May 2026)
Publisher : Department of Civil and Environmental Engineering, Faculty of Engineering, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jcef.22477

Abstract

Exposed clay shale is highly susceptible to weathering and rapid strength degradation, which often leads to slope and earth-structure instability. Geopolymer-based soil stabilization has emerged as a promising method to improve the mechanical properties of such problematic materials. However, this chemical stabilization process is sensitive to environmental conditions, particularly temperature fluctuations. The performance of geopolymer-stabilized clay shale under elevated-temperature conditions remains insufficiently investigated, particularly in tropical regions such as Indonesia, where temperatures can fluctuate between 25◦C and 40◦C, and the exposed ground surface may reach up to 60◦C during the dry season because of intense solar radiation. This study evaluates the effectiveness of fly ash–based geopolymer in stabilizing clay shale under temperature variations ranging from 26◦C to 60◦C. A series of laboratory experiments was conducted using two alkali activator ratios (Na2SiO3:NaOH), namely 2.0 (Ratio A) and 2.5 (Ratio B). Mechanical performance was assessed through unconfined compressive strength (UCS) tests, stress–strain analysis, and energy-based damage evolution to quantify strength development and failure behavior. The results indicate that temperature is the dominant factor controlling strength development. A 10◦C increase in curing temperature resulted in a 40–60% increase in UCS, whereas variations in the alkali activator ratio produced only a 15–20% increase. The highest strength amplification, reaching 16 times that of untreated soil, was achieved using Ratio B at 60◦C, while Ratio A showed strength stagnation above 50◦C. Microstructural observations suggest that elevated temperatures accelerate geopolymer gel formation, leading to higher initial stiffness and an expanded elastic region. However, this also resulted in more brittle behavior, characterized by a higher brittleness index and rapid post-peak damage propagation for Ratio B, whereas Ratio A exhibited greater ductility. Overall, higher curing temperatures increased the dissipated energy at failure and revealed a clear strength–ductility trade-off. These findings provide insights for optimizing geopolymer stabilization of clay shale, particularly for geotechnical applications in tropical environments where elevated in situ temperatures are common.
Comparative Stability Assessment of Dual Versus Single Reinforcement Configurations in Mechanically Stabilized Earth (MSE) Walls Hartono, Edi; Diana, Willis; Afifah Anis Tsamara , Ghina
Bulletin of Civil Engineering Vol. 6 No. 1 (2026): Februari
Publisher : Civil Engineering Department, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mechanically stabilized earth (MSE) walls are widely used in transportation infrastructure due to their cost efficiency, constructability, and adaptability. However, the performance implications of different reinforcement configurations under combined static and seismic loads remain insufficiently quantified. This study examines a 7.2 m MSE wall reinforced with either dual 30 kN strips or a single 50 kN strip, analyzing internal, external, and global stability using both manual calculations and Limit Equilibrium Method (LEM) with Geo5. Geotechnical properties, reinforcement reduction factors, traffic surcharges, and seismic coefficients were incorporated following national design standards. Manual methods applied Rankine and Coulomb formulations, while Geo5 captured soil–strip interface behavior. Results indicate that the dual 30 kN configuration achieved higher tensile and external stability factors, offering enhanced load distribution and redundancy, particularly advantageous under seismic or high-surcharge conditions. The single 50 kN configuration exhibited higher breakage resistance and construction simplicity, suitable for static or cost-driven scenarios. Manual and numerical results were closely matched, with differences typically below 10%, supporting the validity of LEM for design verification. These findings underscore the need to tailor reinforcement strategies to site-specific conditions and performance objectives. Future research should explore hybrid configurations and long-term monitoring to optimize cost-performance trade-offs in MSE wall design.
Evaluasi Pemadatan Tanah pada Proyek Pembangunan Gedung Diana, Willis; Hartono, Edi; Muntohar, Agus Setyo; Wulandary, Kartika
MEDIA KOMUNIKASI TEKNIK SIPIL Volume 28, Nomor 1 (2022)
Publisher : Department of Civil Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (604.443 KB) | DOI: 10.14710/mkts.v28i1.32720

Abstract

Pemadatan tanah merupakan salah satu metode yang efisien dan praktis untuk meningkatkan kekuatan dan mengurangi kompresibilitas pekerjaan tanah. Namun, pekerjaan pemadatan harus dievaluasi untuk memenuhi persyaratan relatif terhadap berat volume kering maksimum (MDD) yang diperoleh dari uji pemadatan standar laboratorium. Umumnya metode yang digunakan untuk evaluasi kepadatan lapangan adalah uji kerucut pasir. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kepadatan relatif tanah timbunan pada konstruksi bangunan dengan menggunakan uji kerucut pasir. Prosedur pengujian mengikuti ASTM D1556 / D1556M-15e1 dan ASTM D698-12e2 untuk uji kerucut pasir dan uji pemadatan standar Proctor. Analisis statistik dilakukan untuk mengevaluasi kepadatan dan kadar air yang diperoleh dari uji lapangan pada proyek Dorm dan Research and Inovation Centre (RIC). Probabilitas (p) pekerjaan pemadatan yang melebihi 0,9MDD atau Rc=90% adalah p=13% dan p=18%. Hasil pengujian menunjukkan bahwa pemadatan relatif rata-rata (Rc)  adalah 80% dan 82% pada proyek Dorm dan RIC dengan standar deviasi 8,69 dan 8,81.
Pengaruh Subtitusi Bubuk Cangkang Telur terhadap Batas-batas Konsistensi Tanah Lempung yang Distabilisasi dengan Kapur Diana, Willis; Hartono, Edi; Widianti, Anita; Apriliani, Rinda
MEDIA KOMUNIKASI TEKNIK SIPIL Volume 27, Nomor 2 (2021)
Publisher : Department of Civil Engineering, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (528.312 KB) | DOI: 10.14710/mkts.v27i2.33885

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis potensi pemanfaatan bubuk cangkang telur (egg shell powder, ESP) untuk menggantikan kapur pada stabilisasi tanah-kapur. Bubuk cangkang telur diketahui mengandung kalsit dalam jumlah yang besar.  Batas-batas konsistensi biasanya digunakan untuk menilai workabilitas dan memperkirakan perubahan sifat mekanik tanah yang distabilisasi. Dalam penelitian ini digunakan kapur tohor (quicklime) dan kapur padam (hydrated lime). Initial Consumption of Lime (ICL) diperoleh dengan menggunakan uji pH metode Eades and Grim, hasil pengujian didapatkan ICL 8%. Variasi pengujian yang dilakukan adalah dengan mensubtitusi sejumlah kapur dengan ESP, yaitu 0%, 25%, 50%, 75% dan 100% dari ICL. Hasil pengujian menunjukan bahwa dengan stabilisasi kapur indeks plastistas menurun sebesar 55%-60%. Semakin banyak kadar kapur yang disubtitusi dengan ESP menyebabkan peningkatan indeks plastisitas dibandingkan stabilisasi tanah-kapur. Tetapi, pada subtitusi seluruh kadar kapur dengan ESP,  indeks plastitas tanah menurun sebesar 29% dibandingkan tanah asli.  Batas susut tanah asli 10,43%, setelah distabilisasi dengan 8% bubuk cangkang telur batas susutnya menjadi 13,22% , terjadi peningkatan 26%, sedangkan rasio susut, susut volumetrik, dan susut linear penurunannya tidak signifikan. Jenis kapur (kapur padam dan kapur tohor) memperlihatkan perilaku perubahan plastisitas tanah yang hampir sama.. Bubuk cangkang telur dapat digunakan untuk bahan stabilisasi tanah, dan mampu merubah plastisitas tanah,  tetapi perubahan plastisitas yang terjadi tidak sebesar stabilisasi menggunakan kapur.