Claim Missing Document
Check
Articles

Found 31 Documents
Search

Modifikasi Perencanaan Apertemen Grand Kamala Lagoon Menggunakan Struktur Baja Komposit dengan Sistem Rangka Berpengaku Eksentris Ahmad Zaky; Endah Wahyuni; Isdarmanu Judowijono
Jurnal Teknik ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (386.518 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v6i2.25397

Abstract

Salah satu sistem alternatif penahan gempa yaitu menggunakan material baja komposit dengan Sistem Rangka Berpengaku Eksentris. Sistem Rangka Berpengaku Eksentris merupakan sistem dimana pengaku tidak terhubung ke perpotongan balok dan kolom melainkan terhubung ke balok dengan jarak “e” ke titik perpotongan balok dan kolom. Segmen balok pendek atau link ini memiliki daktilitas yang tinggi yang memastikan struktur memiliki perilaku inelastis serta penyerapan energi yang baik. Kinerja dari balok link tersebut akan lebih maksimal jika elemen-elemen diluar balok link tersebut direncanakan lebih kuat. Modifikasi perencanaan yang dilakukan pada Apartemen Grand Kamala Lagoon ini yaitu menggunakan struktur baja komposit dengan sistem rangka berpengaku eksentris. Perhitungan struktur yang dilakukan pada perencanaan tersebut mengacu kepada SNI-03-1729-2015 “Spesifikasi untuk Bangunan Gedung Baja Struktural”, SNI-03-1729-2015 “Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa untuk Struktur Gedung dan Non Gedung”, SNI-03-1727-2013 “Beban Minimum untuk Perancangan Bangunan Gedung dan Struktur Lain”, PPIUG 1983, dan SNI-03-2847-2013 “Persyaratan Beton Struktural untuk Bangunan Gedung”. Permodelan dan analisa struktur menggunakan program bantu ETABS 2016. Dari hasil analisa yang telah dilakukan, diperoleh tebal pelat atap dan lantai 11 cm, dimensi balok induk arah X dan Y yaitu WF600.300.12.17 dan WF600.300.14.23, dimensi kolom yaitu HSS700.700.28, dimensi bresing yaitu WF300.300.15.15, dimensi link yaitu WF700.300.13.24 dengan panjang link 120 cm, baseplate menggunakan fixed plate 900.900.60, dari Continental Steel. Sambungan struktur utama direncanakan sambungan kaku menggunakan baut mutu tinggi A490. Pondasi menggunakan tiang pancang berdiameter 60 cm dengan kedalaman 22 m. Balok Tie Beam dimensi 450x650 mm dipasang tulangan utama 5D16 dan tulangan geser Ø10-300.
Modifikasi Jembatan Buol Sulawesi Tengah Menggunakan Jembatan Busur Menerus Rangka Baja Raden Dary Wira Mahadika; Endah Wahyuni
Jurnal Teknik ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (729.093 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v6i2.25413

Abstract

Jembatan Buol termasuk jembatan kelas nasional yang menghubungkan jalan lintas provinsi antara provinsi Sulawesi Tengah dan Gorontalo. Jembatan ini terletak diatas sungai Buol Kabupaten Buol Sulawesi Tengah dan menggunakan konstruksi rangka batang baja sederhana sebagai struktur utamanya. Jembatan Buol memiliki estetika yang kurang baik. Hal ini yang melatarbelakangi pembangunan Jembatan Buol yang baru, sebagai solusi dalam pembangunan jembatan yang memiliki estetika yang baik, kuat dan dapat menjadi landmark bagi kabupaten Buol. Tugas akhir ini memodifikasi Jembatan Buol menjadi Jembatan Busur Menerus Rangka Baja. Jembatan didesain dengan bentang pelengkung menerus rangka baja sepanjang 223.5m dengan lebar 9 meter dan tinggi 20.5 meter. Tugas akhir ini berpedoman pada beberapa standar peraturan yang ada. Untuk pembebanan jembatan beserta kombinasi pembebanan mengacu pada SNI 1725:2016, perencanaan struktur baja disesuaikan pada RSNI T-03-2005. Untuk desain pelat kendaraan menggunakan SNI 2847-2013, serta untuk perencanaan ketahanan gempa menggunakan SNI 2833:2008. Dengan menggunakan progam bantu SAP2000, kombinasi KUAT 1 (SNI-1725-2016) menghasilkan output gaya yang lebih besar daripada kombinasi lainnya sehingga kombinasi tersebut digunakan untuk menentukan profil rangka jembatan. Analisis perletakan menggunakan progam bantu SAP2000 dengan kombinasi beban yang menentukan dalam perencanaan POT Bearing adalah kombinasi EKSTREM I (SNI-1725-2016) dan KUAT 1 (SNI-1725-2016). Hasil dari analisa dengan progam bantu SAP2000 profil utama yang terbesar pada jembatan busur menggunakan BOX 650 x 650 x 36. Dalam merencanakan bangunan bawah jembatan, dilakukan analisis menggunakan program bantu spcolumn untuk mendapatkan jumlah tulangan longitudinal pada abutment dan pilar jembatan, serta untuk tiang pancang jembatan dilakukan kontrol berdasarkan daya dukung tanah dan tipe material yang digunakan. Dari perencanaan tersebut, didapatkan dimensi abutmen 11.1 x 2.1 x 7.3 meter dan pilar 11.4 x 2.1 x 1.4 meter serta kebutuhan tiang pancang untuk abutment sebanyak 21 buah dan pilar sebanyak 60 buah.
Perbandingan Berat Material Baja pada Perencanaan Struktur Baja Sistem Rangka Pengaku Eksentris (SRPE) dengan Sistem Staggered Truss Frames (STF) pada Apartemen Purimas Surabaya Ilham Pratama Budiono; Endah Wahyuni; Isdarmanu Judowijono
Jurnal Teknik ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (424.586 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v6i2.25535

Abstract

Pemilihan suatu sistem struktur baja penahan gempa tentunya memerhatikan bagaimana cara membuat struktur bangunan baja menjadi ringan dan kuat. Sistem rangka pengaku eksentris (SRPE) dan staggered truss frames (STF) merupakan beberapa contoh dari sistem penahan gempa pada struktur baja. Apartemen Purimas Surabaya merupakan bangunan 14 lantai yang dimodifikasi dengan menggunakan SRPE dan STF untuk dibandingkan berat material struktur utamanya pada kedua sistem tersebut. Dalam Studi ini, dilakukan perencanaan struktur baja dengan SRPE meliputi perencanaan struktur sekunder, primer dan pondasi yang mengacu pada PPIUG 1983, SNI 03-1729-2002, SNI 1729:2015, SNI 1726:2012, SNI 2847:2013 dan lain-lain. Berat material sturktur hasil dari perencanaan tersebut dibandingkan dengan hasil perencanaan STF pada studi “Studi Perilaku Staggered Truss Framing Systems pada Gedung Apartemen Purimas Surabaya”. Berdasarkan analisis dan hasil perhitungan diperoleh hasil, yaitu: pelat atap dan lantai HCS 15 cm, balok link WF400.200.8.13, bresing WF200.200.9.14, kolom CFT 400.400.14, balok induk WF300.200.7.10. Sambungan struktur utama direncanakan sebagai sambungan mutu tinggi dengan baut yang telah disesuaikan. Perencanaan pondasi menggunakan tiang pancang beton pracetak diameter 60 cm dengan kedalaman 30 m dengan 3 tipe pilecap. Berat material struktur utama pada SRPE sebesar 1105 ton, sedangkan pada STF didapatkan 763 ton.
Modifikasi Perencanaan Struktur Gedung Ibis Styles Hotel Tanah Abang Jakarta Pusat Dengan Metode Beton Pracetak Kusuma Indra Klana; Mudji Irmawan; Endah Wahyuni
Jurnal Teknik ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (694.289 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v6i2.25625

Abstract

Sistem pracetak adalah suatu proses produksi suatu elemen struktur bangunan yang dicetak di pabrikasi dimana tempat elemen struktur tersebut akan digunakan satu kesatuan dalam sebuah bangunan di tempat berbeda. Sistem ini memiliki keunggulan berupa mutu yang dapat dipantau, lebih presisi, serta pengerjaannya tidak terpengaruh cuaca karena dipabrikasi dalam pabrik. Tak hanya itu, bentuk struktur gedung yang tipikal juga menjadi keunggulan untuk penggunaan sistem pracetak ini. Agar dapat ditransportasikan, maka perlu diperhatikan kebutuhan tulangan saat pengangkatan. Dan juga agar elemen pracetak dapat terintegrasi dengan baik, maka sambungan haruslah dibuat semonolit mungkin. Sambungan yang tahan terhadap gempa (seismic resistant) dapat menggunakan sambungan basah pada balok dan kolom pracetak dapat menggantikan sambungan monolit biasa [6] sedangkan grouted steel sleeves cocok digunakan untuk sambungan kolom – kolom pada bangunan yang berada di zona gempa [7].cDari hasil analisa yang dilakukan, elemen-elemen pracetak sesuai ketentuan SNI 2847:2013[5]. Kolom digunakan dimensi 80 x 80 cm, balok induk 50/75 cm, dan tebal plat 12 cm dengan overtopping 5 cm. Dengan mempertimbangkan metode agar mudah dikerjakan maka digunakan sambungan dengan campuran antar sambungan mekanik dan basah. Pada sambungan mekanik menggunakan bantuan NMB Splice Sleeve dan BECO Beam shoe yang termasuk mechanical splices tipe 2 menurut peraturan ACI 318-11[1].
Perencanaan Ulang Jembatan Lemah Ireng II pada Jalan Tol Semarang-Bawen Menggunakan Jembatan Busur Rangka Baja Prasetyo Nur Hakikie; Endah Wahyuni
Jurnal Teknik ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (640.201 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v6i2.25682

Abstract

Jembatan Lemah Ireng II terletak pada STA 21+912 ~ STA 22+410 jalan tol Semarang-Bawen. Jenis jembatan Multi Span Continuous I-Girder dengan panjang bentang 298,15 dan lebar 2x12 m. Pada struktur bawah jembatan terdapat enam pilar dan dua abutmen. Perencanaan ulang dilakukan dengan menggunakan jembatan busur rangka baja menerus dengan lebar 12 m dan tinggi busur 20 m. Desain jembatan busur menerus terbagi menjadi dua bagian yaitu, bentang tengah 100 m dan dua bentang tepi 50 m.Perencanaan bangunan atas jembatan Lemah Ireng II menghitung antara lain, struktur lantai kendaraan, struktur baja ikatan angin, struktur baja rangka utama, struktur sambungan, dan desain perletakan. Dalam perencanaan ini harus memenuhi peraturan terbaru, antara lain SNI 1725:2016, RRSNI T-03-2005, SNI 2833:2008, SNI 2847:2013 serta peraturan lain yang berkaitan dengan perencanaan jembatan baja. Perencanaan rangka utama menggunakan kombinasi KUAT 1 (SNI 1725:2016), sedangkan perencanaan ikatan angin menggunakan kombinasi KUAT 3 (SNI 1725:2016). Perencanaan bangunan bawahpada tugas akhir ini menghitung struktur abutment, struktur pilar, dan pondasi bored pile. Abutment dan pilar menggunakan struktur beton bertulang sesuai dengan SNI 2847:2013. Hasil dari analisa struktur diperoleh: tebal pelat lantai kendaraan 20 cm, dimensi ikatan angin terbesar CHS 267,4x7, dimensi struktur rangka utama terbesar BOX 600x600x25, dimensi struktur rangka diagonal terbesar BOX 400x400x25, dimensi portal akhir BOX 600x600x25, diameter kabel penggantung 45 mm, perletakan menggunaan tipe POT bearing. Pondasi yang digunakan berupa pondasi bored pile dengan jumlah tiang pada abutment sebanyak 21 buah dan jumlah tiang pada pilar sebanyak 60 buah.
Perencanaan Bangunan Kiln Menggunakan Metode Pracetak Jody Inggil Pambudi; Endah Wahyuni; Ananta Sigit Sidharta
Jurnal Teknik ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (352.204 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v6i2.25918

Abstract

Bangunan mesin kiln merupakan bangunan mesin yang berfungsi untuk mengolah material mentah menjadi material siap pakai. Material yang diolah pada mesin kiln ini adalah material batu kapur yang diolah menjadi senyawa kimia untuk keperluan industri. Perencanaan pondasi apabila harus menopang beban berupa mesin, maka pondasi tersebut dipengaruhi oleh beban yang bergetar, beban ini disebabkan oleh gaya-gaya mesin yang tidak seimbang dan beban statis sistem (pondasi dan mesin).Pada mesin kiln pembakaran digunakan pondasi dinamis tipe pedestal, pondasi ini berupa struktur beton bertulang dengan ketinggian tertentu yang terdiri dari balok dan kolom yang ditumpu oleh pondasi slab. Bagian atas dari kolom dihubungkan dengan top slab sehingga membentuk lantai untuk meletakan mesin. Metode pekerjaan untuk membangun pondasi tipe pedestal ini adalah metode cast in situ.Pada tugas akhir ini akan dimodifikasi metode pekerjaannya dengan metode pracetak, diharapkan tugas akhir ini mendapatkan hasil yang lebih efisien dan tepat guna, ditinjau dari kondisi lapangan yang ada. Melihat kondisi di lapangan yang berada di daerah pegunungan, membuat akses untuk menuju area proyek sulit dijangkau. Penggunaan alat berat, perancah, dan bekesting dapat diminimalkan dengan penggunaan metode pracetak. Mutu dari struktur juga terjamin karena proses pembuatan elemen struktur pracetak dapat dihindarkan dari kondisi alam dilapangan.
Modifikasi Desain Struktur Gedung Hotel Holiday Inn Express Surabaya Dengan Menggunakan Sistem Rangka Bresing Eksentrik Lailatul Fitriyah; Priyo Suprobo; Endah Wahyuni
Jurnal Teknik ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (425.983 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v6i2.26298

Abstract

Perencanaan gedung hotel Holiday Inn Express Surabaya akan dilakukan modifikasi perancangan menggunakan struktur baja dengan metode SRBE (Sistem Rangka Bresing Eksentrik). SRBE merupakan sebuah sistem bresing eksentrik yang memiliki link dan berfungsi sebagai pendisipasi energi ketika struktur menerima beban lateral. Perhitungan modifikasi perencanaan struktur gedung hotel Holiday Inn Express Surabaya menggunakan sistem rangka bresing eksentrik (SRBE) telah dilakukan. Dimana perhitungan struktur mengacu pada SNI 1729-20015 “Tata Cara Perencanaan Struktur Baja Untuk Bangunan Gedung”, SNI 1726-2012 “Tata Cara Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk Bangunan Gedung”, SNI 2847-2013 “Tata Cara Perencanaan Struktur Beton Untuk Bangunan Gedung” dan “Peraturan Pembebanan Indonesia Untuk Gedung” PPIUG 1983. Pemodelan dan analisis struktur dilakukan dengan program bantu SAP 2000. Dari analisa dan hasil perhitungan diperoleh struktur sekunder dan primer: pelat lantai menggunakan bondek SUPER FLOOR DECK t = 0,75 mm, untuk lantai top atap dan lantai 1 t = 90 mm, lantai atap dan lantai 2-14 t = 110 mm, balok anak terdapat 4 macam dimensi yang digunakan, dimensi untuk lantai top atap WF 350x175x6x9, lantai atap WF 450x200x9x14, lantai 2-14 WF 500x200x9x14, lantai 1 WF 400x200x8x13, sedangkan balok induk terdapat 4 macam dimensi juga yang digunakan, dimensi untuk lantai top atap WF 400200813, lantai atap WF 500200914, lantai 2-14 WF 6002001015, lantai 1 WF 6002001117, untuk dimensi kolom lantai 1-8 digunakan CFT 700x700x25 dan CFT 600x600x25 dimensi kolom lantai 9-top atap, link terdapat 2 macam dimensi yang digunakan yaitu WF 400200813 untuk lantai atap-top atap dan WF 5002001016 untuk lantai 1-14, dimensi balok luar link yang digunakan sama dengan dimensi link, dimesi bresing yang digunakan WF 250x250x9x14 untuk lantai atap-top atap dan WF 3003001015 untuk lantai 1-14. Pondasi struktur menggunakan tiang bor (borepile) diameter 120 cm dengan kedalaman 25 m dan tulangan yang digunakan adalah 26 D25 dengan sengkang D16-45 mm.
Modifikasi Perencanaan Struktur Gedung Apartemen Brooklyn Alam Sutera menggunakan Struktur Komposit Baja-Beton dengan Sistem Rangka Berpengaku Eksentris Muhammad Zulfikar Fauzi; Endah Wahyuni; Budi Suswanto
Jurnal Teknik ITS Vol 7, No 1 (2018)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (323.381 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v7i1.29171

Abstract

Struktur komposit merupakan struktur yang terdiri dari dua atau lebih material berbeda sifat dan karakteristik yang berkerja bersama sama untuk memikul beban yang berkerja pada suatu struktur dalam hal ini digunakan material baja dan beton. Struktur komposit baja-beton memungkinkan pemanfaatan karakteristik dasar masing-masing bahan secara optimal, sehingga dengan penampang yang lebih kecil, mampu memikul beban serta dengan bentang yang sama dengan beton bertulang biasa. Gedung Brooklyn Alam Sutera Apartment merupakan gedung yang terdiri dari 20 lantai dan 1 lantai atap yang pada awalnya didesain dengan menggunakan struktur beton bertulang. Perancangan bangunan ini dimodifikasi menggunakan struktur komposit baja-beton. Dalam tugas akhir ini dilakukan perencanaan ulang menggunakan struktur komposit baja-beton dengan Sistem Rangka Bresing Eksentris (SRBE). Kelebihan sistem ini adalah daktilitas struktur yang baik dengan mekanisme kelelehan geser yang terjadi pada link. Link adalah bagian pada elemen struktur balok yang dibentuk oleh perpotongan balok dan bresing. Telah dilakukan perencanaan struktur gedung menggunakan komposit baja-beton Sistem Rangka Bresing Eksentris (SRBE) yang memenuhi persyaratan keamanan struktur berdasarkan SNI 2847-2013, SNI 03-1729-2002, SNI 1729:2015, SNI 1726:2012, SNI 1727:2013. Dari analisa dan hasil perhitungan diperoleh hasil yaitu : tebal pelat lantai dan atap 10 cm, dimensi balok induk WF 500x300x11x15, dimensi balok link WF 600x300x13x24 dengan panjang elemen link 120 cm, dimensi bresing WF 450x300x11x15, dimensi kolom CFT 600x600x25. Perencanaan pondasi menggunakan tiang borepile beton diameter 80 cm dengan kedalaman 10 meter. Kolom pedestal direncanakan dengan dimensi 800 mm x 800 mm. Dan dimensi Sloof 40 cm x 60 cm. ===========================================he composite structure is a structure consisting of two or more different material properties and characteristics that work together to carry a load on a structure. In this case, steel and concrete materials are used. The steel-concrete composite structure allows the optimal utilization of the basic characteristics of each material, so that with smaller cross-sections, and able to carry the load with the same span as regular reinforced concrete Brooklyn Alam Sutera Apartment is a 20-storey building and 1 story roof which was originally designed using reinforced concrete structures. The design of this building was modified using a steel-concrete composite structure. In this final project is done by re-design using a steel-concrete composite structure with Bracing Eccentrically Frame System (EBF). The advantages of this system are good structure ductility with yielding shear mechanisms that occur in link. The link is a part of the beam structure elements formed by the intersection of beams and bracing. Design of the building structure has been done using steel-concrete composite with Eccentrically Braced Frame System (EBF). Which meets the structural safety requirements under SNI 2847-2013, SNI 03-1729-2002, SNI 1729:2015, SNI 1726:2012, and SNI 1727:2013. The results of the analysis and calculation indicated that the thickness of the floor deck and roof deck are 10 cm, the dimension of the primary beam is WF 500x300x11x15, the dimension of link beam is WF 600x300x13x24 with the length of the link element are 120 cm, the dimension of bracing is WF 450x300x11x15, the dimension of column is CFT 600x600x25. the design of foundation using 80 cm diameter of borepile with 10 meters depth. The pedestal columns are designed with dimensions of 800 mm x 800 mm. And the dimensions of Sloof 40 cm x 60 cm.
Modifikasi Perencanaan Jembatan Sipait Pekalongan dengan Menggunakan Sistem Jembatan Busur Rangka Baja Daryl Julian Muhammad Akbar; Endah Wahyuni
Jurnal Teknik ITS Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4640.523 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v7i2.32360

Abstract

Jembatan Sipait terletak pada Ruas Jalan Pekalongan - Pemalang (KM.Pekalongan 10+300). Jembatan Sipait merupakan jembatan beton pratekan yang terbagi menjadi 3 bentang dengan panjang bentang masing - masing 25,6 meter, 40,8 meter, dan 25,6 meter. Struktur atas Jembatan Sipait ditopang oleh 2 abutment pada bagian tepi sungai dan 2 pilar pada bagian badan sungai. Dalam perencanaan ini, Jembatan Sipait dimodifikasi menjadi jembatan busur rangka baja dengan tipe Through Arch untuk menghilangkan 2 pilar yang ada pada badan sungai. Jembatan didesain dengan bentang 92 m, tinggi busur 18 m, tinggi tampang 3,5 m, dan lebar 9,5 m. Perhitungan yang dilakukan dalam perencanaan menggunakan peraturan SNI 1725:2016, SNI 2833:2016, SNI 2847:2013, RSNI T-03-2005, RSNI T-12-2004 dan peraturan lain yang berkaitan dengan perencanaan jembatan baja. Program bantu yang digunakan adalah SAP2000 untuk analisa struktur dan AutoCAD untuk gambar perencanaan. Dari hasil perhitungan didapatkan tebal pelat lantai 20 cm, dimensi profil ikatan angin terbesar CHS 219,1x6,8, dimensi profil rangka utama terbesar Box 400x400x25, dimensi kolom dan balok portal akhir Box 500x500x25, diameter kabel penggantung 60mm, perletakan tipe POT bearing. Pondasi berupa tiang pancang sebanyak 30 buah sedalam 28 meter pada tiap abutment.
Desain Modifikasi Struktur Gedung Twin Tower Universitas Negeri Sunan Ampel Surabaya dengan Menggunakan Sistem Ganda dan Balok Pratekan pada Lantai Atap Wisnu Priambodo; Endah Wahyuni; Bambang Piscesa
Jurnal Teknik ITS Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (340.786 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v7i2.35215

Abstract

Gedung Twin Tower Universitas negeri sunan ampel Surabaya merupakan gedung yang difungsikan sebagai rektorat yang memiliki 9 lantai ditambah lantai atap. Struktur gedung Twin Tower merupakan struktur beton bertulang biasa. Pada lantai 9 merupakan ruang serba guna sehingga tidak ada kolom ditengah ruangan. Dan pada lantai atap terdapat balok bentang panjang yang memiliki dimensi 60 x 120 cm. Penggunaan balok bentang panjang dengan beton bertulang biasa akan menghasilkan dimensi yang besar dan juga tulangan yang banyak. Selain itu, dalam penerapannya beton bertulang biasa dinilai kurang efektif baik dalam segi bahan maupun materialnya, sebagai langkah efektif maka dilakukan perubahan struktur pada lantai atap menggunakan sistem beton pratekan. Dalam perencanaannya, struktur Gedung Twin Tower UINSA Surabaya ini menggunakan Sistem Ganda. Sistem Ganda (dual system) adalah salah satu sistem struktur yang beban gravitasinya dipikul sepenuhnya oleh rangka utama, sedangkan beban lateralnya dipikul bersama oleh rangka utama dan dinding struktur. Rangka utama dan dinding struktur didesain sebagai Struktur Rangka Pemikul Momen Khusus (SRPMK) dan Dinding Struktur Beton Khusus (DSBK) Berdasarkan hasil analisa didapatkan dimensi balok pratekan 50 x 75 cm dengan bentang 15 m dan tebal shearwall 350 mm. Dari perhitungan di dapatkan Shearwall menahan beban gaya gempa arah x 73% dan arah y 70%, sedangkan rangka pemikul momen menahan beban gempa arah x 27% dan arah y 30%. Kemudian di dapat gaya pratekan awal sebesar 1300 KN dengan jumlah tendon 1 dan berisi 12 strand. Selanjutnya di dapat kehilangan pratekan sebesar 23,4% serta prestressing partial ratio (PPR) 24,46 %.