p-Index From 2021 - 2026
1.116
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Jurnal Teknik ITS
Hesty Anita Kurniawati
Departemen Teknik Perkapalan Fakultas Teknologi Kelautan Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Published : 38 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 38 Documents
Search

Desain SPBN yang Dilengkapi Stasiun Perbekalan Nelayan Apung untuk Mendukung Kegiatan Perikanan Tangkap di Provinsi NTT Mohammad Wahyu Rhozy Iswandi; Hesty Anita Kurniawati
Jurnal Teknik ITS Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v9i2.57085

Abstract

Provinsi Nusa Tenggara Timur memiliki luas perairan sebesar 200.000 km2, namun potensi perikanan lautnya belum dapat dimanfaatkan penuh karena keterbatasan fasilitas nelayan seperti suplai solar bersubsidi dan es pendingin ikan, sedangkan nelayan tersebut biasanya berlayar cukup jauh dari tempat asal mereka. Agar potensi perikanan laut dapat ditingkatkan di NTT, perlu dibangun stasiun pengisian bahan bakar nelayan (SPBN) dan stasiun perbekalan nelayan apung. Fasilitas yang tersedia pada SPBN dan stasiun perbekalan nelayan apung ini akan membantu nelayan NTT melaut dengan menyediakan perbekalan yang dibutuhkan nelayan dengan volume lebih besar dan mudah dijangkau oleh nelayan di NTT. Tujuan penelitian ini adalah mendesain SPBN dan stasiun perbekalan apung yang dapat memenuhi perbekalan nelayan. Payload kapal ditentukan dengan mengestimasi konsumsi solar nelayan NTT dengan perahu < 5 GT selama sebulan. Kemudian, dilakukan penentuan fasilitas perbekalan lainnya dan perhitungan teknis yang terdiri dari koefisien, powering, berat, trim, stabilitas, dan freeboard. Setelah itu, dilakukan penentuan mooring system, desain, dan perhitungan biaya pembangunan. Ukuran utama yang didapatkan adalah L = 70.8 m, B = 17 m, H = 6 m, dan T = 3.8 m. Biaya pembangunan SPBN dan stasiun perbekalan nelayan apung adalah Rp85,053,530,160.11
Desain Amphibious High Speed Ambulance Craft (HSAC) sebagai Penunjang Fasilitas Kesehatan di Kepulauan Raja Ampat Fathaluddin Kalbuadi; Hesty Anita Kurniawati
Jurnal Teknik ITS Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v9i2.57254

Abstract

Kepulauan Raja Ampat merupakan salah satu kabupaten yang terletak di provinsi Papua Barat. Secara geografis, Kepulauan Raja Ampat terdiri dari berbagai pulau-pulau, dan juga sebagai salah satu destinasi wisata di indonesia, namun infrastruktur dan transportasi sangat minim. Di Kepulauan Raja Ampat hanya memiliki 1 Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) yang terletak di ibu kota kabupaten yaitu Waisai. Minimnya fasilitas kesehatan yang tidak merata di pulau-pulau pada Kepulauan Raja Ampat serta fasilitas dermaga untuk sandar kapal yang juga masih jauh dari kata layak. Sehingga untuk menunjang fasilitas kesehatan di Kepulauan Raja Ampat dibutuhkan kapal water ambulance sebagai alat transportasi khusus. Dengan konsep amphibious high speed craft yang dirasa mampu untuk membantu sarana dan prasarana kesehatan di Kepulauan Raja Ampat. Di mana pada desain water ambulance ini penentuan payload kapal berdasarkan ukuran medical compartment dari kapal referensi, kemudian didapatkan payload berupa luasan yang digunakan untuk menentukan ukuran utama kapal. Setelah itu dilakukan perhitungan teknis yang meliputi hambatan, daya mesin, berat, freeboard, stabilitas, dan Trim. Dari hasil analisa tersebut, didapatkan ukuran utama akhir kapal: LPP: 9 m; B: 2.8 m; H: 1.45 m; T: 0.6 m; dengan kecepatan 28 knot. Menggunakan waterjet dan 1 generator. Untuk estimasi biaya pembangunan kapal sebesar Rp1,856,056,052.23-.
Desain Self-Propelled Crane Barge untuk Menunjang Pembangunan Infrastruktur di Daerah Danau Toba, Sumatera Utara Simon Peres Pakpahan; Hesty Anita Kurniawati
Jurnal Teknik ITS Vol 10, No 1 (2021)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v10i1.61288

Abstract

Danau Toba merupakan salah satu aset alam potensial yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Perkembangan kawasan tersebut didukung dengan adanya pengesahan Danau Toba sebagai salah satu Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) yang merupakan fokus pemerintah dalam pembangunan infrastruktur serta pengembangan pariwisata di Indonesia. Menurut kajian Kementrian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), salah satu masalah dalam melakukan pembangunan infrastruktur di Danau Toba adalah akses darat yang rusak dan sulit dilalui ke tiap daerah pinggiran Danau Toba. Maka, dalam penelitian ini akan dibahas transportasi berupa Self-Propelled Crane Barge (SPCB) yang mengangkut bahan bangunan serta kegiatan konstruksi melalui akses danau yang diharapkan mampu meningkatkan konektivitas, efektivitas, serta efisiensi pembangunan infrastruktur di Danau Toba. Kapal ini beroperasi ke seluruh Key Tourism Area (KTA) yang menjadi pusat pembangunan sesuai program KSPN Danau Toba. Langkah-langkah dalam melakukan penelitian ini meliputi pengumpulan data proyek pembangunan di Danau Toba melalui website Kementrian PUPR, menentukan payload kapal, menentukan daerah pelayaran, kemudian menghitung analisis teknis serta ekonomis kapal. Hasil dari desain SPCB ini adalah mendapatkan ukuran utama LOA : 68,7 m, LWL : 68,6 m, LPP : 66 m, B : 14 m, H: 4 m, T : 3 m. Kapasitas payload kapal adalah 1.425 ton dengan mengangkut 22 orang awak kapal serta telescopic boom crane. Kapal ini menggunakan dua mesin penggerak dengan daya 169 kW. Besar biaya pembangunan kapal adalah sebesar Rp 13.678.439.005,- dan investasi terhadap kapal ini layak dilakukan dengan Net Present Value Rp 17.098.077.350,- Internal Rate of Return 35 %, dan Payback Periode dalam 3 tahun.
Desain Floating Club House untuk Kawasan Wisata Taman Nasional Bunaken, Sulawesi Utara Jesse Tulus Frederick; Hesty Anita Kurniawati
Jurnal Teknik ITS Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v10i2.80682

Abstract

Taman Nasional Bunaken merupakan salah satu kawasan wisata yang terletak di Sulawesi Utara, Indonesia. Menikmati keindahan laut serta bawah laut merupakan alasan utama dari sekian banyaknya wisatawan untuk memilih berwisata di Taman Nasional Bunaken. Faktor cuaca (terutama Matahari) sangatlah mempengaruhi dari ketersediaan pilihan wisata di Taman Nasional Bunaken ini. Oleh karena itu dirasa perlu diadakannya inovasi di mana keindahan bawah laut masih dapat dinikmati meski di malam hari atau tidak bergantung pada faktor cuaca (Matahari), yaitu Bunaken Bottom Club (BBC), yakni club house terapung yang di mana area kelab untuk pengunjung terletak di bawah sarat kapal. Payload dari floating club house ini merupakan berat dari jumlah pengunjung untuk setiap harinya, serta luasan dari fasilitas yang akan disediakan untuk pengunjung itu sendiri. Sebagai club house, operasional dari BBC ini juga dapat menjadi venue untuk kegiatan pegelaran event, yang di mana jumlah kapasitas maksimal pengunjung akan dibandingkan dengan club house yang sudah ada di darat. Setelah didapatkan jumlah payload, kemudian dicari deadweight dan penentuan ukuran utama floating club house. Ukuran utama didapat berdasarkan luasan payload maka didapatkan LoA = 40 m, B = 40 m, H = 11 m, T = 8 m dengan pengunjung per-harinya sebanyak 250 pengunjung dan 36 crew. Sementara untuk kapasitas maksimal pengunjung pada pegelaran event sebanyak 900 pengunjung. Selanjutnya akan dilanjutkan dengan desain rencana garis, rancangan umum, safety plan, serta model 3 dimensi. Selanjutnya akan dilakukan analisis ekonomisnya serta penentuan dari beberapa komponen seperti garbage management yang digunakan adalah garbage container, sewage management yang digunakan adalah sewage holding tank, material jendela bawah air yang dipilih adalah akrilik, serta mooring system yang digunakan adalah spread mooring system dengan biaya total pembangunan adalah sebesar Rp 35.944.558.329.
Desain Catamaran Yacht dengan Sistem Kelistrikan Hibrida untuk Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat Fathimah Noor Aliya; Hesty Anita Kurniawati
Jurnal Teknik ITS Vol 11, No 2 (2022)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v11i2.92106

Abstract

Kepulauan Mentawai di Provinsi Sumatera Barat menyimpan banyak keindahan dan keunikan budaya yang masih terjaga. Pesona pantai dengan ombak yang langsung menghadap Samudera Hindia menjadikan Kepulauan Mentawai sebagai surga bagi para peselancar dunia. Menurut Peraturan Gubernur Sumatera Barat Nomor 32 Tahun 2016, Kepulauan Mentawai ditetapkan sebagai Kawasan Strategis Pariwisata Provinsi (KSPP). Dengan adanya potensi wisata di kawasan tersebut, pada Tugas Akhir ini dilakukan desain catamaran yacht dengan sistem kelistrikan hibrida yang ramah lingkungan untuk menambah opsi daya tarik bagi wisatawan domestik maupun mancanegara sehingga dapat meningkatkan perekonomian daerah setempat. Dari kuesioner yang telah disebar kepada masyarakat, maka ditentukan fasilitas kapal dan didapatkan payload luasan pada catamaran yacht seluas 735,16 m2. Dengan mengambil rata-rata jumlah penumpang pada kapal dengan jenis serupa, maka ditentukan penumpang catamaran yacht yaitu sebanyak 12 orang dengan 10 orang kru. Ukuran utama yang memenuhi kriteria untuk catamaran yacht pada Tugas Akhir ini adalah LoA = 37 m; Lpp = 34,2 m; B = 15 m; H = 4 m, T = 2,2 m. Analisis teknis yang dilakukan berupa perhitungan berat, perhitungan trim, perhitungan stabilitas, perhitungan freeboard, dan Motion Sickness Insidence (MSI). Kemudian, dilakukan desain Rencana Garis, Rencana Umum, Perencanaan Keselamatan, dan Model 3D. Pada Tugas Akhir ini juga dilakukan analisis ekonomis dengan total biaya pembangunan senilai Rp14.860.960.503, dengan biaya operasional sebesar Rp6.620.488.654/tahun. Dilakukan perhitungan dan didapatkan nilai Net Present Value (NPV) sebesar Rp8.580.816.994, Internal Rate of Return (IRR) senilai 16,74%, dan Payback Period selama 8 tahun 6 bulan 28 hari.
Desain 3-in-1 Workboat (Derdger-Fire Fighter-Crane Boat) Wilayah Operasional Pelabuhan Pulau Baai, Provinsi Bengkulu Ahmad Dioba Dwika Rizki; Hesty Anita Kurniawati
Jurnal Teknik ITS Vol 12, No 1 (2023)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v12i1.102866

Abstract

Pelabuhan Pulau Baai ialah salah satu pelabuhan yang ada di Indonesia, terletak di Provinsi Bengkulu dengan luas 120.000 ha. Alur pelayaran Pelabuhan Pulau Baai berpotensi mengalami pendangkalan setiap tahunnya dikarenakan pelabuhan ini menghadap langsung pada Samudra Hindia dan dipengaruhi oleh angin muson barat dan angin muson timur yang membawa sedimen berupa pasir. Selain itu, sebagai pelabuhan pengumpan yang menjadi bagian wilayah vital di Provinsi Bengkulu berbagai tindakan antisipasi terhadap kecelakaan menjadi hal yang penting, seperti apabila terjadi kebakaran kapal maupun terjadinya tumpahan minyak. Penelitian ini bertujuan melakukan analisis teknis desain kapal yang cocok untuk Pelabuhan Pulau Baai, Bengkulu. Oleh sebab itu akan didesain workboat yang dilengkapi dengan alat keruk dengan jenis cutter suction dredger, fire fighter external system, dan crane boat yang nantinya akan mengangkut oil boom ke atas kapal. Payload pada kapal ini ialah peralatan sistem keruk cutter suction dredger dengan kemampuan keruk 1088 m3/jam, peralatan fire fighter dengan notasi FIFI 1, crane SWL 3.6 ton dan oil boom seberat 1.4 ton dengan panjang 450 m. Hasil perhitungan analisis teknis dari 3-in-1 workboat menghasilkan ukuran utama panjang (LoA) = 17.3 m; lebar (B) = 6.4 m; tinggi (H) = 1.8 m; sarat (T) = 0.9 m dan kecepatan (Vs) = 8 knot. Setelah itu dilakukan desain Gambar Rencana Garis, Gambar Rencana Umum, dan Model 3D dengan biaya pembangunan kapal sebesar Rp. 3.054.761.397, dan biaya operasional Rp. 433.183.439/tahun.
Desain Eco Floating Resort untuk Kepulauan Anambas, Kepulauan Riau Frederick Anderson; Hesty Anita Kurniawati
Jurnal Teknik ITS Vol 12, No 1 (2023)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v12i1.112284

Abstract

Kepulauan Anambas yang terletak pada Provinsi Kepulauan Riau memiliki potensi dan daya tarik pariwisata tropis yang indah dengan kepulauan eksotisnya. Kepulauan Anambas dinobatkan sebagai pulau tropis terbaik di Asia pada tahun 2012 oleh CNN Internasional. Pembangunan eco floating resort sebagai sarana penunjang pariwisata pada Kepulauan Anambas diharapkan dapat meningkatkan wisatawan domestik dan mancanegara di Kepulauan Anambas. Eco floating resort mengambil konsep ramah lingkungan dengan pemasok listrik utama menggunakan panel surya. Payload luasan adalah 1.723,28 m2 untuk 48 orang pengunjung dengan 16 orang crew . Setelah dilakukan analisis teknis diperoleh ukuran utama LoA: 48 m; B: 18 m; D: 4 m; dan T: 1.8 m. Kondisi geografis lokasi Eco floating structure dengan tinggi gelombang 0 – 1.25 m, kedalaman 13 m, kecepatan angin 5 knot dan dekat dengan Pantai Padang Melang. Analisis teknis berupa perhitungan berat, perhitungan stablilitas, perhitungan trim, dan perhitungan freeboard. Kemudian dilanjutkan dengan mendesain lines plan, general arrangement, dan safety plan serta desain model 3D. Pada Tugas Akhir ini juga dilakukan analisis ekonomis dengan total biaya pembangunan senilai Rp37.943.604.270,89. dengan biaya operasional sebesar Rp7.647.678.982,05/tahun. Dilakukan perhitungan dan didapatkan nilai Net Present Value (NPV) sebesar Rp45.205.683.946,57, Internal Rate of Return (IRR) senilai 20%, dan Payback Period selama 7 Tahun 0 Bulan 14 Hari.
Evaluasi Desain Kapal Pengawas Perikanan Berbasis Radar Cross Section untuk Mengurangi Deteksi Radar di Wilayah Laut Natuna Utara Muhammad Falivan Ganefiansyah Murdiyantono; Hesty Anita Kurniawati
Jurnal Teknik ITS Vol 12, No 1 (2023)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v12i1.112619

Abstract

Sebagai negara kepulauan, Indonesia bersengketa dengan negara lain terkait klaim hak berdaulat di Laut Natuna Utara. Maka dari itu, diperlukan strategi pengawasan yang tepat untuk dapat mencegah dan memerangi illegal fishing di Laut Natuna Utara agar sumber daya ikan Indonesia dapat dilindungi dan berkelanjutan, serta tegaknya kedaulatan Indonesia. Sejak penemuannya, radar telah sangat memengaruhi semua domain peperangan militer, termasuk peperangan laut. Radar banyak digunakan di platform militer sebagai alat untuk mendeteksi, pelacakan, dan klasifikasi musuh. Radar cross section (RCS) adalah ukuran kekuatan reflektif suatu objek, untuk menentukan seberapa dini target dapat dideteksi. Reduksi RCS dari suatu kapal dapat menghambat deteksi radar kapal musuh. Pada desain awal Kapal Pengawas Perikanan tipe C, didapatkan nilai radar cross section sebesar 31 dBsm menggunakan metode numerik. Dilakukan evaluasi terhadap bentuk deckhouse untuk mengurangi luasan pantulan radar. Pada tahap evaluasi ini, didapatkan nilai radar cross section sebesar 30.6 dBsm. Kemudian dilakukan evaluasi terhadap bentuk lambung, bentuk lambung yang digunakan sebelumnya diubah menjadi bentuk inverted bow untuk mengurangi pantulan radar di daerah bow. Pada evaluasi lambung, didapatkan nilai radar cross section sebesar 30.4 dBsm. Kemudian dilakukan evaluasi terhadap pelapisan Radar Absorbing Material (RAM) pada deckhouse. Material yang digunakan adalah material komposit bernama BAM/PET. Pada evaluasi pelapisan RAM pada deckhouse didapatkan nilai radar cross section sebesar 1.9 dBsm. Dilakukan pelapisan RAM pada kapal awal sebelum dilakukan evaluasi deckhouse dan lambung, hasil pelapisan RAM pada kapal awal menunjukkan nilai radar cross section sebesar 3.7 dBsm. Nilai tersebut sudah memenuhi kriteria radar cross section kapal. Sehingga tidak perlu dilakukan evaluasi terhadap bentuk deckhouse dan lambung, cukup melakukan pelapisan RAM pada kapal untuk mengurangi nilai radar cross section pada kapal. Hasil evaluasi tersebut kemudian digunakan untuk mendesain Lines Plan, General Arrangement, dan 3D Model.