Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

Analisa Pengaruh Variasi Arus terhadap Kualitas Sambungan Hasil Pengelasan GTAW pada Material SA 266 Gr 2N with Clad Inconel 625 (Tube Sheet) dengan SA 213 TP 304 (Tube) Praditya Hadi Prabowo; Rochman Rochiem; Wikan Jatimurti
Jurnal Teknik ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (599.604 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v6i2.23616

Abstract

HP Heater adalah sebuah peralatan Heat Exchanger yang terdiri dari Shell & Tube yang digunakan untuk menaikkan temperatur feed water sesuai temperatur yang dipersyaratkan oleh Boiler.Material yang cocok digunakan SA 213 TP 304 dan Inconel 625 dipilih Karena yang memiliki ketahanan korosi yang baik. Sifat ketahanan korosi,ketahanan terhadap panas dan tekanan material muncul Karena adanya nickel dan chrom. Kedua material ini dilas menggunakan metode GTAW(Gas Tungstan Arc Welding),akan tetapi sering di jumpai di lapangan terjadi kebocoran pada material ini.. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisa pengaruh heat input (arus) terhadap sifat mekanik dan struktur mikro pada hasil pengelasan SA 266 GR2N Inconel 625 dengan SA 213 TP 304. Pada penelitian ini material dilas menggunakan GTAW. Proses pengelasan yang dilakukan menggunakan variasi heat input dengan arus 65A,70A,75A,80A,85A,Pengujian yang dilakukan pada penelitian kali ini adalah uji makro,uji mikro,uji XRD,uji kekerasan.Dari pengujian tersebut didapatkan bahwa parameter aman untuk dilakukan pengelasan pada arus 65A dan 70A.Ditemukan  persipitat karbida pada parameter 75A dan 80A
Analisis Pengaruh Variasi Temperatur dan Waktu Tahan Tempering pada Proses Hardening terhadap Sifat Mekanik dan Struktur Mikro Material Hamer Crusher Argyabrata Argyabrara; Rochman Rochiem; Dian Mughni Felicia
Jurnal Teknik ITS Vol 7, No 1 (2018)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (413.092 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v7i1.28120

Abstract

Clinker Cooler adalah salah satu peralatan yang memiliki fungsi sangat penting dalam industri semen. Clinker cooler berfungsi untuk mendinginkan terak (clinker) yang diproduksi oleh kiln sebelum terak diproses lagi sebagai bahan baku pembuat semen. Terak yang dihasilkan oleh kiln didinginkan di dalam clinker cooler, kemudian ukuran terak tersebut diperkecil dengan hammer crusher yang ada di dalam clinker cooler . Hammer crusher merupakan alat penghancur clinker di PT. Semen Indonesia (Persero) Tbk. Hammer crusher mengalami keausan yang cepat dan tidak sesuai dengan umur pakainya. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mencari solusi dengan menganalisis pengaruh variasi temperatur dan waktu tahan tempering pada proses hardening terhadap sifat mekanik dan struktur mikro material hammer crusher. Spesimen uji dipanaskan pada temperatur 1000°C dengan waktu tahan 60 menit dan di-quench mengunakan oli, dilanjutkan tempering pada temperatur 200°C, 250°C, dan 300°C dengan variasi waktu tahan 2 jam dan 3 jam pada masing-masing variasi temperatur. Hasil proses perlakuan panas kemudian diuji kekerasan, metalografi, keausan, dan XRD (X-ray diffraction). Nilai kekerasan optimum dari material hammer crusher paduan krom tinggi adalah sebesar 699,60 HVN, yang dihasilkan dari proses hardening pada temperatur tempering 200 °C dan waktu tahan 2 jam. Tingginya harga kekerasan yang dihasilkan dari proses tersebut adalah akibat terbentuknya fasa martensit dan karbida Cr7C3.
Analisis Kegagalan pada Shaft Gearbox Mesin Palletizer di PT. Holcim Tbk. Tuban Asia Asia; Lukman Noerochim; Rochman Rochiem
Jurnal Teknik ITS Vol 7, No 1 (2018)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v7i1.28298

Abstract

Shaft merupakan bagian yang cukup penting di dalam motor karena shaft berfungsi sebagai penyalur gaya atau tenaga. Shaft bekerja sesuai dengan kerja mesin dan motor. Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis penyebab kegagalan yang terjadi pada shaft gearbox mesin palletizer. Beberapa pengujian dilakukan untuk mendukung analisis ini. Dari hasil uji komposisi didapatkan bahwa material shaft tersebut merupakan AISI 1030 dan material shaft tersebut sesuai dengan ASTM A291. Dari pengujian metallography didapatkan hasil struktur mikro yang terdiri dari ferit dan perlit. Pengujian SEM dilakukan pada permukaan patahan dan hasil dari uji SEM menunjukkan adanya retakan dan terdapat garis striasi halus akibat adanya pembebanan berulang dan terus menerus. Uji kekerasan dilakukan pada 2 daerah yaitu daerah dekat patahan dan daerah yang jauh dari patahan. Semakin jauh titik pengujian dari patahan maka hasil kekerasan semakin menurun. Dari hasil analisis rietvield didapatkan nilai regangan dan tegangan sisa pada daerah yang dekat dari patahan lebih besar dari pada daerah yang jauh dari patahan. Pada patahan shaft ini terdapat retakan yang ditandai dengan adanya awal retakan (crack initiation) pada daerah ujung rumah pasak, penjalaran retak (crack propagation) yang ditandai dengan garis pantai dan final fracture dengan permukaan yang kasar
Analisis Pengaruh Variasi Temperatur dan Waktu Tahan Tempering Terhadap Kekerasan Material Chain Shackle yang di-Hardening sebagai Solusi Kegagalan pada Chain Shackle Redy Rizky Santoso; Rochman Rochiem; Wikan Jatimurti
Jurnal Teknik ITS Vol 7, No 1 (2018)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v7i1.28346

Abstract

Bucket elevator merupakan sebuah komponen yang berfungsi untuk mengakut material yang belum terbentuk menjadi semen. dalam penggunaannya, bucket elevator di hubungkan dengan chain shackle. Chain shackle pada bucket elevator telah mengalami masalah keausan karena material tersebut tidak sesuai dengan standar DIN 745 sehingga diperlukan optimalisasi dengan perlakuan panas. Dalam penelitian ini dilakukan proses analisis pengaruh variasi temperatur dan waktu tahan tempering terhadap kekerasan material chain shackle yang di hardening sebagai solusi kegagalan pada chain shackle. Pengujian yang dilakukan meliputi uji komposisi, metalografi, hardness dan ketahanan aus. Dari hasil uji komposisi didapatkan bahwa material chain shackle adalah baja AISI 1030. kemudian diberi pelakuan hardening-tempering dengan temperatur austenisasi 850oC dan dilakukan pendinginan dengan air. Spesimen kemudian ditemper dengan temperatur 200 oC, 250 oC, dan 300 oC dengan waktu tahan tempering 1 jam dan 2 jam. Kekerasan tertinggi terdapat pada spesimen dengan perlakuan tempering 200 oC dan waktu tahan 1 jam sebesar 588 HV dengan laju keausan 2mm/jam. Berdasarkan hasil pengujian didapatkan bahwa kekerasan berbanding terbalik dengan laju keausan
Analisis Pengaruh Variasi Temperatur dan Waktu Tahan Tempering terhadap Kekerasan Baja ASSAB 705 yang Di-Hardening untuk Aplikasi Poros Pompa Multistage Muhamad Junda Azizi; Wikan Jatimurti; Rochman Rochiem
Jurnal Teknik ITS Vol 8, No 1 (2019)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (796.503 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v8i1.38059

Abstract

Ditemukan kegagalan pada poros pompa multistage di Pabrik Gula Gending yang baru beroperasi beberapa bulan dari 4 tahun umur pakai yang direncanakan. Kegagalan pada poros tersebut adalah patah dan aus pada ulirnya. Menurut ASTM A291, material standar untuk poros tersebut adalah ASSAB 705. Namun pengujian komposisi dan kekerasan menunjukkan bahwa poros pompa yang patah tidak sesuai dengan standar ASSAB 705. Oleh karena itu dilakukan penelitian mengenai pengaruh variasi parameter perlakuan panas tempering terhadap baja ASSAB 705 untuk aplikasi poros pompa. Perlakuan yang diberikan adalah water quench hardening dengan temperatur 815oC dan waktu tahan 30 menit. Kemudian dilakukan tempering dengan temperatur 300oC, 350oC dan 400oC dimana variasi waktu tahan tiap temperatur tersebut adalah 60 menit dan 120 menit. Uji metalografi menunjukkan bahwa semakin tinggi temperatur dan waktu tahan, martensit tampak semakin sedikit akibat terdekomposisi menjadi struktur ferrit dan bainit. Uji XRD memberikan hasil yang sejalan dengan fenomena tersebut, yaitu berkurangnya struktur BCT (martensit) seiring bertambahnya struktur BCC (bainit dan ferrit) pada temperatur dan waktu tahan yang makin tinggi. Hal ini tentu berdampak pada kekerasan dan ketahanan ausnya. Spesimen dengan kekerasan dan ketahanan aus tertinggi adalah yang diberikan tempering dengan temperatur 300oC dan waktu tahan 60 menit. Sedangkan yang memiliki kekerasan dan ketahanan aus paling rendah adalah yang diberikan tempering dengan temperatur 400oC dan waktu tahan 120 menit.
Analisis Pengaruh Variasi Holding Time dan Temperatur Tempering terhadap Kekerasan Baja AISI 4340 untuk Komponen Poros Pompa Sentrifugal Multistage Horizontal dengan Metode Kang dan Lee Equation Ghazi Labib Naufal Insan; Rochman Rochiem; Alvian Toto Wibisono
Jurnal Teknik ITS Vol 8, No 2 (2019)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v8i2.43657

Abstract

Pompa merupakan salah satu jenis mesin konversi energi yang berfungsi untuk memindahkan zat cair dari suatu tempat ke tempat yang diinginkan. Pada pompa multistage, terdapat poros yang dipasangi impeler dimana umur pakai poros pompa setrifugal multistage horizontal di PG.Gending seharusnya adalah 4 tahun, tetapi ditemui kegagalan pada poros pompa buatan lokal ketika baru beroperasi selama 4 bulan. Material poros pompa multistage yang gagal tersebut tidak memenuhi standar yang ditentukan yaitu ASSAB 705. Maka optimalisasi sifat mekanik material tersebut perlu dilakukan yaitu menggunakan perlakuan panas pada material yang memiliki komposisi setara dengan ASSAB 705 yaitu baja AISI 4340. Proses perlakuan panas yang dilakukan meliputi proses hardening dengan temperatur 830oC dan holding time 30 menit. Setelah melakukan proses hardening, spesimen diberi perlakuan panas tempering dengan variabel holding time dan temperatur tempering berdasarkan perhitungan Kang dan Lee equation, yaitu 60 menit dan 120 menit dengan masing-masing terdapat tiga variabel temperatur, yaitu 535oC, 575oC dan 615oC. Pengujian kekerasan dan keausan dilakukan dan didapatkan hasil spesimen dengan kekerasan dan ketahanan aus tertinggi adalah yang diberikan tempering dengan temperatur 535oC dengan holding time 60 menit. Sedangkan yang paling rendah adalah yang diberikan tempering dengan temperatur 615oC dengan holding time 120 menit. Dimana semakin lama waktu tahan dan semakin tinggi temperatur, nilai kekerasan dan nilai tahan aus material semakin menurun.
Analisa Faktor Intensitas Tegangan dan Usia Siklus pada Simulasi Perambatan Retak Komponen Poros Menggunakan Metode Smart Crack Growth Anky Fitrian Wibowo; Mas Irfan Purbawanto Hidayat; Rochman Rochiem
Jurnal Teknik ITS Vol 8, No 2 (2019)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1257.964 KB) | DOI: 10.12962/j23373539.v8i2.44096

Abstract

Poros berfungsi untuk meneruskan tenaga baik berupa puntiran, torsi maupun bending dari suatu bagian ke bagian yang lain. Akibatnya suatu poros sering mengalami kegagalan dalam operasinya. Tugas akhir ini bertujuan untuk mengestimasi usia siklus dari poros dengan mempertimbangkan perhitungan faktor intensitas tegangan untuk retak semi elliptical yang diaplikasikan displacement. Analisa metode elemen hingga dengan opsi smart crack growth ANSYS 19.1 untuk melakukan simulasi perambatan retak yang kemudian didapatkan nilai faktor intensitas tegangan dengan variasi panjang retak dan jenis material. Range dari faktor intensitas tegangan digunakan untuk memprediksi laju perambatan retak dan estimasi usia siklus dengan menggunakan hukum Paris. Dari hasil simulasi didapatkan bahwa semakin kecil intial crack maka energi yang dibutuhkan semakin besar sehingga siklus yang dibutuhkan untuk menyelesaikan patahan lebih lama kemudian untuk penambahan unsur paduan yang bersifat sebagai pembentuk karbida dan penstabil karbida maka semakin mudah membentuk karbida yang mampu menghambat pertumbuhan butir dan meningkatkan ketangguhan.
Pengaruh Holding Time Proses Solution Treatment dan Variasi Media Pendingin pada Cu-Zn-Al Shape Memory Alloys terhadap Efek Shape Memory dan Struktur Mikro Mavindra Ramadhani; Rochman Rochiem; Luckyta Rizkivany
Jurnal Teknik ITS Vol 9, No 1 (2020)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v9i1.52139

Abstract

Studi tentang smart materials cukup menyita perhatian dalam beberapa tahun terakhir, salah satunya yaitu tentang Shape Memory Alloys (SMA). Banyak penelitian yang telah dilakukan untuk mengembangkan SMA menggunakan paduan Ni-Ti, namun karena paduan tersebut memiliki beberapa kekurangan, maka muncullah untuk membuat alternatif paduan lain yaitu paduan Cu-Zn-Al. Untuk medapatkan SMA dapat dilakukan dengan cara pengecoran. Pada penelitian ini paduan Cu-21Zn-5Al diberikan proses perlakuan panas homogenizing, annealing, dan solution treatment dengan holding time 10, 30, dan 60 menit dengan masing-masing holding time dilakukan quenching dengan media pendingin brine solution dan dry ice untuk mengetahui pengaruhnya terhadap efek shape memory dan struktur mikro. Selanjutnya dilakukan pengujian, XRD, metalografi, dan efek shape memory. Dari hasil pengujian yang telah dilakukan, didapatkan bahwa efek shape memory dimiliki oleh semua spesimen, dimana recovery yang paling tinggi dimiliki oleh spesimen pada holding time 10 menit dengan media pendingin brine solution sebesar 36,67%. Selain itu pada semua spesimen terbentuk fasa α, β, γ, serta martensit akibat pendinginan cepat.
Effect of Holding Time and Cooling Medium on Microstructure and Hardness of AISI 8655 in Hardening Process Alvian Toto Wibisono; Mavindra Ramadhani; Rochman Rochiem
IPTEK The Journal of Engineering Vol 4, No 3 (2018)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23378557.v4i3.a4280

Abstract

The microstructure transformation of AISI 8655, affecting to hardness and impact properties in various hardening processes, has been investigated in this work. AISI 8655 specimens which had been prepared before hardening processes were heated to austenite temperature and held for 30 minutes and 60 minutes then continued by rapid cooling in various medium (air, oil and water). The hardened steel specimens were tested by optical microscope to observe microstructure, brinell test and impact test respectively to measure hardness and impact strength properties. Martensite and bainite were microstructures that appeared after hardening processes. The holding time for 30 minutes gave higher hardness properties than the holding time for 60 minutes. However, the holding time for 60 minutes performed higher impact strength than that for 30 minutes. The highest of hardness was performed by the specimen cooled in water medium at 552 BHN and the highest of impact strength was performed by the specimen cooled in air medium at 7.2 J/mm2.
Pembuatan Alat Produksi Bata Ringan dari Pasir Silika di Desa Tegalwangi Kecamatan Umbulsari, Kabupaten Jember, Jawa Timur Sungging Pintowantoro; Rochman Rochiem; Diah Susanti; Yuli Setiyorini; Fakhreza Abdul; Haniffudin Nurdiansah
JPP IPTEK (Jurnal Pengabdian dan Penerapan IPTEK) Vol 5, No 1 (2021)
Publisher : LPPM ITATS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31284/j.jpp-iptek.2021.v5i1.1199

Abstract

Perkembangan zaman dan teknologi pembuatan material telah banyak berubah dengan pesat. Setiap perkembangan material biasanya akan mengarah kepada bagaimana membuat suatu material tersebut ringan, mudah didapat dan juga dengan biaya produksi yang lebih rendah. Salah satu material yang mengalami perkembangan adalah material penyusun dari batu bata. Batu bata merah tersusun dari material tanah liat yang cukup berat. Hal ini menyebabkan beban bangunan akan menjadi lebih berat secara keseluruhan salah satu solusinya adalah dibutuhkan batu bata dengan massa jenis yang lebih rendah untuk mengurangi beban dari bangunan secara keseluruhan. Keunggulan dari batu bata yang lebih ringan adalah memiliki sifat mekanik yang lebih kuat, bentuk dan ukurannya yang presisi dan biaya produksi serta pengaplikasian yang lebih efisien jika dibandingkan dengan batu bata merah yang konvensional. Bahan baku pembuatan batu bata ringan juga mudah ditemukan, dapat menggunakan pasir silika dengan kadar yang rendah yang banyak terdapat di berbagai daerah yang ada di Indonesia. Bata ringan adalah yang memiliki massa jenis dibawah dari 1.800 kg/m3. Komponen dari bata ringan biasanya terdiri dari pasir silika, semen dan juga kapur. Namun pada proses pembuatan bata ringan kali ini ditambahkan zat pengembang dan zat aditif khusus dengan komposisi tertentu agar proses pengembangan bata dan campuran lebih homogen serta cepat kering tanpa mengalami retakan dan penyusutan saat dicetak. Alat produksi bata ringan dan prosedur pembuatannya diterapkan di wilayah Desa Tegalwangi, Kecamatan Umbulsari, Kabupaten Jember.