Andy Mappajaya
Departemen Arsitektur Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Published : 17 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Taman Edukatif Rekreatif Jayengrono, Sebuah Ruang bagi Manusia untuk Bertemu Tuesdayani Sadu; Andy Mappa Jaya
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (398.263 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v6i2.26138

Abstract

Kemajuan teknologi, khususnya pada teknologi gadget membawa dampak bagi kehidupan manusia. Teknologi diciptakan dengan tujuan untuk memudahkan kehidupan manusia. Disamping dampak positif yang memudahkan manusia, terdapat pula dampak negatif bagi penggunanya. Salah satu dampak negatifnya adalah ketergantungan yang dapat menyebabkan seseorang menjadi individualis dan antisosial. Hal tersebut tidak sesuai dengan kodrat manusia sebagai makhluk sosial. Oleh karena itu manusia membutuhkan sebuah ruang untuk bertemu, yaitu sebuah ruang publik. Bertujuan untuk meningkatkan nilai sosial pada manusia, ruang publik ini juga bertujuan untuk memberikan sarana edukasi serta rekreasi. Perancangan menggunakan pendekatan spirit of place, yang diintegrasikan dengan lokasi tapak yang merupakan lokasi bersejarah. Objek rancang merupakan sebuah taman untuk mewadahi kegiatan manusia dalam beraktivitas. Dalam perancangannya, teknologi digunakan sebagai media pendukung fungsi taman. Teknologi dihadirkan berupa sebuah galeri interaktif serta area game yang dapat memberikan edukasi serta rekreasi bagi masyarakat.
Redesain Pasar UMKM dengan Pendekatan Kontekstual Hertrisna Ayu Dahlima; Andy Mappajaya
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 7, No 2 (2018)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373520.v7i2.34982

Abstract

Fenomena UMKM dapat dilihat pada kampung-kampung di Surabaya, salah satunya adalah kampung Genteng Candirejo. Identitas Genteng sebagai Pusat Oleh-oleh Surabaya menjadikan kawasan ini memiliki potensi untuk mewadahi dan menjadi pertahanan UMKM Surabaya. Redesain Pasar Genteng menjadi respon arsitektural dalam perencanaan keberlanjutan UKM Surabaya. Redesain Pasar Genteng dalam perancangan ini menggunakan metoda penggabungan fungsi bangunan/ Mixed Use. Yaitu dengan memaksimalkan fungsi komersial yang dihubungkan dengan fungsi penunjang untuk keberlanjutan UMKM Surabaya. Pendekatan yang digunakan ialah Pendekatan Kontekstual sebagaimana perancangan merupakan respon dari konteks kampung UMKM sekitar. Selain itu konsep Mix Use digunakan sebagai pendekatan Urban Katalis untuk memaksimalkan fungsi bangunan sekaligus sebagai ikon/ landmark kawasan. Hasil dari rancangan merupakan Pasar yang memunculkan fungsi-fungsi baru dengan mempertahankan fungsi yang sudah ada. Rancangan juga memperbaiki aspek kenyamanan pasar dari desain yang sebelumnya.
Narasi sebagai Penyampaian Proses Secara Atraktif pada Penyadaran Potensi Diri Fadel Dzahabi; Andy Mappa Jaya
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 8, No 2 (2019)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (314.333 KB) | DOI: 10.12962/j23373520.v8i2.47970

Abstract

Manusia terlahir dengan beragam potensi. Permasalahannya, potensi tersebut tertutup oleh lingkungan sosial yang mempersulit individu meraih impiannya. Untuk membukanya, perlu mengetahui kode/makna tertentu. Dalam membuka diri untuk potensi diri membutuhkan pengalaman dan interaksi.   Penyelesaian berupa pemberian pengalaman untuk pembelajaran individu dengan penciptaaan nuansa sebagai bahan untuk berinteraksi dengan saling membuka diri agar menyadari potensi dirinya, berdasarkan prinsip membuka potensi diri dari segi terluar (Ditunjukkan bentuk kesulitan dalam meraih potensi diri) hingga segi terdalam (impian, harapan, dan tujuan meraih potensi diri). Pada arsitektur diwakili dengan fasilitas ruang, nuansa, hingga ruang ditata dengan irama, naik turun, ruang luas dan sempit, beruap, jalanan tidak rata, dsb. Dengan narasi dan pemaknaan, penyampaian proses memiliki nilai atraktif pada pengunjung dan akan memiliki keinginan bereksplorasi sambil membuka potensi diri. Ruang yang dihadirkan berupa visualisasi kebingungan diri, ruang kontemplasi, ruang harapan, ruang keseimbangan, pengembangan diri, ruang konsultasi, dan family gathering. Dengan mengenali potensi diri, manusia dapat berkompetensi dengan baik.
Aplikasi Metoda Arsitektur Inklusif pada Ruang Ekspresi Seni bagi Penyandang Disabilitas Anggi Tri Gusti Chandra; Andy Mappa Jaya
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373520.v10i2.74554

Abstract

Arsitektur merupakan satu hal yang muncul dari sebuah kebutuhan manusia, namun faktanya masih banyak fasilitas yang belum terpenuhi khususnya bagi penyandang disabilitas. Dalam kehidupan bermasyarakat, penyandang disabilitas kerap dianggap berbeda dan tidak sederajat dengan non-disabilitas karena keterbatasannya. Sehingga sangat sulit untuk mendapatkan apresiasi atas apa yang mereka lakukan tanpa didasari rasa iba. Oleh karena itu, seni diangkat sebagai media bagi penyandang disabilitas untuk mengekspresikan diri dan emosinya melalui cara yang berbeda-beda sesuai dengan jenis disabilitasnya. Ada tiga aktivitas penting dalam implementasinya, yaitu ekspresi, interaksi dan apresiasi. Arsitektur inklusif hadir sebagai metoda dalam melihat suatu ruang sebagai sistem yang dirancang dan disesuaikan dengan kebutuhan khusus penyandang disabilitas tanpa harus memisahkannya dengan non-disabilitas. Tujuannya adalah untuk menyatukan penyandang disabilitas dengan non-disabilitas kedalam satu ruang dimana mereka saling berinteraksi satu sama lain. Rancangan menggunakan konsep Kacamata yang artinya bertukar perspektif. Dengan dibantu oleh prinsip-prinsip Universal Design, konsep diwujudkan dalam bentuk pengalaman yang berkaitan dengan indera manusia. Rancangan ini adalah wujud sebuah inklusi untuk memfasilitasi penyandang disabilitas dalam mengekspresikan dirinya hingga pada akhirnya dapat diapresiasi oleh non-disabilitas.
The Adaptation Characteristics of Traditional Dwelling in Bawean to The Environmental Condition at Indonesian Archipelago FX Teddy Badai Samodra; Andy Mappajaya; Rabbani Kharismawan
Tesa Arsitektur Vol 17, No 1: Juni 2019
Publisher : Unika Soegijapranata Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24167/tesa.v17i1.1185

Abstract

The Indonesian archipelago has typical traditional dwelling richness on every island. In island city, Bawean, the wind effect becomes very critical to the identification of environmental adaptation of its dwelling. The aim of this study was to identify the adaptation characteristics of traditional dwelling to the environmental archipelago condition of Bawean island. In this study, two main dwellings as references are the traditional houses, Bangsal or Limas and Barn, Durung. Generally, this research involves two major steps as follows: (1) Identification and specification phase (field observations, measurements) of the characteristics of building performance, (2) Simulation phase of the thermal performance of traditional house (using Ecotect Analysis and CFD Programs). This results highlighted that the houses performance is not optimum, both in spreads and compact orders. Meanwhile, Durung has better performance, only 17% of the samples are in discomfort condition (spread or compact). The optimum condition is achieved when the settlement spread out, otherwise uncomfortable when it is in the dense environment. The houses in daytime conditions are in the discomfort conditions and lower cooling load, while the night-time conditions are in the quadrant of optimum conditions, comfort, and low cooling load.
Rancangan Integrasi Industri Perikanan dan Kawasan Wisata berbasis Sustainable Ecotourism sebagai Landmark Teluk Pacitan Muhammad Bintang Nabilunnuha; Andy Mappa Jaya
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 11, No 4 (2022)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373520.v11i4.96588

Abstract

Kawasan Wisata Teluk Pacitan merupakan pusat kegiatan sektor wisata. Tidak hanya kegiatan wisata, namun kawasan ini juga menjadi pusat industri perikanan setempat. Hal ini menjadi dasar untuk mengembangkan kawasan Teluk Pacitan menjadi kawasan industri kreatif dengan mengusung konsep wisata ekoturisme yang berwawasan lingkungan dan menitikberatkan pada partisipasi aktif masyarakat untuk mewujudkan kesejahteraan penduduk lokal. Selain itu, integrasi wisata ekoturisme dan industri kreatif perikanan mampu menjadi identitas dan branding Kabupaten Pacitan, khususnya Teluk Pacitan untuk semakin dikenal dan mencapai isu strategis pertumbuhan ekonomi serta pengelolaan sumber daya alam yang berwawasan lingkungan. Dalam mewujudkan sustainable ecotourism, sustainable design menitikberatkan pada perancangan lingkungan binaan, objek fisik, maupun layanan yang berprinsip pada keberlanjutan ekonomi, sosial, dan ekologi. Metode desain yang digunakan adalah force-based design. Dalam hal ini force utama rancangan adalah kondisi tapak, yang berada di pinggir pantai yang berbatasan dengan muara sungai. Obyek rancangan merupakan sebuah unit pengolahan ikan (UPI) yang diintegrasikan dengan fasilitas wisata, komersial, dan edukasi. Rancangan ditujukan menjadi katalis kegiatan masyarakat lokal dengan aktivitas wisatawan berbasis ecological architecture dan urban landscape, serta menjadi landmark yang mampu merepresentasikan identitas kawasan dan juga masyarakat lokal Teluk Pacitan.
Konservasi Cagar Budaya Matan sebagai Ruang Publik dengan Pendekatan Critical Regionalism Nabil Almatin; Andy Mappa Jaya
Jurnal Sains dan Seni ITS Vol 11, No 4 (2022)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373520.v11i4.96632

Abstract

Kabupaten Ketapang adalah kabupaten terluas di Provinsi Kalimantan Barat dengan letak yang strategis dan aset pengembangan budaya yang cukup menjanjikan. Isu yang ditemukan dari rekam sejarah, sosial dan ekonomi menunjukkan bahwa masih ada isu keterhambatan nilai sosial yang belum tertuang di kota itu. Agar dapat meningkatkan vitalitas kawasan, langkah yang dilakukan adalah dengan melakukan usaha untuk mengkonservasi cagar budaya berupa komplek heritage Keraton Matan, melalui pendekatan kontekstual berupa Critical Regionalism, dilakukan penggalian berupa analisis tapak, analisis preseden, diagram layering sejarah & aktivitas, untuk melibatkan force sebagai acuan dalam proses merancang. Sehingga hadirlah konsep waterfront, keselarasan dan kontras sebagai respon estetika nusantara, serta ruang produktif yang adaptif.